Senin, 01 April 2013

Efek Pindah-pindah Kota

Saat memasuki masa kuliah, saya harus meninggalkan kota kelahiran menuju ibu kota Jakarta. 4 tahun hidup sebagai mahasiswa di Jakarta, memaksa saya untuk akrab dengan rutinitas Jakarta sekaligus alat transportasi yang hemat, cepat dan tepat. Mau tidak mau saya harus menghafal rute bus, angkot termasuk jalan-jalan utama yang dilewati angkutan umum tersebut. Secara umum, saya kategorikan sukses pengembaraan di Jakarta. Kenapa? Ketika ada orang tanya letak suatu tempat, saya sudah bisa membayangkan tempat tersebut serta memperkirakan angkutan apa yang lewat daerah itu.
Episode kedua adalah pengembaraan di pulau Sulawesi, kota Makassar. Meski tidak lama pengembaraan disini tapi cukuplah mengisi memori tentang pete-pete yang harus dinaiki jika hendak ke Al Markaz, atau hendak ke UNHAS. Selain itu juga saya sudah mulai terbiasa membentang peta kota Makassar yang menjadi panduan untuk berkeliling. Cukuplah 1 tahun di kota Makassar.....
Episode ketiga, kehidupan kota Bandung. Agak berbeda ketika memasuki kota ini, bekal awal yang disiapkan adalah peta dan sepeda motor. Meski awal perjalanan di kota ini bingung karena banyak jalan yang satu arah, sehingga sempat membuat polisi kota Bandung meniup peluit.....(baca : tilang).
Akhirnya episode di Bandung diakhiri setelah 1,5 tahun melintasi jalan-jalan di kota Bandung.
Last but not least, kota bertuah Pekanbaru di pulau Sumatera. Yakin kalau di kota ini kita harus dan wajib memiliki kendaraan pribadi, Karena kota ini kurang didukung transportasi umu yang bisa mencapai setiap sudut kota.
Setelah Jakarta, Makassar, Bandung, Pekanbaru dan tak terlupa kota kelahiran saya. Maka kebingungan itu sering kali datang.
"Di mana alamat kantornya?"
" Jl Sudirman No. 40"
Langsung lah saat itu kepala saya mulai berdenyut, menata memori yang ada di otak. Menyadarkan kembali dimana kaki ini dipijak. Terbayanglah Jalan Sudirman yang di Jakarta, Makassar, Bandung dan Pekanbaru (satu lagi di kota kelahiran saya).   
Saya harus secara cepat menganalisis kota mana yang sesuai dan mulai membayangkan rute yang dituju. Apabila pikiran masih fresh maka memori di otak akan mudah di sesuaikan, namun jika telah lelah maka ketika yang ditanya Jl Sudirman Pekanbaru, maka yang selalu terbayang di otak adalah Jalan Sudirman Jakarta.
Itulah sedikit cerita, efek dari pindah-pindah kota, banyak pengalaman, banyak cerita dan banyak bahagiaaaaa......:-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?