Emak Kuat? Itu harus. Coba diamati di rumah dan lingkungan
masing-masing, lebih kuat mana emak sama bapak? Jawab di hati aja
ya...kawatir ada satu pihak yang tersungging eh tersinggung
:-)
Momen ini terjadi saat saya harus LDMan dengan suami, beliau mengasuh 3
anak usia SD dan saya ditinggali si anak bungsu usia 1 tahun. Awal2 LDM
terasa berat, namun masih bisa gantian berkunjung antara saya dan
suami. Namun bulan-bulan terakhir 2015 adalah saat yang berat bagi kami,
Pekanbaru diliputi kabut asap 3 bulan full.
Sebenarnya kabut
asap adalah bencana alam yang hampir biasa terjadi di Pekanbaru, namun
waktu-waktu yang lalu saya menghadapi dengan suami, tentunya merasa
lebih aman. Ketika saya harus menghadapi sendiri plus harus menjaga
kesehatan balita usia 1 tahun dari ISPA dkk itu bukanlah hal yang mudah.
Saat berangkat kantor dan pulang anak saya sudah terbiasa menggunakan
masker, pas tiba dirumah pun wilayah main hanya satu kamar yang memang
dipasangi AC. Jika ke ruangan lain di dalam rumah lama-lama sesak nafas
juga.
Suami sempat khawatir dengan kondisi si bungsu yang harus
menghirup kabut asap setiap hari, akhirnya beliau datang ke Pekanbaru.
Ternyata untuk ke Pekanbaru pun bolak balik harus memutar rute, pesawat
tidak bisa landing di bandara SSQ jadi harus turun di Padang dan lanjut
perjalanan darat 8 jam dengan jalan berkelok-kelok naik turun. Akhirnya
beliau tidak jadi ambil anak bungsu, karena membayangkan perjalanannya
balik ke Jogja tidak akan sanggup mengasuh anak sendiri, 8 jam di travel
plus 2 kali naik pesawat dengan 1 kali transit.
Selang beberapa
minggu setelah itu saya sudah jenuh dengan kondisi yang ada serta kangen
berat dengan 3 anak yang lain. Hanya dengan doa saya berharap cuaca
Pekanbaru lebih baik dan saya bisa naik pesawat ke Jogja. Tiap hari yang
saya lihat di HP adalah prakiraan cuaca BMKG dan aplikasi yang
menggambarkan rute2 pesawat yang bisa melewati langit Pekanbaru.
Hari Sabtu, saat saya harus masuk kerja karena ada tes berkaitan dengan
kepegawaian, saya niatkan pulang ke Jogja sore harinya. Saat istirahat
siang saya sempatkan cari tiket via online ke Jakarta, ternyata dibuka
penerbangan Garuda jam 5 sore. Langsung saya booking dan bayar online.
Pas selesai acara jam 2 siang, saya langsung ke kantor Garuda, cetak
tiket sekalian check in. Saya berkhusnudzon semoga sore ini pesawat bisa
terbang.
Pulang dari kantor Garuda saya jemput si bungsu di
penitipan anak, pulang sebentar siapkan perlengkapan anak satu tas
ransel lanjut telpon taksi menuju bandara. Alhamdulillah sampai bandara
jam 4 kurang dan saya langsung masuk ruang tunggu.
Bandara yang
biasanya ramai, hari itu sepi sekali. Hanya sekitar 10 orang yang ada di
ruang tunggu. Meski pesawat yang akan saya naik sudah ada di parkiran
bandara namun saya belumlah tenang, karena cuaca sewaktu-waktu dapat
berubah...
Setelah sholat ashar, saya naik ke pesawat sesuai
panggilan petugas. Doa terus menerus saya panjatkan sampai pesawat bisa
take off dan stabil di atas langit Pekanbaru. Langsung saya ucap syukur
dan menangis di pesawat...setelah sekian bulan tidak melihat langit yang
cerah, dan pesawat yang saya naiki insya Allah bisa mengantarkan ke
Jogja.
Menjelang Maghrib saya sudah landing di bandara Soekarno
Hatta, masih harus melanjutkan perjalanan ke Jogja. Atas arahan suami
saya disuruh naik bis DAMRI ke stasiun. Masya Allah...disinilah saya
mulai bimbang dan baper, saya memang sudah pernah ke bandara ini namun
selalu ada suami dan hanya mengikuti langkahnya. Namun saat ini saya
harus gendong balita, kondisi lelah dan tak tahu arah. Akhirnya setelah
tanya2 saya bisa keluar dari bandara dan menemukan pool bis DAMRI arah
stasiun. Disisi lain saya ingin menyerah, tidak usah ke stasiun karena
jaraknya jauh, tidak jelas, sendirian dan saya sudah sangat lelah.
Terpikir untuk istirahat malam di rumah kakak yang di Jakarta, namun
jauh juga dari bandara.
Meski saya kelelahan namun si bungsu
kondisi sehat dan ceria, sepanjang naik bis DAMRI dia tidak tidur.
Bahkan selalu minta jalan di atas bis, padahal emak ini sudah tinggal
sisa-sisa tenaga yang ada. Bismillah...bismillah...
Sampailah di stasiun jam 20.45 menit dan kereta ke Jogja berangkat jam 21.00.
Di menit2 terakhir itulah saya bisa dapatkan tiket dan setengah berlari
menuju ke peron yang ada di lantai atas sambil menggendong anak. Bahkan
petugas stasiun sampai berteriak mengingatkan saya bahwa ada anak yang
saya gendong, kawatir jatuh. Begitu tiba di peron saya segera naik ke
kereta, Masya Allah selisih beberapa menit kereta itu berangkat (dan
saya masih harus jalan di atas gerbong karena dapat gerbong yang paling
belakang). Lagi-lagi air mata saya hampir runtuh...hanya karena kuasa
Allah saya masih bisa ada di kereta ini dengan menit-menit terakhir
sebelum berangkat.
Kereta berjalan semakin cepat, si bungsu
sudah kecapekan dan tertidur pulas di bawah kursi. Saya sholat Maghrib
dan Isya serta memesan segelas kopi panas dan sepiring nasi goreng.
Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?
Masih terbayang lelahnya ujian tadi pagi, berburu tiket pesawat, naik
taksi mengejar jadwal pesawat, terbang di pesawat dengan penumpang tak
lebih dari 15 orang, hiruk pikuknya bandara Jakarta, repotnya urus
balita di dalam bis dan perjuangan naik kereta....
Emak itu harus lebih kuat! Alhamdulillah.
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe7