Rabu, 14 November 2018

PEREMPUAN MANDIRI

 " Nok, jadi perempuan itu meski sudah ada suami yang mencukupi namun engkau harus bekerja dan berpenghasilan. Tidak selamanya perempuan itu tergantung pada laki-laki, ada saatnya laki-laki itu berada di posisi bawah yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu mandirilah sebagai perempuan yang bersuami..."
----
Mungkin inilah salah satu nasehat yang disampaikan dari perempuan pertama dalam hidupku, Ibu.
Kebutuhan hidup yang semakin banyak, dengan 5 orang anaknya saat itu ( 4 diantaranya perempuan), menjadikan prinsip itu sebagai salah satu hal yang perlu Ibu nasehatkan kepada kami. Dan kami sebagai perempuan-perempuan penerus di keluarga ini menggenggam erat nasehat itu.

Awal sebelum menikah, prinsip itu sedemikian mudahnya dijalani. Bekerja, berpenghasilan, bisa belanja kebutuhan sendiri dan lainnya. Namun seiring waktu dengan adanya pernikahan kami satu per satu dan kelahiran anak-anak, prinsip itu mulai goyah. Sempat beberapa kali terpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena benturan kewajiban antara di rumah dan kantor. Tidak sekali...namun berulang-ulang kali genggaman pada prinsip itu kian rapuh.

Ibu menginginkan anak perempuannya mandiri, tanpa mengunakan uang suami dia bisa menyelipkan selembar demi lembar kepada sanak kerabat yang butuh tambahan biaya. Di saat ekonomi keluarga goyah, sebagai istri dia bisa menguatkan suaminya. Menegakkan rumah tangganya kembali....karena tidak sedikit pernikahan gagal karena urusan ekonomi.

Ah Ibu...terima kasih atas wejangannya, terima kasih atas didikan kuat kemandiriannya, dan terutama terima kasih atas keteladanan darimu sebagai seorang ibu dan istri yang kuat dan mandiri. Semoga Allah limpahkan kesehatan, kebarokahan dan keselamatan kehidupan dunia walaupun akhirat...aamiin

Ibu... 2 dari 4 anak perempuan mu kini telah menyelesaikan Pasca Sarjana, dan 1 anak lagi sedang berproses menuju kesana. Semua itu karena teladan dan doa darimu. Semoga ilmu ini membuat kami semakin dekat denganNya. Aamiin
Love you...Ibu

#PerempuanBPSMenulis
#Ibu

Facebook Published : 9 Juni 2018

MUDIK DARAT 2015

#Part1

(Publish di Facebook 28 Mei 2018)

Lebaran dan mudik itu seperti sebuah kesatuan bagi muslim Indonesia (eh kecuali warga Madura ding...). Bagi perantau masih dominan yang berprinsip : kerja setahun buat mudik lebaran, meski habis2an dan balik ke tanah rantau mulai lagi dari NOL kantong dan dompetnya he...

H-1

Rencana kami mau start dari Pekanbaru hari Jumat ba'da Ashar. Semua hal telah disiapkan. Perbekalan selama perjalanan, setting mobil biar nyaman buat tidur di perjalanan untuk 4 krucil, dan lain sebagainya.
Oya...kami mudik menggunakan mobil Kijang 1994 (yang di foto ini saya ambil dari Mbah Google ya contoh mobilnya), dengan membawa 3 krucil usia SD dan satu bayi usia 1 tahun pas. Mobil ini belum pernah dicoba perjalanan jauh, paling jauh hanya rute Pekanbaru-Dumai. Namun pemilik lamanya meyakinkan bahwa mobil ini biasa buat pulang kampung ke Sumbar. Jadi kami berkesimpulan, meski tampilannya tidak meyakinkan he...tapi Insya Allah kuat sampai tanah Jawa. Tahu sendiri kan jalan Pekanbaru-Sumbar itu muter gunung nya berapa kali, jalan kelok naik turun luar biasa. Sedangkan rute ke Jawa itu lebih landai tanpa banyak naik turun. Ok lah...tinggal hubungi bengkel untuk cek dan ricek insya Allah kuat...kuat...kuat ...aamiin.

Qodarullah...ada rencana lain yang Allah siapkan. Pas pulang kantor sampai rumah saya dapati suami saya dalam keadaan bingung. Ternyata sore itu juga suami ditelpon teman2 ya bahwa namanya tercantum dalam daftar SK pindah ke Jawa. Alhamdulillah...lama kami menunggu kabar ini. Tapi disisi lain, SK yang mendadak di waktu kami mau mudik ini membuat suasana jadi ruwet. Kami sudah menata perbekalan untuk selama di Jawa, dengan turunnya SK pindah otomatis Abi n anak2 tidak balik lagi ke Pekanbaru setelah libur Lebaran usai. Antara senang dan bingung memutuskan untuk mudik hari itu atau gak, di sisi lain kami sudah janjian dengan beberapa teman yg sama2 melakukan mudik darat. Konvoi lah ceritanya... Bagaimanapun perjalanan panjang 3 hari ke depan harus disiapkan dengan niat dan mental yang kuat. Kalo setengah2 akan berakibat gagalnya perjalanan.

Akhirnya setelah berdiskusi dan telpon sana sini, suami tetap memutuskan untuk mudik juga hanya waktunya saja yang dipindahkan ke besok dini hari. Maghrib di hari itu kami berbuka puasa di mushalla depan rumah, dilanjutkan ke kantor suami untuk memastikan tentang kabar via telpon dari teman2 dan mengecek pekerjaan kantor selesai ketika ditinggal mudik (pindah he...). Karena gak bakalan balik lagi kesitu kecuali pas acara perpisahan hiks...termasuk koordinasi dengan atasan, tentang apa dan bagaimana halaaahhh

Alhamdulillah bos di kantor sangat fleksibel dan memastikan tak ada masalah jika ditinggal mudik esok hari. Matur nuwun pak bos...
Malam itu terasa panjang dan melelahkan bagi kami berdua, senang sedih bingung menjadi satu. 4 anak bagaimana? Meski mereka belum terlalu paham, tapi kami ajak bicara bahwa kita pulang naik mobil dan tidak kembali ke Pekanbaru. Baju seragam dan alat2 sekolah yg awalnya ditinggal, dimasukkan dan disusun lagi menjadi tambahan muatan di mobil. Anak yang paling besar (kelas 3 SD) protes...karena ba'da lebaran dia sudah janjian sama teman2 ya untuk hal2 yang menyenangkan. Tapi bagaimana lagi...Allah sudah mengatur semuanya, kita hanya berusaha ikhlas dan lapang dada untuk semua skenario Nya.
----
#Part2
(Publish di Facebook 9 Juni 2018)
  Hari-H

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mudik dijadwalkan ulang. Kami berangkat dini hari di hari Sabtu. Dengan target subuh sudah sampai di Pangkalan Kerinci.

Saat orang-orang bersiap sahur, kami sudah bersiap untuk berangkat. Sahur dengan makanan berat sudah, dilanjut nanti mengakhirkan dengan camilan dan minuman. 3 anak yang besar juga sudah makan, jadi berangkat dari rumah kondisi kenyang. Hanya saja si adek bayi masih tertidur pulas, langsung saja pindahkan tempat tidurnya dari kasur ke jok tengah mobil.

Bbbrrrrrmmmm.... bismillahirrahmanirrahim mobil berangkat....

Jalanan Pekanbaru masih lengang, namun jangan heran jika warung nasi ramai di beberapa tempat. Ketika sampai di wilayah pasar Cikpuan...perjalanan tersendat karena pedagang masih menggelar sayur-sayuran di bahu jalan. Biasanya sayuran ini baru datang dari Sumbar untuk dijual di Pekanbaru, maklum kota ini tidak ada menghasilkan sayuran dan bahan pangan lainnya. Jadi disuplai utama dari propinsi sebelah.

Beberapa km dari rumah, kami saling mengecek barang-barang yang dibawa. Qodarullah...ada satu barang penting yang tertinggal, karena kami tidak merasa memasukkan barang tersebut ke dalam tas. Akhirnya setelah yakin tidak terbawa, mobil kami arahkan lagi menuju rumah. Meski kami merugi beberapa km namun tertinggalnya barang tersebut akan merepotkan di perjalanan 3 hari ke depan. Masya Allah...baru juga start dari rumah sudah ada kejadian seru. Ikhlas...ikhlas....semua akan kita dapat hikmahnya. Aamiin

Jelang subuh kami sampai kembali di rumah, mengambil barang yang tertinggal dan sekalian menunggu waktu subuh. Karena musholla pas di depan rumah sudah mulai ramai. Tidak pantas rasanya disaat musholla ramai, kami penghuni di depannya malah meninggalkan rumah tidak ikut berjamaah disitu.
-------
Ba'da subuh di musholla, kami berangkat. Matahari sudah muncul di ufuk timur, sebentar lagi cahaya pagi akan menghangatkan perjalanan kami. Bismillah....semoga tidak ada halangan lagi di jalan.

Perjalanan berlanjut dengan untaian dzikir dan doa, karena kami sadar mudik kali ini persiapannya tidak maksimal. Suami yang semalaman bergadang karena hal-hal yang berkaitan dengan SK pindah, bawaan yang tiba-tiba bertambah karena rencana tidak balik lagi ke Pekanbaru dan adanya adek bayi usia 1 tahun yang belum pernah perjalanan darat jauh selama ini.

Ujian kedua hadir di jalanan antara Pangkalan Kerinci dan Pematang Reba, jalan lintas timur sumatera yang biasanya lengang dengan mobil yang bisa melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba dihadapan sudah ada antrian mobil yang panjang. Ya, ada kemacetan di sini. Deretan mobil, bis dan truk sudah mengular di jalanan...sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk melewatinya. Berkendara di mobil dengan AC yang pas-pasan membuat cuaca terasa makin panas saat mobil terjebak kemacetan seperti ini. Dan menambah kehebohan karena adek bayi gelisah, kepanasan di dalam mobil. Kipas...kipas...dan upaya menenangkan lainnya coba dilakukan. Sambil di dalam hati penumpang lainnya tetap dibisikkan....ikhlas, sabar, dzikir dan doa.
Setelah hampir satu jam juga, kami bisa keluar dari kemacetan itu. Ternyata sumber kemacetan adalah kecelakaan mobil di jalur itu. Kembali kami diingatkan bahwa Allahlah yang menggerakkan kendaraan kami. semoga perjalanan ini diridhoiNya. Aamiiin

Baru berjalan beberapa km dari lokasi tadi, ujian perjalanan hadir lagi dengan muntahnya adek bayi di mobil. Kami kurang tahu apa penyebabnya, mungkin kecapekan, kepanasan, masuk angin atau karena ASIP yang sudah tidak layak minum setelah beberapa jam kepanasan di mobil. Baju dan jilbab yang saya kenakan penuh kena muntahan adek bayi, belum juga jok mobil. Meski demikian yang kami khawatirkan kondisi adek bayi. Usia 1 tahun belum memungkinkan dia untuk menyampaikan keluhannya, jadi naluri ibu lah yang berperan, bagaimana kondisi dia sebenarnya. Perjalanan baru berjalan beberapa jam namun kesehatan nya sudah menurun. Kembali lagi niat dan tekad kami diuji, perjalanan ke Jawa tetapkah dilanjutkan? Masih 2,5 hari lagi....
----
PART yang hilang :-)
Mudik yg luar biasa antara bahagia dan galau, alhasil...jam mudik mundur dari ba'da maghrib ke ba'da shubuh, kondisi pak sopir gak fit semalaman bergadang, as usuall co-driver mabuk darat di 100 km pertama n si bungsu bolak balik muntah di 200 km pertama.
Rasanya pengen menyerah...balik lagi ke kota asal, terlebih belum juga sampai kota Jambi drivernya sudah lambaikan bendera.
Alhamdulillah hari pertama terlewati setelah mampir ke hotel syariah dan rute ratusan km selanjutnya lebih mudah dari Pekanbaru-Jambi.
Dan 3 hari kemudian sampailah di Jogja tercinta....dgn kondisi gerobak kelelaha

Jumat, 10 Agustus 2018

Haji dan doa...doa...doa

Saat ini jamaah haji sedang menjalani ibadah tarwiyah dan persiapan wukuf di Arafah.

Mendengar kata Arafah, ingatan ini mengulang kembali pada masa diberi kesempatan Allah untuk hadir disanan 2 tahun lalu. Dan selalu membekas di hati, doa yang selalu kita panjatkan berulang dan terus berulang maka Allah dengar dan Allah kabulkan...Insya Allah.

Sebagai seorang perempuan, memang sudah pada fitrahnya mendapatkan jadwal haid setiap bulannya, dimana sholat, tilawah. tawaf dan lain-lain merupakan hal yang haram dilakukan. Begitu pula saat itu, dilihat secara hitungan kalender jadwal haid saya pas berbarengan dengan jadwal Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) mulai sejak wukuf sampai tawaf ifadhoh.

Beberapa orang menggunakan pil khusus untuk menunda haid demi kepentingan ibadah haji. Pil itu semacam hormon yang akan mengatur jadwal haid menjadi mundur. Namun bagi saya pilihan itu bukanlah solusi. Kenapa?
Saya punya riwayat buruk dengan sesuatu yang berkaitan dengan hormonal. Saat mencoba suntik KB (keluarga Berencana) 3 bulan setelah kelahiran anak pertama, ternyata muncul masalah baru. 3 bulan itu pula haid saya tidak kunjung selesai. Walaupun akhirnya tergolongkan darah istihadhoh (kotor) di waktu-waktu tertentu, namun ibadah wajib dengan kondisi seperti ini sangatlah tidak nyaman.

Akhirnya diputuskanlah berangkat haji 2 tahun lalu tanpa menggunakan pil penunda haid, namun lebih ke doa yang kencang dan berulang-ulang dibaca sejak di tanah air sampai di tanah suci : Ya Allah, selesaikanlah urusan ibadah hajiku, tundalah uzurnya.

Hari pertama di Arafah (sehari sebelum wukuf) saya didatangi oleh ketua rombongan, ternyata beliau diminta mendata ibu-ibu yang kemungkinan tidak bisa menyelesaikan tawah ifadhoh bersama-sama rombongan, dan saya termasuk di daftar karena memang sudah jadwalnya haid.

Hari-hari Armuzna yang menggembirakan dan melelahkan diiringi dengan rasa deg-deg an datangnya uzur harus dipanjatkan doa khusus yang terus menerus. Tanggal 8,9,10,11 dan 12 Dzulhijjah berlalu dan uzur belum datang juga. Tanggal 13 pagi kami pulnag lagi ke hotel di Mekkah, beberapa jamaah begitu sampai hotel langsung berangkat ke masjidil Haram untuk menyelesaikan tawaf ifadhih dan sa'i. Namun saya meminta suami diberikan waktu sejenak untuk istirahat, karena hari-hari di Armuzna memang sangat melelahkan secara fisik dan juga hati (harus selalu sabar...sabar...dan sabar). Dan kami pun bisa bayangkan lautan manusia sekarang terfokus untuk tawaf, tentu butuh fisik yang kuat untuk menyelesaikan rangkaian ibadah haji semuanya.

Akhirnya menjelang dhuhur kami berangkat ke Masjidil Haram, berniat untuk melaksanakan sholat dhuhur tawaf ifadhoh dan sa'i dilanjutkan sholat fardu berjamaah sampai Isya nanti.
Dada ini bertambah deg-deg an...rasanya seperti mau ujian. Karena inilah ibadah terakhir dari rangkaian haji. Doa di mulut dan di hati semakin kencang. Ya Allah selesaikan urusan hajiku tanpa uzur.

Solat jamaah dhuhur selesai, kami lanjutkan tawaf di pelataran Ka'bah dan Sa'i di lantai paling bawah. Alhamdulillah...prosesi haji selesai beberapa menit sebelum memasuki waktu ashar. Bahagianya hati kami...satu kewajiban telah tertunaikan.

Kami lanjutkan dengan sholat berjamaah ashar di Masjidil Haram, Masya Allah...lautan manusia menutupi area tawaf lantai 1 sampai lantai paling atas (atap) dan juga area sa'i dari bawah sampai atas. Termasuk lantai Mezzanin, tempat favorit kami saat di Masjidil Haram (bisa sholat jamaah sambil menatap Ka'bah).

Ketika matahari beranjak akan tenggelam, diantara waktu Ashar dan Maghrib, uzur yang ditunggu kedatangannya hadirlah sudah. Syukur bahagia tiada terkira. Alhamdulillah ya Allah...Engkau kabulkan satu doaku lagi. Benar-benar waktu terbaik...masih dapat bonus sholat Ashar berjamaah. Memanglah benar...kita sempurnakan ikhtiar doa dan Allah lah yang menggenapkan.
La haula wa la quwwata illa billah...

Dan 10 hari selanjutnya waktu bagi saya untuk beristirahat di hotel dengan syukur dan ikhlas. Alhamdulillah.

#RinduKeBaitullah
#KeajaibanHaji

Rabu, 28 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (4)



Saya pencinta buku, di rumah banyak tumpukan buku yang menjadi koleksi, baik yang sudah selesai baca maupun belum. Tahun demi tahun, sebagai pencinta sekaligus penikmat buku, saya penasaran dengan proses penulisan dan penerbitan buku yang saya baca (sempat saat kuliah bercita-cita tambahan jadi wartawan J ). Saya juga ingin suatu saat nama saya akan teukir di sebuah buku, sebagai penulis, dan akan dinikmati para pencinta buku yang lainnya. Tapi saya sadar, ilmu dan kemampuan yang saya miliki pas-pasan, tidak mungkin rasanya saya bisa menerbitkan buku solo, oleh karena itu saya coba mencari peluang untuk menerbitkan buku dalam bentuk rombongan atau biasa disebut antologi.

Bergabunglah saya di sebuah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) pada tahun 2012. Cukup banyak pelajaran menulis yang saya dapatkan di komunitas ini, baik fiksi maupun non fiksi. Terlebih semangat ibu-ibu disini selalu membara untuk menulis dan menerbitkan buku. Biasanya   masing-masing anggota punya blog yang menjadi wadah tulisan mereka, akhirnya saya terinspirasi untuk mengikuti juga membuat blog. Otodidak dan benar2 mulai dari NOL. Alhamdulillah...jadilah blog itu dan satu dua tulisan sudah berhasil saya posting. Namun semangat nge-blog ini hanya bertahan seminggu dua minggu, setelah itu blog nya tak ada aktivitas lagi he….


Pada suatu kesempatan, di grup IIDN di-posting ajakan untuk bergabung dalam sebuah buku antologi. Tema yang diangkat adalah tentang kesyukuran, akan menjadi buku antologi serial STORYCake-nya Gramedia. Wah…inilah kesempatan yang saya tunggu-tunggu...

Mulai saya mencari ide cerita yang sesuai dengan tema yang ditentukan, harus berasal dari kisah nyata, dan tentunya membuat tulisan non-fiksi dari kisah nyata lebih mudah jika kita sendiri sebagai tokohnya. Setelah saya pilih sebuah kisah hidup saya yang sebenarnya, mulailah saya susun kata demi kata, mengingat kembali cerita kehidupan yang membuat saya selalu dan selalu mengucap Hamdallah. Kata-kata yang menyusun cerita pun mulai mengalir serta dengan sedikit emosi membuat jari-jari saya lancar menari di keyboard laptop. Alhamdulillah sebuah tulisan yang sesuai dengan syarat yang ditetapkan penanggung jawab antologi bisa saya selesaikan. Segera saya kirimkan sesuai alamat email yang tertulis.

Seminggu...dua minggu...ah saya sudah lupa berapa lama masa menunggu pengumuman itu. Namun lamanya penantian ternyata membuahkan hasil...tulisan saya terpilih menjadi salah satu kontributor di antologi ini. Alhamdulillah....

Mulailah komunikasi yang lebih intensif dengan penanggung jawab antologi, tentang judul yang kurang pas, isian yang perlu di perhatikan ataupun disingkat, dan juga membuat separagraf tentang riwayat penulis. Hah...ini lah salah satu hal yang susah, membuat riwayat singkat kepenulisan padahal saya kan tidak pernah punya karya kepenulisan, ini kan kiriman antologi pertama. Akhirnya isiannya hanyalah : seorang ibu bekerja dengan 4 anak he...

Sebulan...dua bulan...3 bulan dst tenyata lama juga menunggu antologi ini selesai disusun, di edit, di layout. Dan saya dari yang awalnya sabar menunggu, menjadi tidak ada keinginan untuk mengecek progres penerbitan antologi ini. Hampir saja saya su'udzon naskah ini tidak jadi terbit, namun saya coba tepis dengan membangun komunikasi bersama kontributor lainnya.

Alhamdulillah…akhirnya terbit juga setelah penantian sekitar 6 bulan atau lebih. Sebuah buku yang menjadi karya antologi pertamaku. ( semoga bukan pula yang terakhir :-)


=========================

Menulis membuat saya lebih menghargai diri saya sendiri, jika tidak kita sendiri siapa lagi. 
Jadi saya akan terus menulis dan menulis meski karya yang hadir cukuplah mengisi catatan di sebuah buku diary ataupun kenangan yang akan dibaca anak-anak kelak.

Lunas sudah....15 hari bercerita! Alhamdulillah…

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe15

 


Senin, 26 Februari 2018

EMAK ONLINE


Saya lupa kapan tepatnya mulai menikmati dunia maya (online) yang sangat membantu di beberapa kebutuhan yang saya cari. Salah satu hal yang menjadi perbedaan adalah saat saya harus menyelesaikan tugas akhir kuliah.

Tugas akhir kuliah yang pertama di Jakarta tahun 2004 (ketahuan umurnya ya he...) saya harus rajin datang ke perpustakaan untuk cari referensi. Waktu itu perpustakaan favorit saya ada di LIPI. Banyak penelitian sejenis yang sudah disajikan dalam bentuk laporan maupun buku cetak. Berkali-kali saya datang kesana untuk melengkapi tugas akhir saya, sambil membaca lembar demi lembar buku sebagai tambahan referensi.


Saat menyelesaikan tugas akhir kuliah yang kedua 2011 di Bandung, mulailah saya menggunakan referensi online. Cukup di depan laptop saya bisa mencari jurnal yang berkaitan dengan topik penulisan. Ternyata jurnal utama itu diterbitkan di negeri Paman Sam, namun atas bantuan dunia maya saya dengan mudah mendapatkannya dari rumah kontrakan di Bandung. Untuk menambah referensi saya pun mencari artikel dan laporan penelitian yang sejenis. Lagi-lagi tidak perlu susah-susah datang ke perpustakaan, semua ada di layar laptop. Modal utamanya adalah laptop, data internet (modem), snack dan kopi he...karena sebagai ibu dengan 3 anak balita, saya baru bisa membuka laptop setelah anak-anak terlelap tidur. Sehingga jika darurat siang hari saya harus buka laptop maka mengungsi di masjid Salman ITB demi ketenangan dari tingkah lucu dan usil anak-anak.

Selain itu ternyata dunia maya juga mendukung bisnis kecil-kecilan emak, mulai dari jualan pulsa, tiket pesawat, jas hujan, kaos bandung, buku, minuman dan lain-lain. Meski episode jualan ini hanyalah euforia sesaat, senang jika ada teman yang tercukupi kebutuhannya dengan cepat, tepat dan hemat he...

Dunia online bagi emak di tahun 2018 ini semakin beragam manfaatnya (selain belanja ya…). Kita bisa ikut kursus bahasa Inggris, bahasa Arab, kajian online, tahsin, hafalan Al Quran, kuliah whatapps dan banyak hal lagi. Sisi positifnya dengan online semua kebutuhan ilmu bisa tercukupi namun sesungguhnya keberadaan guru/pembimbing di dunia nyata mutlak tetap diperlukan. Pun otak kita pun tidak bisa dijejali berbagai cabang ilmu yang mudah kita dapatkan di sekitar kita. Fokus...fokus …dan fokus adalah kuncinya. Pilah pilih mana yang prioritas utama dan mana yang sekedar keinginan dan trend sesaat. Jangan sampai rajin online tapi suami dan anak-anak tersingkirkan he….

Note buat emak online : Janganlah menyediakan fasilitas online yang bisa diakses pribadi dan menyendiri bagi anak, baik laptop maupun hp. Karena internet bagi anak tidak hanya membuat cerdas namun juga membuat rusak anak-anak kita. Perasaan sayang kita ke anak justru diwujudkan dengan membatasi waktu dan fasilitas online untuk mereka. (Ini dari materi POMG di SDIT :-)

Saya lahir di tahun 80an....ternyata saat ini jauh berbeda dengan masa kecil saya, bahkan tidak pernah terbesit dalam pemikiran saat itu. Entah anak2 nanti akan hidup di masa yang seperti apa, mungkin mobil terbang, warung robot atau saatnya migrasi ke planet lain. Namun tetap bekal IMAN untuk anak-anak kita...insya Allah ini yang akan menyelamatkan kehidupan mereka apapun masanya. Aamiin

TEMPAT PENITIPAN ANAK (TPA)


Terlepas dari adanya perbedaan pendapat metode pengasuhan dengan TPA maupun babysitter di rumah, kami termasuk salah satu yang sangat terbantu demgan adanya TPA saat masih tinggal di Pekanbaru. Akhir 2008 kami menuju Pekanbaru dengan membawa anak usia 2 tahun dan adeknya usia 3 bulan. Tidak ada sanak saudara ataupun tetangga yang bisa diajak untuk membantu kami mengurus anak2 selama kami kerja. Pun setelah beberapa hari di Pekanbaru, pengasuh/babysitter belum juga kami dapatkan. Oleh karena itu meski dengan hati yang berat kami mencoba mencari TPA yang paling nyaman buat anak dan cocok di kantong keluarga.

TPA pertama yang menjadi pilihan adalah sebuah rumah tinggal yang disulap menjadi TPA dengan berbagai fasilitas untuk anak, dikelola oleh seorang ibu pegawai pemprov Riau. Lumayan banyak anak yang dititipkan disana, usia 2-5 tahun di lantai bawah rumah ada sekitar 10-15 anak. Yang usia bayi sampai 1 tahun ada 10 anak juga di lantai atas terpisah dengan anak-anak besar, jadi aman dari gangguan anak-anak yang sedang bermain atau berlari-lari. Masing-masing lantai ditemani 2 pengasuh, jadi ada 4 pengasuh disana.

Setiap hari kami membawakan alat mandi, baju ganti anak-anak, susu dan makan siang serta beberapa snack. Diantar ke TPA jam 7 pagi dan dijemput jam 4 sore. Awal masuk TPA bagi adek bayi tidak banyak masalah, terpenting cukup susu, istirahat dan kenyamanan sepanjang hari di ayunan. Sedangkan adaptasi si kakak, hampir tiap hari selama satu minggu saat diantar dan dijemput selalu menangis. Rasanya kami tidak tega, tapi ibu pengasuh meyakinkan kami bahwa kakak baik-baik saja. Sudah bisa bermain, makan bersama dan mengikuti jadwal TPA. Ok lah...Bismillah....langkah pertama telah berhasil dilalui.

Baru 2 bulan menikmati kenyamanan di TPA ternyata 2 ibu pengasuh favorit anak-anak (Bu Titin dan Bu Vira) mengundurkan diri dari lembaga karena ketidakcocokan sistem. Selanjutnya satu minggu anak-anak diasuh oleh ibu lainnya namun kami merasa tidak cocok. Akhirnya kami hubungi ibu pengasuh yang sebelumnya, memohon agar mereka mau menjadi pengasuh anak-anak dirumah. Ternyata yang menghubungi ibu-ibu pengasuh itu tidak hanya kami berdua, namun juga beberapa wali TPA lainnya. Permasalahannya sama...sudah cocok dengan pengasuh lama, anaknya tidak mau di TPA dengan pengasuh lainnya. Akhirnya kedua ibu tersebut membuat TPA sendiri di rumah kontrakan Bu Titin, meski sangat sederhana dan minim fasilitas namun anak-anak nyaman dan bahagia. Jadilah hari-hari selanjutnya anak-anak kami titipkan di TPA yang diberi nama Cahaya Bunda.

Tahun 2010 kami harus hijrah ke Bandung. Kemudian balik lagi ke Pekanbaru di 2012, kami menitipkan anak-anak di tempat yang berbeda. TPA kedua ini adalah sebuah cikal bakal Taman Kanak-kanak yang dibuka di dekat kantor suami. Karena rumah kontrakan kami lebih dekat ke kantor suami akhirnya kami menitipkan 3 anak disitu... TPA Insan Amanah. Saat pagi anak-anak ikut kegiatan PAUD dan TK, setelah istirahat siang mereka pindah ke ruang belakang menjadi anak TPA. Lagi-lagi menurut kami bukan fasilitas TPA yang utama namun kasih sayang. Ada bunda Nurul, bunda Essy dan bunda lainnya disana yang mengasuh anak-anak selayaknya anak/adek sendiri. Tak jarang pas kami jemput sore anak-anak ternyata diajak jajan ke minimarket sebelah, padahal kami tidak membekali mereka uang jajan.

Di tahun 2014, kami harus pindah kontrakan lagi (kontraktor :-) ). Demi mempersiapkan kelahiran adek bayi ke4 akhirnya kami mencari kontrakan yang dekat dengan TPA Cahaya Bunda yang dulu. Alhamdulillah...saat bayi kecil kami lahir dan nenek yang dari Jawa pulang, kembali kami titipkan 4 anak disana. Meski 3 anak lainnya sudah masuk usia sekolah namun mereka tetap senang jika pulang sekolah dititipkan di TPA.


Alhamdulillah...selama 2008-2016 di Pekanbaru, 4 anak mempunyai rumah kedua yang penuh kasih sayang di TPA Cahaya Bunda dan Insan Amanah. Berita-berita miring dan kekhawatiran beberapa ibu tentang TPA tidak pernah kami alami. Bagi kami ibu-ibu pengasuh di TPA adalah bagian dari keluarga yang tak tergantikan. Beliau-beliaulah yang berjasa besar menemani perkembangan 4 anak kami di usia balita.

Terima kasih bu Titin, bu Vira, bunda Nurul, bunda Essy dan bunda2 lainnya...semoga. Allah berikan kesehatan, keluasan rezeki dan kebarokahan serta kemudahan di segala hal. Aamiin

Dan semoga suatu saat nanti bisa bertemu 4F lagi. Aamiin

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe13


Minggu, 25 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (3)


Saat kuliah semester 3-4 saya diajak beberapa senior untuk gabung bersama di APJ (Aksi Peduli Jilbab), yang salah satu tugasnya adalah menyuarakan pelegalan penggunaan jilbab terutama di sekolah kedinasan. Mengapa saya diajak gabung? Ah saya juga lupa alasan awalnya he...
Alhamdulillah sekolah kedinasan tempat saya mencari ilmu didominasi oleh mahasiswi dan mayoritas berjilbab pula, jadi mahasiswi-mahasiswi disini lah yang lebih banyak bergerak intuk APJ dibandingkan sekolah dinas lainnya. Meskipun untuk ketua tetap mahasiswa ( tidak berjilbab tentunya :-) )

Kami mengadakan pertemuan dan juga silaturahmi dengan sesama mahasiswi sekolah kedinasan lainnya serta beberapa pihak yang dirasa bisa membantu gerak kami baik secara syariah maupun hukum, waktu itu kalo tidak salah salah satu pihak yang banyak membantu perjuangan jilbab di kedinasan adalah organisai PAHAM. Sempat beberapa kali ikut audiensi dengan orang-orang hukum yang berada di bawah bendera PAHAM.


Kenapa harus menyangkut ranah hukum? Karena saat itu adanya diskriminasi beberapa mahasiswi kedinasan (bukan di kampus kami) di bidang akademik hanya karena mereka pakai jilbab. Pun ketika diperbolehkan jilbab dipakai di lingkungan kampus, yang dilegalkan hanyalah selembar kain yang menutup kepala dan dililitkan ke leher. Baju seragam (dinas) masih sama dengan mahasiswa lainnya, celana panjang dan atasan panjang "slim fit". Padahal esensi jilbab adalah menutup aurat, tidak membentuk tubuh dan menutupi dada. Jika semua itu merupakan aturan tertulis di sekolah kedinasan yang bersangkutan, tentunya dari APJ pun melakukan pendekatan yang salah satunya melegalkan jilbab syar'i dalam aturan tertulis juga. Oleh karena itu pendekatan dengan bagian hukum perlu dilakukan untuk melancarkan prosesnya.

Pada masa itu ternyata tidak hanya sekolah kedinasan yang mengalami diskriminasi jilbab, namun banyak karyawan di lembaga publik maupun perusahaan swasta yang juga butuh pendampingan PAHAM.

Opini dari beberapa tahun terlibat di APJ tertuang di sebuah majalah yang dominan menyuarakan ketidakadilan di masyarakat. Tulisan pertama dulu tentang jilbab, tulisan kedua pun tentang jilbab. Semoga setelah ini tidak perlu lagi opini yang membuat jilbab sebagai hal yang diperdebatkan.
Yang sudah berjilbab semoga tetap istiqomah, yang belum berjilbab semoga Allah menguatkan keyakinannya untuk menutup aurat secara sempurna. Aamiin

" ..... dan hendaklah mereka menutupkan kain kudungnya ke dadanya" (QS. An Nur :31)

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe12

To : yang pernah bareng di APJ....kangeeeen :-)

BERSABAR DALAM PROSES


Masih ingat lagu ini?
=====
Nasi putih terhidang di meja
Kita santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi
Darimana kah datangnya?
Dari sawah dan ladang disana
Petanilah menanamnya
Panas terik tak dirasa
Hujan rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Trimakasih bapak tani
Trimakasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia
=====

Di masa kecil saya, lagu ini sering diputar di TVRI bergantian dengan lagu ucapan trima kasih untuk guru dan nelayan. Ya...kita bisa makan nasi dengan cukup atas jasa para petani (yang sekarang merupakan profesi tak diminati anak muda). Mendapatkan sebuah bulir padi itu bukan hal yang mudah, butuh kesabaran dalam prosesnya. Pun ketika mengubah bulir padi itu menjadi beras, banyak faktor yang menyusutkan timbangannya.


Beberapa hari kami dipertemukan dengan kegiatan bagaimana meneliti perjalanan sebulir padi (gabah) menjati sebutir beras. Mulai cara mengukur kadar air gabah dan beras hasil penggilingan dengan Moisture Meter (review jaman di Pekanbaru juga), menghitung masa kering gabah : berapa hari penjemuran, berapa kedalaman penjemuran, berapa kali dibolak-balik, mengetahui proses penggilingan gabah ke beras, phase penggilingan, derajat sosoh serta persentase susut dari gabah ke beras. Semua terangkum dalam Survei Konversi Gabah ke Beras 2018.

Banyak hal baru yang kami ketahui, terutama susutnya timbangan sejak proses panen gabah hingga menjadi beras yang akhirnya di distribusikan ke konsumen : susut beras karena tercecernya saat proses pengeringan (keluar masuk karung), dimakan ternak/unggas, jika dijemur di pinggir jalan terbawa roda kendaraan dan lain-lain. Itulah yang sebenarnya akan dilihat hasilnya...dalam perjalanan dari gabah kering panen (GKP) menjadi beras mengalamai susut hingga berapa persen? Hingga akhirnya nanti ditemukan sebuah formula ketika terdapat nilai panen sekian ton gabah maka sebenarnya yang bisa dikonsumsi masyarakat berapa ton? (Hasil pengamatan hari ini dari 100 kg gabah yang digiling, hasilnya 66-67 kg beras, sisanya dalam bentuk sekam dan bekatul).


Satu hal lagi yang kami tahu, ternyata dalam pengkategorian beras premium dan medium salah satu syaratnya dalah persentase derajat sosoh, beras premium berderajat sosoh 100% sedangkan beras premium 95%, semakin rendah mediumnya maka derajat sosohnya makin kecil. Padahal derajat sosoh itu adalah persentase terkelupasnya beras dari kulit2 arinya, jika derajat sosoh makin tinggi maka biasanya beras lebih putih dan jernih karena kulitnya sudah terkelupas semua....artinya lagi kandungan gizinya paling kecil dibandingkan beras di prasar tradisonal dengan derajat sosoh 60-80% (warna beras agak keruh). Jadi mau pilih beras yang mana?

Masih teringat pesan orang tua di masa kecil, habiskan semua butir nasi yang ada di piring, jangan tersisa satu pun. Pertama untuk meraih keberkahan dari rezeki berupa makanan, yang kedua tentunya bentuk kesyukuran atas usaha keras dan kesabaran petani mengolah tanaman padi menjadi gabah, dan akhirnya sampai ke kita dalam bentuk nasi.

Bersabarlah dalam sebuah proses : benih >> tanaman padi >> gabah >> beras >> nasi ... Alhamdulillah...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe11   

Minggu, 18 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (2)

Pernahkah anda singgah di sebuah restoran/rumah makan dan memberikan apresiasi jika menu dan hasil racikan koki menjadi sesuatu hal yang memuaskan lidah dan hati anda?
Gak usah sebut nama dan merk lah...masing-masing kita tentunya punya standar masing-masing tentang definisi rasa ENAK dan ENAK SEKALI...

Begitulah dunia pekerjaan saya, diibaratkan sebuah restoran ada yang menyusun menu, ada yang berbelanja, ada yang membuat resep masakan, ada yang bertugas sebagai koki, ada pula pramusaji yang menyajikannya di hadapan pelanggan. Kenapa? Karena dunia kerja saya dari hulu ke hilir, ada saatnya saya berada di hulu ada saatnya saya berada di hilir...namun keduanya mempunyai aliran dan muaranya sama.


Saya pernah singgah di 5 kantor,ada yang cuma beberapa bulan dan ada pula yang sampai beberapa tahun.
Di 3 kantor sebelumnya saya termasuk petugas bagian hulu, diibaratkan sebuah restoran tadi saya ada di tugas berbelanja. Bagaimana saya harus memilih bahan masakan di daftar belanja yang sudah ada...

Saya sudah dibekali SOP pencacahan dan pengawasan, konsep definisi, dan sedikit ilmu hubungan masyarakat. Tinggal bagaimana saya mengolah energi dan rasa dengan responden agar data yang terkumpul adalah data kualitas terbaik sesuai konsep dan definisi yang telah ditetapkan. Tak jarang wawancara yang singkat harus selesai lebih panjang demi mengolah rasa empati kepada responden atas beban hidup yang mereka rasakan. Terkadang saya juga harus menjelaskan apa dan bagaimana sebuah data dibutuhkan kepada aparat pemerintah daerah setempat ataupun pimpinan perusaahaan. Atau mengurai rasa curiga di hati setiap pemilik rumah ketika pintunya diketuk petugas BPS.
Ditolak responden? Sudah berkali-kali...
Janji palsu responden? Tak bisa dihitung jari lagi...berapakah pulsa hp yang terkuras untuk telpon menanyakan kuesioner yang tiba2 hilang entah kemana, menunggu bermenit-menit dan berjam-jam demi bertemu si bos yang katanya sedang rapat, namun ternyata keluar kantor lewat pintu belakang. Dan pengalaman lucu, bahagia, sedih dan dramatis lainnya.

Kemudian di kantor ke 4 saya diberi kesempatan untuk bergabung di bagian hilir, istilah restoran adalah bagian pramusaji. Data dari petugas pencacah mingguan, 2 mingguan, dan bulanan tersaji cantik di halaman Berita Resmi Statistik Harga Konsumen atau yang lebih terkenal dengan nama BRS INFLASI setiap awal bulan.
Atau tentang pengeluaran petani dalam memutar roda kehidupannya di bidang pertanian, perkebunan, perikanan dan lain -lain dalam BRS Nilai Tukar Petani yang tersaji tak kalah cantiknya di tanggal yang sama.
Pun menyajikan nilai Pertumbuhan Ekonomi yang dipresentasikan 3 bulan sekali, memaknai sebuah angka bahwa bertambah jumlah itu belum tentu bertumbuh secara ekonomi. Pelanggan tidak akan tahu jika pramusaji tepat waktu mengantarkan data itu didukung oleh tim yang mungkin malam sebelumnya kurang tidur, merelakan hari liburnya di depan meja laptop, atau mengetik angka demi angka dari rumah sambil menyusui sang bayi. Apa dan bagaimana sisi belakang pramusaji pelanggan hanya tahu...pesanannya disajikan tepat waktu.

Dan sekarang saatnya saya diberikan kesempatan sebagai marketing...untuk apa? Agar pelanggan yang datang restoran semakin banyak, pelanggan lama tidak beralih dan pelanggan baru semakin mendekat. Caranya? Kenalkan menu kita kepada khalayak ramai, mungkin banyak yang tidak datang ke restoran kita karena belum tahu menu yang disajikan, belum tahu rumitnya dan keistimewaan racikan bumbu yang digunakan dan terpenting belum tahu bahwa hidangan yang disajikan pramusaji sangat spesial.

Ini adalah babak baru bagi saya dan juga beberapa kawan yang lain...di satu sisi tetap menjadi petugas hulu ataupun hilir, disatu sisi lagi ditambah dunia marketing....road to media!


Terima kasih ilmunya mbak Tasmilah Ummufarah...semoga bersama-sama kita bisa menjadi marketing terbaik untuk data yang terpercaya untuk semua!

BAPAK

Seorang lelaki yang aku panggil bapak, bagi sebagian orang lebih layak jika aku memanggilnya dengan sebutan kakek. Ya...aku anak bungsu dengan jarak lahir paling jauh dengan kakak-kakak ku. Tak heran lah ketika aku dibonceng sepedanya, teman-teman sekolah takjub karena yang mengantar ke sekolah bukan orangtuanya namun kakeknya :-)

Saya selalu menuliskan pekerjaan bapak sebagai wiraswasta, ketika harus mengisi blanko yang dibagikan di sekolah, meski sejatinya bapak bekerja sebagai pedagang es keliling. Entah isian saya waktu itu tepat atau tidak, namun itulah arahan beliau. Setiap pagi bapak akan menyiapkan dagangannya, membersihkan gerobaknya dan segera mengayuh sepeda gerobak ke arah tempat berjualannya, di sebuah pinggir tanah lapang dimana setiap hari selalu ramai didatangi anak-anak sekolah untuk berolahraga. Besar harapan bapak ketika anak-anak itu kehausan setelah berolahraga maka dagangan bapak menjadi "Sekedar Pelepas Dahaga". Sebuah komitmen untuk memperoleh keberkahan dari rupiah yang didapatkan dari jalan yang halal.

Ba'da ashar bapak sudah kembali ke rumah, Alhamdulillah dagangannya habis. Jika bapak sampai jam 4 belum pulang berarti beliau harus keliling perkampungan lagi agar dagangan hari itu habis. Pulang kerja adalah waktu istirahat beliau, kadang cukup dengan duduk-duduk sambil minum teh atau tidur sejenak menjelang Maghrib. Mungkin hari itu bapak lebih lelah...

Hari Jumat adalah waktu libur beliau, biasanya diisi dengan kegiatan hobi. Dulu saat saya kecil bapak sering membuat furnitur sederhana dari kayu seperti meja tulis, kursi panjang atau pun pembatas shaf di masjid. Terkadang bapak juga menikmati hobi lainnya yaitu memancing. Sebelum hari-H pergi memancing, beliau sudah janjian dengan salah satu tetangga di rumah. Lokasinya bisa di sungai ataupun di laut, tak jarang harus keluar kota naik motor beberapa jam untuk menuju tempat memancing itu.

Selain itu beliau juga aktif di kegiatan masjid, sebagi pengurus maupun panitia hari besar agama. Kegiatan organisasi juga beliau ikuti meski satu dua tidak hadir acara. Secara umum Bapak adalah seorang warga yang aktif di masjid maupun di kampung.

Bapak itu pribadi yang tegas, namun bagi saya di masa kecil, beliau adalah Bapak yang galak dan pelit. Segala hal yang berkaitan dengan pengeluaran uang, harus direncanakan jauh-jauh hari dan tepat sasaran. Di saat yang lain bisa ganti-ganti alat tulis, saya harus memakai nya sampai benar-benar tidak bisa difungsikan. Buku pelajaran sejak SD-SMA harus usaha melengkapi sendiri dengan meminjam di tetangga yang berada di kelas lebih tinggi. Kami pun dibiasakan makan yang ada di rumah, tidak pernah jajan. Karena bapak pun mencontohkan demikian, meski beliau kerja berdagang pagi sampai sore, tak pernah sekalipun jajan makanan atau minuman, selalu membawa bekal dari rumah. Untuk urusan sekolah pun bapak orang yang tidak ada kompromi, jaman dulu prinsipnya boleh sekolah kalau diterima di sekolah negeri. Jika tidak bisa, silakan cari kerja. Ketegasan dan kedisiplinan Bapak sering saya artikan sebagai kekejaman dan ketidakadilan, namun seiring kedewasaan saya ternyata makna dari semua itu berubah....

Ah terlalu banyak cerita tentang bapak yang membelokkan arah pandangan saya saat kecil dan dewasa. Bapak yang dengan ikhlas menerima calon menantu nya, meski belum kenal lama. Memberikan kepercayaan penuh kepada anak gadisnya untuk memilih sendiri sang calon suami, bahkan sampai saat akad nikah pun rumah calon menantunya ini belum ada yang tahu he...
 
Setiap saya hamil, bapak lah yang selalu mengingatkan untuk periksa ke bidan atau dokter, minum vitamin, makanan sehat dan menjaga aktifitas fisik di kantor dan dirumah. Pun ketika saya harus menitipkan bayi 7 bulan ke bapak dan ibu, maka bapak pulalah yang menemani bayi saya sehari-hari, bahkan kata ibu beliau lebih cerewet saat menjaga bayi saya. Kasih sayang seorang bapak memang tak mudah terungkap. Ketegasan dan kedisiplinan nya sering menutupi rasa kawatir dan sayangnya kepada seorang anak.

Semoga kami bisa meneladani kebaikan-kebaikan sosok Bapak, pun saat akhir kehidupannya yang berada di saat terbaik dan di tempat terbaik : sepertiga malam terakhir di sebuah masjid kampung :-(

ALLOHUMMAGHFIRLII WALIWAALIDAYYA WAR HAMHUMAA KAMA RABBAYAANII SHAGIIRAA....Aamiin
 

ROAD TO MEDIA (1)

Salah satu cita-cita jangka pendek saya waktu kecil adalah terpampangnya nama saya di media, tentunya dengan alasan baik ya...misal menang lomba atau diliput karena pelajar berprestasi. Namun sayangnya alasan itu tidaklah pas untuk saya, akhirnya saya harus banting stir dengan alasan yang lain...asal nama saya tertulis di media.

Saat Sekolah Dasar kami diwajibkan membeli sebuah lembar kerja siswa (LKS) sebagai latihan soal. Namanya kalo tidak salah Gemar Belajar, terbit tiap tiga bulan sekali, alamatnya di Jl Makam Paneleh Surabaya. Kenapa saya masih hafal? :-)
Karena sesuai dengan cita2 saya, meski bukan menjuarai lomba saya berusaha memantaskan diri agar nama saya tercantum di LKS itu...caranya : dengan mengirimkan jawaban kuis yang ada di halaman belakang LKS lewat kartu pos, beberapa kali kirim tentulah saya jadi hafal he....
Jawabannya menurut saya mudah, namun kan faktor keberuntungan besar disitu. Dipilih 3 nama dari ratusan pengirim. Dan saya berharap jadi salah satunya....Sri Suharti, SDN Suryodiningratan 3 Yogyakarta. Dan akhirnya sampai saya lulus SD...belum pernah nama saya dimuat di situ hiks...

Ok lah, cita-cita masih terpendam. Saat di bangku SMP pun tidak ada inisiatif untuk mengirimkan hal yang sejenis. Begitu masuk ke SMA, saya kok masih penasaran dengan dimuatnya nama saya di media. Pas saat kelas 1 SMA, saya mempunyai sahabat di kampung yang bersekolah di SMA Muhammadiyah. Kami sering pergi bareng atau sekedar gantian berkunjung ke rumah masing-masing. Saat saya kerumahnya ternyata banyak tumpukan majalah Kuntum yang ada disana, ternyata majalah itu dibagikan gratis kepada siswa-siswi yang bersekolah di Muhammadiyah. Saya bolak balik majalahnya cukup menarik. Akhirnya setiap saya main kerumahnya tidak pernah saya lewatkan pinjam majalah kuntum terbarunya.

Saat saya buka halaman demi halaman ternyata ada rubrik opini yang berkaitan dengan pemakaian jilbab di kalangan anak SMA, saya tergelitik untuk sampaikan pendapat saya lewat majalah itu. Akhirnya saya ajak sahabat saya untuk sama- sama menulis pendapat masing-masing dan dikirimkan ke redaksinya.

Mulailah saya menuliskan apa yang ada di kepala, pandangan saya tentang jilbab yang saya gunakan kemudian mengamati realitas pengguna jilbab di kalangan pelajar dan sebagainya. Tulisan itu saya rapikan dengan mesin ketik tangan dan saya kirimkan ke redaksi. Sahabat saya pun melakukan hal yang serupa. Ternyata....tulisan saya itu dimuat di rubrik opini majalah Kuntum sekitar tahun 1998, cita-cita saya terwujud Alhamdulillah....

Saya dikirimi surat lewat sekolah untuk mengambil honor tulisan saat itu sebesar Rp 7.500,- rupiah. Sebagai pembanding uang transportasi saya ke sekolah PP Rp 300,- naik bis kota. Jadi kalo di nilai kan di tahun 2018 kira-kira berapa ya? He...

Dimuatnya tulisan saya di majalah kuntum saat itu membuat bahagia tak terkira syalalaaa....maklum dengan modal majalah pinjaman dan tulisan pertama lagi, langsung bisa dimuat. Alhamdulillah.
Sejak itulah saya lebih percaya diri dan semangat untuk menulis lagi...meski tidak semuanya terkirim, ataupun akhirnya terkirim namun tidak dimuat juga he...
Insya Allah...Road to Media berikutnya!

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?