Kamis, 04 Juli 2019

Jamaah RESTI



Mungkin saya pernah menulis ini...maafkan jika ada yang membaca hingga berulang-ulang. Karena yang menulis dan bercerita pun tak akan pernah bosan untuk mengungkap kebesaran Allah dalam perjalanan kami.

Ini adalah buku kesehatan haji saya beberapa tahun lalu. Kok identitasnya gak ditulis? Memang tidak saya tampilkan, sebenarnya ada di halaman samping berupa tempelan stiker dengan barcode. Jadi memudahkan pengecekan langsung via komputer.

Yang ingin saya ceritakan kembali adalah judul paling atas dari foto ini...ya RESTI, artinya Resiko Tinggi.
Qodarullah saat pemeriksaan awal di puskesmas saya didiagnosa Anemia (Hb 8). Ya saya sendiri tidak kaget, karena beberapa kali memang ketemu penyakit ini saat ke dokter. Paling parah ketika mau melahirkan anak ke 4, tanpa disadari Hb saya cuma 5 dan langsung dikasih surat rujukan ke RS untuk transfusi darah hingga 5 kantong selama seminggu.

Alhamdulillah masa itu telah terlewati, yang membuat sedih ternyata Anemia salah satu penyakit yang bisa "menunda" atau "membatalkan" keberangkatan haji. Entah analisisnya bagaimana tapi yang saya tahu seperti itu waktu dapat info awal pemeriksaan kesehatan haji.

Dag Dig dug lah selama masa pemeriksaan hingga menunggu hari-H keberangkatan tiba.
Saran dari dokter : makan telur minimal 1 butir sehari. Dan mengingat resiko yang bisa saja terjadi, saya turuti saran dokter.
Periksa pertama Hb 8
Periksa kedua Hb 9
Saat hari keberangkatan hampir tiba, saya inisiatif ke laboratorium dekat rumah untuk memastikan lagi apakah saya layak berangkat atau tidak. Alhamdulillah, 3 hari sebelum masuk embarkasi Hb saya sudah 11 mendekati angka normal.
Akhirnya saat pemeriksaan terakhir di embarkasi tiba, dan ternyata lebih ketat daripada di puskesmas. Bahkan bagi wanita usia subur, meski posisi saat itu sedang haid tetap saja dilakukan tes raba untuk memastikan tidak ada kehamilan.
Dan saya sebagai jamaah kategori RESTI semakin ketat lagi dalam pemeriksaan. Termasuk tentang tes Hb yang dilakukan. Namun karena 3 hari sebelumnya saya sudah tes di luar, petugas kesehatan embarkasi tidak mewajibkan saya tes darah di lokasi tersebut. Dan saya dinyatakan Layak Berangkat. Alhamdulillah....saya betul2 bersyukur, terima kasih buat dokter puskesmas yang tak bosan2nya ingatkan saya "Bu, jangan lupa telur minimal 1 butir per hari".

Dan pesan itu saya ikuti terus selama di Madinah dan Makkah, saya rutin beli telur mentah dan direbus di alat pemasak air atau penanak nasi.
Harga telur di sana lumayan murah, tapi saya lupa harga pastinya.

Dan kuasa Allah kembali datang saat menjelang Armina, tetiba suami sakit (asam lambung) karena faktor kecapekan dan lain-lain. Hingga saat berangkat ke Arafah pun kondisinya masih belum sadar penuh, hanya tidur dan saya bangunkan saat sholat saja. Tanpa ada asupan makanan yang masuk. Tapi memang seperti itulah kebiasaan nya, akan sembuh sendiri jika waktu istirahat nya sudah cukup.
Namun karena besok paginya kita harus wukuf, dan itulah puncak haji mau tak mau suami pun diberikan obat dosis tinggi oleh dokter kloter di malam harinya. Alhamdulillah, saat pagi hari wukuf sudah bisa duduk tegak dan mengikuti rangkaian wukuf hari itu.

Masya Allah...Ternyata saat berangkat ke tanah suci saya yang bergelang merah dengan status RESTI dan suami sebagai pendamping, menjadi keadaan yang terbalik 180 derajat di tanah suci. Suamilah yang akhirnya menjadi pasien dan saya yang berstatus sebagai pendampingnya.

Bukan saya hebat, semua itu sudah ditentukanNya...untuk menunjukkan bahwa Allah mudah sekali membolak-balikkan semuanya termasuk urusan sakit saat ibadah haji.
Wallahu'alam...

Semoga Allah mudahkan, sehatkan, lancarkan ibadahnya dan kembali ke tanah air menjadi haji mabrur. Aamiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?