Tetes hujan sore ini telah membasahi jendela
kamarku. Menyisakan embun-embun kesejukan yang memungkinkanku mengukir sebuah
nama di kaca-kaca itu. Pun dari kejauhan pandangan mataku, atap-atap rumah
sekelilingku telah terbasahi rintik-rintik hujan yang tidak terlalu lebat.
Entah mengapa suasana seperti sudah terlalu akrab dengan diriku. Kesendirian
dalam kesunyian kamar, ditemani lantunan tembang dari radio tape di meja dan
kembali ditemani tetes-tetes hujan yang membasahi bumi. Suasana yang
mengingatkanku akan sebuah nama yang selalu terukir di hati, tidak bisa hilang
dan aku sendiri tidak pernah berniat untuk menyingkirkan ataupun menghilangkan.
Biarlah sosok itu terus menjadi semangat disetiap langkahku... BUNDA!
-***-
“Bunda, Adek pengen menyentuh hujan”, pintaku pada Bunda di
suatu sore, masih dalam suasana hujan.
“Boleh Bunda?” tanyaku meyakinkan.
Tiada jawaban ya maupun tidak, hanya sebuah senyuman penuh
arti dari bibir Bundaku. Seolah-olah tanpa terucap tapi bisa menjawab,
“Adek, Bunda sayang sama Adek. Jangan main di luar ya nak.
Hujan tidak selalu bersahabat dengan kita. Hujan akan membuat kita basah, sama
seperti air mata yang telah membasahi wajah kita”, kata Bunda menerawang.
Tiada yang kumengerti ketika itu hanya sebuah kekecewaan,
“Ah, Bunda pelit” marahku.
“Adek hanya pengen keluar sebentar. Banyak teman Adek yang
main hujan di luar” pintaku lebih meyakinkan.
Lagi-lagi jawaban Bundaku hanyalah sebuah senyuman. Tetap
sama, tanpa suara tapi kaya makna. Yang menurutku masih berupa teka-teki.
-***-
“Bunda, Adek boleh masuk SMP 1?”
Disela istirahat sore aku membuka percakapan dengan
Bundaku. Hasil ujian kemarin Alhamdulillah telah menjadikanku juara umum di SD.
Dan sekaranglah saatnya menentukan jenjang yang lebih tinggi. Keinginan masuk
SMP 1, SMP favorit di kotaku, membuat aku semakin semangat untuk belajar.
Bayangan-bayangan keceriaan dan kebanggaan bersekolah di sana telah
melambai-lambai di pelupuk mataku.
Kunanti jawaban Bunda, kuamati wajah beliau. Tampak wajah
lelah di sana, setelah seharian berkutat dengan rutinitas mengajar di dua
tempat yang berbeda. Garis-garis wajah Bunda menyiratkan perjuangan yang tak
pernah selesai. Posisi dan peranan Bunda sebagai single parent bagiku,
seorang Farah Andini, terlihat berat.
Tetapi lagi-lagi kudapatkan jawaban penuh kearifan pada
diri Bunda. Senyuman tulus tetap menghiasi bibirnya.
“Asal Adek mantap dengan keputusan dan sadar dengan resiko
yang diambil, Bunda ikhlaskan semua keputusan pada Adek”, kata Bunda kemudian.
“Bunda menilai Adek telah mampu menentukan pilihan yang
tepat untuk masa depan Adek”, lanjut beliau.
“Selama ini demi kebaikan, Bunda akan selalu mendukung”.
Akhirnya jawaban yang kunantikan keluar juga, izin dari
Bunda. Tapi mengapa setelah Bunda memberikan keikhlasannya justru aku merasa semakin
belum siap berpisah dengan Bunda.
Sekolah yang kuimpikan ada di ibukota propinsi, mau tidak
mau aku harus meninggalkan Bunda di rumah ini sendirian. Oh ya Bunda tidak
sendirian, ada Mbak Sari yang selama ini membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah.
Tapi tetap saja Bunda merasa sendiri, setelah Ayah meninggal dan kini aku harus
pergi dari rumah.
“Bunda, walaupun berat hati ini pergi dari dekapan Bunda
tapi aku yakin keikhlasan Bunda melepasku akan menjadi semangat dan doa
untukku...”, ucapku lirih.
-***-
Sudah berapa ribu kali hujan sore
tidak bisa kunikmati bersama Bunda di sampingku. Masa-masa SMP yang banyak
aktivitas membuatku agak jarang pulang, walaupun perjalanan ke rumah tak pernah
mencapai 6 jam tetapi tetap saja dikatakan aku jarang pulang. Hanya
telepon-telepon Bunda ke kos yang senantiasa membuatku rindu pada sosok beliau,
itulah spirit dan semangatku. Pun pada akhirnya aku memutuskan untuk
melanjutkan pendidikan SMU dan kuliah di kota yang sama, semakin jarang aku
pulang. Terlebih beban tugas dan amanah aktivitas organisasiku yang semakin
bertumpuk. Dan Bunda tetap setia menemaniku diantara deringan telepon di waktu
malam.
-***-
Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Seorang Farah Andini telah meraih kesarjanaan.
“Bunda, Adek telah menjadi Farah Andini, ST”, teriak
kegembiraanku pada Bunda.
“Sekarang masih pantaskah dipanggil Adek?”, lanjutku
kemudian.
Dan yang kulihat saat itu, Bunda menangis! Mengapa?
Dalam setiap percakapan maupun diskusi-diskusi panjang
ketika di rumah, Bunda selalu mengawali dan mengakhiri dengan senyuman. Tapi
kenapa di saaat kebahagiaan ini hadir di hatiku Bunda menangis?
“Dek, maafin Bunda yang tak mampu memberikan yang lebih
pada Adek,” kata beliau di sela isakannya.
“Hanya ini yang bisa Bunda berikan pada Adek, Bunda
mengantarkan sampai disini. Selanjutnya Adek harus mampu tegak berdiri
sendiri.”, Bunda tetap mencoba tersenyum.
“Tapi yakinlah, Farah Andini tetap seorang Adek bagi
Bunda”, lanjutnya.
Pecah sudah benteng pertahanan air mataku, kata-kata Bunda
memaksaku untuk menangis. Kurengkuh tubuh Bunda, aku ingin selalu ada dalam
dekapannya.
“Bunda, bantu Adek agar mampu memaknai setiap jerih payah
perjuangan Bunda”, ucapku dalam hati.
-***-
Masih ada rintik hujan, sore ini Bunda tentu masih sendiri
di dekat jendela kamar depan.
“Bunda, apakah Bunda merasakan hal yang Adek rasakan saat
ini?”. Keinginan untuk mengabdi dan mendampingi lagi Bunda setelah lulus kuliah
tidak bisa terwujud. Bunda harus aku tinggalkan lagi, lebih jauh lagi di seberang
pulau yang dibatasi jarak laut.
“Hujan sore ini menitipkan rindu Adek untuk Bunda.
Mengingatkan Adek pada semangat dan perjuangan Bunda,” kataku lirih di depan
jendela.
“Keikhlasan dan keridhoan Bunda tak akan pernah
tergantikan. Bunda, maafkan Adek yang belum bisa banyak berbakti pada Bunda.”
Rintik hujan telah berhenti, namun aku yakin doa dan kasih
Bunda tidak akan pernah sirna dan berhenti, walau jauh di seberang lautan sana.
untuk Bunda : Makassar, 2005
Tidak ada komentar:
Posting Komentar