Sabtu, 09 Februari 2019

Menulis, Bahagiaku Bahagiamu


Masihkah ingat diary pertama yang kau miliki?

Tentu saja aku masih ingat, diary berwarna kuning dengan kancing yang dapat ditutup rapat di bagian depannya. Diary ini menjadi saksi bisu bagaimana membuka lembaran baru sebagai gadis perantau di ibukota. Hal yang jauh dari cita-cita dan angan, bahkan saat 3 tahun mengenakan  seragam putih abu-abu di kota Yogyakarta.

Segala keresahan, kebingungan, ketakutan di tempat baru bercampur dengan rasa kangen dengan orangtua dan semua hal di Jogja tertulis disana. Sebulan dua bulan, diary ini berisi tentang memori kebersamaan di masa lalu. Seolah tak ada celah kebahagiaan yang akan diraih saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus perantau di Jakarta. Namun ternyata kisah bahagia di masa lalu itu dapat dilanjutkan dengan kisah bahagia warga kota metropolitan.

Persaudaraan yang sangat erat di rumah kos, kampus maupun di lingkungan rumah sedikit demi sedikit menjadi tema dari setiap lembar demi lembar halaman diary selanjutnya.

Tak terlupa, bunga-bunga yang semerbak di sekitar gadis dengan virus merah jambunya pun ada disana. Jangan ditanya siapakah kumbang yang tertulis namanya disana…cukuplah itu menjadi sebuah cerita, masa kini ada sebagai hasil perjalanan di masa lalu.
Satu demi satu buku diary menjadi koleksi di kamar. Termasuk kegelisahan akan nasib sebagai mahasiswa ikatan dinas, yang selalu terbayangi dengan kata-kata Drop Out maupun tinggal kelas. Disana pula terbuka sebuah kisah bagaimana perjuangan selanjutnya di pulau seberang, Kota Angin Mamiri, Makassar.

Kebersamaan menapaki jalan cita dengan 8 orang yang bergaris hidup sama, kesabaran teman-teman saat diri ini tak berdaya selama beberapa hari di Rumah Sakit Bhayangkara serta pertemuan merajut silaturahmi yang terus ada hingga sekarang.

Aku bahagia…dengan menulis diary, telah kucatatkan sebuah sejarah untuk diriku sendiri. Hidupku, cukup Allah dan aku yang tahu. Namun diri ini pun tak kuasa merekam setiap jejak yang telah ditapaki. Maka tuliskanlah. Jika hal buruk, bertaubatlah dan perbaiki di lembar berikutnya. Jika kebaikan, maka ingatlah, lanjutkan dengan kebaikan-kebaikan berlebih di goresan pena selanjutnya.

Sekarang?

Diary tidak lagi menjadi teman curahan hatiku, ada seorang lelaki yang sabar mendengar ribuan kata yang kuucapkan tiap hari. Meski aku yakin tidak semua terekam di memorinya. 

Namun aku pun masih menulis. Saatnya kucatatkan sejarah buat anak-anak. Masa kecil setiap anak tentu saja hal yang tak sama. Alhamdulillah, ada 2 buku antologi tentang aku dan anak  yang merekam sekelumit kisah kami. Anak-anak pun sudah membacanya dan kami bahagia. Ternyata dibalik kemarahan ibunya, ada ribuan cinta dan sayang untuk mereka.

#rumbelliterasiIPJogja
#tantanganmenulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?