Selasa, 16 April 2013

Cerpen (1) : KETIKA HUJAN REDA


Tetes hujan sore ini telah membasahi jendela kamarku. Menyisakan embun-embun kesejukan yang memungkinkanku mengukir sebuah nama di kaca-kaca itu. Pun dari kejauhan pandangan mataku, atap-atap rumah sekelilingku telah terbasahi rintik-rintik hujan yang tidak terlalu lebat. Entah mengapa suasana seperti sudah terlalu akrab dengan diriku. Kesendirian dalam kesunyian kamar, ditemani lantunan tembang dari radio tape di meja dan kembali ditemani tetes-tetes hujan yang membasahi bumi. Suasana yang mengingatkanku akan sebuah nama yang selalu terukir di hati, tidak bisa hilang dan aku sendiri tidak pernah berniat untuk menyingkirkan ataupun menghilangkan. Biarlah sosok itu terus menjadi semangat disetiap langkahku... BUNDA!

-***-

“Bunda, Adek pengen menyentuh hujan”, pintaku pada Bunda di suatu sore, masih dalam suasana hujan.

“Boleh Bunda?” tanyaku meyakinkan.

Tiada jawaban ya maupun tidak, hanya sebuah senyuman penuh arti dari bibir Bundaku. Seolah-olah tanpa terucap tapi bisa menjawab,

“Adek, Bunda sayang sama Adek. Jangan main di luar ya nak. Hujan tidak selalu bersahabat dengan kita. Hujan akan membuat kita basah, sama seperti air mata yang telah membasahi wajah kita”, kata Bunda menerawang.

Tiada yang kumengerti ketika itu hanya sebuah kekecewaan,

“Ah, Bunda pelit” marahku.

“Adek hanya pengen keluar sebentar. Banyak teman Adek yang main hujan di luar” pintaku lebih meyakinkan.

Lagi-lagi jawaban Bundaku hanyalah sebuah senyuman. Tetap sama, tanpa suara tapi kaya makna. Yang menurutku masih berupa teka-teki.

-***-

“Bunda, Adek boleh masuk SMP 1?”

Disela istirahat sore aku membuka percakapan dengan Bundaku. Hasil ujian kemarin Alhamdulillah telah menjadikanku juara umum di SD. Dan sekaranglah saatnya menentukan jenjang yang lebih tinggi. Keinginan masuk SMP 1, SMP favorit di kotaku, membuat aku semakin semangat untuk belajar. Bayangan-bayangan keceriaan dan kebanggaan bersekolah di sana telah melambai-lambai di pelupuk mataku.

Kunanti jawaban Bunda, kuamati wajah beliau. Tampak wajah lelah di sana, setelah seharian berkutat dengan rutinitas mengajar di dua tempat yang berbeda. Garis-garis wajah Bunda menyiratkan perjuangan yang tak pernah selesai. Posisi dan peranan Bunda sebagai single parent bagiku, seorang Farah Andini, terlihat berat.

Tetapi lagi-lagi kudapatkan jawaban penuh kearifan pada diri Bunda. Senyuman tulus tetap menghiasi bibirnya.

“Asal Adek mantap dengan keputusan dan sadar dengan resiko yang diambil, Bunda ikhlaskan semua keputusan pada Adek”, kata Bunda kemudian.

“Bunda menilai Adek telah mampu menentukan pilihan yang tepat untuk masa depan Adek”, lanjut beliau.

“Selama ini demi kebaikan, Bunda akan selalu mendukung”.

Akhirnya jawaban yang kunantikan keluar juga, izin dari Bunda. Tapi mengapa setelah Bunda memberikan keikhlasannya justru aku merasa semakin belum siap berpisah dengan Bunda.

Sekolah yang kuimpikan ada di ibukota propinsi, mau tidak mau aku harus meninggalkan Bunda di rumah ini sendirian. Oh ya Bunda tidak sendirian, ada Mbak Sari yang selama ini membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah. Tapi tetap saja Bunda merasa sendiri, setelah Ayah meninggal dan kini aku harus pergi dari rumah.

“Bunda, walaupun berat hati ini pergi dari dekapan Bunda tapi aku yakin keikhlasan Bunda melepasku akan menjadi semangat dan doa untukku...”, ucapku lirih.

-***-

Sudah berapa ribu kali hujan sore tidak bisa kunikmati bersama Bunda di sampingku. Masa-masa SMP yang banyak aktivitas membuatku agak jarang pulang, walaupun perjalanan ke rumah tak pernah mencapai 6 jam tetapi tetap saja dikatakan aku jarang pulang. Hanya telepon-telepon Bunda ke kos yang senantiasa membuatku rindu pada sosok beliau, itulah spirit dan semangatku. Pun pada akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMU dan kuliah di kota yang sama, semakin jarang aku pulang. Terlebih beban tugas dan amanah aktivitas organisasiku yang semakin bertumpuk. Dan Bunda tetap setia menemaniku diantara deringan telepon di waktu malam.

-***-

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Seorang Farah Andini telah meraih kesarjanaan.

“Bunda, Adek telah menjadi Farah Andini, ST”, teriak kegembiraanku pada Bunda.

“Sekarang masih pantaskah dipanggil Adek?”, lanjutku kemudian.

Dan yang kulihat saat itu, Bunda menangis! Mengapa?

Dalam setiap percakapan maupun diskusi-diskusi panjang ketika di rumah, Bunda selalu mengawali dan mengakhiri dengan senyuman. Tapi kenapa di saaat kebahagiaan ini hadir di hatiku Bunda menangis?

“Dek, maafin Bunda yang tak mampu memberikan yang lebih pada Adek,” kata beliau di sela isakannya.

“Hanya ini yang bisa Bunda berikan pada Adek, Bunda mengantarkan sampai disini. Selanjutnya Adek harus mampu tegak berdiri sendiri.”, Bunda tetap mencoba tersenyum.

“Tapi yakinlah, Farah Andini tetap seorang Adek bagi Bunda”, lanjutnya.

Pecah sudah benteng pertahanan air mataku, kata-kata Bunda memaksaku untuk menangis. Kurengkuh tubuh Bunda, aku ingin selalu ada dalam dekapannya.

“Bunda, bantu Adek agar mampu memaknai setiap jerih payah perjuangan Bunda”, ucapku dalam hati.

-***-

Masih ada rintik hujan, sore ini Bunda tentu masih sendiri di dekat jendela kamar depan.

“Bunda, apakah Bunda merasakan hal yang Adek rasakan saat ini?”. Keinginan untuk mengabdi dan mendampingi lagi Bunda setelah lulus kuliah tidak bisa terwujud. Bunda harus aku tinggalkan lagi, lebih jauh lagi di seberang pulau yang dibatasi jarak laut.

“Hujan sore ini menitipkan rindu Adek untuk Bunda. Mengingatkan Adek pada semangat dan perjuangan Bunda,” kataku lirih di depan jendela.

“Keikhlasan dan keridhoan Bunda tak akan pernah tergantikan. Bunda, maafkan Adek yang belum bisa banyak berbakti pada Bunda.”

Rintik hujan telah berhenti, namun aku yakin doa dan kasih Bunda tidak akan pernah sirna dan berhenti, walau jauh di seberang lautan sana.
untuk Bunda : Makassar, 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?