Minggu, 18 Februari 2018

BEKAM


Pernahkah anda bekam?

Pertama kali saya bekam ketika di Pekanbaru sekitar tahun 2009, saat itu saya merasakan sakit kepala yang sangat mengganggu. Bahkan saya seringkali membenturkan kepala saya ke tembok untuk mengurangi sakitnya. Saya tidak berani ke dokter karena membayangkan obat-obatan yang harus saya minum dan diagnosa-diagnosa yang tidak saya harapkan. Terlebih saat itu saya menjadi ibu menyusui, minimalisir asupan kimia ke tubuh. Akhirnya suami memberikan alternatif : bekam.

Apa dan bagaimana bekam itu sempat saya cari infonya lewat internet, karena suami juga belum pernah. Gambar-gambar di internet kok sepertinya membuat saya takut, terlebih ada darah-darah yang harus dikeluarkan... namun demi kesembuhan dan bujukan suami akhirnya saya mau mencoba.

Terapis bekam pertama saya adalah istri salah satu teman kantor suami. Rasanya gimana? Antara takut dan penasaran he...ternyata tidak seperti yang saya bayangkan dan takutkan, bekam di punggung meski mengeluarkan darah namun pasien tidak bisa melihat langsung. Hanya merasakan bagaimana titik-titik bekam di-kop (biasanya sekitar 8 titik) menggunakan alat seperti gelas kecil, kemudian ditusuk jarum untuk mengeluarkan darahnya.Tusukan-tusukan jarum itupun hanya terasa seperti ditusuk ujung pensil mekanik. Bagi saya tak terasa sakit. Setelah bekam biasanya badan terasa agak lemah karena banyaknya darah yang dikeluarkan. Namun masing-masing orang akan beda efeknya. Yang sama biasanya efek tidur, setelah bekam badan terasa ini istirahat dan bisa tertidur dengan pulas. Intinya saya tidak kapok untuk bekam lagi, terlebih atas kuasa Allah ikhtiar bekam ini telah menyembuhkan sakit kepala saya.

Di Pekanbaru saya sudah mencoba bekam di 3 terapis berbeda, tapi secara umum testimoninya hampir sama. Tidak ada rasa ngeri dan takut. Hanya saja saya belum berani mencoba bekam dengan metode sayatan pisau, jadi setelah di-kop titik bekamnya digunakanlah pisau kecil untuk membuat sayatan agar darah kotor yang dikeluarkan lebih banyak. Terapis bekam metode ini sebenarnya ada di rumah sakit dekat kantor, namun hingga saya pindah tetap tidak berani. Terbayang sayatan pisau nya hii....

Saat 1,5 tahun tinggal di Bandung, saya juga beberapa kali melakukan bekam di terapis dekat rumah. Kalau terapis ini memang mengkhususkan kliniknya untuk bekam dan ruqyah, cukup 5 menit jalan dari rumah Antapani sudah sampai ke klinik. Sebelum dibekam biasanya dipijat dulu area punggung untuk pemanasan, ada tambahan juga punggung saya dipukul-pukul menggunakan sapu lidi. Tujuan jelasnya saya kurang paham namun masih sekitar untuk pemanasan dan kelancaran peredaran darah. Testimoninya sama dengan terapis bekam di Pekanbaru, tidur pulas setelah bekam :-)

Foto Sri Suharti.

Ketika pindah di Jogja saya mulai mencari juga via internet beberapa tempat bekam. Akhirnya bertemu dengan klinik ini. Awalnya saya kesini meniatkan diri untuk mencari krim aman dan halal untuk dipakai di tanah suci, ternyata klinik ini juga melayani terapi bekam. Akhirnya beberapa hari sebelum ke tanah suci saya melakukan bekam disini. Tempatnya bagi saya nyaman banget dan sangat aman untuk muslimah. Satu lagi nilai lebihnya yang saya suka....desain interiornya cantik dominasi warna hijau muda yang lembut dan menyejukkan. Saya selalu terinspirasi untuk menerapkan di rumah, kebetulan lantai keramik rumah warna hijau jadi cari warna perabot rumah yang serasi. Meski sampai sekarang yang sama baru warna kursi sofanya, butuh modal besar juga untuk buat desain interior rumah secantik klinik ini he...

Foto Sri Suharti.

Buat muslimah di Jogja, silakan mampir ke klinik ini jika berniat mencoba bekam. Nikmati kenyamanan plus keamanan aurat muslimah di klinik ini. Rasakan juga kecantikan desain interiornya atau mungkin juga mau mencoba perawatan wajahnya, insya Allah halal dan menjadi bagian dari sedekah kita. Maaf jika tulisan ini mengandung promosi he...
#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe5

Kamis, 15 Februari 2018

B-O-N-U-S

Ketika keluar dari rutinitas yg setiap hari kita lakukan dan mempunyai "waktu lebih" sedikit aja....itulah sebuah bonus.


Saat "waktu lebih" itu punya saya namun hakikatnya bonus buat semua orang dirumah.Kenapa? Karena diri ini bukanlah lagi milik hak pribadi seorang, sudah ada prioritas yg lebih tinggi yaitu untuk suami dan anak2.
Bukan hanya saya lho....dominan emak2 punya sifat seperti itu, berkorban waktu dan kesempatan untuk suami dan anak2 itu adalah hal yg sangat biasa, bahkan terkadang "me time" untuk emak itu jadi sesuatu hal yg langka. Pun jika akhirnya pagi itu ketika ada "waktu lebih" buat saya namun akhirnya harus habis untuk urusan keluarga.

Disaat saya biasa berangkat kerja jam 6 pagi, hari itu saya dapat dispensasi mundur 6 jam (meski waktu pulang juga jadi mundur 3 jam), namun tetap untung kalo menggunakan perhitungan matematika he...
Pagi saya bisa full membersamai anak2 menjelang berangkat sekolah, mulai menyiapkan sarapan, menemani mereka menghabiskan suapan demi suapan, bahkan sempat menyuapkan beberapa sendok ke mulut anak yg masih lama makannya. Lanjut memastikan buku sudah terjadwal semua di tas, mempercepat mereka memakai sepatu, dan melepas kepergian mereka ke sekolah.

Jika biasanya suami yang terakhir berangkat ke kantor dan harus menyiapkan semuanya sendiri, pagi itu saya bisa full menyiapkan kebutuhan suami, mulai dari sarapan dirumah, memastikan baju seragam dan kelengkapannya OK, dan melepas beliau ke tempat kerja. Lega rasanya jika anak dan suami sudah berangkat ke tempat aktivitas mereka dengan bahagia dan tidak terlambat.

Tugas pagi belum selesai...lanjut antar si bungsu ke tempat mbah yang ngasuh, meski saya berangkat siang hari, namun jika si kecil tahu jadwal saya bisa2 saya gagal berangkat kerja hari itu. Bocah ini cerdas luar biasa, saya harus menata ucapan agar tidak salah dan digugat di kemudian hari. Termasuk jika hari itu saya berangkat lebih siang dan menuju ke tempat favorit dia :-)

Setelah rumah sepi...mulailah "si inem" bertugas : sapu halaman rumah, beres2 ruang tamu, mengurus jemuran kemarin yg belum kering sambil memutar mesin cuci untuk baju2 kotor yg menumpuk, dan pekerjaan rumah lainnya yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Dengan sebuah harapan bahwa sebelum berangkat nanti semua pekerjaan itu bisa terselesaikan.

Menit demi menit, jam demi jam berlalu dan ternyata sudah saatnya berangkat kerja....dan saya harus mengakhiri aktivitas saya dengan tugas2 kerumahtanggaan,  meski daftar pekerjaan rumah belum juga selesai.

Namun patutlah bonus waktu pagi itu disyukuri, insya Allah saat suami n anak pulang sore, rumah sudah rapi :-)
Oya plus pagi itu saya bisa juga ikut menyimak kulwap di grup Jogja#1, berbagi ilmu via online.

Alhamdulillah....Nikmat Allah manakah yang engkau dustakan?

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe4

MENUJU KANTOR

Setiap orang punya cerita, setiap orang punya derita, setiap orang punya bahagia, namun tidak semua orang punya...hikmah.


Rumah dan kantor adalah 2 hal tak terpisahkan sejak akhir 2004, dan selama hampir 14 tahun muncullah memory beberapa gedung di negeri ini yg telah disinggahi. Posisi sekarang adalah kantor ke 5 saya...

Senang? Alhamdulillah...tentu saja, bisa berkantor di tanah kelahiran sendiri (meski posisi masih geser GPS nya dari rumah masa kecil :-) ), bisa sering birrul walidain, ketemu teman2 lama dll...
Deritanya...ada juga lah. Ini kantor yg paling jauh dari rumah diantara 4 kantor lainnya, jadi selalu ada perjuangan untuk pp rumah-kantor. Awal2 saya menganggapnya sebagai sebuah derita, namun seiring perjalanan 2 tahun ternyata banyak hikmah yg didapat. Terpenting suami ikhlas melepas saya ke kantor lebih pagi...dan pulang kerumah lebih malam...Apa saja hikmahnya? Banyaaak...mungkin satu judul tulisan tersendiri :-)

Standar saya, perjalanan ke kantor ditempuh 1,5 jam, itu pun sudah mepet antara telat atau tidak he...
Diawali dgn naik motor dari rumah sekitar 9 km ke tempat penitipan motor, bayar harian disini Rp 2.000,- . Dilanjutkan dengan menunggu bis, faktor rejeki sangat mempengaruhi. Kadang dapat bis besar nyaman dan cepat, kadang dapat bis kecil yg sempit n lambat. Bis ini menempuh jarak sekitar 20-25 km dgn rute yg naik turun n berbelok2. Ongkosnya untuk penumpang langganan (lajon) Rp 6.000,- sekali trip. Untuk penumpang reguler Rp 10.000,- diluar masa liburan dan hari raya...bisa 2x ongkosnya :-)

Bis ini melewati 4 kab/kota lho...meski jaraknya hanya segitu, yaitu kota Jogja, kab Sleman, kab Bantul barulah masuk kab Gunungkidul.
Setelah jarak tersebut terlampaui turunlah saya di kab tujuan, namun untuk menuju ke kantor masih ada jarak 5 km dari turun bis. Bisa naik ojek dgn Rp 10.000,- atau biasanya sesama lajon menitipkan motornya di lokasi turun bis tadi, termasuk saya. Biaya penitipan motor langganan Rp 30.000,- sebulan.

Sepuluh menit berkendara...sampailah saya di kantor disambut mesin handkey dan segelas teh manis anget obat masuk angin n mabuk di bis :-)

Satu lagi...kabupaten ini kan destinasi wisata yg terkenal di jogja dengan pantai2nya. Karena saya udah pagi sore lewat rute ini maka ketika diajak suami atau saudara piknik ke pantai daerah sini saya langsung bilang...NO!
Senin-Jumat saya sudah "meng-ukur" jalanan ini, apa Sabtu Ahad perlu saya ukur lagi? Masih banyak tempat piknik yg gak lewat rute ini. Ha...haa....

Jadi yg berniat pindah kesini dan gak mau naik motor PP rumah-kantor, silakan pelajari rute di atas he...
Gak perlu baper lah, pejuang2 lajon seperti saya n beberapa teman kantor ini banyaaaaaak....ibu2 guru yg sudah puluhan tahun menikmati ritme lajon, pegawai pemda yg gak pernah tinggal di teritorial wilayah kerjanya dll.

Salam dari ketinggian, Jogja Lantai 2 !!!

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe3

Sabtu, 03 Februari 2018

Olahraga Ala Emak


Tak salah lagi jika emak itu harus sehat dan kuat, apa kuncinya? Makan bergizi, istirahat cukup dan rutin olahraga. Kenyataannya?
Saya sih belum pernah buat survei ke emak2, cuma dilihat dari kacamata sesama emak rempong jawaban atas 3 syarat itu : NO!!!

Makan : lebih sering sesi terakhir setelah suami n anak dapat jatah semua (kecuali pas ada jadwal pelatihan he...) bahkan mungkin sekali tugasnya habisin makan si balita n anak lainnya, atau malah habisin nasi, lauk n sayur kemarin yg sayang jika dibuang+semua orang dirumah sudah menolak he....

Istirahat cukup : waduh kerjaan rumah itu lebih banyak dari 24 jam waktu yg ada, bahkan ada pepatah mengatakan "emak itu bangun paling pagi n tidur paling malam", belum lagi kalo masih punya bayi atau balita bisa 3-5x bangun di jam tidur. Lha jadi kapan tidurnya???

Olahraga : lha ini yg sebenarnya saya mau cerita, emak olahraga ini banyak banget godaannya. Sabtu pagi saatnya olahraga tergoda buat turun ke dapur siapin sarapan anak2 yg mau ekskul, Ahad pagi pas banget buat olahraga malah sudah di depan tv ditemani baju segunung yg mau disetrika :-)

Tapi hari ini saya berhasil saudara2... untuk sedikit melemaskan kaki2 yg mulai kaku akibat lama duduk di kantor, bis dan motor. Pagi2 dah ijin suami mau jalan pagi mumpung balita masih tidur nyenyak. Ajak anak2 yg lain tidak berminat, lebih milih aktivitas sepeda di sekitar rumah.

Akhirnya berjalan lah emak rempong ini sendirian dgn semanga 2018, melewati pinggir sawah dan menyeberangi jembatan (kelihatan ya rumah ndeso....). Dan Alhamdulillah 20 menit jalan pagi sudah tercapai dgn tujuan akhir : PASAR :-)

Tetep aja emak gak mau rugi, harus multitasking. Niat olahraga tetep tujuannya bisa dapat belanja sayur n sarapan pagi. Katanya sekali menyelam dua pulau terlampaui he....

Dan pulang dari pasar jalan lagi? Enggaklah...dengan tangan kanan n kiri penuh belanjaan, segera telpon suami di rumah buat jemput ha...ha ....haaa...

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe2

Sidang Tilang

Hari ini dapat challenge menulis dari grup emak-emak, pas banget dapat cerita tentang sidang tilang yg dialami sendiri, kisah nyata lho :-)

Ini adalah jadwal sidang saya yang ke-3, setelah sidang skripsi dan sidang tesis he…tapi tetep saja yang namanya sidang selalu buat deg-degan. Tanya ke suami belum pernah, tanya ke beberapa teman kantor juga belum pernah. Ok lah…kita hadapi hari ini dengan optimis, Jumat berkah insya Allah.

Jadi cerita ini diawali ketika suatu pagi saat mengejar 7.30 di kantor, saya didekati bapak polisi saat berhenti di lampu merah.Langsung lah pak polisi itu menanyakan SIM n STNK motor, saya sih santai saja karena selama ini pas ada razia selalu lolos. Surat-surat lengkap.
Ternyataaaa….motor saya disuruh pinggirkan dan diarahkan ke pak polisi lain yang yang lagi nulis2 di kertas biru dan pink. Akhirnya dituliskanlah surat tilang atas nama saya hiks….alasannya lampu motor saya tidak dinyalakan di pagi itu.
Meski  sedih namun gak boleh baper…harus move on, langsung segera tancap gas ke kantor dan saya tidak telat  Ketidak telatan ini seperti sebuah oase di tengah gurun…..

Eh lanjut ya…
Hari ini jadwal sidang jam 09.00, saya datang ke kantor Kejaksaan jam 09.10, dan sudah penuh parkiran plus orang-orang disana. Sendirian saya menyibak kerumunan orang dan berdiri di samping beberapa polisi yang duduk di ruangan itu.
“Pak saya mau kumpulkan surat tilang.” kata saya
“ Tanggal sidangnya pastikan hari ini sudah benar bu? “ jawab polisi itu.
“Iya pak sudah benar, tanggal 2 Februari jam 09.00”, sambil saya sodorkan surat tilang pink.
“Oh ibu sudah transfer di bank ya sebelumnya? Langsung saja dikumpulkan di meja sebelah bu, nanti langsung dipanggil ambil STNK nya” kata polisi lagi.
Saya baru inget ternyata pas siang setelah ditilang, saya dapat sms untuk membayar 50 ribu via bank. Ok lah…masih berharap tidak ikut sidang saya segera bayar di bank, dan saya menunggu-nunggu  ternyata tidak ada sms pembatalan sidang hiks…

Lanjut ya…pas surat tilang saya kumpulkan di meja pengambilan STNK, surat itu harus diantrikan bareng surat-surat yang lain. Artinya saya harus menunggu dipanggil  saat giliran surat tilang saya dicocokkan dengan STNK. Dan akhirnya setalah kurang lebih 15 menit saya menunggu, ada panggilan dari petugas kejaksaan atas nama saya.
Saya datang ke meja petugas, tanda tangan dan STNK kembali ada di tangan saya. Alhamdulillah…gak se ngeri 2 sidang sebelumnya he…
Judul acaranya sidang tilang, tapi kenyataannya datang-bayar-ambil. Semoga bermanfaat ya…

Tips :
1. Hati-hati di jalan, jangan sampai kena tilang 
2. Jika kena tilang, ikuti saja prosedurnya. Pernah sih baca postingan masalah surat tilang biru dan pink, tapi dah gak kepikiran pas di stop polisi he…
3. Jika di sms resmi untuk pembayaran biaya tilang, bayar saja duluan agar antrian gak lama pas ambil stnk
4. Datang ke Kejaksaan pas hari sidang, parkirkan kendaraan di tempat yang mudah keluar lagi. Karena kalau proses sidang cepat tapi pas ambil kendaraan susah karena posisi motor di tengah2 parkiran sama saja jadinya…gak bisa pulang cepat.
5. Kalo datangnya siang mepet sholat Jumat, mungkin gak pake antri ya 
6. Ambil hikmah dari setiap kondisi dan kejadian yang ada di sekitar kita, Allah punya rencana special untuk masing-masing kita

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe1




Jumat, 26 April 2013

Kematian yang Baik dan Kematian yang Buruk


Kita tidak akan pernah tahu kapan jadwal kematian akan tiba, kita hanya tahu satu : jadwal itu telah tertuliskan bagi setiap diri kita. Hikmah dari waktu yang tidak kita ketahui adalah persiapan yang harus kita lakukan untuk menyambut jadwal kematian tersebut.

Ketika seseorang berakhir dengan Kematian yang Baik (Khusnul Khotimah) maka beribu keutamaan ada padanya. Di dunia saja akan banyak dikenang orang, disebut-sebut semua kebaikannya, banyaknya sahabat dan kerabat yang men-sholatkan, mendoakan dan mengantarkan sampai peristirahatan terakhir. Banyak pula orang yang terinspiorasi dengan momen Kematian yang Baik tersebut, sehingga menggerakkan hati dan jasad mereka menuju kebaikan. Itulah beberapa amalan yang akan dibawa sampai akhirat bagi yang telah terjadwal.

Kematian yang Buruk (Su’ul Khotimah) adalah seburuk-buruk saat kembali kepada Illahi. Tak ada satu orangpun yang menginginkan berakhir dengan kematian yang buruk. Sebelum sampai ke azab kubur, telah nampak beberapa tanda di dunia tentang akhir kehidupannya. Bisa ucapan buruk yang ada di mulutnya, berada di temapat maksiat saat jadwal itu datang ataupun terbukalah aib selama di dunia yang selalu ditutupi.

Sudah sampai manakah persiapan kita?

Jika Kematian yang Baik kita harapkan, janganlah tunda-tunda melaksanakan kebaikan, jauhkanlah niat-niat keburukan dan tinggalkanlah masa lalu yang kelam.

Kenangan buruk di masa lalu akan mudah tertutupi dengan kebaikan di masa sekarang dan masa depan.

Tidak ada kata terlambat untuk mengawali sebuah perubahan kebaikan…..TAUBAT…..

Janganlah sekali-kali berharap kematian yang buruk, susah di dunia dan susah di akhirat.


Mulai saat ini,

pada diri sendiri

kita segera perbaiki

menyambut jadwal yang harus ditepati…..


26 April 2013, saat wafatnya Ust Jeffry Al Buchori

Selasa, 16 April 2013

Cerpen (1) : KETIKA HUJAN REDA


Tetes hujan sore ini telah membasahi jendela kamarku. Menyisakan embun-embun kesejukan yang memungkinkanku mengukir sebuah nama di kaca-kaca itu. Pun dari kejauhan pandangan mataku, atap-atap rumah sekelilingku telah terbasahi rintik-rintik hujan yang tidak terlalu lebat. Entah mengapa suasana seperti sudah terlalu akrab dengan diriku. Kesendirian dalam kesunyian kamar, ditemani lantunan tembang dari radio tape di meja dan kembali ditemani tetes-tetes hujan yang membasahi bumi. Suasana yang mengingatkanku akan sebuah nama yang selalu terukir di hati, tidak bisa hilang dan aku sendiri tidak pernah berniat untuk menyingkirkan ataupun menghilangkan. Biarlah sosok itu terus menjadi semangat disetiap langkahku... BUNDA!

-***-

“Bunda, Adek pengen menyentuh hujan”, pintaku pada Bunda di suatu sore, masih dalam suasana hujan.

“Boleh Bunda?” tanyaku meyakinkan.

Tiada jawaban ya maupun tidak, hanya sebuah senyuman penuh arti dari bibir Bundaku. Seolah-olah tanpa terucap tapi bisa menjawab,

“Adek, Bunda sayang sama Adek. Jangan main di luar ya nak. Hujan tidak selalu bersahabat dengan kita. Hujan akan membuat kita basah, sama seperti air mata yang telah membasahi wajah kita”, kata Bunda menerawang.

Tiada yang kumengerti ketika itu hanya sebuah kekecewaan,

“Ah, Bunda pelit” marahku.

“Adek hanya pengen keluar sebentar. Banyak teman Adek yang main hujan di luar” pintaku lebih meyakinkan.

Lagi-lagi jawaban Bundaku hanyalah sebuah senyuman. Tetap sama, tanpa suara tapi kaya makna. Yang menurutku masih berupa teka-teki.

-***-

“Bunda, Adek boleh masuk SMP 1?”

Disela istirahat sore aku membuka percakapan dengan Bundaku. Hasil ujian kemarin Alhamdulillah telah menjadikanku juara umum di SD. Dan sekaranglah saatnya menentukan jenjang yang lebih tinggi. Keinginan masuk SMP 1, SMP favorit di kotaku, membuat aku semakin semangat untuk belajar. Bayangan-bayangan keceriaan dan kebanggaan bersekolah di sana telah melambai-lambai di pelupuk mataku.

Kunanti jawaban Bunda, kuamati wajah beliau. Tampak wajah lelah di sana, setelah seharian berkutat dengan rutinitas mengajar di dua tempat yang berbeda. Garis-garis wajah Bunda menyiratkan perjuangan yang tak pernah selesai. Posisi dan peranan Bunda sebagai single parent bagiku, seorang Farah Andini, terlihat berat.

Tetapi lagi-lagi kudapatkan jawaban penuh kearifan pada diri Bunda. Senyuman tulus tetap menghiasi bibirnya.

“Asal Adek mantap dengan keputusan dan sadar dengan resiko yang diambil, Bunda ikhlaskan semua keputusan pada Adek”, kata Bunda kemudian.

“Bunda menilai Adek telah mampu menentukan pilihan yang tepat untuk masa depan Adek”, lanjut beliau.

“Selama ini demi kebaikan, Bunda akan selalu mendukung”.

Akhirnya jawaban yang kunantikan keluar juga, izin dari Bunda. Tapi mengapa setelah Bunda memberikan keikhlasannya justru aku merasa semakin belum siap berpisah dengan Bunda.

Sekolah yang kuimpikan ada di ibukota propinsi, mau tidak mau aku harus meninggalkan Bunda di rumah ini sendirian. Oh ya Bunda tidak sendirian, ada Mbak Sari yang selama ini membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah. Tapi tetap saja Bunda merasa sendiri, setelah Ayah meninggal dan kini aku harus pergi dari rumah.

“Bunda, walaupun berat hati ini pergi dari dekapan Bunda tapi aku yakin keikhlasan Bunda melepasku akan menjadi semangat dan doa untukku...”, ucapku lirih.

-***-

Sudah berapa ribu kali hujan sore tidak bisa kunikmati bersama Bunda di sampingku. Masa-masa SMP yang banyak aktivitas membuatku agak jarang pulang, walaupun perjalanan ke rumah tak pernah mencapai 6 jam tetapi tetap saja dikatakan aku jarang pulang. Hanya telepon-telepon Bunda ke kos yang senantiasa membuatku rindu pada sosok beliau, itulah spirit dan semangatku. Pun pada akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMU dan kuliah di kota yang sama, semakin jarang aku pulang. Terlebih beban tugas dan amanah aktivitas organisasiku yang semakin bertumpuk. Dan Bunda tetap setia menemaniku diantara deringan telepon di waktu malam.

-***-

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Seorang Farah Andini telah meraih kesarjanaan.

“Bunda, Adek telah menjadi Farah Andini, ST”, teriak kegembiraanku pada Bunda.

“Sekarang masih pantaskah dipanggil Adek?”, lanjutku kemudian.

Dan yang kulihat saat itu, Bunda menangis! Mengapa?

Dalam setiap percakapan maupun diskusi-diskusi panjang ketika di rumah, Bunda selalu mengawali dan mengakhiri dengan senyuman. Tapi kenapa di saaat kebahagiaan ini hadir di hatiku Bunda menangis?

“Dek, maafin Bunda yang tak mampu memberikan yang lebih pada Adek,” kata beliau di sela isakannya.

“Hanya ini yang bisa Bunda berikan pada Adek, Bunda mengantarkan sampai disini. Selanjutnya Adek harus mampu tegak berdiri sendiri.”, Bunda tetap mencoba tersenyum.

“Tapi yakinlah, Farah Andini tetap seorang Adek bagi Bunda”, lanjutnya.

Pecah sudah benteng pertahanan air mataku, kata-kata Bunda memaksaku untuk menangis. Kurengkuh tubuh Bunda, aku ingin selalu ada dalam dekapannya.

“Bunda, bantu Adek agar mampu memaknai setiap jerih payah perjuangan Bunda”, ucapku dalam hati.

-***-

Masih ada rintik hujan, sore ini Bunda tentu masih sendiri di dekat jendela kamar depan.

“Bunda, apakah Bunda merasakan hal yang Adek rasakan saat ini?”. Keinginan untuk mengabdi dan mendampingi lagi Bunda setelah lulus kuliah tidak bisa terwujud. Bunda harus aku tinggalkan lagi, lebih jauh lagi di seberang pulau yang dibatasi jarak laut.

“Hujan sore ini menitipkan rindu Adek untuk Bunda. Mengingatkan Adek pada semangat dan perjuangan Bunda,” kataku lirih di depan jendela.

“Keikhlasan dan keridhoan Bunda tak akan pernah tergantikan. Bunda, maafkan Adek yang belum bisa banyak berbakti pada Bunda.”

Rintik hujan telah berhenti, namun aku yakin doa dan kasih Bunda tidak akan pernah sirna dan berhenti, walau jauh di seberang lautan sana.
untuk Bunda : Makassar, 2005

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?