Tampilkan postingan dengan label Cerita Kami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kami. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Juli 2021

Diary Penyintas Covid-19

17 Juni 2021

Bi, sejak kemarin tenggorokanku sakit.

Sepertinya kebanyakan es teh dan gorengan. 

Sebaiknya kita kurangi lah konsumsi itu dirumah.

Sent...

Kukirim pesan WA ke suamiku. Ya, memang itu yang kurasakan. Seperti gejala mau batuk atau radang tenggorokan. 

Hari ini jadwalku WFO, sendirian di ruangan karena rekan kerja sedang ke lapangan. Nanti agak siang aku juga berangkat ke lapangan, survei litbang ditemani salah satu KSK.

18 Juni 2021

Pagi ini aku merasa gak enak badan, tadi malam tenggorokanku terasa lebih sakit. Sepanjang malam aku minum air hangat, cenderung panas untuk meredakannya. Tapi sepertinya belum ada perubahan.

Hari ini aku WFH tapi ada 2 agenda lain : ambil raport F4, kembalikan buku di sekolah F2, makan siang perpisahan dengan kepala seksi yang bulan depan pensiun.

Badanku agak demam rasanya, aku ambil termometer masih di kisaran 37 derajat. Wah ini nanti kalau masuk ke sekolah anak-anak diukur termometer tembak, bisa ditolak masuk area sekolah.

Akhirnya aku ajak F1 untuk pergi, dengan skenario kalau aku gak boleh masuk area sekolah nanti biar F1 saja yang masuk.

Ternyata saat sampai sekolah dan diukur suhu hanya 35,5 derajat. Lolos masuk area sekolah! Eh tapi kok rendah banget, rasanya aku masih demam. Mungkin alatnya lagi error he...

Pagi itu agenda ke 2 sekolah selesai. Sampai rumah aku langsung istirahat, cuma tiduran saja sampai menjelang sholat Jumat.

Ba'da sholat Jumat aku bersiap menuju salah satu resto untuk makan siang bareng. Cuma 4 orang saja sih, teman satu seksi. Saat itu aku merasa lebih baik karena tadi pagi sudah keluar rumah dan kondisi OK saja sampai balik kerumah lagi. Hanya saja suaraku sudah mulai serak, nanti mau pesan menu yang anget-anget saja. Gak boleh pesan es!

Sebelum ashar acara makan bareng selesai, agak lama karena sebenarnya rapat seksi juga. Sudah sangat jarang kami bisa kumpul bareng karena jadwal WFO dan WFH yang berbeda.

Pulang kerumah sampai malam semua biasa saja. Hanya suara yang serak, sakit tenggorokan juga sudah berkurang. Selama ini aku minum larutan penyegar dan vitamin C 1000. Lumayan membantu lah...

Badanku rasanya demam, tapi diukur suhu hanya berkisar 37 saja. Malam ini F1 mengeluh kedinginan, dia tidur dengan selimut tebal. Biasanya gak pernah seperti itu. F3 pun rasakan hal yang sama, tapi dia masih kuat tidur dengan kipas angin.

Rabu, 14 November 2018

MUDIK DARAT 2015

#Part1

(Publish di Facebook 28 Mei 2018)

Lebaran dan mudik itu seperti sebuah kesatuan bagi muslim Indonesia (eh kecuali warga Madura ding...). Bagi perantau masih dominan yang berprinsip : kerja setahun buat mudik lebaran, meski habis2an dan balik ke tanah rantau mulai lagi dari NOL kantong dan dompetnya he...

H-1

Rencana kami mau start dari Pekanbaru hari Jumat ba'da Ashar. Semua hal telah disiapkan. Perbekalan selama perjalanan, setting mobil biar nyaman buat tidur di perjalanan untuk 4 krucil, dan lain sebagainya.
Oya...kami mudik menggunakan mobil Kijang 1994 (yang di foto ini saya ambil dari Mbah Google ya contoh mobilnya), dengan membawa 3 krucil usia SD dan satu bayi usia 1 tahun pas. Mobil ini belum pernah dicoba perjalanan jauh, paling jauh hanya rute Pekanbaru-Dumai. Namun pemilik lamanya meyakinkan bahwa mobil ini biasa buat pulang kampung ke Sumbar. Jadi kami berkesimpulan, meski tampilannya tidak meyakinkan he...tapi Insya Allah kuat sampai tanah Jawa. Tahu sendiri kan jalan Pekanbaru-Sumbar itu muter gunung nya berapa kali, jalan kelok naik turun luar biasa. Sedangkan rute ke Jawa itu lebih landai tanpa banyak naik turun. Ok lah...tinggal hubungi bengkel untuk cek dan ricek insya Allah kuat...kuat...kuat ...aamiin.

Qodarullah...ada rencana lain yang Allah siapkan. Pas pulang kantor sampai rumah saya dapati suami saya dalam keadaan bingung. Ternyata sore itu juga suami ditelpon teman2 ya bahwa namanya tercantum dalam daftar SK pindah ke Jawa. Alhamdulillah...lama kami menunggu kabar ini. Tapi disisi lain, SK yang mendadak di waktu kami mau mudik ini membuat suasana jadi ruwet. Kami sudah menata perbekalan untuk selama di Jawa, dengan turunnya SK pindah otomatis Abi n anak2 tidak balik lagi ke Pekanbaru setelah libur Lebaran usai. Antara senang dan bingung memutuskan untuk mudik hari itu atau gak, di sisi lain kami sudah janjian dengan beberapa teman yg sama2 melakukan mudik darat. Konvoi lah ceritanya... Bagaimanapun perjalanan panjang 3 hari ke depan harus disiapkan dengan niat dan mental yang kuat. Kalo setengah2 akan berakibat gagalnya perjalanan.

Akhirnya setelah berdiskusi dan telpon sana sini, suami tetap memutuskan untuk mudik juga hanya waktunya saja yang dipindahkan ke besok dini hari. Maghrib di hari itu kami berbuka puasa di mushalla depan rumah, dilanjutkan ke kantor suami untuk memastikan tentang kabar via telpon dari teman2 dan mengecek pekerjaan kantor selesai ketika ditinggal mudik (pindah he...). Karena gak bakalan balik lagi kesitu kecuali pas acara perpisahan hiks...termasuk koordinasi dengan atasan, tentang apa dan bagaimana halaaahhh

Alhamdulillah bos di kantor sangat fleksibel dan memastikan tak ada masalah jika ditinggal mudik esok hari. Matur nuwun pak bos...
Malam itu terasa panjang dan melelahkan bagi kami berdua, senang sedih bingung menjadi satu. 4 anak bagaimana? Meski mereka belum terlalu paham, tapi kami ajak bicara bahwa kita pulang naik mobil dan tidak kembali ke Pekanbaru. Baju seragam dan alat2 sekolah yg awalnya ditinggal, dimasukkan dan disusun lagi menjadi tambahan muatan di mobil. Anak yang paling besar (kelas 3 SD) protes...karena ba'da lebaran dia sudah janjian sama teman2 ya untuk hal2 yang menyenangkan. Tapi bagaimana lagi...Allah sudah mengatur semuanya, kita hanya berusaha ikhlas dan lapang dada untuk semua skenario Nya.
----
#Part2
(Publish di Facebook 9 Juni 2018)
  Hari-H

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mudik dijadwalkan ulang. Kami berangkat dini hari di hari Sabtu. Dengan target subuh sudah sampai di Pangkalan Kerinci.

Saat orang-orang bersiap sahur, kami sudah bersiap untuk berangkat. Sahur dengan makanan berat sudah, dilanjut nanti mengakhirkan dengan camilan dan minuman. 3 anak yang besar juga sudah makan, jadi berangkat dari rumah kondisi kenyang. Hanya saja si adek bayi masih tertidur pulas, langsung saja pindahkan tempat tidurnya dari kasur ke jok tengah mobil.

Bbbrrrrrmmmm.... bismillahirrahmanirrahim mobil berangkat....

Jalanan Pekanbaru masih lengang, namun jangan heran jika warung nasi ramai di beberapa tempat. Ketika sampai di wilayah pasar Cikpuan...perjalanan tersendat karena pedagang masih menggelar sayur-sayuran di bahu jalan. Biasanya sayuran ini baru datang dari Sumbar untuk dijual di Pekanbaru, maklum kota ini tidak ada menghasilkan sayuran dan bahan pangan lainnya. Jadi disuplai utama dari propinsi sebelah.

Beberapa km dari rumah, kami saling mengecek barang-barang yang dibawa. Qodarullah...ada satu barang penting yang tertinggal, karena kami tidak merasa memasukkan barang tersebut ke dalam tas. Akhirnya setelah yakin tidak terbawa, mobil kami arahkan lagi menuju rumah. Meski kami merugi beberapa km namun tertinggalnya barang tersebut akan merepotkan di perjalanan 3 hari ke depan. Masya Allah...baru juga start dari rumah sudah ada kejadian seru. Ikhlas...ikhlas....semua akan kita dapat hikmahnya. Aamiin

Jelang subuh kami sampai kembali di rumah, mengambil barang yang tertinggal dan sekalian menunggu waktu subuh. Karena musholla pas di depan rumah sudah mulai ramai. Tidak pantas rasanya disaat musholla ramai, kami penghuni di depannya malah meninggalkan rumah tidak ikut berjamaah disitu.
-------
Ba'da subuh di musholla, kami berangkat. Matahari sudah muncul di ufuk timur, sebentar lagi cahaya pagi akan menghangatkan perjalanan kami. Bismillah....semoga tidak ada halangan lagi di jalan.

Perjalanan berlanjut dengan untaian dzikir dan doa, karena kami sadar mudik kali ini persiapannya tidak maksimal. Suami yang semalaman bergadang karena hal-hal yang berkaitan dengan SK pindah, bawaan yang tiba-tiba bertambah karena rencana tidak balik lagi ke Pekanbaru dan adanya adek bayi usia 1 tahun yang belum pernah perjalanan darat jauh selama ini.

Ujian kedua hadir di jalanan antara Pangkalan Kerinci dan Pematang Reba, jalan lintas timur sumatera yang biasanya lengang dengan mobil yang bisa melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba dihadapan sudah ada antrian mobil yang panjang. Ya, ada kemacetan di sini. Deretan mobil, bis dan truk sudah mengular di jalanan...sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk melewatinya. Berkendara di mobil dengan AC yang pas-pasan membuat cuaca terasa makin panas saat mobil terjebak kemacetan seperti ini. Dan menambah kehebohan karena adek bayi gelisah, kepanasan di dalam mobil. Kipas...kipas...dan upaya menenangkan lainnya coba dilakukan. Sambil di dalam hati penumpang lainnya tetap dibisikkan....ikhlas, sabar, dzikir dan doa.
Setelah hampir satu jam juga, kami bisa keluar dari kemacetan itu. Ternyata sumber kemacetan adalah kecelakaan mobil di jalur itu. Kembali kami diingatkan bahwa Allahlah yang menggerakkan kendaraan kami. semoga perjalanan ini diridhoiNya. Aamiiin

Baru berjalan beberapa km dari lokasi tadi, ujian perjalanan hadir lagi dengan muntahnya adek bayi di mobil. Kami kurang tahu apa penyebabnya, mungkin kecapekan, kepanasan, masuk angin atau karena ASIP yang sudah tidak layak minum setelah beberapa jam kepanasan di mobil. Baju dan jilbab yang saya kenakan penuh kena muntahan adek bayi, belum juga jok mobil. Meski demikian yang kami khawatirkan kondisi adek bayi. Usia 1 tahun belum memungkinkan dia untuk menyampaikan keluhannya, jadi naluri ibu lah yang berperan, bagaimana kondisi dia sebenarnya. Perjalanan baru berjalan beberapa jam namun kesehatan nya sudah menurun. Kembali lagi niat dan tekad kami diuji, perjalanan ke Jawa tetapkah dilanjutkan? Masih 2,5 hari lagi....
----
PART yang hilang :-)
Mudik yg luar biasa antara bahagia dan galau, alhasil...jam mudik mundur dari ba'da maghrib ke ba'da shubuh, kondisi pak sopir gak fit semalaman bergadang, as usuall co-driver mabuk darat di 100 km pertama n si bungsu bolak balik muntah di 200 km pertama.
Rasanya pengen menyerah...balik lagi ke kota asal, terlebih belum juga sampai kota Jambi drivernya sudah lambaikan bendera.
Alhamdulillah hari pertama terlewati setelah mampir ke hotel syariah dan rute ratusan km selanjutnya lebih mudah dari Pekanbaru-Jambi.
Dan 3 hari kemudian sampailah di Jogja tercinta....dgn kondisi gerobak kelelaha

Minggu, 18 Februari 2018

SAAT EMAK HARUS LEBIH KUAT

Emak Kuat? Itu harus. Coba diamati di rumah dan lingkungan masing-masing, lebih kuat mana emak sama bapak? Jawab di hati aja ya...kawatir ada satu pihak yang tersungging eh tersinggung :-)
Momen ini terjadi saat saya harus LDMan dengan suami, beliau mengasuh 3 anak usia SD dan saya ditinggali si anak bungsu usia 1 tahun. Awal2 LDM terasa berat, namun masih bisa gantian berkunjung antara saya dan suami. Namun bulan-bulan terakhir 2015 adalah saat yang berat bagi kami, Pekanbaru diliputi kabut asap 3 bulan full.

Sebenarnya kabut asap adalah bencana alam yang hampir biasa terjadi di Pekanbaru, namun waktu-waktu yang lalu saya menghadapi dengan suami, tentunya merasa lebih aman. Ketika saya harus menghadapi sendiri plus harus menjaga kesehatan balita usia 1 tahun dari ISPA dkk itu bukanlah hal yang mudah. Saat berangkat kantor dan pulang anak saya sudah terbiasa menggunakan masker, pas tiba dirumah pun wilayah main hanya satu kamar yang memang dipasangi AC. Jika ke ruangan lain di dalam rumah lama-lama sesak nafas juga.

Suami sempat khawatir dengan kondisi si bungsu yang harus menghirup kabut asap setiap hari, akhirnya beliau datang ke Pekanbaru. Ternyata untuk ke Pekanbaru pun bolak balik harus memutar rute, pesawat tidak bisa landing di bandara SSQ jadi harus turun di Padang dan lanjut perjalanan darat 8 jam dengan jalan berkelok-kelok naik turun. Akhirnya beliau tidak jadi ambil anak bungsu, karena membayangkan perjalanannya balik ke Jogja tidak akan sanggup mengasuh anak sendiri, 8 jam di travel plus 2 kali naik pesawat dengan 1 kali transit.

Selang beberapa minggu setelah itu saya sudah jenuh dengan kondisi yang ada serta kangen berat dengan 3 anak yang lain. Hanya dengan doa saya berharap cuaca Pekanbaru lebih baik dan saya bisa naik pesawat ke Jogja. Tiap hari yang saya lihat di HP adalah prakiraan cuaca BMKG dan aplikasi yang menggambarkan rute2 pesawat yang bisa melewati langit Pekanbaru.

Hari Sabtu, saat saya harus masuk kerja karena ada tes berkaitan dengan kepegawaian, saya niatkan pulang ke Jogja sore harinya. Saat istirahat siang saya sempatkan cari tiket via online ke Jakarta, ternyata dibuka penerbangan Garuda jam 5 sore. Langsung saya booking dan bayar online. Pas selesai acara jam 2 siang, saya langsung ke kantor Garuda, cetak tiket sekalian check in. Saya berkhusnudzon semoga sore ini pesawat bisa terbang.

Pulang dari kantor Garuda saya jemput si bungsu di penitipan anak, pulang sebentar siapkan perlengkapan anak satu tas ransel lanjut telpon taksi menuju bandara. Alhamdulillah sampai bandara jam 4 kurang dan saya langsung masuk ruang tunggu.

Bandara yang biasanya ramai, hari itu sepi sekali. Hanya sekitar 10 orang yang ada di ruang tunggu. Meski pesawat yang akan saya naik sudah ada di parkiran bandara namun saya belumlah tenang, karena cuaca sewaktu-waktu dapat berubah...

Setelah sholat ashar, saya naik ke pesawat sesuai panggilan petugas. Doa terus menerus saya panjatkan sampai pesawat bisa take off dan stabil di atas langit Pekanbaru. Langsung saya ucap syukur dan menangis di pesawat...setelah sekian bulan tidak melihat langit yang cerah, dan pesawat yang saya naiki insya Allah bisa mengantarkan ke Jogja.

Menjelang Maghrib saya sudah landing di bandara Soekarno Hatta, masih harus melanjutkan perjalanan ke Jogja. Atas arahan suami saya disuruh naik bis DAMRI ke stasiun. Masya Allah...disinilah saya mulai bimbang dan baper, saya memang sudah pernah ke bandara ini namun selalu ada suami dan hanya mengikuti langkahnya. Namun saat ini saya harus gendong balita, kondisi lelah dan tak tahu arah. Akhirnya setelah tanya2 saya bisa keluar dari bandara dan menemukan pool bis DAMRI arah stasiun. Disisi lain saya ingin menyerah, tidak usah ke stasiun karena jaraknya jauh, tidak jelas, sendirian dan saya sudah sangat lelah. Terpikir untuk istirahat malam di rumah kakak yang di Jakarta, namun jauh juga dari bandara.

Meski saya kelelahan namun si bungsu kondisi sehat dan ceria, sepanjang naik bis DAMRI dia tidak tidur. Bahkan selalu minta jalan di atas bis, padahal emak ini sudah tinggal sisa-sisa tenaga yang ada. Bismillah...bismillah...

Sampailah di stasiun jam 20.45 menit dan kereta ke Jogja berangkat jam 21.00. 
Di menit2 terakhir itulah saya bisa dapatkan tiket dan setengah berlari menuju ke peron yang ada di lantai atas sambil menggendong anak. Bahkan petugas stasiun sampai berteriak mengingatkan saya bahwa ada anak yang saya gendong, kawatir jatuh. Begitu tiba di peron saya segera naik ke kereta, Masya Allah selisih beberapa menit kereta itu berangkat (dan saya masih harus jalan di atas gerbong karena dapat gerbong yang paling belakang). Lagi-lagi air mata saya hampir runtuh...hanya karena kuasa Allah saya masih bisa ada di kereta ini dengan menit-menit terakhir sebelum berangkat.

Kereta berjalan semakin cepat, si bungsu sudah kecapekan dan tertidur pulas di bawah kursi. Saya sholat Maghrib dan Isya serta memesan segelas kopi panas dan sepiring nasi goreng.
Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Masih terbayang lelahnya ujian tadi pagi, berburu tiket pesawat, naik taksi mengejar jadwal pesawat, terbang di pesawat dengan penumpang tak lebih dari 15 orang, hiruk pikuknya bandara Jakarta, repotnya urus balita di dalam bis dan perjuangan naik kereta....
Emak itu harus lebih kuat! Alhamdulillah.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe7

MABUK KENDARAAN


Hayo siapa yang masih mabuk kendaraan? Laut, darat atau udara?
Tenang kawan, yakinlah teman yang senasib dengan anda banyak. Saya lah contohnya...

Saat kecil usia sekolah dasar, saya "pemabuk berat" kendaraan darat. Naik motor dari Monumen Jogja Kembali ke Parangtritis saya mabuk (identik dengan m*nt*h), padahal itu jarak yang menurut banyak orang tidaklah terlalu jauh untuk perjalanan naik motor. Terlebih jika naik motor kan kita banyak mendapat asupan udara yang lebih bebas daripada kendaraan tertutup bis atau mobil.

Melihat kondisi di atas tentulah saat naik bis atau mobil, kadar mabuk saya semakin berat. Untuk jarak yang sama saya bisa 2-3x mabuk, sudah tidak nyaman selama perjalanan. Oleh karena itu saya jarang diajak ikut perjalanan jauh oleh orang tua maupun kakak-kakak dirumah, merepotkan katanya. Saya pun juga tidak mau ambil resiko menyiksa diri sendiri. Bahkan saat kelas 3 SMP saya harus merelakan tidak ikut study tour bersama teman-teman karena faktor mabuk kendaraan.

Saat memilih sekolah lanjutan pun faktor jarak dan kendaraan sangat berpengaruh. Alhamdulillah saat SMP dan SMA saya diterima di sekolah dengan jarak yang tidak terlalu jauh, kalaupun harus naik bis hanya butuh waktu paling lama 15-20 menit. Namun saat harus memutuskan kuliah di luar kota, mau tidak mau saya harus ambil resiko itu. Malunya saya :-) saat pertama kali ke Jakarta bersama teman2 kuliah (tidak diantar orang tua) naik kereta ekonomi saya juga mabuk berat, padahal teman-teman yang lain terasa nyaman dan senang selama perjalanan. Jadi semua jenis kendaraan darat positif membuat saya mabuk : motor, mobil, bis, kereta. Masih adakah harapan untuk bebas dari mabuk?

Foto Sri Suharti.

Pelajaran "anti mabuk" saya latih saat di Jakarta. Sebagai mahasiswa ikatan dinas dengan dana pas-pasan saat itu hanya bisa menggunakan kendaraan angkot, bis tanggung semacam Kopaja atau jenis bis besar (Mayasari Bakti) sebagai alat transportasi. Saya coba rute jarak dekat dahulu dengan naik angkot, Alhamdulillah beberapa kali naik angkot jarak dekat aman. Lanjut bis tanggung dan bis besar dengan rute lumayan jauh : Kampung Melayu-Blok M-Ciledug. Kebetulan ada saudara yang tinggal di daerah sekitar Ciledug, jadi saat kosong waktu Sabtu-Ahad bisa silaturahmi sambil latihan anti mabuk he...

Awal perjalanan saya sebenarnya sudah tidak nyaman, tapi tetep harus bisa bertahan karena sendirian di bis. Terlebih saat harus oper bis di terminal Blok M rasanya semakin tidak karuan, puluhan bis besar dan tanggung dengan asap knalpot yang semakin pekat membuat saya sudah hampir mengakhiri perjalanan. Namun rasa penasaran masih ada sehingga niat awal saya teruskan lagi. Alhamdulillah beberapa kali trip sudah membuat saya lebih kuat untuk anti mabuk.

Foto Sri Suharti.

Setelah menikah dengan seorang laki-laki yang senang berpetualang, sepertinya saya tidak diberikan kesempatan untuk mabuk. Perjalanan awal sebagai pengantin baru harus berakhir dengan mabuk berat beberapa kali untuk jarak perjalanan bis Jogja-Surabaya. Suami saya sampai terheran-heran kok bisa saya mabuk sampai sedemikian parah :-) Dan setelah itu sepertinya suami saya punya proyek untuk menuntaskan penyakit mabuk saya.

Alhamdulillah seiring usia pernikahan yang bertambah lama, saya sudah bisa mengikuti ritme suami yang sering silaturahmi ke luar kota. Saya sudah bisa duduk di samping sopir menjadi navigator dalam perjalanan Jogja-Bandung, Bandung-Jakarta dll.

Bahkan yang membuat saya terharu, jarak 1.900 km Pekanbaru-Jogja beberapa kalipun bisa saya selesaikan dengan kendaraan mobil (meski tetap saja ada mabuk sekali pas sampai Rengat), jadi navigator plus ngurusi balita dan beberapa anak. Namun untuk beberapa kali perjalanan ke Pekanbaru-Padang, saya masih merasakan 1 kali mabuk saat berangkat, meski pas pulang Alhamdulillah sudah aman. Rute ini selalu membuat saya was-was, karena sambil menjadi navigator saya akan ikut menghitung berapa bukit dan jalan memutar yang harus dilalui, untung sekarang Kelok 9 sudah tinggal kenangan he...

Buat yang masih sering mabuk kendaraan, semoga di kemudian hari bisa merasakan perjalanan anti mabuk juga. Jangan takut untuk berkendaraan karena mabuk, kalau kata pepatah "bisa karena biasa".
Saya juga pernah seperti anda :-)
 
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?