Salah satu cita-cita jangka pendek saya waktu kecil adalah
terpampangnya nama saya di media, tentunya dengan alasan baik ya...misal
menang lomba atau diliput karena pelajar berprestasi. Namun sayangnya
alasan itu tidaklah pas untuk saya, akhirnya saya harus banting stir
dengan alasan yang lain...asal nama saya tertulis di media.
Saat
Sekolah Dasar kami diwajibkan membeli sebuah lembar kerja siswa (LKS)
sebagai latihan soal. Namanya kalo tidak salah Gemar Belajar, terbit
tiap tiga bulan sekali, alamatnya di Jl Makam Paneleh Surabaya. Kenapa
saya masih hafal?
:-)
Karena sesuai dengan cita2 saya, meski bukan menjuarai lomba saya
berusaha memantaskan diri agar nama saya tercantum di LKS itu...caranya :
dengan mengirimkan jawaban kuis yang ada di halaman belakang LKS lewat
kartu pos, beberapa kali kirim tentulah saya jadi hafal he....
Jawabannya menurut saya mudah, namun kan faktor keberuntungan besar disitu. Dipilih 3 nama dari ratusan pengirim. Dan saya berharap jadi salah satunya....Sri Suharti, SDN Suryodiningratan 3 Yogyakarta. Dan akhirnya sampai saya lulus SD...belum pernah nama saya dimuat di situ hiks...
Jawabannya menurut saya mudah, namun kan faktor keberuntungan besar disitu. Dipilih 3 nama dari ratusan pengirim. Dan saya berharap jadi salah satunya....Sri Suharti, SDN Suryodiningratan 3 Yogyakarta. Dan akhirnya sampai saya lulus SD...belum pernah nama saya dimuat di situ hiks...
Ok lah, cita-cita masih terpendam. Saat di bangku SMP pun
tidak ada inisiatif untuk mengirimkan hal yang sejenis. Begitu masuk ke
SMA, saya kok masih penasaran dengan dimuatnya nama saya di media. Pas
saat kelas 1 SMA, saya mempunyai sahabat di kampung yang bersekolah di
SMA Muhammadiyah. Kami sering pergi bareng atau sekedar gantian
berkunjung ke rumah masing-masing. Saat saya kerumahnya ternyata banyak
tumpukan majalah Kuntum yang ada disana, ternyata majalah itu dibagikan
gratis kepada siswa-siswi yang bersekolah di Muhammadiyah. Saya bolak
balik majalahnya cukup menarik. Akhirnya setiap saya main kerumahnya
tidak pernah saya lewatkan pinjam majalah kuntum terbarunya.
Saat saya buka halaman demi halaman ternyata ada rubrik opini yang
berkaitan dengan pemakaian jilbab di kalangan anak SMA, saya tergelitik
untuk sampaikan pendapat saya lewat majalah itu. Akhirnya saya ajak
sahabat saya untuk sama- sama menulis pendapat masing-masing dan
dikirimkan ke redaksinya.
Mulailah saya menuliskan apa yang ada
di kepala, pandangan saya tentang jilbab yang saya gunakan kemudian
mengamati realitas pengguna jilbab di kalangan pelajar dan sebagainya.
Tulisan itu saya rapikan dengan mesin ketik tangan dan saya kirimkan ke
redaksi. Sahabat saya pun melakukan hal yang serupa. Ternyata....tulisan
saya itu dimuat di rubrik opini majalah Kuntum sekitar tahun 1998,
cita-cita saya terwujud Alhamdulillah....
Saya dikirimi surat
lewat sekolah untuk mengambil honor tulisan saat itu sebesar Rp 7.500,-
rupiah. Sebagai pembanding uang transportasi saya ke sekolah PP Rp 300,-
naik bis kota. Jadi kalo di nilai kan di tahun 2018 kira-kira berapa
ya? He...
Dimuatnya tulisan saya di majalah kuntum saat itu
membuat bahagia tak terkira syalalaaa....maklum dengan modal majalah
pinjaman dan tulisan pertama lagi, langsung bisa dimuat. Alhamdulillah.
Sejak itulah saya lebih percaya diri dan semangat untuk menulis lagi...meski tidak semuanya terkirim, ataupun akhirnya terkirim namun tidak dimuat juga he...
Sejak itulah saya lebih percaya diri dan semangat untuk menulis lagi...meski tidak semuanya terkirim, ataupun akhirnya terkirim namun tidak dimuat juga he...
Insya Allah...Road to Media berikutnya!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar