Minggu, 18 Februari 2018

SAAT EMAK HARUS LEBIH KUAT

Emak Kuat? Itu harus. Coba diamati di rumah dan lingkungan masing-masing, lebih kuat mana emak sama bapak? Jawab di hati aja ya...kawatir ada satu pihak yang tersungging eh tersinggung :-)
Momen ini terjadi saat saya harus LDMan dengan suami, beliau mengasuh 3 anak usia SD dan saya ditinggali si anak bungsu usia 1 tahun. Awal2 LDM terasa berat, namun masih bisa gantian berkunjung antara saya dan suami. Namun bulan-bulan terakhir 2015 adalah saat yang berat bagi kami, Pekanbaru diliputi kabut asap 3 bulan full.

Sebenarnya kabut asap adalah bencana alam yang hampir biasa terjadi di Pekanbaru, namun waktu-waktu yang lalu saya menghadapi dengan suami, tentunya merasa lebih aman. Ketika saya harus menghadapi sendiri plus harus menjaga kesehatan balita usia 1 tahun dari ISPA dkk itu bukanlah hal yang mudah. Saat berangkat kantor dan pulang anak saya sudah terbiasa menggunakan masker, pas tiba dirumah pun wilayah main hanya satu kamar yang memang dipasangi AC. Jika ke ruangan lain di dalam rumah lama-lama sesak nafas juga.

Suami sempat khawatir dengan kondisi si bungsu yang harus menghirup kabut asap setiap hari, akhirnya beliau datang ke Pekanbaru. Ternyata untuk ke Pekanbaru pun bolak balik harus memutar rute, pesawat tidak bisa landing di bandara SSQ jadi harus turun di Padang dan lanjut perjalanan darat 8 jam dengan jalan berkelok-kelok naik turun. Akhirnya beliau tidak jadi ambil anak bungsu, karena membayangkan perjalanannya balik ke Jogja tidak akan sanggup mengasuh anak sendiri, 8 jam di travel plus 2 kali naik pesawat dengan 1 kali transit.

Selang beberapa minggu setelah itu saya sudah jenuh dengan kondisi yang ada serta kangen berat dengan 3 anak yang lain. Hanya dengan doa saya berharap cuaca Pekanbaru lebih baik dan saya bisa naik pesawat ke Jogja. Tiap hari yang saya lihat di HP adalah prakiraan cuaca BMKG dan aplikasi yang menggambarkan rute2 pesawat yang bisa melewati langit Pekanbaru.

Hari Sabtu, saat saya harus masuk kerja karena ada tes berkaitan dengan kepegawaian, saya niatkan pulang ke Jogja sore harinya. Saat istirahat siang saya sempatkan cari tiket via online ke Jakarta, ternyata dibuka penerbangan Garuda jam 5 sore. Langsung saya booking dan bayar online. Pas selesai acara jam 2 siang, saya langsung ke kantor Garuda, cetak tiket sekalian check in. Saya berkhusnudzon semoga sore ini pesawat bisa terbang.

Pulang dari kantor Garuda saya jemput si bungsu di penitipan anak, pulang sebentar siapkan perlengkapan anak satu tas ransel lanjut telpon taksi menuju bandara. Alhamdulillah sampai bandara jam 4 kurang dan saya langsung masuk ruang tunggu.

Bandara yang biasanya ramai, hari itu sepi sekali. Hanya sekitar 10 orang yang ada di ruang tunggu. Meski pesawat yang akan saya naik sudah ada di parkiran bandara namun saya belumlah tenang, karena cuaca sewaktu-waktu dapat berubah...

Setelah sholat ashar, saya naik ke pesawat sesuai panggilan petugas. Doa terus menerus saya panjatkan sampai pesawat bisa take off dan stabil di atas langit Pekanbaru. Langsung saya ucap syukur dan menangis di pesawat...setelah sekian bulan tidak melihat langit yang cerah, dan pesawat yang saya naiki insya Allah bisa mengantarkan ke Jogja.

Menjelang Maghrib saya sudah landing di bandara Soekarno Hatta, masih harus melanjutkan perjalanan ke Jogja. Atas arahan suami saya disuruh naik bis DAMRI ke stasiun. Masya Allah...disinilah saya mulai bimbang dan baper, saya memang sudah pernah ke bandara ini namun selalu ada suami dan hanya mengikuti langkahnya. Namun saat ini saya harus gendong balita, kondisi lelah dan tak tahu arah. Akhirnya setelah tanya2 saya bisa keluar dari bandara dan menemukan pool bis DAMRI arah stasiun. Disisi lain saya ingin menyerah, tidak usah ke stasiun karena jaraknya jauh, tidak jelas, sendirian dan saya sudah sangat lelah. Terpikir untuk istirahat malam di rumah kakak yang di Jakarta, namun jauh juga dari bandara.

Meski saya kelelahan namun si bungsu kondisi sehat dan ceria, sepanjang naik bis DAMRI dia tidak tidur. Bahkan selalu minta jalan di atas bis, padahal emak ini sudah tinggal sisa-sisa tenaga yang ada. Bismillah...bismillah...

Sampailah di stasiun jam 20.45 menit dan kereta ke Jogja berangkat jam 21.00. 
Di menit2 terakhir itulah saya bisa dapatkan tiket dan setengah berlari menuju ke peron yang ada di lantai atas sambil menggendong anak. Bahkan petugas stasiun sampai berteriak mengingatkan saya bahwa ada anak yang saya gendong, kawatir jatuh. Begitu tiba di peron saya segera naik ke kereta, Masya Allah selisih beberapa menit kereta itu berangkat (dan saya masih harus jalan di atas gerbong karena dapat gerbong yang paling belakang). Lagi-lagi air mata saya hampir runtuh...hanya karena kuasa Allah saya masih bisa ada di kereta ini dengan menit-menit terakhir sebelum berangkat.

Kereta berjalan semakin cepat, si bungsu sudah kecapekan dan tertidur pulas di bawah kursi. Saya sholat Maghrib dan Isya serta memesan segelas kopi panas dan sepiring nasi goreng.
Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Masih terbayang lelahnya ujian tadi pagi, berburu tiket pesawat, naik taksi mengejar jadwal pesawat, terbang di pesawat dengan penumpang tak lebih dari 15 orang, hiruk pikuknya bandara Jakarta, repotnya urus balita di dalam bis dan perjuangan naik kereta....
Emak itu harus lebih kuat! Alhamdulillah.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?