Jumat, 26 April 2013

Kematian yang Baik dan Kematian yang Buruk


Kita tidak akan pernah tahu kapan jadwal kematian akan tiba, kita hanya tahu satu : jadwal itu telah tertuliskan bagi setiap diri kita. Hikmah dari waktu yang tidak kita ketahui adalah persiapan yang harus kita lakukan untuk menyambut jadwal kematian tersebut.

Ketika seseorang berakhir dengan Kematian yang Baik (Khusnul Khotimah) maka beribu keutamaan ada padanya. Di dunia saja akan banyak dikenang orang, disebut-sebut semua kebaikannya, banyaknya sahabat dan kerabat yang men-sholatkan, mendoakan dan mengantarkan sampai peristirahatan terakhir. Banyak pula orang yang terinspiorasi dengan momen Kematian yang Baik tersebut, sehingga menggerakkan hati dan jasad mereka menuju kebaikan. Itulah beberapa amalan yang akan dibawa sampai akhirat bagi yang telah terjadwal.

Kematian yang Buruk (Su’ul Khotimah) adalah seburuk-buruk saat kembali kepada Illahi. Tak ada satu orangpun yang menginginkan berakhir dengan kematian yang buruk. Sebelum sampai ke azab kubur, telah nampak beberapa tanda di dunia tentang akhir kehidupannya. Bisa ucapan buruk yang ada di mulutnya, berada di temapat maksiat saat jadwal itu datang ataupun terbukalah aib selama di dunia yang selalu ditutupi.

Sudah sampai manakah persiapan kita?

Jika Kematian yang Baik kita harapkan, janganlah tunda-tunda melaksanakan kebaikan, jauhkanlah niat-niat keburukan dan tinggalkanlah masa lalu yang kelam.

Kenangan buruk di masa lalu akan mudah tertutupi dengan kebaikan di masa sekarang dan masa depan.

Tidak ada kata terlambat untuk mengawali sebuah perubahan kebaikan…..TAUBAT…..

Janganlah sekali-kali berharap kematian yang buruk, susah di dunia dan susah di akhirat.


Mulai saat ini,

pada diri sendiri

kita segera perbaiki

menyambut jadwal yang harus ditepati…..


26 April 2013, saat wafatnya Ust Jeffry Al Buchori

Selasa, 16 April 2013

Cerpen (1) : KETIKA HUJAN REDA


Tetes hujan sore ini telah membasahi jendela kamarku. Menyisakan embun-embun kesejukan yang memungkinkanku mengukir sebuah nama di kaca-kaca itu. Pun dari kejauhan pandangan mataku, atap-atap rumah sekelilingku telah terbasahi rintik-rintik hujan yang tidak terlalu lebat. Entah mengapa suasana seperti sudah terlalu akrab dengan diriku. Kesendirian dalam kesunyian kamar, ditemani lantunan tembang dari radio tape di meja dan kembali ditemani tetes-tetes hujan yang membasahi bumi. Suasana yang mengingatkanku akan sebuah nama yang selalu terukir di hati, tidak bisa hilang dan aku sendiri tidak pernah berniat untuk menyingkirkan ataupun menghilangkan. Biarlah sosok itu terus menjadi semangat disetiap langkahku... BUNDA!

-***-

“Bunda, Adek pengen menyentuh hujan”, pintaku pada Bunda di suatu sore, masih dalam suasana hujan.

“Boleh Bunda?” tanyaku meyakinkan.

Tiada jawaban ya maupun tidak, hanya sebuah senyuman penuh arti dari bibir Bundaku. Seolah-olah tanpa terucap tapi bisa menjawab,

“Adek, Bunda sayang sama Adek. Jangan main di luar ya nak. Hujan tidak selalu bersahabat dengan kita. Hujan akan membuat kita basah, sama seperti air mata yang telah membasahi wajah kita”, kata Bunda menerawang.

Tiada yang kumengerti ketika itu hanya sebuah kekecewaan,

“Ah, Bunda pelit” marahku.

“Adek hanya pengen keluar sebentar. Banyak teman Adek yang main hujan di luar” pintaku lebih meyakinkan.

Lagi-lagi jawaban Bundaku hanyalah sebuah senyuman. Tetap sama, tanpa suara tapi kaya makna. Yang menurutku masih berupa teka-teki.

-***-

“Bunda, Adek boleh masuk SMP 1?”

Disela istirahat sore aku membuka percakapan dengan Bundaku. Hasil ujian kemarin Alhamdulillah telah menjadikanku juara umum di SD. Dan sekaranglah saatnya menentukan jenjang yang lebih tinggi. Keinginan masuk SMP 1, SMP favorit di kotaku, membuat aku semakin semangat untuk belajar. Bayangan-bayangan keceriaan dan kebanggaan bersekolah di sana telah melambai-lambai di pelupuk mataku.

Kunanti jawaban Bunda, kuamati wajah beliau. Tampak wajah lelah di sana, setelah seharian berkutat dengan rutinitas mengajar di dua tempat yang berbeda. Garis-garis wajah Bunda menyiratkan perjuangan yang tak pernah selesai. Posisi dan peranan Bunda sebagai single parent bagiku, seorang Farah Andini, terlihat berat.

Tetapi lagi-lagi kudapatkan jawaban penuh kearifan pada diri Bunda. Senyuman tulus tetap menghiasi bibirnya.

“Asal Adek mantap dengan keputusan dan sadar dengan resiko yang diambil, Bunda ikhlaskan semua keputusan pada Adek”, kata Bunda kemudian.

“Bunda menilai Adek telah mampu menentukan pilihan yang tepat untuk masa depan Adek”, lanjut beliau.

“Selama ini demi kebaikan, Bunda akan selalu mendukung”.

Akhirnya jawaban yang kunantikan keluar juga, izin dari Bunda. Tapi mengapa setelah Bunda memberikan keikhlasannya justru aku merasa semakin belum siap berpisah dengan Bunda.

Sekolah yang kuimpikan ada di ibukota propinsi, mau tidak mau aku harus meninggalkan Bunda di rumah ini sendirian. Oh ya Bunda tidak sendirian, ada Mbak Sari yang selama ini membantu pekerjaan-pekerjaan di rumah. Tapi tetap saja Bunda merasa sendiri, setelah Ayah meninggal dan kini aku harus pergi dari rumah.

“Bunda, walaupun berat hati ini pergi dari dekapan Bunda tapi aku yakin keikhlasan Bunda melepasku akan menjadi semangat dan doa untukku...”, ucapku lirih.

-***-

Sudah berapa ribu kali hujan sore tidak bisa kunikmati bersama Bunda di sampingku. Masa-masa SMP yang banyak aktivitas membuatku agak jarang pulang, walaupun perjalanan ke rumah tak pernah mencapai 6 jam tetapi tetap saja dikatakan aku jarang pulang. Hanya telepon-telepon Bunda ke kos yang senantiasa membuatku rindu pada sosok beliau, itulah spirit dan semangatku. Pun pada akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan SMU dan kuliah di kota yang sama, semakin jarang aku pulang. Terlebih beban tugas dan amanah aktivitas organisasiku yang semakin bertumpuk. Dan Bunda tetap setia menemaniku diantara deringan telepon di waktu malam.

-***-

Tak terasa waktu sangat cepat berlalu. Seorang Farah Andini telah meraih kesarjanaan.

“Bunda, Adek telah menjadi Farah Andini, ST”, teriak kegembiraanku pada Bunda.

“Sekarang masih pantaskah dipanggil Adek?”, lanjutku kemudian.

Dan yang kulihat saat itu, Bunda menangis! Mengapa?

Dalam setiap percakapan maupun diskusi-diskusi panjang ketika di rumah, Bunda selalu mengawali dan mengakhiri dengan senyuman. Tapi kenapa di saaat kebahagiaan ini hadir di hatiku Bunda menangis?

“Dek, maafin Bunda yang tak mampu memberikan yang lebih pada Adek,” kata beliau di sela isakannya.

“Hanya ini yang bisa Bunda berikan pada Adek, Bunda mengantarkan sampai disini. Selanjutnya Adek harus mampu tegak berdiri sendiri.”, Bunda tetap mencoba tersenyum.

“Tapi yakinlah, Farah Andini tetap seorang Adek bagi Bunda”, lanjutnya.

Pecah sudah benteng pertahanan air mataku, kata-kata Bunda memaksaku untuk menangis. Kurengkuh tubuh Bunda, aku ingin selalu ada dalam dekapannya.

“Bunda, bantu Adek agar mampu memaknai setiap jerih payah perjuangan Bunda”, ucapku dalam hati.

-***-

Masih ada rintik hujan, sore ini Bunda tentu masih sendiri di dekat jendela kamar depan.

“Bunda, apakah Bunda merasakan hal yang Adek rasakan saat ini?”. Keinginan untuk mengabdi dan mendampingi lagi Bunda setelah lulus kuliah tidak bisa terwujud. Bunda harus aku tinggalkan lagi, lebih jauh lagi di seberang pulau yang dibatasi jarak laut.

“Hujan sore ini menitipkan rindu Adek untuk Bunda. Mengingatkan Adek pada semangat dan perjuangan Bunda,” kataku lirih di depan jendela.

“Keikhlasan dan keridhoan Bunda tak akan pernah tergantikan. Bunda, maafkan Adek yang belum bisa banyak berbakti pada Bunda.”

Rintik hujan telah berhenti, namun aku yakin doa dan kasih Bunda tidak akan pernah sirna dan berhenti, walau jauh di seberang lautan sana.
untuk Bunda : Makassar, 2005

Jumat, 12 April 2013

Kehidupan di Luar Sana

Tugas utama seorang surveyor adalah mengumpulkan data baik secara individu, keluarga maupun perusahaan. Pun pada saat ini saya mendapatkan tugas dari pimpinan mengumpulkan data pengeluaran rumah tangga selama 3 bulan terakhir. Data yang diambil adalah rumah tangga dengan golongan pendapatan rendah, menengah dan tinggi.

Mulailah awal minggu ini saya berkelana mencari responden yang cocok dan kooperatif untuk dimintai keterangan. Bukan hal yang mudah karena pertama kita harus mencocokkan dengan range pendapatan yang diperlukan dan yang pasti responden tersebut mempunyai waktu cukup untuk dimintai keterangan. Yah, cukup banyak poin pertanyaan yang harus disampaikan, mulai pengeluaran beras, minyak goreng, sayuran, daging/ikan sampai dengan pembelian mobil/motor. Minimal 30 menit wawancara harus dilakukan.
Setelah saya dapat mewawancarai beberapa responden, secara tidak langsung saya bisa melihat kehidupan responden tersebut setiap hari selama 3 bulan ini. Ada yang berpendapatan tinggi dengan pengeluaran terbesar di pendidikan anak, sehingga secara umum kehidupan keseharian mereka biasa saja. Tak ada kesan sama sekali bahwa keluraga tersebut mempunyai pendapatan yang tinggi. Ada yang berpendapatan menengah dengan konsumsi makanan jadi ( nasi bungkus, bakso, soto, mie ayam dan lain-lain) tinggi, sehingga hampr sebagian besar pengeluaran hanya untuk makanan. Alasan keluarga tersebut tidak memasak sendiri adalah alasan kepraktisan, toh saya sebagai surveyor tidak mempunyai hak untuk memberikan keputusan baik atau tidak akan pola kehidupan keluarganya seperti ini. Ada pula rumah tangga yang berpenghasilan minim namun sang ayah adalah perokok berat. Untuk belanja sayur saja pas-pasan tapi untuk membeli sebungkus rokok seperti sebuah kewajiban. Ternyata seperti itulah kehidupan beberapa keluarga di luar sana. Ada yang patut kita contoh, ada pula yang membuat kita prihatin.

Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, namun ketika ketika masuk ke halamannya kita akan semakin tahu bahwa ada pula yang kuning, bahkan mulai mengering. Nikmati dan syukuri rezeki yang ada di keluarga kita hari ini …..

Senin, 01 April 2013

Efek Pindah-pindah Kota

Saat memasuki masa kuliah, saya harus meninggalkan kota kelahiran menuju ibu kota Jakarta. 4 tahun hidup sebagai mahasiswa di Jakarta, memaksa saya untuk akrab dengan rutinitas Jakarta sekaligus alat transportasi yang hemat, cepat dan tepat. Mau tidak mau saya harus menghafal rute bus, angkot termasuk jalan-jalan utama yang dilewati angkutan umum tersebut. Secara umum, saya kategorikan sukses pengembaraan di Jakarta. Kenapa? Ketika ada orang tanya letak suatu tempat, saya sudah bisa membayangkan tempat tersebut serta memperkirakan angkutan apa yang lewat daerah itu.
Episode kedua adalah pengembaraan di pulau Sulawesi, kota Makassar. Meski tidak lama pengembaraan disini tapi cukuplah mengisi memori tentang pete-pete yang harus dinaiki jika hendak ke Al Markaz, atau hendak ke UNHAS. Selain itu juga saya sudah mulai terbiasa membentang peta kota Makassar yang menjadi panduan untuk berkeliling. Cukuplah 1 tahun di kota Makassar.....
Episode ketiga, kehidupan kota Bandung. Agak berbeda ketika memasuki kota ini, bekal awal yang disiapkan adalah peta dan sepeda motor. Meski awal perjalanan di kota ini bingung karena banyak jalan yang satu arah, sehingga sempat membuat polisi kota Bandung meniup peluit.....(baca : tilang).
Akhirnya episode di Bandung diakhiri setelah 1,5 tahun melintasi jalan-jalan di kota Bandung.
Last but not least, kota bertuah Pekanbaru di pulau Sumatera. Yakin kalau di kota ini kita harus dan wajib memiliki kendaraan pribadi, Karena kota ini kurang didukung transportasi umu yang bisa mencapai setiap sudut kota.
Setelah Jakarta, Makassar, Bandung, Pekanbaru dan tak terlupa kota kelahiran saya. Maka kebingungan itu sering kali datang.
"Di mana alamat kantornya?"
" Jl Sudirman No. 40"
Langsung lah saat itu kepala saya mulai berdenyut, menata memori yang ada di otak. Menyadarkan kembali dimana kaki ini dipijak. Terbayanglah Jalan Sudirman yang di Jakarta, Makassar, Bandung dan Pekanbaru (satu lagi di kota kelahiran saya).   
Saya harus secara cepat menganalisis kota mana yang sesuai dan mulai membayangkan rute yang dituju. Apabila pikiran masih fresh maka memori di otak akan mudah di sesuaikan, namun jika telah lelah maka ketika yang ditanya Jl Sudirman Pekanbaru, maka yang selalu terbayang di otak adalah Jalan Sudirman Jakarta.
Itulah sedikit cerita, efek dari pindah-pindah kota, banyak pengalaman, banyak cerita dan banyak bahagiaaaaa......:-)

Selasa, 05 Februari 2013

Pekanbaru...Kota Bertuah (1)

8 Oktober 2008, pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota ini, di bandara Sultan Syarif Qasim (SSQ) II. Pada saat itu aku datang dengan mengendong bayi laki-laki usia 2 bulan dan tangan kananku menggandeng balita perempuan usia 2 tahun (karena suamiku bawa barang-barang he...). Jikalau bukan karena suamiku tugas di kota ini, mungkin gak akan kuinjakkan kakiku di kota ini.
Kesan pertama ketika menyusuri jalanan di Pekanbaru (naik taksi) adalah MEWAH. Sebenarnya kemewahan itu terlihat hanya dari satu alasan "lampu jalan yang berwarna-warni". Ya, layaknya pas jelang 17 Agustus di Jakarta, sepanjang Jl Sudirman (jalan utama) nampak lampu berkelap-kelip dengan aksen kupu-kupu, pohon ataupun hanya sekedar bentuk bulat atau panjang. Ternyata setelah kutanyakan ke suami, sepanjang malam dan sepanjang tahun di Pekanbaru ini lampu-lampu berhias selalu ada di sepanjang Jl Sudirman. Cantik dan mewah...
Memasuki pusat kota semakin nampak kemewahan itu, ada kolam air mancur di dekat kantor Walikota dan setelahnya akan nampak kantor Gubernur yang nampak cantik di malam hari. Aturan lalu lintas dengan adanya putaran di depan kantor Gubernur seakan membuat lokasi itu sebagai magnet kota Pekanbaru.
Itu sedikit cerita awal Pekanbaru di 2008, sekarang ......(bersambung) 

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?