Saat ini jamaah haji sedang menjalani ibadah tarwiyah dan persiapan wukuf di Arafah.
Mendengar kata Arafah, ingatan ini mengulang kembali pada masa diberi kesempatan Allah untuk hadir disanan 2 tahun lalu. Dan selalu membekas di hati, doa yang selalu kita panjatkan berulang dan terus berulang maka Allah dengar dan Allah kabulkan...Insya Allah.
Sebagai seorang perempuan, memang sudah pada fitrahnya mendapatkan jadwal haid setiap bulannya, dimana sholat, tilawah. tawaf dan lain-lain merupakan hal yang haram dilakukan. Begitu pula saat itu, dilihat secara hitungan kalender jadwal haid saya pas berbarengan dengan jadwal Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) mulai sejak wukuf sampai tawaf ifadhoh.
Beberapa orang menggunakan pil khusus untuk menunda haid demi kepentingan ibadah haji. Pil itu semacam hormon yang akan mengatur jadwal haid menjadi mundur. Namun bagi saya pilihan itu bukanlah solusi. Kenapa?
Saya punya riwayat buruk dengan sesuatu yang berkaitan dengan hormonal. Saat mencoba suntik KB (keluarga Berencana) 3 bulan setelah kelahiran anak pertama, ternyata muncul masalah baru. 3 bulan itu pula haid saya tidak kunjung selesai. Walaupun akhirnya tergolongkan darah istihadhoh (kotor) di waktu-waktu tertentu, namun ibadah wajib dengan kondisi seperti ini sangatlah tidak nyaman.
Akhirnya diputuskanlah berangkat haji 2 tahun lalu tanpa menggunakan pil penunda haid, namun lebih ke doa yang kencang dan berulang-ulang dibaca sejak di tanah air sampai di tanah suci : Ya Allah, selesaikanlah urusan ibadah hajiku, tundalah uzurnya.
Hari pertama di Arafah (sehari sebelum wukuf) saya didatangi oleh ketua rombongan, ternyata beliau diminta mendata ibu-ibu yang kemungkinan tidak bisa menyelesaikan tawah ifadhoh bersama-sama rombongan, dan saya termasuk di daftar karena memang sudah jadwalnya haid.
Hari-hari Armuzna yang menggembirakan dan melelahkan diiringi dengan rasa deg-deg an datangnya uzur harus dipanjatkan doa khusus yang terus menerus. Tanggal 8,9,10,11 dan 12 Dzulhijjah berlalu dan uzur belum datang juga. Tanggal 13 pagi kami pulnag lagi ke hotel di Mekkah, beberapa jamaah begitu sampai hotel langsung berangkat ke masjidil Haram untuk menyelesaikan tawaf ifadhih dan sa'i. Namun saya meminta suami diberikan waktu sejenak untuk istirahat, karena hari-hari di Armuzna memang sangat melelahkan secara fisik dan juga hati (harus selalu sabar...sabar...dan sabar). Dan kami pun bisa bayangkan lautan manusia sekarang terfokus untuk tawaf, tentu butuh fisik yang kuat untuk menyelesaikan rangkaian ibadah haji semuanya.
Akhirnya menjelang dhuhur kami berangkat ke Masjidil Haram, berniat untuk melaksanakan sholat dhuhur tawaf ifadhoh dan sa'i dilanjutkan sholat fardu berjamaah sampai Isya nanti.
Dada ini bertambah deg-deg an...rasanya seperti mau ujian. Karena inilah ibadah terakhir dari rangkaian haji. Doa di mulut dan di hati semakin kencang. Ya Allah selesaikan urusan hajiku tanpa uzur.
Solat jamaah dhuhur selesai, kami lanjutkan tawaf di pelataran Ka'bah dan Sa'i di lantai paling bawah. Alhamdulillah...prosesi haji selesai beberapa menit sebelum memasuki waktu ashar. Bahagianya hati kami...satu kewajiban telah tertunaikan.
Kami lanjutkan dengan sholat berjamaah ashar di Masjidil Haram, Masya Allah...lautan manusia menutupi area tawaf lantai 1 sampai lantai paling atas (atap) dan juga area sa'i dari bawah sampai atas. Termasuk lantai Mezzanin, tempat favorit kami saat di Masjidil Haram (bisa sholat jamaah sambil menatap Ka'bah).
Ketika matahari beranjak akan tenggelam, diantara waktu Ashar dan Maghrib, uzur yang ditunggu kedatangannya hadirlah sudah. Syukur bahagia tiada terkira. Alhamdulillah ya Allah...Engkau kabulkan satu doaku lagi. Benar-benar waktu terbaik...masih dapat bonus sholat Ashar berjamaah. Memanglah benar...kita sempurnakan ikhtiar doa dan Allah lah yang menggenapkan.
La haula wa la quwwata illa billah...
Dan 10 hari selanjutnya waktu bagi saya untuk beristirahat di hotel dengan syukur dan ikhlas. Alhamdulillah.
#RinduKeBaitullah
#KeajaibanHaji
Mendengar kata Arafah, ingatan ini mengulang kembali pada masa diberi kesempatan Allah untuk hadir disanan 2 tahun lalu. Dan selalu membekas di hati, doa yang selalu kita panjatkan berulang dan terus berulang maka Allah dengar dan Allah kabulkan...Insya Allah.
Sebagai seorang perempuan, memang sudah pada fitrahnya mendapatkan jadwal haid setiap bulannya, dimana sholat, tilawah. tawaf dan lain-lain merupakan hal yang haram dilakukan. Begitu pula saat itu, dilihat secara hitungan kalender jadwal haid saya pas berbarengan dengan jadwal Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) mulai sejak wukuf sampai tawaf ifadhoh.
Beberapa orang menggunakan pil khusus untuk menunda haid demi kepentingan ibadah haji. Pil itu semacam hormon yang akan mengatur jadwal haid menjadi mundur. Namun bagi saya pilihan itu bukanlah solusi. Kenapa?
Saya punya riwayat buruk dengan sesuatu yang berkaitan dengan hormonal. Saat mencoba suntik KB (keluarga Berencana) 3 bulan setelah kelahiran anak pertama, ternyata muncul masalah baru. 3 bulan itu pula haid saya tidak kunjung selesai. Walaupun akhirnya tergolongkan darah istihadhoh (kotor) di waktu-waktu tertentu, namun ibadah wajib dengan kondisi seperti ini sangatlah tidak nyaman.
Akhirnya diputuskanlah berangkat haji 2 tahun lalu tanpa menggunakan pil penunda haid, namun lebih ke doa yang kencang dan berulang-ulang dibaca sejak di tanah air sampai di tanah suci : Ya Allah, selesaikanlah urusan ibadah hajiku, tundalah uzurnya.
Hari pertama di Arafah (sehari sebelum wukuf) saya didatangi oleh ketua rombongan, ternyata beliau diminta mendata ibu-ibu yang kemungkinan tidak bisa menyelesaikan tawah ifadhoh bersama-sama rombongan, dan saya termasuk di daftar karena memang sudah jadwalnya haid.
Hari-hari Armuzna yang menggembirakan dan melelahkan diiringi dengan rasa deg-deg an datangnya uzur harus dipanjatkan doa khusus yang terus menerus. Tanggal 8,9,10,11 dan 12 Dzulhijjah berlalu dan uzur belum datang juga. Tanggal 13 pagi kami pulnag lagi ke hotel di Mekkah, beberapa jamaah begitu sampai hotel langsung berangkat ke masjidil Haram untuk menyelesaikan tawaf ifadhih dan sa'i. Namun saya meminta suami diberikan waktu sejenak untuk istirahat, karena hari-hari di Armuzna memang sangat melelahkan secara fisik dan juga hati (harus selalu sabar...sabar...dan sabar). Dan kami pun bisa bayangkan lautan manusia sekarang terfokus untuk tawaf, tentu butuh fisik yang kuat untuk menyelesaikan rangkaian ibadah haji semuanya.
Akhirnya menjelang dhuhur kami berangkat ke Masjidil Haram, berniat untuk melaksanakan sholat dhuhur tawaf ifadhoh dan sa'i dilanjutkan sholat fardu berjamaah sampai Isya nanti.
Dada ini bertambah deg-deg an...rasanya seperti mau ujian. Karena inilah ibadah terakhir dari rangkaian haji. Doa di mulut dan di hati semakin kencang. Ya Allah selesaikan urusan hajiku tanpa uzur.
Solat jamaah dhuhur selesai, kami lanjutkan tawaf di pelataran Ka'bah dan Sa'i di lantai paling bawah. Alhamdulillah...prosesi haji selesai beberapa menit sebelum memasuki waktu ashar. Bahagianya hati kami...satu kewajiban telah tertunaikan.
Kami lanjutkan dengan sholat berjamaah ashar di Masjidil Haram, Masya Allah...lautan manusia menutupi area tawaf lantai 1 sampai lantai paling atas (atap) dan juga area sa'i dari bawah sampai atas. Termasuk lantai Mezzanin, tempat favorit kami saat di Masjidil Haram (bisa sholat jamaah sambil menatap Ka'bah).
Ketika matahari beranjak akan tenggelam, diantara waktu Ashar dan Maghrib, uzur yang ditunggu kedatangannya hadirlah sudah. Syukur bahagia tiada terkira. Alhamdulillah ya Allah...Engkau kabulkan satu doaku lagi. Benar-benar waktu terbaik...masih dapat bonus sholat Ashar berjamaah. Memanglah benar...kita sempurnakan ikhtiar doa dan Allah lah yang menggenapkan.
La haula wa la quwwata illa billah...
Dan 10 hari selanjutnya waktu bagi saya untuk beristirahat di hotel dengan syukur dan ikhlas. Alhamdulillah.
#RinduKeBaitullah
#KeajaibanHaji
Tidak ada komentar:
Posting Komentar