Minggu, 25 Februari 2018

BERSABAR DALAM PROSES


Masih ingat lagu ini?
=====
Nasi putih terhidang di meja
Kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
Darimana kah datangnya?
Dari sawah dan ladang disana
Petanilah menanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Trimakasih bapak tani
Trimakasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia
=====

Di masa kecil saya, lagu ini sering diputar di TVRI bergantian dengan lagu ucapan trima kasih untuk guru dan nelayan. Ya...kita bisa makan nasi dengan cukup atas jasa para petani (yang sekarang merupakan profesi tak diminati anak muda). Mendapatkan sebuah bulir padi itu bukan hal yang mudah, butuh kesabaran dalam prosesnya. Pun ketika mengubah bulir padi itu menjadi beras, banyak faktor yang menyusutkan timbangannya.


Beberapa hari kami dipertemukan dengan kegiatan bagaimana meneliti perjalanan sebulir padi (gabah) menjati sebutir beras. Mulai cara mengukur kadar air gabah dan beras hasil penggilingan dengan Moisture Meter (review jaman di Pekanbaru juga), menghitung masa kering gabah : berapa hari penjemuran, berapa kedalaman penjemuran, berapa kali dibolak-balik, mengetahui proses penggilingan gabah ke beras, phase penggilingan, derajat sosoh serta persentase susut dari gabah ke beras. Semua terangkum dalam Survei Konversi Gabah ke Beras 2018.

Banyak hal baru yang kami ketahui, terutama susutnya timbangan sejak proses panen gabah hingga menjadi beras yang akhirnya di distribusikan ke konsumen : susut beras karena tercecernya saat proses pengeringan (keluar masuk karung), dimakan ternak/unggas, jika dijemur di pinggir jalan terbawa roda kendaraan dan lain-lain. Itulah yang sebenarnya akan dilihat hasilnya...dalam perjalanan dari gabah kering panen (GKP) menjadi beras mengalamai susut hingga berapa persen? Hingga akhirnya nanti ditemukan sebuah formula ketika terdapat nilai panen sekian ton gabah maka sebenarnya yang bisa dikonsumsi masyarakat berapa ton? (Hasil pengamatan hari ini dari 100 kg gabah yang digiling, hasilnya 66-67 kg beras, sisanya dalam bentuk sekam dan bekatul).


Satu hal lagi yang kami tahu, ternyata dalam pengkategorian beras premium dan medium salah satu syaratnya dalah persentase derajat sosoh, beras premium berderajat sosoh 100% sedangkan beras premium 95%, semakin rendah mediumnya maka derajat sosohnya makin kecil. Padahal derajat sosoh itu adalah persentase terkelupasnya beras dari kulit2 arinya, jika derajat sosoh makin tinggi maka biasanya beras lebih putih dan jernih karena kulitnya sudah terkelupas semua....artinya lagi kandungan gizinya paling kecil dibandingkan beras di prasar tradisonal dengan derajat sosoh 60-80% (warna beras agak keruh). Jadi mau pilih beras yang mana?

Masih teringat pesan orang tua di masa kecil, habiskan semua butir nasi yang ada di piring, jangan tersisa satu pun. Pertama untuk meraih keberkahan dari rezeki berupa makanan, yang kedua tentunya bentuk kesyukuran atas usaha keras dan kesabaran petani mengolah tanaman padi menjadi gabah, dan akhirnya sampai ke kita dalam bentuk nasi.

Bersabarlah dalam sebuah proses : benih >> tanaman padi >> gabah >> beras >> nasi ... Alhamdulillah...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe11   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?