Kamis, 23 Mei 2019

Saatnya Merindu?



Perkenalanku dengannya tidak jelas, tanpa sengaja, hanya bermula pandangan mata. Mungkin itu saja. Namun jelas sekali kesan pertama tak akan terlupa, selalu menjadi kenangan sepanjang masa. Tak hanya diriku, namun sampai ke anak cucu. Bukanlah rupa yang menjadi pesona, namun cocoknya jiwa ini yang telah menggerakkan raga.

Anak muda berseragam putih abu-abu, rasanya itu menjadi masa yang paling membahagiakan. Tak terkecuali diriku. Rutinitas sekolah berangkat pagi pulang sore, dengan segala tugas dan pekerjaan rumah memaksaku untuk terus menerus berada di dalam rumah. Fokus pada sebuah cita. Namun suatu saat, diri ini menemukan sebuah celah untuk keluar dari batas. Dan akhirnya aku menemukan semangat baru dalam hidup.
Majalah Kuntum, kudapatkan dengan cara meminjam dari seorang sahabat. Satu persatu kubuka halamannya, sampailah di sebuah rubrik “Pendapat”. Sebuah nama terpampang disana, salah seorang kakak kelas yang sering kujumpai di bis kota. Aku bergumam betapa bangganya dia saat tahu namanya terpampang di salah satu halaman majalah itu. Aku pun ingin juga merasakan kebanggaan itu.

Kuajak sahabatku menulis bersama, kita harus wujudkan sebuah cita : tertulis nama di majalah Kuntum. Akhirnya berdua kita mencoba menulis satu demi satu susunan kata, merangkai cerita tentang sebuah tema : Jilbab. Saat itu tulisan kukirimkan setelah melewati proses dengan sebuah mesin ketik. Ya, sejak Sekolah Dasar aku terbiasa dengan alat ini. Saat melihat kakakku menggunakannya untuk menulis tugas akhir perkuliahan. Secara otodidak pula aku bisa mengunakannya dan terbitlah sebuah karya dari mesin ketik tua.

Namun sayang, sahabatku tidak berhasil menyelesaikan tugas menulis bersama. Akhirnya hanya tulisanku yang kukirimkan ke penerbit. Dalam hitungan minggu aku selalu menunggu kabar, baik bahagia maupun kecewa. Dan sebuah surat pun kuterima di sekolah, sebuah kupon berisi nominal rupiah yang dapat kutukarkan di kantor redaksi. Artinya tulisanku dimuat di majalah Kuntum. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya saat itu. Ternyata aku bisa! Honor tulisan pertama sudah diterima dengan nominal Rp 7.500,- di tahun 1998 dimana pada masa itu uang bekalku setiap hari hanya Rp 1.000,-. Bisa untuk 1 minggu uang jajan batinku yang masih berseragam abu-abu.

Cinta pertama ku telah tiba, meninggalkan jejak cerita.

Dan akhirnya tulisan selanjutnya pun hadir, meski lebih banyak disimpan untuk sendiri, dipasang di majalah dinding kampus atau menjadi salah satu bagian buletin Jum’at. Alhamdulillah saat tulisan menemukan jodohnya, namaku pun bisa terpasang di  majalah nasional, buku antologi Gramedia, koran lokal dan media online era sekarang.

Bahagia itulah yang dirasa, setiap huruf dan kata bisa dinikmati dan dirasakan pembaca. Berbagi inspirasi untuk semua. Inilah rindu yang terus tumbuh di dada. Tak kan hilang termakan usia. Meski kadang rasa lelah dan bosan datang mendera, namun yakinlah saat merindu itu tiba...aku akan bersegera.   

#9TahunIIDN
#NulisBarengIIDNxGNFI


https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/23/saatnya-merindu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?