Minggu, 18 Februari 2018

BAPAK

Seorang lelaki yang aku panggil bapak, bagi sebagian orang lebih layak jika aku memanggilnya dengan sebutan kakek. Ya...aku anak bungsu dengan jarak lahir paling jauh dengan kakak-kakak ku. Tak heran lah ketika aku dibonceng sepedanya, teman-teman sekolah takjub karena yang mengantar ke sekolah bukan orangtuanya namun kakeknya :-)

Saya selalu menuliskan pekerjaan bapak sebagai wiraswasta, ketika harus mengisi blanko yang dibagikan di sekolah, meski sejatinya bapak bekerja sebagai pedagang es keliling. Entah isian saya waktu itu tepat atau tidak, namun itulah arahan beliau. Setiap pagi bapak akan menyiapkan dagangannya, membersihkan gerobaknya dan segera mengayuh sepeda gerobak ke arah tempat berjualannya, di sebuah pinggir tanah lapang dimana setiap hari selalu ramai didatangi anak-anak sekolah untuk berolahraga. Besar harapan bapak ketika anak-anak itu kehausan setelah berolahraga maka dagangan bapak menjadi "Sekedar Pelepas Dahaga". Sebuah komitmen untuk memperoleh keberkahan dari rupiah yang didapatkan dari jalan yang halal.

Ba'da ashar bapak sudah kembali ke rumah, Alhamdulillah dagangannya habis. Jika bapak sampai jam 4 belum pulang berarti beliau harus keliling perkampungan lagi agar dagangan hari itu habis. Pulang kerja adalah waktu istirahat beliau, kadang cukup dengan duduk-duduk sambil minum teh atau tidur sejenak menjelang Maghrib. Mungkin hari itu bapak lebih lelah...

Hari Jumat adalah waktu libur beliau, biasanya diisi dengan kegiatan hobi. Dulu saat saya kecil bapak sering membuat furnitur sederhana dari kayu seperti meja tulis, kursi panjang atau pun pembatas shaf di masjid. Terkadang bapak juga menikmati hobi lainnya yaitu memancing. Sebelum hari-H pergi memancing, beliau sudah janjian dengan salah satu tetangga di rumah. Lokasinya bisa di sungai ataupun di laut, tak jarang harus keluar kota naik motor beberapa jam untuk menuju tempat memancing itu.

Selain itu beliau juga aktif di kegiatan masjid, sebagi pengurus maupun panitia hari besar agama. Kegiatan organisasi juga beliau ikuti meski satu dua tidak hadir acara. Secara umum Bapak adalah seorang warga yang aktif di masjid maupun di kampung.

Bapak itu pribadi yang tegas, namun bagi saya di masa kecil, beliau adalah Bapak yang galak dan pelit. Segala hal yang berkaitan dengan pengeluaran uang, harus direncanakan jauh-jauh hari dan tepat sasaran. Di saat yang lain bisa ganti-ganti alat tulis, saya harus memakai nya sampai benar-benar tidak bisa difungsikan. Buku pelajaran sejak SD-SMA harus usaha melengkapi sendiri dengan meminjam di tetangga yang berada di kelas lebih tinggi. Kami pun dibiasakan makan yang ada di rumah, tidak pernah jajan. Karena bapak pun mencontohkan demikian, meski beliau kerja berdagang pagi sampai sore, tak pernah sekalipun jajan makanan atau minuman, selalu membawa bekal dari rumah. Untuk urusan sekolah pun bapak orang yang tidak ada kompromi, jaman dulu prinsipnya boleh sekolah kalau diterima di sekolah negeri. Jika tidak bisa, silakan cari kerja. Ketegasan dan kedisiplinan Bapak sering saya artikan sebagai kekejaman dan ketidakadilan, namun seiring kedewasaan saya ternyata makna dari semua itu berubah....

Ah terlalu banyak cerita tentang bapak yang membelokkan arah pandangan saya saat kecil dan dewasa. Bapak yang dengan ikhlas menerima calon menantu nya, meski belum kenal lama. Memberikan kepercayaan penuh kepada anak gadisnya untuk memilih sendiri sang calon suami, bahkan sampai saat akad nikah pun rumah calon menantunya ini belum ada yang tahu he...
 
Setiap saya hamil, bapak lah yang selalu mengingatkan untuk periksa ke bidan atau dokter, minum vitamin, makanan sehat dan menjaga aktifitas fisik di kantor dan dirumah. Pun ketika saya harus menitipkan bayi 7 bulan ke bapak dan ibu, maka bapak pulalah yang menemani bayi saya sehari-hari, bahkan kata ibu beliau lebih cerewet saat menjaga bayi saya. Kasih sayang seorang bapak memang tak mudah terungkap. Ketegasan dan kedisiplinan nya sering menutupi rasa kawatir dan sayangnya kepada seorang anak.

Semoga kami bisa meneladani kebaikan-kebaikan sosok Bapak, pun saat akhir kehidupannya yang berada di saat terbaik dan di tempat terbaik : sepertiga malam terakhir di sebuah masjid kampung :-(

ALLOHUMMAGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WAR HAMHUMAA KAMA RABBAYAANII SHAGIIRAA....Aamiin
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?