Seorang lelaki yang aku panggil bapak, bagi sebagian orang lebih layak
jika aku memanggilnya dengan sebutan kakek. Ya...aku anak bungsu dengan
jarak lahir paling jauh dengan kakak-kakak ku. Tak heran lah ketika aku
dibonceng sepedanya, teman-teman sekolah takjub karena yang mengantar
ke sekolah bukan orangtuanya namun kakeknya
:-)
Saya selalu menuliskan pekerjaan bapak sebagai wiraswasta, ketika harus
mengisi blanko yang dibagikan di sekolah, meski sejatinya bapak bekerja
sebagai pedagang es keliling. Entah isian saya waktu itu tepat atau
tidak, namun itulah arahan beliau. Setiap pagi bapak akan menyiapkan
dagangannya, membersihkan gerobaknya dan segera mengayuh sepeda gerobak
ke arah tempat berjualannya, di sebuah pinggir tanah lapang dimana
setiap hari selalu ramai didatangi anak-anak sekolah untuk berolahraga.
Besar harapan bapak ketika anak-anak itu kehausan setelah berolahraga
maka dagangan bapak menjadi "Sekedar Pelepas Dahaga". Sebuah komitmen
untuk memperoleh keberkahan dari rupiah yang didapatkan dari jalan yang
halal.
Ba'da ashar bapak sudah kembali ke rumah, Alhamdulillah
dagangannya habis. Jika bapak sampai jam 4 belum pulang berarti beliau
harus keliling perkampungan lagi agar dagangan hari itu habis. Pulang
kerja adalah waktu istirahat beliau, kadang cukup dengan duduk-duduk
sambil minum teh atau tidur sejenak menjelang Maghrib. Mungkin hari itu
bapak lebih lelah...
Hari Jumat adalah waktu libur beliau,
biasanya diisi dengan kegiatan hobi. Dulu saat saya kecil bapak sering
membuat furnitur sederhana dari kayu seperti meja tulis, kursi panjang
atau pun pembatas shaf di masjid. Terkadang bapak juga menikmati hobi
lainnya yaitu memancing. Sebelum hari-H pergi memancing, beliau sudah
janjian dengan salah satu tetangga di rumah. Lokasinya bisa di sungai
ataupun di laut, tak jarang harus keluar kota naik motor beberapa jam
untuk menuju tempat memancing itu.
Selain itu beliau juga aktif
di kegiatan masjid, sebagi pengurus maupun panitia hari besar agama.
Kegiatan organisasi juga beliau ikuti meski satu dua tidak hadir acara.
Secara umum Bapak adalah seorang warga yang aktif di masjid maupun di
kampung.
Bapak itu pribadi yang tegas, namun bagi saya di masa
kecil, beliau adalah Bapak yang galak dan pelit. Segala hal yang
berkaitan dengan pengeluaran uang, harus direncanakan jauh-jauh hari dan
tepat sasaran. Di saat yang lain bisa ganti-ganti alat tulis, saya
harus memakai nya sampai benar-benar tidak bisa difungsikan. Buku
pelajaran sejak SD-SMA harus usaha melengkapi sendiri dengan meminjam di
tetangga yang berada di kelas lebih tinggi. Kami pun dibiasakan makan
yang ada di rumah, tidak pernah jajan. Karena bapak pun mencontohkan
demikian, meski beliau kerja berdagang pagi sampai sore, tak pernah
sekalipun jajan makanan atau minuman, selalu membawa bekal dari rumah.
Untuk urusan sekolah pun bapak orang yang tidak ada kompromi, jaman dulu
prinsipnya boleh sekolah kalau diterima di sekolah negeri. Jika tidak
bisa, silakan cari kerja. Ketegasan dan kedisiplinan Bapak sering saya
artikan sebagai kekejaman dan ketidakadilan, namun seiring kedewasaan
saya ternyata makna dari semua itu berubah....
Ah terlalu banyak
cerita tentang bapak yang membelokkan arah pandangan saya saat kecil dan
dewasa. Bapak yang dengan ikhlas menerima calon menantu nya, meski
belum kenal lama. Memberikan kepercayaan penuh kepada anak gadisnya
untuk memilih sendiri sang calon suami, bahkan sampai saat akad nikah
pun rumah calon menantunya ini belum ada yang tahu he...
Setiap saya
hamil, bapak lah yang selalu mengingatkan untuk periksa ke bidan atau
dokter, minum vitamin, makanan sehat dan menjaga aktifitas fisik di
kantor dan dirumah. Pun ketika saya harus menitipkan bayi 7 bulan ke
bapak dan ibu, maka bapak pulalah yang menemani bayi saya sehari-hari,
bahkan kata ibu beliau lebih cerewet saat menjaga bayi saya. Kasih
sayang seorang bapak memang tak mudah terungkap. Ketegasan dan
kedisiplinan nya sering menutupi rasa kawatir dan sayangnya kepada
seorang anak.
Semoga kami bisa meneladani kebaikan-kebaikan sosok
Bapak, pun saat akhir kehidupannya yang berada di saat terbaik dan di
tempat terbaik : sepertiga malam terakhir di sebuah masjid kampung
:-(
ALLOHUMMAGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WAR HAMHUMAA KAMA RABBAYAANII SHAGIIRAA....Aamiin

Tidak ada komentar:
Posting Komentar