Rabu, 28 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (4)



Saya pencinta buku, di rumah banyak tumpukan buku yang menjadi koleksi, baik yang sudah selesai baca maupun belum. Tahun demi tahun, sebagai pencinta sekaligus penikmat buku, saya penasaran dengan proses penulisan dan penerbitan buku yang saya baca (sempat saat kuliah bercita-cita tambahan jadi wartawan J ). Saya juga ingin suatu saat nama saya akan teukir di sebuah buku, sebagai penulis, dan akan dinikmati para pencinta buku yang lainnya. Tapi saya sadar, ilmu dan kemampuan yang saya miliki pas-pasan, tidak mungkin rasanya saya bisa menerbitkan buku solo, oleh karena itu saya coba mencari peluang untuk menerbitkan buku dalam bentuk rombongan atau biasa disebut antologi.

Bergabunglah saya di sebuah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) pada tahun 2012. Cukup banyak pelajaran menulis yang saya dapatkan di komunitas ini, baik fiksi maupun non fiksi. Terlebih semangat ibu-ibu disini selalu membara untuk menulis dan menerbitkan buku. Biasanya   masing-masing anggota punya blog yang menjadi wadah tulisan mereka, akhirnya saya terinspirasi untuk mengikuti juga membuat blog. Otodidak dan benar2 mulai dari NOL. Alhamdulillah...jadilah blog itu dan satu dua tulisan sudah berhasil saya posting. Namun semangat nge-blog ini hanya bertahan seminggu dua minggu, setelah itu blog nya tak ada aktivitas lagi he….


Pada suatu kesempatan, di grup IIDN di-posting ajakan untuk bergabung dalam sebuah buku antologi. Tema yang diangkat adalah tentang kesyukuran, akan menjadi buku antologi serial STORYCake-nya Gramedia. Wah…inilah kesempatan yang saya tunggu-tunggu...

Mulai saya mencari ide cerita yang sesuai dengan tema yang ditentukan, harus berasal dari kisah nyata, dan tentunya membuat tulisan non-fiksi dari kisah nyata lebih mudah jika kita sendiri sebagai tokohnya. Setelah saya pilih sebuah kisah hidup saya yang sebenarnya, mulailah saya susun kata demi kata, mengingat kembali cerita kehidupan yang membuat saya selalu dan selalu mengucap Hamdallah. Kata-kata yang menyusun cerita pun mulai mengalir serta dengan sedikit emosi membuat jari-jari saya lancar menari di keyboard laptop. Alhamdulillah sebuah tulisan yang sesuai dengan syarat yang ditetapkan penanggung jawab antologi bisa saya selesaikan. Segera saya kirimkan sesuai alamat email yang tertulis.

Seminggu...dua minggu...ah saya sudah lupa berapa lama masa menunggu pengumuman itu. Namun lamanya penantian ternyata membuahkan hasil...tulisan saya terpilih menjadi salah satu kontributor di antologi ini. Alhamdulillah....

Mulailah komunikasi yang lebih intensif dengan penanggung jawab antologi, tentang judul yang kurang pas, isian yang perlu di perhatikan ataupun disingkat, dan juga membuat separagraf tentang riwayat penulis. Hah...ini lah salah satu hal yang susah, membuat riwayat singkat kepenulisan padahal saya kan tidak pernah punya karya kepenulisan, ini kan kiriman antologi pertama. Akhirnya isiannya hanyalah : seorang ibu bekerja dengan 4 anak he...

Sebulan...dua bulan...3 bulan dst tenyata lama juga menunggu antologi ini selesai disusun, di edit, di layout. Dan saya dari yang awalnya sabar menunggu, menjadi tidak ada keinginan untuk mengecek progres penerbitan antologi ini. Hampir saja saya su'udzon naskah ini tidak jadi terbit, namun saya coba tepis dengan membangun komunikasi bersama kontributor lainnya.

Alhamdulillah…akhirnya terbit juga setelah penantian sekitar 6 bulan atau lebih. Sebuah buku yang menjadi karya antologi pertamaku. ( semoga bukan pula yang terakhir :-)


=========================

Menulis membuat saya lebih menghargai diri saya sendiri, jika tidak kita sendiri siapa lagi. 
Jadi saya akan terus menulis dan menulis meski karya yang hadir cukuplah mengisi catatan di sebuah buku diary ataupun kenangan yang akan dibaca anak-anak kelak.

Lunas sudah....15 hari bercerita! Alhamdulillah…

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe15

 


Senin, 26 Februari 2018

EMAK ONLINE


Saya lupa kapan tepatnya mulai menikmati dunia maya (online) yang sangat membantu di beberapa kebutuhan yang saya cari. Salah satu hal yang menjadi perbedaan adalah saat saya harus menyelesaikan tugas akhir kuliah.

Tugas akhir kuliah yang pertama di Jakarta tahun 2004 (ketahuan umurnya ya he...) saya harus rajin datang ke perpustakaan untuk cari referensi. Waktu itu perpustakaan favorit saya ada di LIPI. Banyak penelitian sejenis yang sudah disajikan dalam bentuk laporan maupun buku cetak. Berkali-kali saya datang kesana untuk melengkapi tugas akhir saya, sambil membaca lembar demi lembar buku sebagai tambahan referensi.


Saat menyelesaikan tugas akhir kuliah yang kedua 2011 di Bandung, mulailah saya menggunakan referensi online. Cukup di depan laptop saya bisa mencari jurnal yang berkaitan dengan topik penulisan. Ternyata jurnal utama itu diterbitkan di negeri Paman Sam, namun atas bantuan dunia maya saya dengan mudah mendapatkannya dari rumah kontrakan di Bandung. Untuk menambah referensi saya pun mencari artikel dan laporan penelitian yang sejenis. Lagi-lagi tidak perlu susah-susah datang ke perpustakaan, semua ada di layar laptop. Modal utamanya adalah laptop, data internet (modem), snack dan kopi he...karena sebagai ibu dengan 3 anak balita, saya baru bisa membuka laptop setelah anak-anak terlelap tidur. Sehingga jika darurat siang hari saya harus buka laptop maka mengungsi di masjid Salman ITB demi ketenangan dari tingkah lucu dan usil anak-anak.

Selain itu ternyata dunia maya juga mendukung bisnis kecil-kecilan emak, mulai dari jualan pulsa, tiket pesawat, jas hujan, kaos bandung, buku, minuman dan lain-lain. Meski episode jualan ini hanyalah euforia sesaat, senang jika ada teman yang tercukupi kebutuhannya dengan cepat, tepat dan hemat he...

Dunia online bagi emak di tahun 2018 ini semakin beragam manfaatnya (selain belanja ya…). Kita bisa ikut kursus bahasa Inggris, bahasa Arab, kajian online, tahsin, hafalan Al Quran, kuliah whatapps dan banyak hal lagi. Sisi positifnya dengan online semua kebutuhan ilmu bisa tercukupi namun sesungguhnya keberadaan guru/pembimbing di dunia nyata mutlak tetap diperlukan. Pun otak kita pun tidak bisa dijejali berbagai cabang ilmu yang mudah kita dapatkan di sekitar kita. Fokus...fokus …dan fokus adalah kuncinya. Pilah pilih mana yang prioritas utama dan mana yang sekedar keinginan dan trend sesaat. Jangan sampai rajin online tapi suami dan anak-anak tersingkirkan he….

Note buat emak online : Janganlah menyediakan fasilitas online yang bisa diakses pribadi dan menyendiri bagi anak, baik laptop maupun hp. Karena internet bagi anak tidak hanya membuat cerdas namun juga membuat rusak anak-anak kita. Perasaan sayang kita ke anak justru diwujudkan dengan membatasi waktu dan fasilitas online untuk mereka. (Ini dari materi POMG di SDIT :-)

Saya lahir di tahun 80an....ternyata saat ini jauh berbeda dengan masa kecil saya, bahkan tidak pernah terbesit dalam pemikiran saat itu. Entah anak2 nanti akan hidup di masa yang seperti apa, mungkin mobil terbang, warung robot atau saatnya migrasi ke planet lain. Namun tetap bekal IMAN untuk anak-anak kita...insya Allah ini yang akan menyelamatkan kehidupan mereka apapun masanya. Aamiin

TEMPAT PENITIPAN ANAK (TPA)


Terlepas dari adanya perbedaan pendapat metode pengasuhan dengan TPA maupun babysitter di rumah, kami termasuk salah satu yang sangat terbantu demgan adanya TPA saat masih tinggal di Pekanbaru. Akhir 2008 kami menuju Pekanbaru dengan membawa anak usia 2 tahun dan adeknya usia 3 bulan. Tidak ada sanak saudara ataupun tetangga yang bisa diajak untuk membantu kami mengurus anak2 selama kami kerja. Pun setelah beberapa hari di Pekanbaru, pengasuh/babysitter belum juga kami dapatkan. Oleh karena itu meski dengan hati yang berat kami mencoba mencari TPA yang paling nyaman buat anak dan cocok di kantong keluarga.

TPA pertama yang menjadi pilihan adalah sebuah rumah tinggal yang disulap menjadi TPA dengan berbagai fasilitas untuk anak, dikelola oleh seorang ibu pegawai pemprov Riau. Lumayan banyak anak yang dititipkan disana, usia 2-5 tahun di lantai bawah rumah ada sekitar 10-15 anak. Yang usia bayi sampai 1 tahun ada 10 anak juga di lantai atas terpisah dengan anak-anak besar, jadi aman dari gangguan anak-anak yang sedang bermain atau berlari-lari. Masing-masing lantai ditemani 2 pengasuh, jadi ada 4 pengasuh disana.

Setiap hari kami membawakan alat mandi, baju ganti anak-anak, susu dan makan siang serta beberapa snack. Diantar ke TPA jam 7 pagi dan dijemput jam 4 sore. Awal masuk TPA bagi adek bayi tidak banyak masalah, terpenting cukup susu, istirahat dan kenyamanan sepanjang hari di ayunan. Sedangkan adaptasi si kakak, hampir tiap hari selama satu minggu saat diantar dan dijemput selalu menangis. Rasanya kami tidak tega, tapi ibu pengasuh meyakinkan kami bahwa kakak baik-baik saja. Sudah bisa bermain, makan bersama dan mengikuti jadwal TPA. Ok lah...Bismillah....langkah pertama telah berhasil dilalui.

Baru 2 bulan menikmati kenyamanan di TPA ternyata 2 ibu pengasuh favorit anak-anak (Bu Titin dan Bu Vira) mengundurkan diri dari lembaga karena ketidakcocokan sistem. Selanjutnya satu minggu anak-anak diasuh oleh ibu lainnya namun kami merasa tidak cocok. Akhirnya kami hubungi ibu pengasuh yang sebelumnya, memohon agar mereka mau menjadi pengasuh anak-anak dirumah. Ternyata yang menghubungi ibu-ibu pengasuh itu tidak hanya kami berdua, namun juga beberapa wali TPA lainnya. Permasalahannya sama...sudah cocok dengan pengasuh lama, anaknya tidak mau di TPA dengan pengasuh lainnya. Akhirnya kedua ibu tersebut membuat TPA sendiri di rumah kontrakan Bu Titin, meski sangat sederhana dan minim fasilitas namun anak-anak nyaman dan bahagia. Jadilah hari-hari selanjutnya anak-anak kami titipkan di TPA yang diberi nama Cahaya Bunda.

Tahun 2010 kami harus hijrah ke Bandung. Kemudian balik lagi ke Pekanbaru di 2012, kami menitipkan anak-anak di tempat yang berbeda. TPA kedua ini adalah sebuah cikal bakal Taman Kanak-kanak yang dibuka di dekat kantor suami. Karena rumah kontrakan kami lebih dekat ke kantor suami akhirnya kami menitipkan 3 anak disitu... TPA Insan Amanah. Saat pagi anak-anak ikut kegiatan PAUD dan TK, setelah istirahat siang mereka pindah ke ruang belakang menjadi anak TPA. Lagi-lagi menurut kami bukan fasilitas TPA yang utama namun kasih sayang. Ada bunda Nurul, bunda Essy dan bunda lainnya disana yang mengasuh anak-anak selayaknya anak/adek sendiri. Tak jarang pas kami jemput sore anak-anak ternyata diajak jajan ke minimarket sebelah, padahal kami tidak membekali mereka uang jajan.

Di tahun 2014, kami harus pindah kontrakan lagi (kontraktor :-) ). Demi mempersiapkan kelahiran adek bayi ke4 akhirnya kami mencari kontrakan yang dekat dengan TPA Cahaya Bunda yang dulu. Alhamdulillah...saat bayi kecil kami lahir dan nenek yang dari Jawa pulang, kembali kami titipkan 4 anak disana. Meski 3 anak lainnya sudah masuk usia sekolah namun mereka tetap senang jika pulang sekolah dititipkan di TPA.


Alhamdulillah...selama 2008-2016 di Pekanbaru, 4 anak mempunyai rumah kedua yang penuh kasih sayang di TPA Cahaya Bunda dan Insan Amanah. Berita-berita miring dan kekhawatiran beberapa ibu tentang TPA tidak pernah kami alami. Bagi kami ibu-ibu pengasuh di TPA adalah bagian dari keluarga yang tak tergantikan. Beliau-beliaulah yang berjasa besar menemani perkembangan 4 anak kami di usia balita.

Terima kasih bu Titin, bu Vira, bunda Nurul, bunda Essy dan bunda2 lainnya...semoga. Allah berikan kesehatan, keluasan rezeki dan kebarokahan serta kemudahan di segala hal. Aamiin

Dan semoga suatu saat nanti bisa bertemu 4F lagi. Aamiin

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe13


Minggu, 25 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (3)


Saat kuliah semester 3-4 saya diajak beberapa senior untuk gabung bersama di APJ (Aksi Peduli Jilbab), yang salah satu tugasnya adalah menyuarakan pelegalan penggunaan jilbab terutama di sekolah kedinasan. Mengapa saya diajak gabung? Ah saya juga lupa alasan awalnya he...
Alhamdulillah sekolah kedinasan tempat saya mencari ilmu didominasi oleh mahasiswi dan mayoritas berjilbab pula, jadi mahasiswi-mahasiswi disini lah yang lebih banyak bergerak intuk APJ dibandingkan sekolah dinas lainnya. Meskipun untuk ketua tetap mahasiswa ( tidak berjilbab tentunya :-) )

Kami mengadakan pertemuan dan juga silaturahmi dengan sesama mahasiswi sekolah kedinasan lainnya serta beberapa pihak yang dirasa bisa membantu gerak kami baik secara syariah maupun hukum, waktu itu kalo tidak salah salah satu pihak yang banyak membantu perjuangan jilbab di kedinasan adalah organisai PAHAM. Sempat beberapa kali ikut audiensi dengan orang-orang hukum yang berada di bawah bendera PAHAM.


Kenapa harus menyangkut ranah hukum? Karena saat itu adanya diskriminasi beberapa mahasiswi kedinasan (bukan di kampus kami) di bidang akademik hanya karena mereka pakai jilbab. Pun ketika diperbolehkan jilbab dipakai di lingkungan kampus, yang dilegalkan hanyalah selembar kain yang menutup kepala dan dililitkan ke leher. Baju seragam (dinas) masih sama dengan mahasiswa lainnya, celana panjang dan atasan panjang "slim fit". Padahal esensi jilbab adalah menutup aurat, tidak membentuk tubuh dan menutupi dada. Jika semua itu merupakan aturan tertulis di sekolah kedinasan yang bersangkutan, tentunya dari APJ pun melakukan pendekatan yang salah satunya melegalkan jilbab syar'i dalam aturan tertulis juga. Oleh karena itu pendekatan dengan bagian hukum perlu dilakukan untuk melancarkan prosesnya.

Pada masa itu ternyata tidak hanya sekolah kedinasan yang mengalami diskriminasi jilbab, namun banyak karyawan di lembaga publik maupun perusahaan swasta yang juga butuh pendampingan PAHAM.

Opini dari beberapa tahun terlibat di APJ tertuang di sebuah majalah yang dominan menyuarakan ketidakadilan di masyarakat. Tulisan pertama dulu tentang jilbab, tulisan kedua pun tentang jilbab. Semoga setelah ini tidak perlu lagi opini yang membuat jilbab sebagai hal yang diperdebatkan.
Yang sudah berjilbab semoga tetap istiqomah, yang belum berjilbab semoga Allah menguatkan keyakinannya untuk menutup aurat secara sempurna. Aamiin

" ..... dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya ke dadanya" (QS. An Nur :31)

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe12

To : yang pernah bareng di APJ....kangeeeen :-)

BERSABAR DALAM PROSES


Masih ingat lagu ini?
=====
Nasi putih terhidang di meja
Kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
Darimana kah datangnya?
Dari sawah dan ladang disana
Petanilah menanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Trimakasih bapak tani
Trimakasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia
=====

Di masa kecil saya, lagu ini sering diputar di TVRI bergantian dengan lagu ucapan trima kasih untuk guru dan nelayan. Ya...kita bisa makan nasi dengan cukup atas jasa para petani (yang sekarang merupakan profesi tak diminati anak muda). Mendapatkan sebuah bulir padi itu bukan hal yang mudah, butuh kesabaran dalam prosesnya. Pun ketika mengubah bulir padi itu menjadi beras, banyak faktor yang menyusutkan timbangannya.


Beberapa hari kami dipertemukan dengan kegiatan bagaimana meneliti perjalanan sebulir padi (gabah) menjati sebutir beras. Mulai cara mengukur kadar air gabah dan beras hasil penggilingan dengan Moisture Meter (review jaman di Pekanbaru juga), menghitung masa kering gabah : berapa hari penjemuran, berapa kedalaman penjemuran, berapa kali dibolak-balik, mengetahui proses penggilingan gabah ke beras, phase penggilingan, derajat sosoh serta persentase susut dari gabah ke beras. Semua terangkum dalam Survei Konversi Gabah ke Beras 2018.

Banyak hal baru yang kami ketahui, terutama susutnya timbangan sejak proses panen gabah hingga menjadi beras yang akhirnya di distribusikan ke konsumen : susut beras karena tercecernya saat proses pengeringan (keluar masuk karung), dimakan ternak/unggas, jika dijemur di pinggir jalan terbawa roda kendaraan dan lain-lain. Itulah yang sebenarnya akan dilihat hasilnya...dalam perjalanan dari gabah kering panen (GKP) menjadi beras mengalamai susut hingga berapa persen? Hingga akhirnya nanti ditemukan sebuah formula ketika terdapat nilai panen sekian ton gabah maka sebenarnya yang bisa dikonsumsi masyarakat berapa ton? (Hasil pengamatan hari ini dari 100 kg gabah yang digiling, hasilnya 66-67 kg beras, sisanya dalam bentuk sekam dan bekatul).


Satu hal lagi yang kami tahu, ternyata dalam pengkategorian beras premium dan medium salah satu syaratnya dalah persentase derajat sosoh, beras premium berderajat sosoh 100% sedangkan beras premium 95%, semakin rendah mediumnya maka derajat sosohnya makin kecil. Padahal derajat sosoh itu adalah persentase terkelupasnya beras dari kulit2 arinya, jika derajat sosoh makin tinggi maka biasanya beras lebih putih dan jernih karena kulitnya sudah terkelupas semua....artinya lagi kandungan gizinya paling kecil dibandingkan beras di prasar tradisonal dengan derajat sosoh 60-80% (warna beras agak keruh). Jadi mau pilih beras yang mana?

Masih teringat pesan orang tua di masa kecil, habiskan semua butir nasi yang ada di piring, jangan tersisa satu pun. Pertama untuk meraih keberkahan dari rezeki berupa makanan, yang kedua tentunya bentuk kesyukuran atas usaha keras dan kesabaran petani mengolah tanaman padi menjadi gabah, dan akhirnya sampai ke kita dalam bentuk nasi.

Bersabarlah dalam sebuah proses : benih >> tanaman padi >> gabah >> beras >> nasi ... Alhamdulillah...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe11   

Minggu, 18 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (2)

Pernahkah anda singgah di sebuah restoran/rumah makan dan memberikan apresiasi jika menu dan hasil racikan koki menjadi sesuatu hal yang memuaskan lidah dan hati anda?
Gak usah sebut nama dan merk lah...masing-masing kita tentunya punya standar masing-masing tentang definisi rasa ENAK dan ENAK SEKALI...

Begitulah dunia pekerjaan saya, diibaratkan sebuah restoran ada yang menyusun menu, ada yang berbelanja, ada yang membuat resep masakan, ada yang bertugas sebagai koki, ada pula pramusaji yang menyajikannya di hadapan pelanggan. Kenapa? Karena dunia kerja saya dari hulu ke hilir, ada saatnya saya berada di hulu ada saatnya saya berada di hilir...namun keduanya mempunyai aliran dan muaranya sama.


Saya pernah singgah di 5 kantor,ada yang cuma beberapa bulan dan ada pula yang sampai beberapa tahun.
Di 3 kantor sebelumnya saya termasuk petugas bagian hulu, diibaratkan sebuah restoran tadi saya ada di tugas berbelanja. Bagaimana saya harus memilih bahan masakan di daftar belanja yang sudah ada...

Saya sudah dibekali SOP pencacahan dan pengawasan, konsep definisi, dan sedikit ilmu hubungan masyarakat. Tinggal bagaimana saya mengolah energi dan rasa dengan responden agar data yang terkumpul adalah data kualitas terbaik sesuai konsep dan definisi yang telah ditetapkan. Tak jarang wawancara yang singkat harus selesai lebih panjang demi mengolah rasa empati kepada responden atas beban hidup yang mereka rasakan. Terkadang saya juga harus menjelaskan apa dan bagaimana sebuah data dibutuhkan kepada aparat pemerintah daerah setempat ataupun pimpinan perusaahaan. Atau mengurai rasa curiga di hati setiap pemilik rumah ketika pintunya diketuk petugas BPS.
Ditolak responden? Sudah berkali-kali...
Janji palsu responden? Tak bisa dihitung jari lagi...berapakah pulsa hp yang terkuras untuk telpon menanyakan kuesioner yang tiba2 hilang entah kemana, menunggu bermenit-menit dan berjam-jam demi bertemu si bos yang katanya sedang rapat, namun ternyata keluar kantor lewat pintu belakang. Dan pengalaman lucu, bahagia, sedih dan dramatis lainnya.

Kemudian di kantor ke 4 saya diberi kesempatan untuk bergabung di bagian hilir, istilah restoran adalah bagian pramusaji. Data dari petugas pencacah mingguan, 2 mingguan, dan bulanan tersaji cantik di halaman Berita Resmi Statistik Harga Konsumen atau yang lebih terkenal dengan nama BRS INFLASI setiap awal bulan.
Atau tentang pengeluaran petani dalam memutar roda kehidupannya di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan lain -lain dalam BRS Nilai Tukar Petani yang tersaji tak kalah cantiknya di tanggal yang sama.
Pun menyajikan nilai Pertumbuhan Ekonomi yang dipresentasikan 3 bulan sekali, memaknai sebuah angka bahwa bertambah jumlah itu belum tentu bertumbuh secara ekonomi. Pelanggan tidak akan tahu jika pramusaji tepat waktu mengantarkan data itu didukung oleh tim yang mungkin malam sebelumnya kurang tidur, merelakan hari liburnya di depan meja laptop, atau mengetik angka demi angka dari rumah sambil menyusui sang bayi. Apa dan bagaimana sisi belakang pramusaji pelanggan hanya tahu...pesanannya disajikan tepat waktu.

Dan sekarang saatnya saya diberikan kesempatan sebagai marketing...untuk apa? Agar pelanggan yang datang restoran semakin banyak, pelanggan lama tidak beralih dan pelanggan baru semakin mendekat. Caranya? Kenalkan menu kita kepada khalayak ramai, mungkin banyak yang tidak datang ke restoran kita karena belum tahu menu yang disajikan, belum tahu rumitnya dan keistimewaan racikan bumbu yang digunakan dan terpenting belum tahu bahwa hidangan yang disajikan pramusaji sangat spesial.

Ini adalah babak baru bagi saya dan juga beberapa kawan yang lain...di satu sisi tetap menjadi petugas hulu ataupun hilir, disatu sisi lagi ditambah dunia marketing....road to media!


Terima kasih ilmunya mbak Tasmilah Ummufarah...semoga bersama-sama kita bisa menjadi marketing terbaik untuk data yang terpercaya untuk semua!

BAPAK

Seorang lelaki yang aku panggil bapak, bagi sebagian orang lebih layak jika aku memanggilnya dengan sebutan kakek. Ya...aku anak bungsu dengan jarak lahir paling jauh dengan kakak-kakak ku. Tak heran lah ketika aku dibonceng sepedanya, teman-teman sekolah takjub karena yang mengantar ke sekolah bukan orangtuanya namun kakeknya :-)

Saya selalu menuliskan pekerjaan bapak sebagai wiraswasta, ketika harus mengisi blanko yang dibagikan di sekolah, meski sejatinya bapak bekerja sebagai pedagang es keliling. Entah isian saya waktu itu tepat atau tidak, namun itulah arahan beliau. Setiap pagi bapak akan menyiapkan dagangannya, membersihkan gerobaknya dan segera mengayuh sepeda gerobak ke arah tempat berjualannya, di sebuah pinggir tanah lapang dimana setiap hari selalu ramai didatangi anak-anak sekolah untuk berolahraga. Besar harapan bapak ketika anak-anak itu kehausan setelah berolahraga maka dagangan bapak menjadi "Sekedar Pelepas Dahaga". Sebuah komitmen untuk memperoleh keberkahan dari rupiah yang didapatkan dari jalan yang halal.

Ba'da ashar bapak sudah kembali ke rumah, Alhamdulillah dagangannya habis. Jika bapak sampai jam 4 belum pulang berarti beliau harus keliling perkampungan lagi agar dagangan hari itu habis. Pulang kerja adalah waktu istirahat beliau, kadang cukup dengan duduk-duduk sambil minum teh atau tidur sejenak menjelang Maghrib. Mungkin hari itu bapak lebih lelah...

Hari Jumat adalah waktu libur beliau, biasanya diisi dengan kegiatan hobi. Dulu saat saya kecil bapak sering membuat furnitur sederhana dari kayu seperti meja tulis, kursi panjang atau pun pembatas shaf di masjid. Terkadang bapak juga menikmati hobi lainnya yaitu memancing. Sebelum hari-H pergi memancing, beliau sudah janjian dengan salah satu tetangga di rumah. Lokasinya bisa di sungai ataupun di laut, tak jarang harus keluar kota naik motor beberapa jam untuk menuju tempat memancing itu.

Selain itu beliau juga aktif di kegiatan masjid, sebagi pengurus maupun panitia hari besar agama. Kegiatan organisasi juga beliau ikuti meski satu dua tidak hadir acara. Secara umum Bapak adalah seorang warga yang aktif di masjid maupun di kampung.

Bapak itu pribadi yang tegas, namun bagi saya di masa kecil, beliau adalah Bapak yang galak dan pelit. Segala hal yang berkaitan dengan pengeluaran uang, harus direncanakan jauh-jauh hari dan tepat sasaran. Di saat yang lain bisa ganti-ganti alat tulis, saya harus memakai nya sampai benar-benar tidak bisa difungsikan. Buku pelajaran sejak SD-SMA harus usaha melengkapi sendiri dengan meminjam di tetangga yang berada di kelas lebih tinggi. Kami pun dibiasakan makan yang ada di rumah, tidak pernah jajan. Karena bapak pun mencontohkan demikian, meski beliau kerja berdagang pagi sampai sore, tak pernah sekalipun jajan makanan atau minuman, selalu membawa bekal dari rumah. Untuk urusan sekolah pun bapak orang yang tidak ada kompromi, jaman dulu prinsipnya boleh sekolah kalau diterima di sekolah negeri. Jika tidak bisa, silakan cari kerja. Ketegasan dan kedisiplinan Bapak sering saya artikan sebagai kekejaman dan ketidakadilan, namun seiring kedewasaan saya ternyata makna dari semua itu berubah....

Ah terlalu banyak cerita tentang bapak yang membelokkan arah pandangan saya saat kecil dan dewasa. Bapak yang dengan ikhlas menerima calon menantu nya, meski belum kenal lama. Memberikan kepercayaan penuh kepada anak gadisnya untuk memilih sendiri sang calon suami, bahkan sampai saat akad nikah pun rumah calon menantunya ini belum ada yang tahu he...
 
Setiap saya hamil, bapak lah yang selalu mengingatkan untuk periksa ke bidan atau dokter, minum vitamin, makanan sehat dan menjaga aktifitas fisik di kantor dan dirumah. Pun ketika saya harus menitipkan bayi 7 bulan ke bapak dan ibu, maka bapak pulalah yang menemani bayi saya sehari-hari, bahkan kata ibu beliau lebih cerewet saat menjaga bayi saya. Kasih sayang seorang bapak memang tak mudah terungkap. Ketegasan dan kedisiplinan nya sering menutupi rasa kawatir dan sayangnya kepada seorang anak.

Semoga kami bisa meneladani kebaikan-kebaikan sosok Bapak, pun saat akhir kehidupannya yang berada di saat terbaik dan di tempat terbaik : sepertiga malam terakhir di sebuah masjid kampung :-(

ALLOHUMMAGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WAR HAMHUMAA KAMA RABBAYAANII SHAGIIRAA....Aamiin
 

ROAD TO MEDIA (1)

Salah satu cita-cita jangka pendek saya waktu kecil adalah terpampangnya nama saya di media, tentunya dengan alasan baik ya...misal menang lomba atau diliput karena pelajar berprestasi. Namun sayangnya alasan itu tidaklah pas untuk saya, akhirnya saya harus banting stir dengan alasan yang lain...asal nama saya tertulis di media.

Saat Sekolah Dasar kami diwajibkan membeli sebuah lembar kerja siswa (LKS) sebagai latihan soal. Namanya kalo tidak salah Gemar Belajar, terbit tiap tiga bulan sekali, alamatnya di Jl Makam Paneleh Surabaya. Kenapa saya masih hafal? :-)
Karena sesuai dengan cita2 saya, meski bukan menjuarai lomba saya berusaha memantaskan diri agar nama saya tercantum di LKS itu...caranya : dengan mengirimkan jawaban kuis yang ada di halaman belakang LKS lewat kartu pos, beberapa kali kirim tentulah saya jadi hafal he....
Jawabannya menurut saya mudah, namun kan faktor keberuntungan besar disitu. Dipilih 3 nama dari ratusan pengirim. Dan saya berharap jadi salah satunya....Sri Suharti, SDN Suryodiningratan 3 Yogyakarta. Dan akhirnya sampai saya lulus SD...belum pernah nama saya dimuat di situ hiks...

Ok lah, cita-cita masih terpendam. Saat di bangku SMP pun tidak ada inisiatif untuk mengirimkan hal yang sejenis. Begitu masuk ke SMA, saya kok masih penasaran dengan dimuatnya nama saya di media. Pas saat kelas 1 SMA, saya mempunyai sahabat di kampung yang bersekolah di SMA Muhammadiyah. Kami sering pergi bareng atau sekedar gantian berkunjung ke rumah masing-masing. Saat saya kerumahnya ternyata banyak tumpukan majalah Kuntum yang ada disana, ternyata majalah itu dibagikan gratis kepada siswa-siswi yang bersekolah di Muhammadiyah. Saya bolak balik majalahnya cukup menarik. Akhirnya setiap saya main kerumahnya tidak pernah saya lewatkan pinjam majalah kuntum terbarunya.

Saat saya buka halaman demi halaman ternyata ada rubrik opini yang berkaitan dengan pemakaian jilbab di kalangan anak SMA, saya tergelitik untuk sampaikan pendapat saya lewat majalah itu. Akhirnya saya ajak sahabat saya untuk sama- sama menulis pendapat masing-masing dan dikirimkan ke redaksinya.

Mulailah saya menuliskan apa yang ada di kepala, pandangan saya tentang jilbab yang saya gunakan kemudian mengamati realitas pengguna jilbab di kalangan pelajar dan sebagainya. Tulisan itu saya rapikan dengan mesin ketik tangan dan saya kirimkan ke redaksi. Sahabat saya pun melakukan hal yang serupa. Ternyata....tulisan saya itu dimuat di rubrik opini majalah Kuntum sekitar tahun 1998, cita-cita saya terwujud Alhamdulillah....

Saya dikirimi surat lewat sekolah untuk mengambil honor tulisan saat itu sebesar Rp 7.500,- rupiah. Sebagai pembanding uang transportasi saya ke sekolah PP Rp 300,- naik bis kota. Jadi kalo di nilai kan di tahun 2018 kira-kira berapa ya? He...

Dimuatnya tulisan saya di majalah kuntum saat itu membuat bahagia tak terkira syalalaaa....maklum dengan modal majalah pinjaman dan tulisan pertama lagi, langsung bisa dimuat. Alhamdulillah.
Sejak itulah saya lebih percaya diri dan semangat untuk menulis lagi...meski tidak semuanya terkirim, ataupun akhirnya terkirim namun tidak dimuat juga he...
Insya Allah...Road to Media berikutnya!

SAAT EMAK HARUS LEBIH KUAT

Emak Kuat? Itu harus. Coba diamati di rumah dan lingkungan masing-masing, lebih kuat mana emak sama bapak? Jawab di hati aja ya...kawatir ada satu pihak yang tersungging eh tersinggung :-)
Momen ini terjadi saat saya harus LDMan dengan suami, beliau mengasuh 3 anak usia SD dan saya ditinggali si anak bungsu usia 1 tahun. Awal2 LDM terasa berat, namun masih bisa gantian berkunjung antara saya dan suami. Namun bulan-bulan terakhir 2015 adalah saat yang berat bagi kami, Pekanbaru diliputi kabut asap 3 bulan full.

Sebenarnya kabut asap adalah bencana alam yang hampir biasa terjadi di Pekanbaru, namun waktu-waktu yang lalu saya menghadapi dengan suami, tentunya merasa lebih aman. Ketika saya harus menghadapi sendiri plus harus menjaga kesehatan balita usia 1 tahun dari ISPA dkk itu bukanlah hal yang mudah. Saat berangkat kantor dan pulang anak saya sudah terbiasa menggunakan masker, pas tiba dirumah pun wilayah main hanya satu kamar yang memang dipasangi AC. Jika ke ruangan lain di dalam rumah lama-lama sesak nafas juga.

Suami sempat khawatir dengan kondisi si bungsu yang harus menghirup kabut asap setiap hari, akhirnya beliau datang ke Pekanbaru. Ternyata untuk ke Pekanbaru pun bolak balik harus memutar rute, pesawat tidak bisa landing di bandara SSQ jadi harus turun di Padang dan lanjut perjalanan darat 8 jam dengan jalan berkelok-kelok naik turun. Akhirnya beliau tidak jadi ambil anak bungsu, karena membayangkan perjalanannya balik ke Jogja tidak akan sanggup mengasuh anak sendiri, 8 jam di travel plus 2 kali naik pesawat dengan 1 kali transit.

Selang beberapa minggu setelah itu saya sudah jenuh dengan kondisi yang ada serta kangen berat dengan 3 anak yang lain. Hanya dengan doa saya berharap cuaca Pekanbaru lebih baik dan saya bisa naik pesawat ke Jogja. Tiap hari yang saya lihat di HP adalah prakiraan cuaca BMKG dan aplikasi yang menggambarkan rute2 pesawat yang bisa melewati langit Pekanbaru.

Hari Sabtu, saat saya harus masuk kerja karena ada tes berkaitan dengan kepegawaian, saya niatkan pulang ke Jogja sore harinya. Saat istirahat siang saya sempatkan cari tiket via online ke Jakarta, ternyata dibuka penerbangan Garuda jam 5 sore. Langsung saya booking dan bayar online. Pas selesai acara jam 2 siang, saya langsung ke kantor Garuda, cetak tiket sekalian check in. Saya berkhusnudzon semoga sore ini pesawat bisa terbang.

Pulang dari kantor Garuda saya jemput si bungsu di penitipan anak, pulang sebentar siapkan perlengkapan anak satu tas ransel lanjut telpon taksi menuju bandara. Alhamdulillah sampai bandara jam 4 kurang dan saya langsung masuk ruang tunggu.

Bandara yang biasanya ramai, hari itu sepi sekali. Hanya sekitar 10 orang yang ada di ruang tunggu. Meski pesawat yang akan saya naik sudah ada di parkiran bandara namun saya belumlah tenang, karena cuaca sewaktu-waktu dapat berubah...

Setelah sholat ashar, saya naik ke pesawat sesuai panggilan petugas. Doa terus menerus saya panjatkan sampai pesawat bisa take off dan stabil di atas langit Pekanbaru. Langsung saya ucap syukur dan menangis di pesawat...setelah sekian bulan tidak melihat langit yang cerah, dan pesawat yang saya naiki insya Allah bisa mengantarkan ke Jogja.

Menjelang Maghrib saya sudah landing di bandara Soekarno Hatta, masih harus melanjutkan perjalanan ke Jogja. Atas arahan suami saya disuruh naik bis DAMRI ke stasiun. Masya Allah...disinilah saya mulai bimbang dan baper, saya memang sudah pernah ke bandara ini namun selalu ada suami dan hanya mengikuti langkahnya. Namun saat ini saya harus gendong balita, kondisi lelah dan tak tahu arah. Akhirnya setelah tanya2 saya bisa keluar dari bandara dan menemukan pool bis DAMRI arah stasiun. Disisi lain saya ingin menyerah, tidak usah ke stasiun karena jaraknya jauh, tidak jelas, sendirian dan saya sudah sangat lelah. Terpikir untuk istirahat malam di rumah kakak yang di Jakarta, namun jauh juga dari bandara.

Meski saya kelelahan namun si bungsu kondisi sehat dan ceria, sepanjang naik bis DAMRI dia tidak tidur. Bahkan selalu minta jalan di atas bis, padahal emak ini sudah tinggal sisa-sisa tenaga yang ada. Bismillah...bismillah...

Sampailah di stasiun jam 20.45 menit dan kereta ke Jogja berangkat jam 21.00. 
Di menit2 terakhir itulah saya bisa dapatkan tiket dan setengah berlari menuju ke peron yang ada di lantai atas sambil menggendong anak. Bahkan petugas stasiun sampai berteriak mengingatkan saya bahwa ada anak yang saya gendong, kawatir jatuh. Begitu tiba di peron saya segera naik ke kereta, Masya Allah selisih beberapa menit kereta itu berangkat (dan saya masih harus jalan di atas gerbong karena dapat gerbong yang paling belakang). Lagi-lagi air mata saya hampir runtuh...hanya karena kuasa Allah saya masih bisa ada di kereta ini dengan menit-menit terakhir sebelum berangkat.

Kereta berjalan semakin cepat, si bungsu sudah kecapekan dan tertidur pulas di bawah kursi. Saya sholat Maghrib dan Isya serta memesan segelas kopi panas dan sepiring nasi goreng.
Maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Masih terbayang lelahnya ujian tadi pagi, berburu tiket pesawat, naik taksi mengejar jadwal pesawat, terbang di pesawat dengan penumpang tak lebih dari 15 orang, hiruk pikuknya bandara Jakarta, repotnya urus balita di dalam bis dan perjuangan naik kereta....
Emak itu harus lebih kuat! Alhamdulillah.

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe7

MABUK KENDARAAN


Hayo siapa yang masih mabuk kendaraan? Laut, darat atau udara?
Tenang kawan, yakinlah teman yang senasib dengan anda banyak. Saya lah contohnya...

Saat kecil usia sekolah dasar, saya "pemabuk berat" kendaraan darat. Naik motor dari Monumen Jogja Kembali ke Parangtritis saya mabuk (identik dengan m*nt*h), padahal itu jarak yang menurut banyak orang tidaklah terlalu jauh untuk perjalanan naik motor. Terlebih jika naik motor kan kita banyak mendapat asupan udara yang lebih bebas daripada kendaraan tertutup bis atau mobil.

Melihat kondisi di atas tentulah saat naik bis atau mobil, kadar mabuk saya semakin berat. Untuk jarak yang sama saya bisa 2-3x mabuk, sudah tidak nyaman selama perjalanan. Oleh karena itu saya jarang diajak ikut perjalanan jauh oleh orang tua maupun kakak-kakak dirumah, merepotkan katanya. Saya pun juga tidak mau ambil resiko menyiksa diri sendiri. Bahkan saat kelas 3 SMP saya harus merelakan tidak ikut study tour bersama teman-teman karena faktor mabuk kendaraan.

Saat memilih sekolah lanjutan pun faktor jarak dan kendaraan sangat berpengaruh. Alhamdulillah saat SMP dan SMA saya diterima di sekolah dengan jarak yang tidak terlalu jauh, kalaupun harus naik bis hanya butuh waktu paling lama 15-20 menit. Namun saat harus memutuskan kuliah di luar kota, mau tidak mau saya harus ambil resiko itu. Malunya saya :-) saat pertama kali ke Jakarta bersama teman2 kuliah (tidak diantar orang tua) naik kereta ekonomi saya juga mabuk berat, padahal teman-teman yang lain terasa nyaman dan senang selama perjalanan. Jadi semua jenis kendaraan darat positif membuat saya mabuk : motor, mobil, bis, kereta. Masih adakah harapan untuk bebas dari mabuk?

Foto Sri Suharti.

Pelajaran "anti mabuk" saya latih saat di Jakarta. Sebagai mahasiswa ikatan dinas dengan dana pas-pasan saat itu hanya bisa menggunakan kendaraan angkot, bis tanggung semacam Kopaja atau jenis bis besar (Mayasari Bakti) sebagai alat transportasi. Saya coba rute jarak dekat dahulu dengan naik angkot, Alhamdulillah beberapa kali naik angkot jarak dekat aman. Lanjut bis tanggung dan bis besar dengan rute lumayan jauh : Kampung Melayu-Blok M-Ciledug. Kebetulan ada saudara yang tinggal di daerah sekitar Ciledug, jadi saat kosong waktu Sabtu-Ahad bisa silaturahmi sambil latihan anti mabuk he...

Awal perjalanan saya sebenarnya sudah tidak nyaman, tapi tetep harus bisa bertahan karena sendirian di bis. Terlebih saat harus oper bis di terminal Blok M rasanya semakin tidak karuan, puluhan bis besar dan tanggung dengan asap knalpot yang semakin pekat membuat saya sudah hampir mengakhiri perjalanan. Namun rasa penasaran masih ada sehingga niat awal saya teruskan lagi. Alhamdulillah beberapa kali trip sudah membuat saya lebih kuat untuk anti mabuk.

Foto Sri Suharti.

Setelah menikah dengan seorang laki-laki yang senang berpetualang, sepertinya saya tidak diberikan kesempatan untuk mabuk. Perjalanan awal sebagai pengantin baru harus berakhir dengan mabuk berat beberapa kali untuk jarak perjalanan bis Jogja-Surabaya. Suami saya sampai terheran-heran kok bisa saya mabuk sampai sedemikian parah :-) Dan setelah itu sepertinya suami saya punya proyek untuk menuntaskan penyakit mabuk saya.

Alhamdulillah seiring usia pernikahan yang bertambah lama, saya sudah bisa mengikuti ritme suami yang sering silaturahmi ke luar kota. Saya sudah bisa duduk di samping sopir menjadi navigator dalam perjalanan Jogja-Bandung, Bandung-Jakarta dll.

Bahkan yang membuat saya terharu, jarak 1.900 km Pekanbaru-Jogja beberapa kalipun bisa saya selesaikan dengan kendaraan mobil (meski tetap saja ada mabuk sekali pas sampai Rengat), jadi navigator plus ngurusi balita dan beberapa anak. Namun untuk beberapa kali perjalanan ke Pekanbaru-Padang, saya masih merasakan 1 kali mabuk saat berangkat, meski pas pulang Alhamdulillah sudah aman. Rute ini selalu membuat saya was-was, karena sambil menjadi navigator saya akan ikut menghitung berapa bukit dan jalan memutar yang harus dilalui, untung sekarang Kelok 9 sudah tinggal kenangan he...

Buat yang masih sering mabuk kendaraan, semoga di kemudian hari bisa merasakan perjalanan anti mabuk juga. Jangan takut untuk berkendaraan karena mabuk, kalau kata pepatah "bisa karena biasa".
Saya juga pernah seperti anda :-)
 
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe6

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?