Perkenalanku dengannya tidak
jelas, tanpa sengaja, hanya bermula pandangan mata. Mungkin itu saja. Namun
jelas sekali kesan pertama tak akan terlupa, selalu menjadi kenangan sepanjang
masa. Tak hanya diriku, namun sampai ke anak cucu. Bukanlah rupa yang menjadi
pesona, namun cocoknya jiwa ini yang telah menggerakkan raga.
Anak muda berseragam putih
abu-abu, rasanya itu menjadi masa yang paling membahagiakan. Tak terkecuali
diriku. Rutinitas sekolah berangkat pagi pulang sore, dengan segala tugas dan
pekerjaan rumah memaksaku untuk terus menerus berada di dalam rumah. Fokus pada
sebuah cita. Namun suatu saat, diri ini menemukan sebuah celah untuk keluar
dari batas. Dan akhirnya aku menemukan semangat baru dalam hidup.
Majalah Kuntum, kudapatkan
dengan cara meminjam dari seorang sahabat. Satu persatu kubuka halamannya,
sampailah di sebuah rubrik “Pendapat”. Sebuah nama terpampang disana, salah
seorang kakak kelas yang sering kujumpai di bis kota. Aku bergumam betapa
bangganya dia saat tahu namanya terpampang di salah satu halaman majalah itu.
Aku pun ingin juga merasakan kebanggaan itu.
Kuajak sahabatku menulis
bersama, kita harus wujudkan sebuah cita : tertulis nama di majalah Kuntum. Akhirnya
berdua kita mencoba menulis satu demi satu susunan kata, merangkai cerita
tentang sebuah tema : Jilbab. Saat itu tulisan kukirimkan setelah melewati
proses dengan sebuah mesin ketik. Ya, sejak Sekolah Dasar aku terbiasa dengan
alat ini. Saat melihat kakakku menggunakannya untuk menulis tugas akhir perkuliahan.
Secara otodidak pula aku bisa mengunakannya dan terbitlah sebuah karya dari
mesin ketik tua.
Namun sayang, sahabatku
tidak berhasil menyelesaikan tugas menulis bersama. Akhirnya hanya tulisanku
yang kukirimkan ke penerbit. Dalam hitungan minggu aku selalu menunggu kabar,
baik bahagia maupun kecewa. Dan sebuah surat pun kuterima di sekolah, sebuah
kupon berisi nominal rupiah yang dapat kutukarkan di kantor redaksi. Artinya
tulisanku dimuat di majalah Kuntum. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya saat
itu. Ternyata aku bisa! Honor tulisan pertama sudah diterima dengan nominal Rp
7.500,- di tahun 1998 dimana pada masa itu uang bekalku setiap hari hanya Rp
1.000,-. Bisa untuk 1 minggu uang jajan batinku yang masih berseragam abu-abu.
Cinta pertama ku telah tiba,
meninggalkan jejak cerita.
Dan akhirnya tulisan
selanjutnya pun hadir, meski lebih banyak disimpan untuk sendiri, dipasang di
majalah dinding kampus atau menjadi salah satu bagian buletin Jum’at.
Alhamdulillah saat tulisan menemukan jodohnya, namaku pun bisa terpasang di majalah nasional, buku antologi Gramedia,
koran lokal dan media online era sekarang.
Bahagia itulah yang dirasa,
setiap huruf dan kata bisa dinikmati dan dirasakan pembaca. Berbagi inspirasi
untuk semua. Inilah rindu yang terus tumbuh di dada. Tak kan hilang termakan
usia. Meski kadang rasa lelah dan bosan datang mendera, namun yakinlah saat
merindu itu tiba...aku akan bersegera.
#9TahunIIDN
#NulisBarengIIDNxGNFI
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/23/saatnya-merindu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar