Senin, 11 Februari 2019

Opini#1 : Era Baru Ketahanan Pangan DIY


Beberapa hari yang lalu dibahas tentang produksi beras di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam waktu yang hampir sama terdapat dua kondisi yang bertolak belakang, Sekretaris Daerah DIY menyatakan bahwa ketersediaan  beras di DIY masih surplus 228.401 ton beras (The Alana Hotel And Convention Center, 31 Oktober 2018). Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY dalam rilis Luas Panen dan Produksi Padi di DIY 2018 menyatakan terjadi defisit sebesar 142 ribu ton (Berita Resmi Statistik, 1 November 2018). Bagaimanakah ketahanan pangan DIY yang sebenarnya?
Perbedaan Metode Penghitungan
Kementerian Pertanian sudah memiliki perhitungan luas panen dan produksi padi (kerjasama dengan BPS) dengan menggunakan metode eye estimate. Metode ini sudah digunakan turun temurun untuk menghasilkan data produksi padi.
Namun sejak tahun 1997 banyak pihak yang meragukan data luas panen padi yang telah dirilis, karena tiap tahun angka rilis cenderung lebih besar bahkan di saat terjadi alih fungsi lahan pertanian. Oleh karena itu BPS memutuskan untuk menghentikan rilis luas panen padi hasil eye estimate sejak 2016, sambil menyiapkan metode lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Tahun 2015 BPS mulai bekerjasama dengan BPPT, Kementerian ATR/BPN, BIG serta LAPAN berupaya memperbaiki metodologi dengan menggunakan metode kerangka Sampel Area (KSA). Metode KSA merupakan metode perhitungan luas panendengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR/BPN dan  dilaksanakan serentak seluruh Indonesia mulai Januari 2018.
Ketahanan Pangan DIY
Berdasarkan metode KSA, diperoleh hasil luas panen padi 2018 (untuk bulan Oktober-Desember perkiraan potensi) sebesar 92 ribu hektar dengan luas panen tertinggi di kabupaten Gunungkidul sebesar 31 ribu hektar atau sekitar 33%. Total produksi padi 2018 dihasilkan 498 ribu ton Gabah Gering Giling (GKG). Jika dilakukan konversi ke beras senilai 281 ribu ton beras. Setelah dikurangi dengan angka konsumsi per kapita per propinsi tahun 2017, produksi beras di DIY mengalami defisit 142 ribu ton beras. Walaupun secara nasional angka produksi beras tetap surplus hingga 2,85 juta ton beras, namun angka itu tidak dihasilkan dari lahan di DIY.
Maraknya alih fungsi lahan pertanian akibat laju pembangunan di DIY, terutama pembangunan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) sedikit banyak telah mengurangi luas lahan pertanian di DIY khususnya Kulon Progo. Di Kabupaten Gunungkidul meskipun merupakan kabupaten dengan luas lahan pertanian terbesar, namun kondisi tanah di Gunungkidul tidak bisa ditanami padi sepanjang tahun, hanya beberapa kecamatan saja yang mendapatkan aliran irigasi. Produksi maksimal padi di Gunungkidul hanya bisa diandalkan saat musim penghujan. Kultur petani di desa juga lebih memprioritaskan hasil panen dikonsumsi sendiri, karena harga barang kebutuhan yang terus beranjak naik, memaksa petani untuk lebih memilih menyimpan hasil panen dalam bentuk gabah untuk keperluan bahan pokok minimal satu tahun ke depan daripada dijual. Jadi produksi beras yang dihasilkan hanya terdistribusi di wilayah setempat.
Meski produksi beras DIY selama tahun 2018 mengalami defisit, namun posisi strategis DIY sebagai jantung ekonomi di Jawa bagian selatan dengan didukung sarana transportasi yang lancar antar daerah memudahkan DIY mendapatkan pasokan beras dari propinsi lainnya.  Wilayah DIY bagian barat dan utara yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah akan mudah mendapatkan pasokan beras karena produksi beras Jawa Tengah telah mencapai surplus 1,72 juta ton beras. Demikian juga propinsi Jawa Timur yang menjadi batas wilayah timur DIY telah mengalami surplus 1,75 juta ton beras.
Tidak akan ada kekhawatiran bagi DIY akan kekurangan pangan karena defisitnya produksi beras, selama jalur pasokan dari luar propinsi dibuka. Namun menjadi sebuah pekerjaan besar di masa mendatang bagi pemerintah DIY, jika memang luas lahan panen tidak bisa ditingkatkan karena keterbatasan jumlah lahan dan faktor alam, metode apa yang harus dilakukan demi ketahanan pangan DIY yang dapat berdiri di kaki sendiri. Mungkin bisa dengan mengubah kebiasaan masyarakat DIY dalam mengkonsumsi bahan pokok selain beras ataupun cara lainnya.  

#Opini ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 8 November 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?