Kamis, 21 Februari 2019

Surat Untuk Bapak





Assalamu’alaikum.wr.wb
Bapakku tercinta, bagaimana kabar Bapak disana? Semoga Allah memberi kebaikan yang lebih pada dirimu saat ini.
Pak, banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu saat ini. Aku berharap sedikit tulisanku ini mampu mengurangi kegundahanku sebagai seorang pegawai yang harus amanah sekaligus jadi istri untuk suamiku, ibu untuk anak-anakku dan peran-peran lainnya.
Masih teringat wisudaku 6 bulan yang lalu saat Bapak dan Ibu tak bisa hadir. Sedih rasanya tapi aku tetap persembahkan kelulusan itu untuk Bapak dan Ibu tercinta. Tanpa ada ridho kalian mustahil kelulusan itu bisa kuraih. Dan setelah kelulusan itu, aku pun harus kembali ke kantor lama.
Banyak cerita sebagai “pegawai baru” di kantor ini. Kantor Badan Pusat Statistik  yang megah…..itulah hal pertama dan kesan awal masuk lagi ke kantor ini,jauh penampakannya ketika kutinggalkan 2 tahun yang lalu. Istilahnya sekarang  jadi semakin pede ketika ada orang bertanya “Kerja dimana bu? Oh, yang kantornya baru dan megah itu ya di Pattimura.”.
Hal kedua, jam  masuknya yang (mulai) ketat. Semua pegawai masuk jam 7.30, toleransi sampai jam 8. Jika terlambat harus mengganti jam pada saat pulang kantor. Rasanya kaget dengan aturan baru ini….di saat bapaknya anak-anak punya jadwal kantor yang ketat, aku pun juga berlaku yang sama. Padahal anak-anak masih kecil dan asisten rumah tangga pun belum kami dapat. Seandainya Bapak dan juga ibu disini, tentulah kami tak perlu berpusing ria, bisa kami tinggal dirumah. Amanlah cucu-cucu sama Kakek Neneknya he….
Baru beberapa hari di kantor, ada perintah dari atasan “ Ayo kita vicon di ruang rapat!”. Dalam hati bertanya apa itu vicon, rapat sejenis apa ya? Ternyata setelah masuk ruangan, oh…seperti inilah vicon. Rapat bersama tetapi di 34 wilayah yang berbeda. Kita bisa langsung berinteraksi dengan seluruh pegawai BPS baik di Pusat maupun 33 provinsi lainnya. Hebat ya…(menurut ukuranku) gak perlu lagi SPPD lebih untuk mempertemukan pegawai di Jakarta. Mantap lah.
Pak, semakin banyak kurasakan perbedaan  kantor BPS ini sejak kutinggalkan. Pekerjaan yang semakin banyak dan terus menumpuk, membutuhkan kecepatan dan ketepatan menyelesaikan semuanya, akhirnya laporan tagihan dokumen dan entry-an data selalu muncul di layar e-mail maupun HP. Sistem keuangan yang semakin ketat, dengan tidak ada lagi uang yang bisa di putar balikkan untuk menutupi kegiatan non DIPA, semuanya harus sesuai aturan pengeluaran yang telah dianggarkan Negara. Administrasi pegawai yang lebih tersusun rapi, terencana dan sistematis.
Oya pak, satu  lagi yang  nampak mencolok di kantor ini adalah meja receptionist yang clean dan di sebelahnya adalah ruangan perpustakaan yang sangat mendukung masyarakat untuk mencari data. Jadi ingat masa-masa nulis untuk tugas akhir kuliah, mencari data adalah hal yang sangat susah…mudah-mudahan dengan pelayanan statistik terpadu ini semua menjadi mudah. Seandainya Bapak bisa datang kesini tentunya Bapak bangga dengan keberadaan anaknya sebagai pegawai di kantor BPS ini.
Pak…masih setia kan baca tulisanku yang panjang?
Ternyata semua itu adalah buah dari Reformasi Birokrasi BPS, Pak! Pasti Bapak bertanya apa itu Reformasi Birokrasi? Intinya adalah BPS dan seluruh pegawainya harus berubah menjadi insan statistik yang Profesional, Integritas dan Amanah.  Memang Pak, tidak semua pegawai siap dengan perubahan itu. Ada yang mendukung dan semangat, ada yang ikut-ikut saja  perubahan yang terjadi, ada yang masih malas-malasan untuk bergerak, bahkan ada juga yang melihat perubahan ini dari sisi buruk-buruknya saja. Aku ada di posisi mana? Pegawai yang profesional belum, punya integritas tinggi tidak juga, dan pegawai yang amanah…masih banyak  yang asal-asalan ataupun terlambat menyelesaikannya. Tetapi siap ataupun tidak siap, aku harus bisa berubah. Mendukung Reformasi Birokrasi ini dengan segala konsekuensinya. Tanpa pula aku melupakan amanahku di rumah dan peran-peran lainnya.
Pak, aku mohon  ridhomu agar aku bisa menjalani semuanya, semampuku dan sekuat tenagaku. BPS adalah amanahku dan ladang amalku, semoga segala yang kulakukan disini memberi kebaikanku di dunia dan akhirat. Aamiin. Karena aku yakin Pak, perubahan yang terjadi di BPS ini akan bisa berhasil manakala setiap insan statistik pegawai BPS (setidaknya diriku sendiri) menyadari tugas dan posisi masing-masing, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran (yang sudah semakin luntur), dan selalu bersemangat untuk maju. Bukan hal yang mudah Pak, meski dengan tawaran tunjangan Remunerasi yang dijanjikan. Tapi kami yakin kami bisa berubah menjadi pegawai BPS yang Profesional, Integritas dan Amanah.
Terima kasih Pak, sudah lega rasanya hati ini. Bisa berbagi cerita dengan Bapak. Semoga Allah menuntun langkah-langkah kita semua. Aamiin.   

Wassalamu’alaikum. Wr.wb  

Salam Sayang,


Anakmu Tercinta

 
 # Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Menulis Hari Statistik Nasional 2012 di Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Alhamdulillah dapat Juara 1  ^_^ 

#Al Fatihah untuk (alm) Bapak
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?