Senin, 26 Februari 2018

TEMPAT PENITIPAN ANAK (TPA)


Terlepas dari adanya perbedaan pendapat metode pengasuhan dengan TPA maupun babysitter di rumah, kami termasuk salah satu yang sangat terbantu demgan adanya TPA saat masih tinggal di Pekanbaru. Akhir 2008 kami menuju Pekanbaru dengan membawa anak usia 2 tahun dan adeknya usia 3 bulan. Tidak ada sanak saudara ataupun tetangga yang bisa diajak untuk membantu kami mengurus anak2 selama kami kerja. Pun setelah beberapa hari di Pekanbaru, pengasuh/babysitter belum juga kami dapatkan. Oleh karena itu meski dengan hati yang berat kami mencoba mencari TPA yang paling nyaman buat anak dan cocok di kantong keluarga.

TPA pertama yang menjadi pilihan adalah sebuah rumah tinggal yang disulap menjadi TPA dengan berbagai fasilitas untuk anak, dikelola oleh seorang ibu pegawai pemprov Riau. Lumayan banyak anak yang dititipkan disana, usia 2-5 tahun di lantai bawah rumah ada sekitar 10-15 anak. Yang usia bayi sampai 1 tahun ada 10 anak juga di lantai atas terpisah dengan anak-anak besar, jadi aman dari gangguan anak-anak yang sedang bermain atau berlari-lari. Masing-masing lantai ditemani 2 pengasuh, jadi ada 4 pengasuh disana.

Setiap hari kami membawakan alat mandi, baju ganti anak-anak, susu dan makan siang serta beberapa snack. Diantar ke TPA jam 7 pagi dan dijemput jam 4 sore. Awal masuk TPA bagi adek bayi tidak banyak masalah, terpenting cukup susu, istirahat dan kenyamanan sepanjang hari di ayunan. Sedangkan adaptasi si kakak, hampir tiap hari selama satu minggu saat diantar dan dijemput selalu menangis. Rasanya kami tidak tega, tapi ibu pengasuh meyakinkan kami bahwa kakak baik-baik saja. Sudah bisa bermain, makan bersama dan mengikuti jadwal TPA. Ok lah...Bismillah....langkah pertama telah berhasil dilalui.

Baru 2 bulan menikmati kenyamanan di TPA ternyata 2 ibu pengasuh favorit anak-anak (Bu Titin dan Bu Vira) mengundurkan diri dari lembaga karena ketidakcocokan sistem. Selanjutnya satu minggu anak-anak diasuh oleh ibu lainnya namun kami merasa tidak cocok. Akhirnya kami hubungi ibu pengasuh yang sebelumnya, memohon agar mereka mau menjadi pengasuh anak-anak dirumah. Ternyata yang menghubungi ibu-ibu pengasuh itu tidak hanya kami berdua, namun juga beberapa wali TPA lainnya. Permasalahannya sama...sudah cocok dengan pengasuh lama, anaknya tidak mau di TPA dengan pengasuh lainnya. Akhirnya kedua ibu tersebut membuat TPA sendiri di rumah kontrakan Bu Titin, meski sangat sederhana dan minim fasilitas namun anak-anak nyaman dan bahagia. Jadilah hari-hari selanjutnya anak-anak kami titipkan di TPA yang diberi nama Cahaya Bunda.

Tahun 2010 kami harus hijrah ke Bandung. Kemudian balik lagi ke Pekanbaru di 2012, kami menitipkan anak-anak di tempat yang berbeda. TPA kedua ini adalah sebuah cikal bakal Taman Kanak-kanak yang dibuka di dekat kantor suami. Karena rumah kontrakan kami lebih dekat ke kantor suami akhirnya kami menitipkan 3 anak disitu... TPA Insan Amanah. Saat pagi anak-anak ikut kegiatan PAUD dan TK, setelah istirahat siang mereka pindah ke ruang belakang menjadi anak TPA. Lagi-lagi menurut kami bukan fasilitas TPA yang utama namun kasih sayang. Ada bunda Nurul, bunda Essy dan bunda lainnya disana yang mengasuh anak-anak selayaknya anak/adek sendiri. Tak jarang pas kami jemput sore anak-anak ternyata diajak jajan ke minimarket sebelah, padahal kami tidak membekali mereka uang jajan.

Di tahun 2014, kami harus pindah kontrakan lagi (kontraktor :-) ). Demi mempersiapkan kelahiran adek bayi ke4 akhirnya kami mencari kontrakan yang dekat dengan TPA Cahaya Bunda yang dulu. Alhamdulillah...saat bayi kecil kami lahir dan nenek yang dari Jawa pulang, kembali kami titipkan 4 anak disana. Meski 3 anak lainnya sudah masuk usia sekolah namun mereka tetap senang jika pulang sekolah dititipkan di TPA.


Alhamdulillah...selama 2008-2016 di Pekanbaru, 4 anak mempunyai rumah kedua yang penuh kasih sayang di TPA Cahaya Bunda dan Insan Amanah. Berita-berita miring dan kekhawatiran beberapa ibu tentang TPA tidak pernah kami alami. Bagi kami ibu-ibu pengasuh di TPA adalah bagian dari keluarga yang tak tergantikan. Beliau-beliaulah yang berjasa besar menemani perkembangan 4 anak kami di usia balita.

Terima kasih bu Titin, bu Vira, bunda Nurul, bunda Essy dan bunda2 lainnya...semoga. Allah berikan kesehatan, keluasan rezeki dan kebarokahan serta kemudahan di segala hal. Aamiin

Dan semoga suatu saat nanti bisa bertemu 4F lagi. Aamiin

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe13


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?