Tampilkan postingan dengan label Perempuan Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan Menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2018

PEREMPUAN MANDIRI

 " Nok, jadi perempuan itu meski sudah ada suami yang mencukupi namun engkau harus bekerja dan berpenghasilan. Tidak selamanya perempuan itu tergantung pada laki-laki, ada saatnya laki-laki itu berada di posisi bawah yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu mandirilah sebagai perempuan yang bersuami..."
----
Mungkin inilah salah satu nasehat yang disampaikan dari perempuan pertama dalam hidupku, Ibu.
Kebutuhan hidup yang semakin banyak, dengan 5 orang anaknya saat itu ( 4 diantaranya perempuan), menjadikan prinsip itu sebagai salah satu hal yang perlu Ibu nasehatkan kepada kami. Dan kami sebagai perempuan-perempuan penerus di keluarga ini menggenggam erat nasehat itu.

Awal sebelum menikah, prinsip itu sedemikian mudahnya dijalani. Bekerja, berpenghasilan, bisa belanja kebutuhan sendiri dan lainnya. Namun seiring waktu dengan adanya pernikahan kami satu per satu dan kelahiran anak-anak, prinsip itu mulai goyah. Sempat beberapa kali terpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena benturan kewajiban antara di rumah dan kantor. Tidak sekali...namun berulang-ulang kali genggaman pada prinsip itu kian rapuh.

Ibu menginginkan anak perempuannya mandiri, tanpa mengunakan uang suami dia bisa menyelipkan selembar demi lembar kepada sanak kerabat yang butuh tambahan biaya. Di saat ekonomi keluarga goyah, sebagai istri dia bisa menguatkan suaminya. Menegakkan rumah tangganya kembali....karena tidak sedikit pernikahan gagal karena urusan ekonomi.

Ah Ibu...terima kasih atas wejangannya, terima kasih atas didikan kuat kemandiriannya, dan terutama terima kasih atas keteladanan darimu sebagai seorang ibu dan istri yang kuat dan mandiri. Semoga Allah limpahkan kesehatan, kebarokahan dan keselamatan kehidupan dunia walaupun akhirat...aamiin

Ibu... 2 dari 4 anak perempuan mu kini telah menyelesaikan Pasca Sarjana, dan 1 anak lagi sedang berproses menuju kesana. Semua itu karena teladan dan doa darimu. Semoga ilmu ini membuat kami semakin dekat denganNya. Aamiin
Love you...Ibu

#PerempuanBPSMenulis
#Ibu

Facebook Published : 9 Juni 2018

Senin, 26 Februari 2018

EMAK ONLINE


Saya lupa kapan tepatnya mulai menikmati dunia maya (online) yang sangat membantu di beberapa kebutuhan yang saya cari. Salah satu hal yang menjadi perbedaan adalah saat saya harus menyelesaikan tugas akhir kuliah.

Tugas akhir kuliah yang pertama di Jakarta tahun 2004 (ketahuan umurnya ya he...) saya harus rajin datang ke perpustakaan untuk cari referensi. Waktu itu perpustakaan favorit saya ada di LIPI. Banyak penelitian sejenis yang sudah disajikan dalam bentuk laporan maupun buku cetak. Berkali-kali saya datang kesana untuk melengkapi tugas akhir saya, sambil membaca lembar demi lembar buku sebagai tambahan referensi.


Saat menyelesaikan tugas akhir kuliah yang kedua 2011 di Bandung, mulailah saya menggunakan referensi online. Cukup di depan laptop saya bisa mencari jurnal yang berkaitan dengan topik penulisan. Ternyata jurnal utama itu diterbitkan di negeri Paman Sam, namun atas bantuan dunia maya saya dengan mudah mendapatkannya dari rumah kontrakan di Bandung. Untuk menambah referensi saya pun mencari artikel dan laporan penelitian yang sejenis. Lagi-lagi tidak perlu susah-susah datang ke perpustakaan, semua ada di layar laptop. Modal utamanya adalah laptop, data internet (modem), snack dan kopi he...karena sebagai ibu dengan 3 anak balita, saya baru bisa membuka laptop setelah anak-anak terlelap tidur. Sehingga jika darurat siang hari saya harus buka laptop maka mengungsi di masjid Salman ITB demi ketenangan dari tingkah lucu dan usil anak-anak.

Selain itu ternyata dunia maya juga mendukung bisnis kecil-kecilan emak, mulai dari jualan pulsa, tiket pesawat, jas hujan, kaos bandung, buku, minuman dan lain-lain. Meski episode jualan ini hanyalah euforia sesaat, senang jika ada teman yang tercukupi kebutuhannya dengan cepat, tepat dan hemat he...

Dunia online bagi emak di tahun 2018 ini semakin beragam manfaatnya (selain belanja ya…). Kita bisa ikut kursus bahasa Inggris, bahasa Arab, kajian online, tahsin, hafalan Al Quran, kuliah whatapps dan banyak hal lagi. Sisi positifnya dengan online semua kebutuhan ilmu bisa tercukupi namun sesungguhnya keberadaan guru/pembimbing di dunia nyata mutlak tetap diperlukan. Pun otak kita pun tidak bisa dijejali berbagai cabang ilmu yang mudah kita dapatkan di sekitar kita. Fokus...fokus …dan fokus adalah kuncinya. Pilah pilih mana yang prioritas utama dan mana yang sekedar keinginan dan trend sesaat. Jangan sampai rajin online tapi suami dan anak-anak tersingkirkan he….

Note buat emak online : Janganlah menyediakan fasilitas online yang bisa diakses pribadi dan menyendiri bagi anak, baik laptop maupun hp. Karena internet bagi anak tidak hanya membuat cerdas namun juga membuat rusak anak-anak kita. Perasaan sayang kita ke anak justru diwujudkan dengan membatasi waktu dan fasilitas online untuk mereka. (Ini dari materi POMG di SDIT :-)

Saya lahir di tahun 80an....ternyata saat ini jauh berbeda dengan masa kecil saya, bahkan tidak pernah terbesit dalam pemikiran saat itu. Entah anak2 nanti akan hidup di masa yang seperti apa, mungkin mobil terbang, warung robot atau saatnya migrasi ke planet lain. Namun tetap bekal IMAN untuk anak-anak kita...insya Allah ini yang akan menyelamatkan kehidupan mereka apapun masanya. Aamiin

TEMPAT PENITIPAN ANAK (TPA)


Terlepas dari adanya perbedaan pendapat metode pengasuhan dengan TPA maupun babysitter di rumah, kami termasuk salah satu yang sangat terbantu demgan adanya TPA saat masih tinggal di Pekanbaru. Akhir 2008 kami menuju Pekanbaru dengan membawa anak usia 2 tahun dan adeknya usia 3 bulan. Tidak ada sanak saudara ataupun tetangga yang bisa diajak untuk membantu kami mengurus anak2 selama kami kerja. Pun setelah beberapa hari di Pekanbaru, pengasuh/babysitter belum juga kami dapatkan. Oleh karena itu meski dengan hati yang berat kami mencoba mencari TPA yang paling nyaman buat anak dan cocok di kantong keluarga.

TPA pertama yang menjadi pilihan adalah sebuah rumah tinggal yang disulap menjadi TPA dengan berbagai fasilitas untuk anak, dikelola oleh seorang ibu pegawai pemprov Riau. Lumayan banyak anak yang dititipkan disana, usia 2-5 tahun di lantai bawah rumah ada sekitar 10-15 anak. Yang usia bayi sampai 1 tahun ada 10 anak juga di lantai atas terpisah dengan anak-anak besar, jadi aman dari gangguan anak-anak yang sedang bermain atau berlari-lari. Masing-masing lantai ditemani 2 pengasuh, jadi ada 4 pengasuh disana.

Setiap hari kami membawakan alat mandi, baju ganti anak-anak, susu dan makan siang serta beberapa snack. Diantar ke TPA jam 7 pagi dan dijemput jam 4 sore. Awal masuk TPA bagi adek bayi tidak banyak masalah, terpenting cukup susu, istirahat dan kenyamanan sepanjang hari di ayunan. Sedangkan adaptasi si kakak, hampir tiap hari selama satu minggu saat diantar dan dijemput selalu menangis. Rasanya kami tidak tega, tapi ibu pengasuh meyakinkan kami bahwa kakak baik-baik saja. Sudah bisa bermain, makan bersama dan mengikuti jadwal TPA. Ok lah...Bismillah....langkah pertama telah berhasil dilalui.

Baru 2 bulan menikmati kenyamanan di TPA ternyata 2 ibu pengasuh favorit anak-anak (Bu Titin dan Bu Vira) mengundurkan diri dari lembaga karena ketidakcocokan sistem. Selanjutnya satu minggu anak-anak diasuh oleh ibu lainnya namun kami merasa tidak cocok. Akhirnya kami hubungi ibu pengasuh yang sebelumnya, memohon agar mereka mau menjadi pengasuh anak-anak dirumah. Ternyata yang menghubungi ibu-ibu pengasuh itu tidak hanya kami berdua, namun juga beberapa wali TPA lainnya. Permasalahannya sama...sudah cocok dengan pengasuh lama, anaknya tidak mau di TPA dengan pengasuh lainnya. Akhirnya kedua ibu tersebut membuat TPA sendiri di rumah kontrakan Bu Titin, meski sangat sederhana dan minim fasilitas namun anak-anak nyaman dan bahagia. Jadilah hari-hari selanjutnya anak-anak kami titipkan di TPA yang diberi nama Cahaya Bunda.

Tahun 2010 kami harus hijrah ke Bandung. Kemudian balik lagi ke Pekanbaru di 2012, kami menitipkan anak-anak di tempat yang berbeda. TPA kedua ini adalah sebuah cikal bakal Taman Kanak-kanak yang dibuka di dekat kantor suami. Karena rumah kontrakan kami lebih dekat ke kantor suami akhirnya kami menitipkan 3 anak disitu... TPA Insan Amanah. Saat pagi anak-anak ikut kegiatan PAUD dan TK, setelah istirahat siang mereka pindah ke ruang belakang menjadi anak TPA. Lagi-lagi menurut kami bukan fasilitas TPA yang utama namun kasih sayang. Ada bunda Nurul, bunda Essy dan bunda lainnya disana yang mengasuh anak-anak selayaknya anak/adek sendiri. Tak jarang pas kami jemput sore anak-anak ternyata diajak jajan ke minimarket sebelah, padahal kami tidak membekali mereka uang jajan.

Di tahun 2014, kami harus pindah kontrakan lagi (kontraktor :-) ). Demi mempersiapkan kelahiran adek bayi ke4 akhirnya kami mencari kontrakan yang dekat dengan TPA Cahaya Bunda yang dulu. Alhamdulillah...saat bayi kecil kami lahir dan nenek yang dari Jawa pulang, kembali kami titipkan 4 anak disana. Meski 3 anak lainnya sudah masuk usia sekolah namun mereka tetap senang jika pulang sekolah dititipkan di TPA.


Alhamdulillah...selama 2008-2016 di Pekanbaru, 4 anak mempunyai rumah kedua yang penuh kasih sayang di TPA Cahaya Bunda dan Insan Amanah. Berita-berita miring dan kekhawatiran beberapa ibu tentang TPA tidak pernah kami alami. Bagi kami ibu-ibu pengasuh di TPA adalah bagian dari keluarga yang tak tergantikan. Beliau-beliaulah yang berjasa besar menemani perkembangan 4 anak kami di usia balita.

Terima kasih bu Titin, bu Vira, bunda Nurul, bunda Essy dan bunda2 lainnya...semoga. Allah berikan kesehatan, keluasan rezeki dan kebarokahan serta kemudahan di segala hal. Aamiin

Dan semoga suatu saat nanti bisa bertemu 4F lagi. Aamiin

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe13


Minggu, 25 Februari 2018

BERSABAR DALAM PROSES


Masih ingat lagu ini?
=====
Nasi putih terhidang di meja
Kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
Darimana kah datangnya?
Dari sawah dan ladang disana
Petanilah menanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Trimakasih bapak tani
Trimakasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia
=====

Di masa kecil saya, lagu ini sering diputar di TVRI bergantian dengan lagu ucapan trima kasih untuk guru dan nelayan. Ya...kita bisa makan nasi dengan cukup atas jasa para petani (yang sekarang merupakan profesi tak diminati anak muda). Mendapatkan sebuah bulir padi itu bukan hal yang mudah, butuh kesabaran dalam prosesnya. Pun ketika mengubah bulir padi itu menjadi beras, banyak faktor yang menyusutkan timbangannya.


Beberapa hari kami dipertemukan dengan kegiatan bagaimana meneliti perjalanan sebulir padi (gabah) menjati sebutir beras. Mulai cara mengukur kadar air gabah dan beras hasil penggilingan dengan Moisture Meter (review jaman di Pekanbaru juga), menghitung masa kering gabah : berapa hari penjemuran, berapa kedalaman penjemuran, berapa kali dibolak-balik, mengetahui proses penggilingan gabah ke beras, phase penggilingan, derajat sosoh serta persentase susut dari gabah ke beras. Semua terangkum dalam Survei Konversi Gabah ke Beras 2018.

Banyak hal baru yang kami ketahui, terutama susutnya timbangan sejak proses panen gabah hingga menjadi beras yang akhirnya di distribusikan ke konsumen : susut beras karena tercecernya saat proses pengeringan (keluar masuk karung), dimakan ternak/unggas, jika dijemur di pinggir jalan terbawa roda kendaraan dan lain-lain. Itulah yang sebenarnya akan dilihat hasilnya...dalam perjalanan dari gabah kering panen (GKP) menjadi beras mengalamai susut hingga berapa persen? Hingga akhirnya nanti ditemukan sebuah formula ketika terdapat nilai panen sekian ton gabah maka sebenarnya yang bisa dikonsumsi masyarakat berapa ton? (Hasil pengamatan hari ini dari 100 kg gabah yang digiling, hasilnya 66-67 kg beras, sisanya dalam bentuk sekam dan bekatul).


Satu hal lagi yang kami tahu, ternyata dalam pengkategorian beras premium dan medium salah satu syaratnya dalah persentase derajat sosoh, beras premium berderajat sosoh 100% sedangkan beras premium 95%, semakin rendah mediumnya maka derajat sosohnya makin kecil. Padahal derajat sosoh itu adalah persentase terkelupasnya beras dari kulit2 arinya, jika derajat sosoh makin tinggi maka biasanya beras lebih putih dan jernih karena kulitnya sudah terkelupas semua....artinya lagi kandungan gizinya paling kecil dibandingkan beras di prasar tradisonal dengan derajat sosoh 60-80% (warna beras agak keruh). Jadi mau pilih beras yang mana?

Masih teringat pesan orang tua di masa kecil, habiskan semua butir nasi yang ada di piring, jangan tersisa satu pun. Pertama untuk meraih keberkahan dari rezeki berupa makanan, yang kedua tentunya bentuk kesyukuran atas usaha keras dan kesabaran petani mengolah tanaman padi menjadi gabah, dan akhirnya sampai ke kita dalam bentuk nasi.

Bersabarlah dalam sebuah proses : benih >> tanaman padi >> gabah >> beras >> nasi ... Alhamdulillah...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe11   

Minggu, 18 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (2)

Pernahkah anda singgah di sebuah restoran/rumah makan dan memberikan apresiasi jika menu dan hasil racikan koki menjadi sesuatu hal yang memuaskan lidah dan hati anda?
Gak usah sebut nama dan merk lah...masing-masing kita tentunya punya standar masing-masing tentang definisi rasa ENAK dan ENAK SEKALI...

Begitulah dunia pekerjaan saya, diibaratkan sebuah restoran ada yang menyusun menu, ada yang berbelanja, ada yang membuat resep masakan, ada yang bertugas sebagai koki, ada pula pramusaji yang menyajikannya di hadapan pelanggan. Kenapa? Karena dunia kerja saya dari hulu ke hilir, ada saatnya saya berada di hulu ada saatnya saya berada di hilir...namun keduanya mempunyai aliran dan muaranya sama.


Saya pernah singgah di 5 kantor,ada yang cuma beberapa bulan dan ada pula yang sampai beberapa tahun.
Di 3 kantor sebelumnya saya termasuk petugas bagian hulu, diibaratkan sebuah restoran tadi saya ada di tugas berbelanja. Bagaimana saya harus memilih bahan masakan di daftar belanja yang sudah ada...

Saya sudah dibekali SOP pencacahan dan pengawasan, konsep definisi, dan sedikit ilmu hubungan masyarakat. Tinggal bagaimana saya mengolah energi dan rasa dengan responden agar data yang terkumpul adalah data kualitas terbaik sesuai konsep dan definisi yang telah ditetapkan. Tak jarang wawancara yang singkat harus selesai lebih panjang demi mengolah rasa empati kepada responden atas beban hidup yang mereka rasakan. Terkadang saya juga harus menjelaskan apa dan bagaimana sebuah data dibutuhkan kepada aparat pemerintah daerah setempat ataupun pimpinan perusaahaan. Atau mengurai rasa curiga di hati setiap pemilik rumah ketika pintunya diketuk petugas BPS.
Ditolak responden? Sudah berkali-kali...
Janji palsu responden? Tak bisa dihitung jari lagi...berapakah pulsa hp yang terkuras untuk telpon menanyakan kuesioner yang tiba2 hilang entah kemana, menunggu bermenit-menit dan berjam-jam demi bertemu si bos yang katanya sedang rapat, namun ternyata keluar kantor lewat pintu belakang. Dan pengalaman lucu, bahagia, sedih dan dramatis lainnya.

Kemudian di kantor ke 4 saya diberi kesempatan untuk bergabung di bagian hilir, istilah restoran adalah bagian pramusaji. Data dari petugas pencacah mingguan, 2 mingguan, dan bulanan tersaji cantik di halaman Berita Resmi Statistik Harga Konsumen atau yang lebih terkenal dengan nama BRS INFLASI setiap awal bulan.
Atau tentang pengeluaran petani dalam memutar roda kehidupannya di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan lain -lain dalam BRS Nilai Tukar Petani yang tersaji tak kalah cantiknya di tanggal yang sama.
Pun menyajikan nilai Pertumbuhan Ekonomi yang dipresentasikan 3 bulan sekali, memaknai sebuah angka bahwa bertambah jumlah itu belum tentu bertumbuh secara ekonomi. Pelanggan tidak akan tahu jika pramusaji tepat waktu mengantarkan data itu didukung oleh tim yang mungkin malam sebelumnya kurang tidur, merelakan hari liburnya di depan meja laptop, atau mengetik angka demi angka dari rumah sambil menyusui sang bayi. Apa dan bagaimana sisi belakang pramusaji pelanggan hanya tahu...pesanannya disajikan tepat waktu.

Dan sekarang saatnya saya diberikan kesempatan sebagai marketing...untuk apa? Agar pelanggan yang datang restoran semakin banyak, pelanggan lama tidak beralih dan pelanggan baru semakin mendekat. Caranya? Kenalkan menu kita kepada khalayak ramai, mungkin banyak yang tidak datang ke restoran kita karena belum tahu menu yang disajikan, belum tahu rumitnya dan keistimewaan racikan bumbu yang digunakan dan terpenting belum tahu bahwa hidangan yang disajikan pramusaji sangat spesial.

Ini adalah babak baru bagi saya dan juga beberapa kawan yang lain...di satu sisi tetap menjadi petugas hulu ataupun hilir, disatu sisi lagi ditambah dunia marketing....road to media!


Terima kasih ilmunya mbak Tasmilah Ummufarah...semoga bersama-sama kita bisa menjadi marketing terbaik untuk data yang terpercaya untuk semua!

BEKAM


Pernahkah anda bekam?

Pertama kali saya bekam ketika di Pekanbaru sekitar tahun 2009, saat itu saya merasakan sakit kepala yang sangat mengganggu. Bahkan saya seringkali membenturkan kepala saya ke tembok untuk mengurangi sakitnya. Saya tidak berani ke dokter karena membayangkan obat-obatan yang harus saya minum dan diagnosa-diagnosa yang tidak saya harapkan. Terlebih saat itu saya menjadi ibu menyusui, minimalisir asupan kimia ke tubuh. Akhirnya suami memberikan alternatif : bekam.

Apa dan bagaimana bekam itu sempat saya cari infonya lewat internet, karena suami juga belum pernah. Gambar-gambar di internet kok sepertinya membuat saya takut, terlebih ada darah-darah yang harus dikeluarkan... namun demi kesembuhan dan bujukan suami akhirnya saya mau mencoba.

Terapis bekam pertama saya adalah istri salah satu teman kantor suami. Rasanya gimana? Antara takut dan penasaran he...ternyata tidak seperti yang saya bayangkan dan takutkan, bekam di punggung meski mengeluarkan darah namun pasien tidak bisa melihat langsung. Hanya merasakan bagaimana titik-titik bekam di-kop (biasanya sekitar 8 titik) menggunakan alat seperti gelas kecil, kemudian ditusuk jarum untuk mengeluarkan darahnya.Tusukan-tusukan jarum itupun hanya terasa seperti ditusuk ujung pensil mekanik. Bagi saya tak terasa sakit. Setelah bekam biasanya badan terasa agak lemah karena banyaknya darah yang dikeluarkan. Namun masing-masing orang akan beda efeknya. Yang sama biasanya efek tidur, setelah bekam badan terasa ini istirahat dan bisa tertidur dengan pulas. Intinya saya tidak kapok untuk bekam lagi, terlebih atas kuasa Allah ikhtiar bekam ini telah menyembuhkan sakit kepala saya.

Di Pekanbaru saya sudah mencoba bekam di 3 terapis berbeda, tapi secara umum testimoninya hampir sama. Tidak ada rasa ngeri dan takut. Hanya saja saya belum berani mencoba bekam dengan metode sayatan pisau, jadi setelah di-kop titik bekamnya digunakanlah pisau kecil untuk membuat sayatan agar darah kotor yang dikeluarkan lebih banyak. Terapis bekam metode ini sebenarnya ada di rumah sakit dekat kantor, namun hingga saya pindah tetap tidak berani. Terbayang sayatan pisau nya hii....

Saat 1,5 tahun tinggal di Bandung, saya juga beberapa kali melakukan bekam di terapis dekat rumah. Kalau terapis ini memang mengkhususkan kliniknya untuk bekam dan ruqyah, cukup 5 menit jalan dari rumah Antapani sudah sampai ke klinik. Sebelum dibekam biasanya dipijat dulu area punggung untuk pemanasan, ada tambahan juga punggung saya dipukul-pukul menggunakan sapu lidi. Tujuan jelasnya saya kurang paham namun masih sekitar untuk pemanasan dan kelancaran peredaran darah. Testimoninya sama dengan terapis bekam di Pekanbaru, tidur pulas setelah bekam :-)

Foto Sri Suharti.

Ketika pindah di Jogja saya mulai mencari juga via internet beberapa tempat bekam. Akhirnya bertemu dengan klinik ini. Awalnya saya kesini meniatkan diri untuk mencari krim aman dan halal untuk dipakai di tanah suci, ternyata klinik ini juga melayani terapi bekam. Akhirnya beberapa hari sebelum ke tanah suci saya melakukan bekam disini. Tempatnya bagi saya nyaman banget dan sangat aman untuk muslimah. Satu lagi nilai lebihnya yang saya suka....desain interiornya cantik dominasi warna hijau muda yang lembut dan menyejukkan. Saya selalu terinspirasi untuk menerapkan di rumah, kebetulan lantai keramik rumah warna hijau jadi cari warna perabot rumah yang serasi. Meski sampai sekarang yang sama baru warna kursi sofanya, butuh modal besar juga untuk buat desain interior rumah secantik klinik ini he...

Foto Sri Suharti.

Buat muslimah di Jogja, silakan mampir ke klinik ini jika berniat mencoba bekam. Nikmati kenyamanan plus keamanan aurat muslimah di klinik ini. Rasakan juga kecantikan desain interiornya atau mungkin juga mau mencoba perawatan wajahnya, insya Allah halal dan menjadi bagian dari sedekah kita. Maaf jika tulisan ini mengandung promosi he...
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe5

Kamis, 15 Februari 2018

B-O-N-U-S

Ketika keluar dari rutinitas yg setiap hari kita lakukan dan mempunyai "waktu lebih" sedikit aja....itulah sebuah bonus.


Saat "waktu lebih" itu punya saya namun hakikatnya bonus buat semua orang dirumah.Kenapa? Karena diri ini bukanlah lagi milik hak pribadi seorang, sudah ada prioritas yg lebih tinggi yaitu untuk suami dan anak2.
Bukan hanya saya lho....dominan emak2 punya sifat seperti itu, berkorban waktu dan kesempatan untuk suami dan anak2 itu adalah hal yg sangat biasa, bahkan terkadang "me time" untuk emak itu jadi sesuatu hal yg langka. Pun jika akhirnya pagi itu ketika ada "waktu lebih" buat saya namun akhirnya harus habis untuk urusan keluarga.

Disaat saya biasa berangkat kerja jam 6 pagi, hari itu saya dapat dispensasi mundur 6 jam (meski waktu pulang juga jadi mundur 3 jam), namun tetap untung kalo menggunakan perhitungan matematika he...
Pagi saya bisa full membersamai anak2 menjelang berangkat sekolah, mulai menyiapkan sarapan, menemani mereka menghabiskan suapan demi suapan, bahkan sempat menyuapkan beberapa sendok ke mulut anak yg masih lama makannya. Lanjut memastikan buku sudah terjadwal semua di tas, mempercepat mereka memakai sepatu, dan melepas kepergian mereka ke sekolah.

Jika biasanya suami yang terakhir berangkat ke kantor dan harus menyiapkan semuanya sendiri, pagi itu saya bisa full menyiapkan kebutuhan suami, mulai dari sarapan dirumah, memastikan baju seragam dan kelengkapannya OK, dan melepas beliau ke tempat kerja. Lega rasanya jika anak dan suami sudah berangkat ke tempat aktivitas mereka dengan bahagia dan tidak terlambat.

Tugas pagi belum selesai...lanjut antar si bungsu ke tempat mbah yang ngasuh, meski saya berangkat siang hari, namun jika si kecil tahu jadwal saya bisa2 saya gagal berangkat kerja hari itu. Bocah ini cerdas luar biasa, saya harus menata ucapan agar tidak salah dan digugat di kemudian hari. Termasuk jika hari itu saya berangkat lebih siang dan menuju ke tempat favorit dia :-)

Setelah rumah sepi...mulailah "si inem" bertugas : sapu halaman rumah, beres2 ruang tamu, mengurus jemuran kemarin yg belum kering sambil memutar mesin cuci untuk baju2 kotor yg menumpuk, dan pekerjaan rumah lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dengan sebuah harapan bahwa sebelum berangkat nanti semua pekerjaan itu bisa terselesaikan.

Menit demi menit, jam demi jam berlalu dan ternyata sudah saatnya berangkat kerja....dan saya harus mengakhiri aktivitas saya dengan tugas2 kerumahtanggaan,  meski daftar pekerjaan rumah belum juga selesai.

Namun patutlah bonus waktu pagi itu disyukuri, insya Allah saat suami n anak pulang sore, rumah sudah rapi :-)
Oya plus pagi itu saya bisa juga ikut menyimak kulwap di grup Jogja#1, berbagi ilmu via online.

Alhamdulillah....Nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4

MENUJU KANTOR

Setiap orang punya cerita, setiap orang punya derita, setiap orang punya bahagia, namun tidak semua orang punya...hikmah.


Rumah dan kantor adalah 2 hal tak terpisahkan sejak akhir 2004, dan selama hampir 14 tahun muncullah memory beberapa gedung di negeri ini yg telah disinggahi. Posisi sekarang adalah kantor ke 5 saya...

Senang? Alhamdulillah...tentu saja, bisa berkantor di tanah kelahiran sendiri (meski posisi masih geser GPS nya dari rumah masa kecil :-) ), bisa sering birrul walidain, ketemu teman2 lama dll...
Deritanya...ada juga lah. Ini kantor yg paling jauh dari rumah diantara 4 kantor lainnya, jadi selalu ada perjuangan untuk pp rumah-kantor. Awal2 saya menganggapnya sebagai sebuah derita, namun seiring perjalanan 2 tahun ternyata banyak hikmah yg didapat. Terpenting suami ikhlas melepas saya ke kantor lebih pagi...dan pulang kerumah lebih malam...Apa saja hikmahnya? Banyaaak...mungkin satu judul tulisan tersendiri :-)

Standar saya, perjalanan ke kantor ditempuh 1,5 jam, itu pun sudah mepet antara telat atau tidak he...
Diawali dgn naik motor dari rumah sekitar 9 km ke tempat penitipan motor, bayar harian disini Rp 2.000,- . Dilanjutkan dengan menunggu bis, faktor rejeki sangat mempengaruhi. Kadang dapat bis besar nyaman dan cepat, kadang dapat bis kecil yg sempit n lambat. Bis ini menempuh jarak sekitar 20-25 km dgn rute yg naik turun n berbelok2. Ongkosnya untuk penumpang langganan (lajon) Rp 6.000,- sekali trip. Untuk penumpang reguler Rp 10.000,- diluar masa liburan dan hari raya...bisa 2x ongkosnya :-)

Bis ini melewati 4 kab/kota lho...meski jaraknya hanya segitu, yaitu kota Jogja, kab Sleman, kab Bantul barulah masuk kab Gunungkidul.
Setelah jarak tersebut terlampaui turunlah saya di kab tujuan, namun untuk menuju ke kantor masih ada jarak 5 km dari turun bis. Bisa naik ojek dgn Rp 10.000,- atau biasanya sesama lajon menitipkan motornya di lokasi turun bis tadi, termasuk saya. Biaya penitipan motor langganan Rp 30.000,- sebulan.

Sepuluh menit berkendara...sampailah saya di kantor disambut mesin handkey dan segelas teh manis anget obat masuk angin n mabuk di bis :-)

Satu lagi...kabupaten ini kan destinasi wisata yg terkenal di jogja dengan pantai2nya. Karena saya udah pagi sore lewat rute ini maka ketika diajak suami atau saudara piknik ke pantai daerah sini saya langsung bilang...NO!
Senin-Jumat saya sudah "meng-ukur" jalanan ini, apa Sabtu Ahad perlu saya ukur lagi? Masih banyak tempat piknik yg gak lewat rute ini. Ha...haa....

Jadi yg berniat pindah kesini dan gak mau naik motor PP rumah-kantor, silakan pelajari rute di atas he...
Gak perlu baper lah, pejuang2 lajon seperti saya n beberapa teman kantor ini banyaaaaaak....ibu2 guru yg sudah puluhan tahun menikmati ritme lajon, pegawai pemda yg gak pernah tinggal di teritorial wilayah kerjanya dll.

Salam dari ketinggian, Jogja Lantai 2 !!!

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe3

Sabtu, 03 Februari 2018

Olahraga Ala Emak


Tak salah lagi jika emak itu harus sehat dan kuat, apa kuncinya? Makan bergizi, istirahat cukup dan rutin olahraga. Kenyataannya?
Saya sih belum pernah buat survei ke emak2, cuma dilihat dari kacamata sesama emak rempong jawaban atas 3 syarat itu : NO!!!

Makan : lebih sering sesi terakhir setelah suami n anak dapat jatah semua (kecuali pas ada jadwal pelatihan he...) bahkan mungkin sekali tugasnya habisin makan si balita n anak lainnya, atau malah habisin nasi, lauk n sayur kemarin yg sayang jika dibuang+semua orang dirumah sudah menolak he....

Istirahat cukup : waduh kerjaan rumah itu lebih banyak dari 24 jam waktu yg ada, bahkan ada pepatah mengatakan "emak itu bangun paling pagi n tidur paling malam", belum lagi kalo masih punya bayi atau balita bisa 3-5x bangun di jam tidur. Lha jadi kapan tidurnya???

Olahraga : lha ini yg sebenarnya saya mau cerita, emak olahraga ini banyak banget godaannya. Sabtu pagi saatnya olahraga tergoda buat turun ke dapur siapin sarapan anak2 yg mau ekskul, Ahad pagi pas banget buat olahraga malah sudah di depan tv ditemani baju segunung yg mau disetrika :-)

Tapi hari ini saya berhasil saudara2... untuk sedikit melemaskan kaki2 yg mulai kaku akibat lama duduk di kantor, bis dan motor. Pagi2 dah ijin suami mau jalan pagi mumpung balita masih tidur nyenyak. Ajak anak2 yg lain tidak berminat, lebih milih aktivitas sepeda di sekitar rumah.

Akhirnya berjalan lah emak rempong ini sendirian dgn semanga 2018, melewati pinggir sawah dan menyeberangi jembatan (kelihatan ya rumah ndeso....). Dan Alhamdulillah 20 menit jalan pagi sudah tercapai dgn tujuan akhir : PASAR :-)

Tetep aja emak gak mau rugi, harus multitasking. Niat olahraga tetep tujuannya bisa dapat belanja sayur n sarapan pagi. Katanya sekali menyelam dua pulau terlampaui he....

Dan pulang dari pasar jalan lagi? Enggaklah...dengan tangan kanan n kiri penuh belanjaan, segera telpon suami di rumah buat jemput ha...ha ....haaa...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe2

Sidang Tilang

Hari ini dapat challenge menulis dari grup emak-emak, pas banget dapat cerita tentang sidang tilang yg dialami sendiri, kisah nyata lho :-)

Ini adalah jadwal sidang saya yang ke-3, setelah sidang skripsi dan sidang tesis he…tapi tetep saja yang namanya sidang selalu buat deg-degan. Tanya ke suami belum pernah, tanya ke beberapa teman kantor juga belum pernah. Ok lah…kita hadapi hari ini dengan optimis, Jumat berkah insya Allah.

Jadi cerita ini diawali ketika suatu pagi saat mengejar 7.30 di kantor, saya didekati bapak polisi saat berhenti di lampu merah.Langsung lah pak polisi itu menanyakan SIM n STNK motor, saya sih santai saja karena selama ini pas ada razia selalu lolos. Surat-surat lengkap.
Ternyataaaa….motor saya disuruh pinggirkan dan diarahkan ke pak polisi lain yang yang lagi nulis2 di kertas biru dan pink. Akhirnya dituliskanlah surat tilang atas nama saya hiks….alasannya lampu motor saya tidak dinyalakan di pagi itu.
Meski  sedih namun gak boleh baper…harus move on, langsung segera tancap gas ke kantor dan saya tidak telat  Ketidak telatan ini seperti sebuah oase di tengah gurun…..

Eh lanjut ya…
Hari ini jadwal sidang jam 09.00, saya datang ke kantor Kejaksaan jam 09.10, dan sudah penuh parkiran plus orang-orang disana. Sendirian saya menyibak kerumunan orang dan berdiri di samping beberapa polisi yang duduk di ruangan itu.
“Pak saya mau kumpulkan surat tilang.” kata saya
“ Tanggal sidangnya pastikan hari ini sudah benar bu? “ jawab polisi itu.
“Iya pak sudah benar, tanggal 2 Februari jam 09.00”, sambil saya sodorkan surat tilang pink.
“Oh ibu sudah transfer di bank ya sebelumnya? Langsung saja dikumpulkan di meja sebelah bu, nanti langsung dipanggil ambil STNK nya” kata polisi lagi.
Saya baru inget ternyata pas siang setelah ditilang, saya dapat sms untuk membayar 50 ribu via bank. Ok lah…masih berharap tidak ikut sidang saya segera bayar di bank, dan saya menunggu-nunggu  ternyata tidak ada sms pembatalan sidang hiks…

Lanjut ya…pas surat tilang saya kumpulkan di meja pengambilan STNK, surat itu harus diantrikan bareng surat-surat yang lain. Artinya saya harus menunggu dipanggil  saat giliran surat tilang saya dicocokkan dengan STNK. Dan akhirnya setalah kurang lebih 15 menit saya menunggu, ada panggilan dari petugas kejaksaan atas nama saya.
Saya datang ke meja petugas, tanda tangan dan STNK kembali ada di tangan saya. Alhamdulillah…gak se ngeri 2 sidang sebelumnya he…
Judul acaranya sidang tilang, tapi kenyataannya datang-bayar-ambil. Semoga bermanfaat ya…

Tips :
1. Hati-hati di jalan, jangan sampai kena tilang 
2. Jika kena tilang, ikuti saja prosedurnya. Pernah sih baca postingan masalah surat tilang biru dan pink, tapi dah gak kepikiran pas di stop polisi he…
3. Jika di sms resmi untuk pembayaran biaya tilang, bayar saja duluan agar antrian gak lama pas ambil stnk
4. Datang ke Kejaksaan pas hari sidang, parkirkan kendaraan di tempat yang mudah keluar lagi. Karena kalau proses sidang cepat tapi pas ambil kendaraan susah karena posisi motor di tengah2 parkiran sama saja jadinya…gak bisa pulang cepat.
5. Kalo datangnya siang mepet sholat Jumat, mungkin gak pake antri ya 
6. Ambil hikmah dari setiap kondisi dan kejadian yang ada di sekitar kita, Allah punya rencana special untuk masing-masing kita

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe1




Jumat, 26 April 2013

Kematian yang Baik dan Kematian yang Buruk


Kita tidak akan pernah tahu kapan jadwal kematian akan tiba, kita hanya tahu satu : jadwal itu telah tertuliskan bagi setiap diri kita. Hikmah dari waktu yang tidak kita ketahui adalah persiapan yang harus kita lakukan untuk menyambut jadwal kematian tersebut.

Ketika seseorang berakhir dengan Kematian yang Baik (Khusnul Khotimah) maka beribu keutamaan ada padanya. Di dunia saja akan banyak dikenang orang, disebut-sebut semua kebaikannya, banyaknya sahabat dan kerabat yang men-sholatkan, mendoakan dan mengantarkan sampai peristirahatan terakhir. Banyak pula orang yang terinspiorasi dengan momen Kematian yang Baik tersebut, sehingga menggerakkan hati dan jasad mereka menuju kebaikan. Itulah beberapa amalan yang akan dibawa sampai akhirat bagi yang telah terjadwal.

Kematian yang Buruk (Su’ul Khotimah) adalah seburuk-buruk saat kembali kepada Illahi. Tak ada satu orangpun yang menginginkan berakhir dengan kematian yang buruk. Sebelum sampai ke azab kubur, telah nampak beberapa tanda di dunia tentang akhir kehidupannya. Bisa ucapan buruk yang ada di mulutnya, berada di temapat maksiat saat jadwal itu datang ataupun terbukalah aib selama di dunia yang selalu ditutupi.

Sudah sampai manakah persiapan kita?

Jika Kematian yang Baik kita harapkan, janganlah tunda-tunda melaksanakan kebaikan, jauhkanlah niat-niat keburukan dan tinggalkanlah masa lalu yang kelam.

Kenangan buruk di masa lalu akan mudah tertutupi dengan kebaikan di masa sekarang dan masa depan.

Tidak ada kata terlambat untuk mengawali sebuah perubahan kebaikan…..TAUBAT…..

Janganlah sekali-kali berharap kematian yang buruk, susah di dunia dan susah di akhirat.


Mulai saat ini,

pada diri sendiri

kita segera perbaiki

menyambut jadwal yang harus ditepati…..


26 April 2013, saat wafatnya Ust Jeffry Al Buchori

Jumat, 12 April 2013

Kehidupan di Luar Sana

Tugas utama seorang surveyor adalah mengumpulkan data baik secara individu, keluarga maupun perusahaan. Pun pada saat ini saya mendapatkan tugas dari pimpinan mengumpulkan data pengeluaran rumah tangga selama 3 bulan terakhir. Data yang diambil adalah rumah tangga dengan golongan pendapatan rendah, menengah dan tinggi.

Mulailah awal minggu ini saya berkelana mencari responden yang cocok dan kooperatif untuk dimintai keterangan. Bukan hal yang mudah karena pertama kita harus mencocokkan dengan range pendapatan yang diperlukan dan yang pasti responden tersebut mempunyai waktu cukup untuk dimintai keterangan. Yah, cukup banyak poin pertanyaan yang harus disampaikan, mulai pengeluaran beras, minyak goreng, sayuran, daging/ikan sampai dengan pembelian mobil/motor. Minimal 30 menit wawancara harus dilakukan.
Setelah saya dapat mewawancarai beberapa responden, secara tidak langsung saya bisa melihat kehidupan responden tersebut setiap hari selama 3 bulan ini. Ada yang berpendapatan tinggi dengan pengeluaran terbesar di pendidikan anak, sehingga secara umum kehidupan keseharian mereka biasa saja. Tak ada kesan sama sekali bahwa keluraga tersebut mempunyai pendapatan yang tinggi. Ada yang berpendapatan menengah dengan konsumsi makanan jadi ( nasi bungkus, bakso, soto, mie ayam dan lain-lain) tinggi, sehingga hampr sebagian besar pengeluaran hanya untuk makanan. Alasan keluarga tersebut tidak memasak sendiri adalah alasan kepraktisan, toh saya sebagai surveyor tidak mempunyai hak untuk memberikan keputusan baik atau tidak akan pola kehidupan keluarganya seperti ini. Ada pula rumah tangga yang berpenghasilan minim namun sang ayah adalah perokok berat. Untuk belanja sayur saja pas-pasan tapi untuk membeli sebungkus rokok seperti sebuah kewajiban. Ternyata seperti itulah kehidupan beberapa keluarga di luar sana. Ada yang patut kita contoh, ada pula yang membuat kita prihatin.

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, namun ketika ketika masuk ke halamannya kita akan semakin tahu bahwa ada pula yang kuning, bahkan mulai mengering. Nikmati dan syukuri rezeki yang ada di keluarga kita hari ini …..

Senin, 01 April 2013

Efek Pindah-pindah Kota

Saat memasuki masa kuliah, saya harus meninggalkan kota kelahiran menuju ibu kota Jakarta. 4 tahun hidup sebagai mahasiswa di Jakarta, memaksa saya untuk akrab dengan rutinitas Jakarta sekaligus alat transportasi yang hemat, cepat dan tepat. Mau tidak mau saya harus menghafal rute bus, angkot termasuk jalan-jalan utama yang dilewati angkutan umum tersebut. Secara umum, saya kategorikan sukses pengembaraan di Jakarta. Kenapa? Ketika ada orang tanya letak suatu tempat, saya sudah bisa membayangkan tempat tersebut serta memperkirakan angkutan apa yang lewat daerah itu.
Episode kedua adalah pengembaraan di pulau Sulawesi, kota Makassar. Meski tidak lama pengembaraan disini tapi cukuplah mengisi memori tentang pete-pete yang harus dinaiki jika hendak ke Al Markaz, atau hendak ke UNHAS. Selain itu juga saya sudah mulai terbiasa membentang peta kota Makassar yang menjadi panduan untuk berkeliling. Cukuplah 1 tahun di kota Makassar.....
Episode ketiga, kehidupan kota Bandung. Agak berbeda ketika memasuki kota ini, bekal awal yang disiapkan adalah peta dan sepeda motor. Meski awal perjalanan di kota ini bingung karena banyak jalan yang satu arah, sehingga sempat membuat polisi kota Bandung meniup peluit.....(baca : tilang).
Akhirnya episode di Bandung diakhiri setelah 1,5 tahun melintasi jalan-jalan di kota Bandung.
Last but not least, kota bertuah Pekanbaru di pulau Sumatera. Yakin kalau di kota ini kita harus dan wajib memiliki kendaraan pribadi, Karena kota ini kurang didukung transportasi umu yang bisa mencapai setiap sudut kota.
Setelah Jakarta, Makassar, Bandung, Pekanbaru dan tak terlupa kota kelahiran saya. Maka kebingungan itu sering kali datang.
"Di mana alamat kantornya?"
" Jl Sudirman No. 40"
Langsung lah saat itu kepala saya mulai berdenyut, menata memori yang ada di otak. Menyadarkan kembali dimana kaki ini dipijak. Terbayanglah Jalan Sudirman yang di Jakarta, Makassar, Bandung dan Pekanbaru (satu lagi di kota kelahiran saya).   
Saya harus secara cepat menganalisis kota mana yang sesuai dan mulai membayangkan rute yang dituju. Apabila pikiran masih fresh maka memori di otak akan mudah di sesuaikan, namun jika telah lelah maka ketika yang ditanya Jl Sudirman Pekanbaru, maka yang selalu terbayang di otak adalah Jalan Sudirman Jakarta.
Itulah sedikit cerita, efek dari pindah-pindah kota, banyak pengalaman, banyak cerita dan banyak bahagiaaaaa......:-)

Selasa, 05 Februari 2013

Pekanbaru...Kota Bertuah (1)

8 Oktober 2008, pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota ini, di bandara Sultan Syarif Qasim (SSQ) II. Pada saat itu aku datang dengan mengendong bayi laki-laki usia 2 bulan dan tangan kananku menggandeng balita perempuan usia 2 tahun (karena suamiku bawa barang-barang he...). Jikalau bukan karena suamiku tugas di kota ini, mungkin gak akan kuinjakkan kakiku di kota ini.
Kesan pertama ketika menyusuri jalanan di Pekanbaru (naik taksi) adalah MEWAH. Sebenarnya kemewahan itu terlihat hanya dari satu alasan "lampu jalan yang berwarna-warni". Ya, layaknya pas jelang 17 Agustus di Jakarta, sepanjang Jl Sudirman (jalan utama) nampak lampu berkelap-kelip dengan aksen kupu-kupu, pohon ataupun hanya sekedar bentuk bulat atau panjang. Ternyata setelah kutanyakan ke suami, sepanjang malam dan sepanjang tahun di Pekanbaru ini lampu-lampu berhias selalu ada di sepanjang Jl Sudirman. Cantik dan mewah...
Memasuki pusat kota semakin nampak kemewahan itu, ada kolam air mancur di dekat kantor Walikota dan setelahnya akan nampak kantor Gubernur yang nampak cantik di malam hari. Aturan lalu lintas dengan adanya putaran di depan kantor Gubernur seakan membuat lokasi itu sebagai magnet kota Pekanbaru.
Itu sedikit cerita awal Pekanbaru di 2008, sekarang ......(bersambung) 

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?