Beberapa
hari yang lalu dibahas tentang produksi beras di Daerah Istimewa Yogyakarta
(DIY). Dalam waktu yang
hampir sama terdapat dua kondisi yang bertolak belakang, Sekretaris Daerah DIY menyatakan
bahwa ketersediaan beras di DIY masih surplus 228.401 ton beras (The Alana Hotel And Convention Center,
31 Oktober 2018). Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY dalam
rilis Luas Panen dan Produksi Padi di DIY 2018 menyatakan terjadi defisit sebesar 142 ribu ton (Berita Resmi
Statistik, 1 November 2018). Bagaimanakah ketahanan pangan DIY
yang sebenarnya?
Perbedaan
Metode Penghitungan
Kementerian Pertanian
sudah memiliki perhitungan luas panen dan produksi padi (kerjasama dengan BPS) dengan
menggunakan metode eye estimate. Metode ini sudah digunakan turun temurun untuk
menghasilkan data produksi padi.
Namun
sejak tahun 1997 banyak pihak yang meragukan data luas panen padi yang telah
dirilis, karena tiap tahun angka rilis cenderung lebih besar bahkan di saat
terjadi alih fungsi lahan pertanian. Oleh karena itu
BPS memutuskan untuk menghentikan rilis luas panen padi hasil eye estimate sejak 2016, sambil
menyiapkan metode lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Tahun 2015 BPS mulai bekerjasama
dengan BPPT, Kementerian ATR/BPN, BIG serta
LAPAN berupaya memperbaiki metodologi dengan menggunakan metode kerangka Sampel
Area (KSA). Metode
KSA merupakan metode perhitungan luas panendengan
memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku
sawah yang berasal dari Kementerian ATR/BPN dan dilaksanakan
serentak seluruh Indonesia mulai Januari 2018.
Ketahanan Pangan DIY
Berdasarkan
metode KSA, diperoleh hasil luas panen padi 2018 (untuk bulan Oktober-Desember
perkiraan potensi) sebesar 92 ribu hektar dengan luas panen tertinggi di
kabupaten Gunungkidul sebesar 31 ribu hektar atau sekitar 33%. Total produksi
padi 2018 dihasilkan 498 ribu ton Gabah Gering Giling (GKG). Jika dilakukan konversi ke beras
senilai 281 ribu ton beras. Setelah dikurangi
dengan angka konsumsi per kapita per propinsi tahun 2017, produksi beras di DIY
mengalami defisit 142 ribu ton beras. Walaupun secara
nasional angka produksi beras tetap surplus hingga 2,85 juta ton beras,
namun angka itu tidak dihasilkan dari lahan di DIY.
Maraknya alih fungsi lahan pertanian akibat laju pembangunan di DIY, terutama pembangunan bandara baru New
Yogyakarta International Airport (NYIA) sedikit banyak telah mengurangi luas
lahan pertanian di DIY khususnya Kulon Progo.
Di Kabupaten Gunungkidul meskipun merupakan kabupaten dengan luas lahan pertanian terbesar,
namun kondisi tanah di Gunungkidul tidak
bisa ditanami
padi sepanjang tahun, hanya beberapa kecamatan saja yang
mendapatkan aliran irigasi. Produksi maksimal padi di Gunungkidul hanya bisa
diandalkan saat musim penghujan. Kultur petani di desa juga lebih
memprioritaskan hasil panen dikonsumsi sendiri, karena harga barang kebutuhan
yang terus beranjak naik, memaksa petani untuk lebih memilih menyimpan hasil
panen dalam bentuk gabah untuk keperluan bahan pokok minimal satu tahun ke
depan daripada dijual. Jadi produksi beras yang dihasilkan
hanya terdistribusi di wilayah setempat.
Meski produksi beras DIY selama tahun 2018 mengalami
defisit, namun posisi strategis DIY sebagai jantung ekonomi di Jawa bagian
selatan dengan didukung sarana transportasi yang lancar antar daerah memudahkan
DIY mendapatkan pasokan beras dari propinsi lainnya. Wilayah DIY bagian barat dan utara yang
berbatasan langsung dengan Jawa Tengah akan mudah mendapatkan pasokan beras
karena produksi beras Jawa Tengah telah mencapai surplus 1,72 juta ton beras. Demikian
juga propinsi Jawa Timur yang menjadi batas wilayah timur DIY telah mengalami
surplus 1,75 juta ton beras.
Tidak akan ada kekhawatiran bagi DIY akan kekurangan
pangan karena defisitnya produksi beras, selama jalur pasokan dari luar
propinsi dibuka. Namun menjadi sebuah pekerjaan besar di masa mendatang bagi
pemerintah DIY, jika memang luas lahan panen tidak bisa ditingkatkan karena
keterbatasan jumlah lahan dan faktor alam, metode apa yang harus dilakukan demi
ketahanan pangan DIY yang dapat berdiri di kaki sendiri. Mungkin bisa dengan mengubah
kebiasaan masyarakat DIY dalam mengkonsumsi bahan pokok selain beras ataupun
cara lainnya.
#Opini ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 8 November 2018

Tidak ada komentar:
Posting Komentar