Masihkah ingat diary pertama yang
kau miliki?
Tentu saja aku masih ingat, diary
berwarna kuning dengan kancing yang dapat ditutup rapat di bagian depannya. Diary
ini menjadi saksi bisu bagaimana membuka lembaran baru sebagai gadis perantau
di ibukota. Hal yang jauh dari cita-cita dan angan, bahkan saat 3 tahun mengenakan
seragam putih abu-abu di kota
Yogyakarta.
Segala keresahan, kebingungan,
ketakutan di tempat baru bercampur dengan rasa kangen dengan orangtua dan semua
hal di Jogja tertulis disana. Sebulan dua bulan, diary ini berisi tentang memori
kebersamaan di masa lalu. Seolah tak ada celah kebahagiaan yang akan diraih
saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus perantau di Jakarta. Namun
ternyata kisah bahagia di masa lalu itu dapat dilanjutkan dengan kisah bahagia warga
kota metropolitan.
Persaudaraan yang sangat erat di
rumah kos, kampus maupun di lingkungan rumah sedikit demi sedikit menjadi tema
dari setiap lembar demi lembar halaman diary selanjutnya.
Tak terlupa, bunga-bunga yang
semerbak di sekitar gadis dengan virus merah jambunya pun ada disana. Jangan
ditanya siapakah kumbang yang tertulis namanya disana…cukuplah itu menjadi
sebuah cerita, masa kini ada sebagai hasil perjalanan di masa lalu.
Satu demi satu buku diary menjadi
koleksi di kamar. Termasuk kegelisahan akan nasib sebagai mahasiswa ikatan
dinas, yang selalu terbayangi dengan kata-kata Drop Out maupun tinggal kelas. Disana pula terbuka sebuah kisah
bagaimana perjuangan selanjutnya di pulau seberang, Kota Angin Mamiri,
Makassar.
Kebersamaan menapaki jalan cita dengan
8 orang yang bergaris hidup sama, kesabaran teman-teman saat diri ini tak
berdaya selama beberapa hari di Rumah Sakit Bhayangkara serta pertemuan merajut
silaturahmi yang terus ada hingga sekarang.
Aku bahagia…dengan menulis diary,
telah kucatatkan sebuah sejarah untuk diriku sendiri. Hidupku, cukup Allah dan
aku yang tahu. Namun diri ini pun tak kuasa merekam setiap jejak yang telah ditapaki.
Maka tuliskanlah. Jika hal buruk, bertaubatlah dan perbaiki di lembar
berikutnya. Jika kebaikan, maka ingatlah, lanjutkan dengan kebaikan-kebaikan
berlebih di goresan pena selanjutnya.
Sekarang?
Diary tidak lagi menjadi teman
curahan hatiku, ada seorang lelaki yang sabar mendengar ribuan kata yang
kuucapkan tiap hari. Meski aku yakin tidak semua terekam di memorinya.
Namun aku pun masih menulis. Saatnya
kucatatkan sejarah buat anak-anak. Masa kecil setiap anak tentu saja hal yang
tak sama. Alhamdulillah, ada 2 buku antologi tentang aku dan anak yang merekam sekelumit kisah kami. Anak-anak
pun sudah membacanya dan kami bahagia. Ternyata dibalik kemarahan ibunya, ada
ribuan cinta dan sayang untuk mereka.
#rumbelliterasiIPJogja
#tantanganmenulis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar