Minggu, 18 Februari 2018

BEKAM


Pernahkah anda bekam?

Pertama kali saya bekam ketika di Pekanbaru sekitar tahun 2009, saat itu saya merasakan sakit kepala yang sangat mengganggu. Bahkan saya seringkali membenturkan kepala saya ke tembok untuk mengurangi sakitnya. Saya tidak berani ke dokter karena membayangkan obat-obatan yang harus saya minum dan diagnosa-diagnosa yang tidak saya harapkan. Terlebih saat itu saya menjadi ibu menyusui, minimalisir asupan kimia ke tubuh. Akhirnya suami memberikan alternatif : bekam.

Apa dan bagaimana bekam itu sempat saya cari infonya lewat internet, karena suami juga belum pernah. Gambar-gambar di internet kok sepertinya membuat saya takut, terlebih ada darah-darah yang harus dikeluarkan... namun demi kesembuhan dan bujukan suami akhirnya saya mau mencoba.

Terapis bekam pertama saya adalah istri salah satu teman kantor suami. Rasanya gimana? Antara takut dan penasaran he...ternyata tidak seperti yang saya bayangkan dan takutkan, bekam di punggung meski mengeluarkan darah namun pasien tidak bisa melihat langsung. Hanya merasakan bagaimana titik-titik bekam di-kop (biasanya sekitar 8 titik) menggunakan alat seperti gelas kecil, kemudian ditusuk jarum untuk mengeluarkan darahnya.Tusukan-tusukan jarum itupun hanya terasa seperti ditusuk ujung pensil mekanik. Bagi saya tak terasa sakit. Setelah bekam biasanya badan terasa agak lemah karena banyaknya darah yang dikeluarkan. Namun masing-masing orang akan beda efeknya. Yang sama biasanya efek tidur, setelah bekam badan terasa ini istirahat dan bisa tertidur dengan pulas. Intinya saya tidak kapok untuk bekam lagi, terlebih atas kuasa Allah ikhtiar bekam ini telah menyembuhkan sakit kepala saya.

Di Pekanbaru saya sudah mencoba bekam di 3 terapis berbeda, tapi secara umum testimoninya hampir sama. Tidak ada rasa ngeri dan takut. Hanya saja saya belum berani mencoba bekam dengan metode sayatan pisau, jadi setelah di-kop titik bekamnya digunakanlah pisau kecil untuk membuat sayatan agar darah kotor yang dikeluarkan lebih banyak. Terapis bekam metode ini sebenarnya ada di rumah sakit dekat kantor, namun hingga saya pindah tetap tidak berani. Terbayang sayatan pisau nya hii....

Saat 1,5 tahun tinggal di Bandung, saya juga beberapa kali melakukan bekam di terapis dekat rumah. Kalau terapis ini memang mengkhususkan kliniknya untuk bekam dan ruqyah, cukup 5 menit jalan dari rumah Antapani sudah sampai ke klinik. Sebelum dibekam biasanya dipijat dulu area punggung untuk pemanasan, ada tambahan juga punggung saya dipukul-pukul menggunakan sapu lidi. Tujuan jelasnya saya kurang paham namun masih sekitar untuk pemanasan dan kelancaran peredaran darah. Testimoninya sama dengan terapis bekam di Pekanbaru, tidur pulas setelah bekam :-)

Foto Sri Suharti.

Ketika pindah di Jogja saya mulai mencari juga via internet beberapa tempat bekam. Akhirnya bertemu dengan klinik ini. Awalnya saya kesini meniatkan diri untuk mencari krim aman dan halal untuk dipakai di tanah suci, ternyata klinik ini juga melayani terapi bekam. Akhirnya beberapa hari sebelum ke tanah suci saya melakukan bekam disini. Tempatnya bagi saya nyaman banget dan sangat aman untuk muslimah. Satu lagi nilai lebihnya yang saya suka....desain interiornya cantik dominasi warna hijau muda yang lembut dan menyejukkan. Saya selalu terinspirasi untuk menerapkan di rumah, kebetulan lantai keramik rumah warna hijau jadi cari warna perabot rumah yang serasi. Meski sampai sekarang yang sama baru warna kursi sofanya, butuh modal besar juga untuk buat desain interior rumah secantik klinik ini he...

Foto Sri Suharti.

Buat muslimah di Jogja, silakan mampir ke klinik ini jika berniat mencoba bekam. Nikmati kenyamanan plus keamanan aurat muslimah di klinik ini. Rasakan juga kecantikan desain interiornya atau mungkin juga mau mencoba perawatan wajahnya, insya Allah halal dan menjadi bagian dari sedekah kita. Maaf jika tulisan ini mengandung promosi he...
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe5

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?