Hayo siapa yang masih mabuk kendaraan? Laut, darat atau udara?
Tenang kawan, yakinlah teman yang senasib dengan anda banyak. Saya lah contohnya...
Saat kecil usia sekolah dasar, saya "pemabuk berat" kendaraan darat. Naik motor dari Monumen Jogja Kembali ke Parangtritis saya mabuk (identik dengan m*nt*h), padahal itu jarak yang menurut banyak orang tidaklah terlalu jauh untuk perjalanan naik motor. Terlebih jika naik motor kan kita banyak mendapat asupan udara yang lebih bebas daripada kendaraan tertutup bis atau mobil.
Melihat kondisi di atas tentulah saat naik bis atau mobil, kadar mabuk saya semakin berat. Untuk jarak yang sama saya bisa 2-3x mabuk, sudah tidak nyaman selama perjalanan. Oleh karena itu saya jarang diajak ikut perjalanan jauh oleh orang tua maupun kakak-kakak dirumah, merepotkan katanya. Saya pun juga tidak mau ambil resiko menyiksa diri sendiri. Bahkan saat kelas 3 SMP saya harus merelakan tidak ikut study tour bersama teman-teman karena faktor mabuk kendaraan.
Saat memilih sekolah lanjutan pun faktor jarak dan kendaraan sangat berpengaruh. Alhamdulillah saat SMP dan SMA saya diterima di sekolah dengan jarak yang tidak terlalu jauh, kalaupun harus naik bis hanya butuh waktu paling lama 15-20 menit. Namun saat harus memutuskan kuliah di luar kota, mau tidak mau saya harus ambil resiko itu. Malunya saya
Pelajaran "anti mabuk" saya latih saat di Jakarta. Sebagai mahasiswa ikatan dinas dengan dana pas-pasan saat itu hanya bisa menggunakan kendaraan angkot, bis tanggung semacam Kopaja atau jenis bis besar (Mayasari Bakti) sebagai alat transportasi. Saya coba rute jarak dekat dahulu dengan naik angkot, Alhamdulillah beberapa kali naik angkot jarak dekat aman. Lanjut bis tanggung dan bis besar dengan rute lumayan jauh : Kampung Melayu-Blok M-Ciledug. Kebetulan ada saudara yang tinggal di daerah sekitar Ciledug, jadi saat kosong waktu Sabtu-Ahad bisa silaturahmi sambil latihan anti mabuk he...
Awal perjalanan saya sebenarnya sudah tidak nyaman, tapi tetep harus bisa bertahan karena sendirian di bis. Terlebih saat harus oper bis di terminal Blok M rasanya semakin tidak karuan, puluhan bis besar dan tanggung dengan asap knalpot yang semakin pekat membuat saya sudah hampir mengakhiri perjalanan. Namun rasa penasaran masih ada sehingga niat awal saya teruskan lagi. Alhamdulillah beberapa kali trip sudah membuat saya lebih kuat untuk anti mabuk.
Setelah menikah dengan seorang laki-laki yang senang berpetualang, sepertinya saya tidak diberikan kesempatan untuk mabuk. Perjalanan awal sebagai pengantin baru harus berakhir dengan mabuk berat beberapa kali untuk jarak perjalanan bis Jogja-Surabaya. Suami saya sampai terheran-heran kok bisa saya mabuk sampai sedemikian parah
Alhamdulillah seiring usia pernikahan yang bertambah lama, saya sudah bisa mengikuti ritme suami yang sering silaturahmi ke luar kota. Saya sudah bisa duduk di samping sopir menjadi navigator dalam perjalanan Jogja-Bandung, Bandung-Jakarta dll.
Bahkan yang membuat saya terharu, jarak 1.900 km Pekanbaru-Jogja beberapa kalipun bisa saya selesaikan dengan kendaraan mobil (meski tetap saja ada mabuk sekali pas sampai Rengat), jadi navigator plus ngurusi balita dan beberapa anak. Namun untuk beberapa kali perjalanan ke Pekanbaru-Padang, saya masih merasakan 1 kali mabuk saat berangkat, meski pas pulang Alhamdulillah sudah aman. Rute ini selalu membuat saya was-was, karena sambil menjadi navigator saya akan ikut menghitung berapa bukit dan jalan memutar yang harus dilalui, untung sekarang Kelok 9 sudah tinggal kenangan he...
Buat yang masih sering mabuk kendaraan, semoga di kemudian hari bisa merasakan perjalanan anti mabuk juga. Jangan takut untuk berkendaraan karena mabuk, kalau kata pepatah "bisa karena biasa".
Saya juga pernah seperti anda
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6

Tidak ada komentar:
Posting Komentar