Jumat, 31 Mei 2019

Hatiku Bersamamu (Komunitas Perempuan BPS Menulis)

2010
Bandung, kota segudang cerita. Seribu kisah hadir memberi warna meski raga hanya sejenak berhenti di sana. Catatan perjuangan seorang ibu sekaligus sebagai mahasiswa dengan balutan air mata kesyukuran, kesabaran dan kebahagiaan mengisi setiap memori kehidupan.
Meski hanya 1,5 tahun menjadi bagian dari kota ini, namun jejaknya akan selalu ada.
2012
Di Bandung ini pulalah, lahir sebuah komunitas yang pada nantinya akan mengantarkan saya ke sebuah pintu gerbang kebahagiaan dan kemanfaatan. Dari seorang istri dan ibu dari 3 orang balita, kebersamaan dengan komunitas ini telah membuat saya melompat jauh dibandingkan diri saya yang dulu.
Otak yang hanya berkutat di antara kehidupan rumah, kantor dan lingkungan sekitar tiba-tiba saja terbuka wawasan untuk mengenal lebih banyak ilmu dan perempuan hebat yang menyemangati untuk terus berjuang.
Di sini pulalah saya sangat terinspirasi oleh Teh Lygia Pecandu Hujan, seorang ibu tunggal dengan 3 orang anak yang tetap bisa memberikan prioritas di dunia kepenulisan meski kesehariannya masih banyak hambatan untuk maju dan berkembang.
Tekad, kekuatan, dan dukungan lingkungan sekitar ternyata membuat seorang perempuan terus mantap menatap masa depan. Lingkungan itulah yang saya dapatkan di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN).
Tak layak rasanya bagi saya untuk berkeluh kesah melihat tak hanya satu dua orang di komunitas ini, yang jauh dari kehidupan nyaman namun tetap memberikan sumbangan karya di setiap waktunya. Saya harus bisa mengikuti jejak mereka meski terlambat memulai namun tetap mempunyai cita-cita sama.
Diprakarsai oleh teh Indari Mastuti pada Mei 2010. Namun saya baru mulai aktif bergabung setelah meninggalkan kota Bandung di 2012.
Sayang memang, tidak bisa bertatap muka langsung dengan para perempuan hebat di IIDN, namun bergabung dengan IIDN itu semacam jodoh, hanya akan datang di saat yang tepat.
Lewat IIDN ini pulalah saya berani menulis (lagi) dengan sebuah harapan baru, masuk menjadi sebuah bagian dari buku antologi. IIDN membuat mimpi mempunyai sebuah buku menjadi nyata.
Buku Antologi “Nikmatnya Syukur”, sebagai salah satu seri di Storycake For Your Life-nya Penerbit Gramedia, berhasil menorehkan nama saya sebagai salah satu penulisnya. Alhamdulillah ya Allah...di mana sebuah kebaikan diniatkan maka akan banyak jalan dan orang yang memudahkan untuk terwujud.
Di antologi inilah pertama kali saya belajar bagaimana sebuah karya tulisan mengalami proses yang sangat panjang menjadi sebuah buku.
Sayembara kepenulisan antologi ini saya ikuti sekitar akhir tahun 2012, dengan berbagai pertimbangan dari juri (dikomandani oleh Ummu Ayesha) akhirnya tulisan saya termasuk sebagai salah satu kontributornya.
Namun hari demi hari, bulan demi bulan proses buku ini tidak ada kabarnya. Bahkan saya sudah hampir melupakan bahwa pernah mempunyai harapan tinggi menjadi bagian antologi.
Akhirnya di akhir 2013 mulai ada sebuah pencerahan, tentang isi buku termasuk kavernya. MasyaAllah bahagia rasanya... dan di April 2014 resmilah buku antologi Nikmatnya Syukur menjadi isi rak toko buku Gramedia, dan nama saya pun terukir disana. Terimakasih IIDN, mimpi dan cita buku antologi menjadi nyata.
2018
Tahun demi tahun berganti, rutinitas kantor dan rumah yang tiada habis membuat hidup terasa hambar. Tak ada lagi letupan kebahagiaan yang tercipta. Hingga dipertemukan dengan para pencinta karya... Perempuan BPS Menulis (PBM).
Jika menulis adalah sebuah hobi dan kebahagiaan, dan pekerjaan kantor adalah kebersamaan selama 14 tahun, kenapa keduanya tidak dapat dipadukan?
Begitu banyak karya tulis yang menggunakan hasil akhir dari sebuah proses pekerjaan di Badan Pusat Statistik, namun pemilik datanya sendiri tidak bisa menghasilkan sebuah karya.
Sungguh memprihatinkan, termasuk diri saya sendiri. Dengan segudang alasan: bakat menulis hanya di fiksi, puisi, cerita ringan, tidak bisa menulis serius, ilmiah dan lain sebagainya.
Nyatanya itu hanyalah sebuah topeng agar diri ini tidak ditertawakan oleh orang-orang di luar BPS.
Namun Januari 2018 seorang sahabat Nurin Ainistikmalia, yang berada di kabupaten Tana Tidung jauh dari ibu kota, menginspirasi dan menggandeng tangan para perempuan BPS untuk menimba ilmu dan mengukir karya bersama.
Berbagai kegiatan online telah dilaksanakan dengan para narasumber yang semakin membuka cakrawala bahwa menulis di BPS adalah salah satu tombak untuk sebuah kemajuan.
Satu demi satu karya dalam bentuk tulisan opini di koran lokal, nasional, media online bahkan di seminar nasional dan internasional telah dihasilkan anggota komunitas ini.
Jelas hal itu memupuk harapan saya untuk bisa mengikuti jejak-jejak mereka. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak?
Sebuah karya, awalnya mungkin karena terpaksa. Itulah kata yang tepat untuk saya, dan akhirnya November 2018 hasil keterpaksaan itu bisa muncul di kolom opini koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta dengan judul Era Baru Ketahanan Pangan DIY.
Ini adalah pembuktian bagi diri saya sendiri, saya bisa melampaui keterbatasan dengan segala dukungan dari sebuah komunitas Perempuan BPS Menulis. Terima kasih PBM, awal keterpaksaan semoga berakhir menjadi kecintaan.
Untuk IIDN dan PBM: Saat hati ini sudah menyatu, akan selalu bersamamu (komunitas menulis), InsyaAllah
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/31/hatiku-bersamamu

Kamis, 23 Mei 2019

Saatnya Merindu?



Perkenalanku dengannya tidak jelas, tanpa sengaja, hanya bermula pandangan mata. Mungkin itu saja. Namun jelas sekali kesan pertama tak akan terlupa, selalu menjadi kenangan sepanjang masa. Tak hanya diriku, namun sampai ke anak cucu. Bukanlah rupa yang menjadi pesona, namun cocoknya jiwa ini yang telah menggerakkan raga.

Anak muda berseragam putih abu-abu, rasanya itu menjadi masa yang paling membahagiakan. Tak terkecuali diriku. Rutinitas sekolah berangkat pagi pulang sore, dengan segala tugas dan pekerjaan rumah memaksaku untuk terus menerus berada di dalam rumah. Fokus pada sebuah cita. Namun suatu saat, diri ini menemukan sebuah celah untuk keluar dari batas. Dan akhirnya aku menemukan semangat baru dalam hidup.
Majalah Kuntum, kudapatkan dengan cara meminjam dari seorang sahabat. Satu persatu kubuka halamannya, sampailah di sebuah rubrik “Pendapat”. Sebuah nama terpampang disana, salah seorang kakak kelas yang sering kujumpai di bis kota. Aku bergumam betapa bangganya dia saat tahu namanya terpampang di salah satu halaman majalah itu. Aku pun ingin juga merasakan kebanggaan itu.

Kuajak sahabatku menulis bersama, kita harus wujudkan sebuah cita : tertulis nama di majalah Kuntum. Akhirnya berdua kita mencoba menulis satu demi satu susunan kata, merangkai cerita tentang sebuah tema : Jilbab. Saat itu tulisan kukirimkan setelah melewati proses dengan sebuah mesin ketik. Ya, sejak Sekolah Dasar aku terbiasa dengan alat ini. Saat melihat kakakku menggunakannya untuk menulis tugas akhir perkuliahan. Secara otodidak pula aku bisa mengunakannya dan terbitlah sebuah karya dari mesin ketik tua.

Namun sayang, sahabatku tidak berhasil menyelesaikan tugas menulis bersama. Akhirnya hanya tulisanku yang kukirimkan ke penerbit. Dalam hitungan minggu aku selalu menunggu kabar, baik bahagia maupun kecewa. Dan sebuah surat pun kuterima di sekolah, sebuah kupon berisi nominal rupiah yang dapat kutukarkan di kantor redaksi. Artinya tulisanku dimuat di majalah Kuntum. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya saat itu. Ternyata aku bisa! Honor tulisan pertama sudah diterima dengan nominal Rp 7.500,- di tahun 1998 dimana pada masa itu uang bekalku setiap hari hanya Rp 1.000,-. Bisa untuk 1 minggu uang jajan batinku yang masih berseragam abu-abu.

Cinta pertama ku telah tiba, meninggalkan jejak cerita.

Dan akhirnya tulisan selanjutnya pun hadir, meski lebih banyak disimpan untuk sendiri, dipasang di majalah dinding kampus atau menjadi salah satu bagian buletin Jum’at. Alhamdulillah saat tulisan menemukan jodohnya, namaku pun bisa terpasang di  majalah nasional, buku antologi Gramedia, koran lokal dan media online era sekarang.

Bahagia itulah yang dirasa, setiap huruf dan kata bisa dinikmati dan dirasakan pembaca. Berbagi inspirasi untuk semua. Inilah rindu yang terus tumbuh di dada. Tak kan hilang termakan usia. Meski kadang rasa lelah dan bosan datang mendera, namun yakinlah saat merindu itu tiba...aku akan bersegera.   

#9TahunIIDN
#NulisBarengIIDNxGNFI


https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/23/saatnya-merindu

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?