Senin, 11 Februari 2019

Opini#1 : Era Baru Ketahanan Pangan DIY


Beberapa hari yang lalu dibahas tentang produksi beras di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam waktu yang hampir sama terdapat dua kondisi yang bertolak belakang, Sekretaris Daerah DIY menyatakan bahwa ketersediaan  beras di DIY masih surplus 228.401 ton beras (The Alana Hotel And Convention Center, 31 Oktober 2018). Sedangkan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY dalam rilis Luas Panen dan Produksi Padi di DIY 2018 menyatakan terjadi defisit sebesar 142 ribu ton (Berita Resmi Statistik, 1 November 2018). Bagaimanakah ketahanan pangan DIY yang sebenarnya?
Perbedaan Metode Penghitungan
Kementerian Pertanian sudah memiliki perhitungan luas panen dan produksi padi (kerjasama dengan BPS) dengan menggunakan metode eye estimate. Metode ini sudah digunakan turun temurun untuk menghasilkan data produksi padi.
Namun sejak tahun 1997 banyak pihak yang meragukan data luas panen padi yang telah dirilis, karena tiap tahun angka rilis cenderung lebih besar bahkan di saat terjadi alih fungsi lahan pertanian. Oleh karena itu BPS memutuskan untuk menghentikan rilis luas panen padi hasil eye estimate sejak 2016, sambil menyiapkan metode lainnya yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Tahun 2015 BPS mulai bekerjasama dengan BPPT, Kementerian ATR/BPN, BIG serta LAPAN berupaya memperbaiki metodologi dengan menggunakan metode kerangka Sampel Area (KSA). Metode KSA merupakan metode perhitungan luas panendengan memanfaatkan teknologi citra satelit yang berasal dari BIG dan peta lahan baku sawah yang berasal dari Kementerian ATR/BPN dan  dilaksanakan serentak seluruh Indonesia mulai Januari 2018.
Ketahanan Pangan DIY
Berdasarkan metode KSA, diperoleh hasil luas panen padi 2018 (untuk bulan Oktober-Desember perkiraan potensi) sebesar 92 ribu hektar dengan luas panen tertinggi di kabupaten Gunungkidul sebesar 31 ribu hektar atau sekitar 33%. Total produksi padi 2018 dihasilkan 498 ribu ton Gabah Gering Giling (GKG). Jika dilakukan konversi ke beras senilai 281 ribu ton beras. Setelah dikurangi dengan angka konsumsi per kapita per propinsi tahun 2017, produksi beras di DIY mengalami defisit 142 ribu ton beras. Walaupun secara nasional angka produksi beras tetap surplus hingga 2,85 juta ton beras, namun angka itu tidak dihasilkan dari lahan di DIY.
Maraknya alih fungsi lahan pertanian akibat laju pembangunan di DIY, terutama pembangunan bandara baru New Yogyakarta International Airport (NYIA) sedikit banyak telah mengurangi luas lahan pertanian di DIY khususnya Kulon Progo. Di Kabupaten Gunungkidul meskipun merupakan kabupaten dengan luas lahan pertanian terbesar, namun kondisi tanah di Gunungkidul tidak bisa ditanami padi sepanjang tahun, hanya beberapa kecamatan saja yang mendapatkan aliran irigasi. Produksi maksimal padi di Gunungkidul hanya bisa diandalkan saat musim penghujan. Kultur petani di desa juga lebih memprioritaskan hasil panen dikonsumsi sendiri, karena harga barang kebutuhan yang terus beranjak naik, memaksa petani untuk lebih memilih menyimpan hasil panen dalam bentuk gabah untuk keperluan bahan pokok minimal satu tahun ke depan daripada dijual. Jadi produksi beras yang dihasilkan hanya terdistribusi di wilayah setempat.
Meski produksi beras DIY selama tahun 2018 mengalami defisit, namun posisi strategis DIY sebagai jantung ekonomi di Jawa bagian selatan dengan didukung sarana transportasi yang lancar antar daerah memudahkan DIY mendapatkan pasokan beras dari propinsi lainnya.  Wilayah DIY bagian barat dan utara yang berbatasan langsung dengan Jawa Tengah akan mudah mendapatkan pasokan beras karena produksi beras Jawa Tengah telah mencapai surplus 1,72 juta ton beras. Demikian juga propinsi Jawa Timur yang menjadi batas wilayah timur DIY telah mengalami surplus 1,75 juta ton beras.
Tidak akan ada kekhawatiran bagi DIY akan kekurangan pangan karena defisitnya produksi beras, selama jalur pasokan dari luar propinsi dibuka. Namun menjadi sebuah pekerjaan besar di masa mendatang bagi pemerintah DIY, jika memang luas lahan panen tidak bisa ditingkatkan karena keterbatasan jumlah lahan dan faktor alam, metode apa yang harus dilakukan demi ketahanan pangan DIY yang dapat berdiri di kaki sendiri. Mungkin bisa dengan mengubah kebiasaan masyarakat DIY dalam mengkonsumsi bahan pokok selain beras ataupun cara lainnya.  

#Opini ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat, 8 November 2018

Sabtu, 09 Februari 2019

Menulis, Bahagiaku Bahagiamu


Masihkah ingat diary pertama yang kau miliki?

Tentu saja aku masih ingat, diary berwarna kuning dengan kancing yang dapat ditutup rapat di bagian depannya. Diary ini menjadi saksi bisu bagaimana membuka lembaran baru sebagai gadis perantau di ibukota. Hal yang jauh dari cita-cita dan angan, bahkan saat 3 tahun mengenakan  seragam putih abu-abu di kota Yogyakarta.

Segala keresahan, kebingungan, ketakutan di tempat baru bercampur dengan rasa kangen dengan orangtua dan semua hal di Jogja tertulis disana. Sebulan dua bulan, diary ini berisi tentang memori kebersamaan di masa lalu. Seolah tak ada celah kebahagiaan yang akan diraih saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus perantau di Jakarta. Namun ternyata kisah bahagia di masa lalu itu dapat dilanjutkan dengan kisah bahagia warga kota metropolitan.

Persaudaraan yang sangat erat di rumah kos, kampus maupun di lingkungan rumah sedikit demi sedikit menjadi tema dari setiap lembar demi lembar halaman diary selanjutnya.

Tak terlupa, bunga-bunga yang semerbak di sekitar gadis dengan virus merah jambunya pun ada disana. Jangan ditanya siapakah kumbang yang tertulis namanya disana…cukuplah itu menjadi sebuah cerita, masa kini ada sebagai hasil perjalanan di masa lalu.
Satu demi satu buku diary menjadi koleksi di kamar. Termasuk kegelisahan akan nasib sebagai mahasiswa ikatan dinas, yang selalu terbayangi dengan kata-kata Drop Out maupun tinggal kelas. Disana pula terbuka sebuah kisah bagaimana perjuangan selanjutnya di pulau seberang, Kota Angin Mamiri, Makassar.

Kebersamaan menapaki jalan cita dengan 8 orang yang bergaris hidup sama, kesabaran teman-teman saat diri ini tak berdaya selama beberapa hari di Rumah Sakit Bhayangkara serta pertemuan merajut silaturahmi yang terus ada hingga sekarang.

Aku bahagia…dengan menulis diary, telah kucatatkan sebuah sejarah untuk diriku sendiri. Hidupku, cukup Allah dan aku yang tahu. Namun diri ini pun tak kuasa merekam setiap jejak yang telah ditapaki. Maka tuliskanlah. Jika hal buruk, bertaubatlah dan perbaiki di lembar berikutnya. Jika kebaikan, maka ingatlah, lanjutkan dengan kebaikan-kebaikan berlebih di goresan pena selanjutnya.

Sekarang?

Diary tidak lagi menjadi teman curahan hatiku, ada seorang lelaki yang sabar mendengar ribuan kata yang kuucapkan tiap hari. Meski aku yakin tidak semua terekam di memorinya. 

Namun aku pun masih menulis. Saatnya kucatatkan sejarah buat anak-anak. Masa kecil setiap anak tentu saja hal yang tak sama. Alhamdulillah, ada 2 buku antologi tentang aku dan anak  yang merekam sekelumit kisah kami. Anak-anak pun sudah membacanya dan kami bahagia. Ternyata dibalik kemarahan ibunya, ada ribuan cinta dan sayang untuk mereka.

#rumbelliterasiIPJogja
#tantanganmenulis

Rabu, 14 November 2018

PEREMPUAN MANDIRI

 " Nok, jadi perempuan itu meski sudah ada suami yang mencukupi namun engkau harus bekerja dan berpenghasilan. Tidak selamanya perempuan itu tergantung pada laki-laki, ada saatnya laki-laki itu berada di posisi bawah yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu mandirilah sebagai perempuan yang bersuami..."
----
Mungkin inilah salah satu nasehat yang disampaikan dari perempuan pertama dalam hidupku, Ibu.
Kebutuhan hidup yang semakin banyak, dengan 5 orang anaknya saat itu ( 4 diantaranya perempuan), menjadikan prinsip itu sebagai salah satu hal yang perlu Ibu nasehatkan kepada kami. Dan kami sebagai perempuan-perempuan penerus di keluarga ini menggenggam erat nasehat itu.

Awal sebelum menikah, prinsip itu sedemikian mudahnya dijalani. Bekerja, berpenghasilan, bisa belanja kebutuhan sendiri dan lainnya. Namun seiring waktu dengan adanya pernikahan kami satu per satu dan kelahiran anak-anak, prinsip itu mulai goyah. Sempat beberapa kali terpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena benturan kewajiban antara di rumah dan kantor. Tidak sekali...namun berulang-ulang kali genggaman pada prinsip itu kian rapuh.

Ibu menginginkan anak perempuannya mandiri, tanpa mengunakan uang suami dia bisa menyelipkan selembar demi lembar kepada sanak kerabat yang butuh tambahan biaya. Di saat ekonomi keluarga goyah, sebagai istri dia bisa menguatkan suaminya. Menegakkan rumah tangganya kembali....karena tidak sedikit pernikahan gagal karena urusan ekonomi.

Ah Ibu...terima kasih atas wejangannya, terima kasih atas didikan kuat kemandiriannya, dan terutama terima kasih atas keteladanan darimu sebagai seorang ibu dan istri yang kuat dan mandiri. Semoga Allah limpahkan kesehatan, kebarokahan dan keselamatan kehidupan dunia walaupun akhirat...aamiin

Ibu... 2 dari 4 anak perempuan mu kini telah menyelesaikan Pasca Sarjana, dan 1 anak lagi sedang berproses menuju kesana. Semua itu karena teladan dan doa darimu. Semoga ilmu ini membuat kami semakin dekat denganNya. Aamiin
Love you...Ibu

#PerempuanBPSMenulis
#Ibu

Facebook Published : 9 Juni 2018

MUDIK DARAT 2015

#Part1

(Publish di Facebook 28 Mei 2018)

Lebaran dan mudik itu seperti sebuah kesatuan bagi muslim Indonesia (eh kecuali warga Madura ding...). Bagi perantau masih dominan yang berprinsip : kerja setahun buat mudik lebaran, meski habis2an dan balik ke tanah rantau mulai lagi dari NOL kantong dan dompetnya he...

H-1

Rencana kami mau start dari Pekanbaru hari Jumat ba'da Ashar. Semua hal telah disiapkan. Perbekalan selama perjalanan, setting mobil biar nyaman buat tidur di perjalanan untuk 4 krucil, dan lain sebagainya.
Oya...kami mudik menggunakan mobil Kijang 1994 (yang di foto ini saya ambil dari Mbah Google ya contoh mobilnya), dengan membawa 3 krucil usia SD dan satu bayi usia 1 tahun pas. Mobil ini belum pernah dicoba perjalanan jauh, paling jauh hanya rute Pekanbaru-Dumai. Namun pemilik lamanya meyakinkan bahwa mobil ini biasa buat pulang kampung ke Sumbar. Jadi kami berkesimpulan, meski tampilannya tidak meyakinkan he...tapi Insya Allah kuat sampai tanah Jawa. Tahu sendiri kan jalan Pekanbaru-Sumbar itu muter gunung nya berapa kali, jalan kelok naik turun luar biasa. Sedangkan rute ke Jawa itu lebih landai tanpa banyak naik turun. Ok lah...tinggal hubungi bengkel untuk cek dan ricek insya Allah kuat...kuat...kuat ...aamiin.

Qodarullah...ada rencana lain yang Allah siapkan. Pas pulang kantor sampai rumah saya dapati suami saya dalam keadaan bingung. Ternyata sore itu juga suami ditelpon teman2 ya bahwa namanya tercantum dalam daftar SK pindah ke Jawa. Alhamdulillah...lama kami menunggu kabar ini. Tapi disisi lain, SK yang mendadak di waktu kami mau mudik ini membuat suasana jadi ruwet. Kami sudah menata perbekalan untuk selama di Jawa, dengan turunnya SK pindah otomatis Abi n anak2 tidak balik lagi ke Pekanbaru setelah libur Lebaran usai. Antara senang dan bingung memutuskan untuk mudik hari itu atau gak, di sisi lain kami sudah janjian dengan beberapa teman yg sama2 melakukan mudik darat. Konvoi lah ceritanya... Bagaimanapun perjalanan panjang 3 hari ke depan harus disiapkan dengan niat dan mental yang kuat. Kalo setengah2 akan berakibat gagalnya perjalanan.

Akhirnya setelah berdiskusi dan telpon sana sini, suami tetap memutuskan untuk mudik juga hanya waktunya saja yang dipindahkan ke besok dini hari. Maghrib di hari itu kami berbuka puasa di mushalla depan rumah, dilanjutkan ke kantor suami untuk memastikan tentang kabar via telpon dari teman2 dan mengecek pekerjaan kantor selesai ketika ditinggal mudik (pindah he...). Karena gak bakalan balik lagi kesitu kecuali pas acara perpisahan hiks...termasuk koordinasi dengan atasan, tentang apa dan bagaimana halaaahhh

Alhamdulillah bos di kantor sangat fleksibel dan memastikan tak ada masalah jika ditinggal mudik esok hari. Matur nuwun pak bos...
Malam itu terasa panjang dan melelahkan bagi kami berdua, senang sedih bingung menjadi satu. 4 anak bagaimana? Meski mereka belum terlalu paham, tapi kami ajak bicara bahwa kita pulang naik mobil dan tidak kembali ke Pekanbaru. Baju seragam dan alat2 sekolah yg awalnya ditinggal, dimasukkan dan disusun lagi menjadi tambahan muatan di mobil. Anak yang paling besar (kelas 3 SD) protes...karena ba'da lebaran dia sudah janjian sama teman2 ya untuk hal2 yang menyenangkan. Tapi bagaimana lagi...Allah sudah mengatur semuanya, kita hanya berusaha ikhlas dan lapang dada untuk semua skenario Nya.
----
#Part2
(Publish di Facebook 9 Juni 2018)
  Hari-H

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mudik dijadwalkan ulang. Kami berangkat dini hari di hari Sabtu. Dengan target subuh sudah sampai di Pangkalan Kerinci.

Saat orang-orang bersiap sahur, kami sudah bersiap untuk berangkat. Sahur dengan makanan berat sudah, dilanjut nanti mengakhirkan dengan camilan dan minuman. 3 anak yang besar juga sudah makan, jadi berangkat dari rumah kondisi kenyang. Hanya saja si adek bayi masih tertidur pulas, langsung saja pindahkan tempat tidurnya dari kasur ke jok tengah mobil.

Bbbrrrrrmmmm.... bismillahirrahmanirrahim mobil berangkat....

Jalanan Pekanbaru masih lengang, namun jangan heran jika warung nasi ramai di beberapa tempat. Ketika sampai di wilayah pasar Cikpuan...perjalanan tersendat karena pedagang masih menggelar sayur-sayuran di bahu jalan. Biasanya sayuran ini baru datang dari Sumbar untuk dijual di Pekanbaru, maklum kota ini tidak ada menghasilkan sayuran dan bahan pangan lainnya. Jadi disuplai utama dari propinsi sebelah.

Beberapa km dari rumah, kami saling mengecek barang-barang yang dibawa. Qodarullah...ada satu barang penting yang tertinggal, karena kami tidak merasa memasukkan barang tersebut ke dalam tas. Akhirnya setelah yakin tidak terbawa, mobil kami arahkan lagi menuju rumah. Meski kami merugi beberapa km namun tertinggalnya barang tersebut akan merepotkan di perjalanan 3 hari ke depan. Masya Allah...baru juga start dari rumah sudah ada kejadian seru. Ikhlas...ikhlas....semua akan kita dapat hikmahnya. Aamiin

Jelang subuh kami sampai kembali di rumah, mengambil barang yang tertinggal dan sekalian menunggu waktu subuh. Karena musholla pas di depan rumah sudah mulai ramai. Tidak pantas rasanya disaat musholla ramai, kami penghuni di depannya malah meninggalkan rumah tidak ikut berjamaah disitu.
-------
Ba'da subuh di musholla, kami berangkat. Matahari sudah muncul di ufuk timur, sebentar lagi cahaya pagi akan menghangatkan perjalanan kami. Bismillah....semoga tidak ada halangan lagi di jalan.

Perjalanan berlanjut dengan untaian dzikir dan doa, karena kami sadar mudik kali ini persiapannya tidak maksimal. Suami yang semalaman bergadang karena hal-hal yang berkaitan dengan SK pindah, bawaan yang tiba-tiba bertambah karena rencana tidak balik lagi ke Pekanbaru dan adanya adek bayi usia 1 tahun yang belum pernah perjalanan darat jauh selama ini.

Ujian kedua hadir di jalanan antara Pangkalan Kerinci dan Pematang Reba, jalan lintas timur sumatera yang biasanya lengang dengan mobil yang bisa melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba dihadapan sudah ada antrian mobil yang panjang. Ya, ada kemacetan di sini. Deretan mobil, bis dan truk sudah mengular di jalanan...sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk melewatinya. Berkendara di mobil dengan AC yang pas-pasan membuat cuaca terasa makin panas saat mobil terjebak kemacetan seperti ini. Dan menambah kehebohan karena adek bayi gelisah, kepanasan di dalam mobil. Kipas...kipas...dan upaya menenangkan lainnya coba dilakukan. Sambil di dalam hati penumpang lainnya tetap dibisikkan....ikhlas, sabar, dzikir dan doa.
Setelah hampir satu jam juga, kami bisa keluar dari kemacetan itu. Ternyata sumber kemacetan adalah kecelakaan mobil di jalur itu. Kembali kami diingatkan bahwa Allahlah yang menggerakkan kendaraan kami. semoga perjalanan ini diridhoiNya. Aamiiin

Baru berjalan beberapa km dari lokasi tadi, ujian perjalanan hadir lagi dengan muntahnya adek bayi di mobil. Kami kurang tahu apa penyebabnya, mungkin kecapekan, kepanasan, masuk angin atau karena ASIP yang sudah tidak layak minum setelah beberapa jam kepanasan di mobil. Baju dan jilbab yang saya kenakan penuh kena muntahan adek bayi, belum juga jok mobil. Meski demikian yang kami khawatirkan kondisi adek bayi. Usia 1 tahun belum memungkinkan dia untuk menyampaikan keluhannya, jadi naluri ibu lah yang berperan, bagaimana kondisi dia sebenarnya. Perjalanan baru berjalan beberapa jam namun kesehatan nya sudah menurun. Kembali lagi niat dan tekad kami diuji, perjalanan ke Jawa tetapkah dilanjutkan? Masih 2,5 hari lagi....
----
PART yang hilang :-)
Mudik yg luar biasa antara bahagia dan galau, alhasil...jam mudik mundur dari ba'da maghrib ke ba'da shubuh, kondisi pak sopir gak fit semalaman bergadang, as usuall co-driver mabuk darat di 100 km pertama n si bungsu bolak balik muntah di 200 km pertama.
Rasanya pengen menyerah...balik lagi ke kota asal, terlebih belum juga sampai kota Jambi drivernya sudah lambaikan bendera.
Alhamdulillah hari pertama terlewati setelah mampir ke hotel syariah dan rute ratusan km selanjutnya lebih mudah dari Pekanbaru-Jambi.
Dan 3 hari kemudian sampailah di Jogja tercinta....dgn kondisi gerobak kelelaha

Jumat, 10 Agustus 2018

Haji dan doa...doa...doa

Saat ini jamaah haji sedang menjalani ibadah tarwiyah dan persiapan wukuf di Arafah.

Mendengar kata Arafah, ingatan ini mengulang kembali pada masa diberi kesempatan Allah untuk hadir disanan 2 tahun lalu. Dan selalu membekas di hati, doa yang selalu kita panjatkan berulang dan terus berulang maka Allah dengar dan Allah kabulkan...Insya Allah.

Sebagai seorang perempuan, memang sudah pada fitrahnya mendapatkan jadwal haid setiap bulannya, dimana sholat, tilawah. tawaf dan lain-lain merupakan hal yang haram dilakukan. Begitu pula saat itu, dilihat secara hitungan kalender jadwal haid saya pas berbarengan dengan jadwal Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) mulai sejak wukuf sampai tawaf ifadhoh.

Beberapa orang menggunakan pil khusus untuk menunda haid demi kepentingan ibadah haji. Pil itu semacam hormon yang akan mengatur jadwal haid menjadi mundur. Namun bagi saya pilihan itu bukanlah solusi. Kenapa?
Saya punya riwayat buruk dengan sesuatu yang berkaitan dengan hormonal. Saat mencoba suntik KB (keluarga Berencana) 3 bulan setelah kelahiran anak pertama, ternyata muncul masalah baru. 3 bulan itu pula haid saya tidak kunjung selesai. Walaupun akhirnya tergolongkan darah istihadhoh (kotor) di waktu-waktu tertentu, namun ibadah wajib dengan kondisi seperti ini sangatlah tidak nyaman.

Akhirnya diputuskanlah berangkat haji 2 tahun lalu tanpa menggunakan pil penunda haid, namun lebih ke doa yang kencang dan berulang-ulang dibaca sejak di tanah air sampai di tanah suci : Ya Allah, selesaikanlah urusan ibadah hajiku, tundalah uzurnya.

Hari pertama di Arafah (sehari sebelum wukuf) saya didatangi oleh ketua rombongan, ternyata beliau diminta mendata ibu-ibu yang kemungkinan tidak bisa menyelesaikan tawah ifadhoh bersama-sama rombongan, dan saya termasuk di daftar karena memang sudah jadwalnya haid.

Hari-hari Armuzna yang menggembirakan dan melelahkan diiringi dengan rasa deg-deg an datangnya uzur harus dipanjatkan doa khusus yang terus menerus. Tanggal 8,9,10,11 dan 12 Dzulhijjah berlalu dan uzur belum datang juga. Tanggal 13 pagi kami pulnag lagi ke hotel di Mekkah, beberapa jamaah begitu sampai hotel langsung berangkat ke masjidil Haram untuk menyelesaikan tawaf ifadhih dan sa'i. Namun saya meminta suami diberikan waktu sejenak untuk istirahat, karena hari-hari di Armuzna memang sangat melelahkan secara fisik dan juga hati (harus selalu sabar...sabar...dan sabar). Dan kami pun bisa bayangkan lautan manusia sekarang terfokus untuk tawaf, tentu butuh fisik yang kuat untuk menyelesaikan rangkaian ibadah haji semuanya.

Akhirnya menjelang dhuhur kami berangkat ke Masjidil Haram, berniat untuk melaksanakan sholat dhuhur tawaf ifadhoh dan sa'i dilanjutkan sholat fardu berjamaah sampai Isya nanti.
Dada ini bertambah deg-deg an...rasanya seperti mau ujian. Karena inilah ibadah terakhir dari rangkaian haji. Doa di mulut dan di hati semakin kencang. Ya Allah selesaikan urusan hajiku tanpa uzur.

Solat jamaah dhuhur selesai, kami lanjutkan tawaf di pelataran Ka'bah dan Sa'i di lantai paling bawah. Alhamdulillah...prosesi haji selesai beberapa menit sebelum memasuki waktu ashar. Bahagianya hati kami...satu kewajiban telah tertunaikan.

Kami lanjutkan dengan sholat berjamaah ashar di Masjidil Haram, Masya Allah...lautan manusia menutupi area tawaf lantai 1 sampai lantai paling atas (atap) dan juga area sa'i dari bawah sampai atas. Termasuk lantai Mezzanin, tempat favorit kami saat di Masjidil Haram (bisa sholat jamaah sambil menatap Ka'bah).

Ketika matahari beranjak akan tenggelam, diantara waktu Ashar dan Maghrib, uzur yang ditunggu kedatangannya hadirlah sudah. Syukur bahagia tiada terkira. Alhamdulillah ya Allah...Engkau kabulkan satu doaku lagi. Benar-benar waktu terbaik...masih dapat bonus sholat Ashar berjamaah. Memanglah benar...kita sempurnakan ikhtiar doa dan Allah lah yang menggenapkan.
La haula wa la quwwata illa billah...

Dan 10 hari selanjutnya waktu bagi saya untuk beristirahat di hotel dengan syukur dan ikhlas. Alhamdulillah.

#RinduKeBaitullah
#KeajaibanHaji

Rabu, 28 Februari 2018

ROAD TO MEDIA (4)



Saya pencinta buku, di rumah banyak tumpukan buku yang menjadi koleksi, baik yang sudah selesai baca maupun belum. Tahun demi tahun, sebagai pencinta sekaligus penikmat buku, saya penasaran dengan proses penulisan dan penerbitan buku yang saya baca (sempat saat kuliah bercita-cita tambahan jadi wartawan J ). Saya juga ingin suatu saat nama saya akan teukir di sebuah buku, sebagai penulis, dan akan dinikmati para pencinta buku yang lainnya. Tapi saya sadar, ilmu dan kemampuan yang saya miliki pas-pasan, tidak mungkin rasanya saya bisa menerbitkan buku solo, oleh karena itu saya coba mencari peluang untuk menerbitkan buku dalam bentuk rombongan atau biasa disebut antologi.

Bergabunglah saya di sebuah komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) pada tahun 2012. Cukup banyak pelajaran menulis yang saya dapatkan di komunitas ini, baik fiksi maupun non fiksi. Terlebih semangat ibu-ibu disini selalu membara untuk menulis dan menerbitkan buku. Biasanya   masing-masing anggota punya blog yang menjadi wadah tulisan mereka, akhirnya saya terinspirasi untuk mengikuti juga membuat blog. Otodidak dan benar2 mulai dari NOL. Alhamdulillah...jadilah blog itu dan satu dua tulisan sudah berhasil saya posting. Namun semangat nge-blog ini hanya bertahan seminggu dua minggu, setelah itu blog nya tak ada aktivitas lagi he….


Pada suatu kesempatan, di grup IIDN di-posting ajakan untuk bergabung dalam sebuah buku antologi. Tema yang diangkat adalah tentang kesyukuran, akan menjadi buku antologi serial STORYCake-nya Gramedia. Wah…inilah kesempatan yang saya tunggu-tunggu...

Mulai saya mencari ide cerita yang sesuai dengan tema yang ditentukan, harus berasal dari kisah nyata, dan tentunya membuat tulisan non-fiksi dari kisah nyata lebih mudah jika kita sendiri sebagai tokohnya. Setelah saya pilih sebuah kisah hidup saya yang sebenarnya, mulailah saya susun kata demi kata, mengingat kembali cerita kehidupan yang membuat saya selalu dan selalu mengucap Hamdallah. Kata-kata yang menyusun cerita pun mulai mengalir serta dengan sedikit emosi membuat jari-jari saya lancar menari di keyboard laptop. Alhamdulillah sebuah tulisan yang sesuai dengan syarat yang ditetapkan penanggung jawab antologi bisa saya selesaikan. Segera saya kirimkan sesuai alamat email yang tertulis.

Seminggu...dua minggu...ah saya sudah lupa berapa lama masa menunggu pengumuman itu. Namun lamanya penantian ternyata membuahkan hasil...tulisan saya terpilih menjadi salah satu kontributor di antologi ini. Alhamdulillah....

Mulailah komunikasi yang lebih intensif dengan penanggung jawab antologi, tentang judul yang kurang pas, isian yang perlu di perhatikan ataupun disingkat, dan juga membuat separagraf tentang riwayat penulis. Hah...ini lah salah satu hal yang susah, membuat riwayat singkat kepenulisan padahal saya kan tidak pernah punya karya kepenulisan, ini kan kiriman antologi pertama. Akhirnya isiannya hanyalah : seorang ibu bekerja dengan 4 anak he...

Sebulan...dua bulan...3 bulan dst tenyata lama juga menunggu antologi ini selesai disusun, di edit, di layout. Dan saya dari yang awalnya sabar menunggu, menjadi tidak ada keinginan untuk mengecek progres penerbitan antologi ini. Hampir saja saya su'udzon naskah ini tidak jadi terbit, namun saya coba tepis dengan membangun komunikasi bersama kontributor lainnya.

Alhamdulillah…akhirnya terbit juga setelah penantian sekitar 6 bulan atau lebih. Sebuah buku yang menjadi karya antologi pertamaku. ( semoga bukan pula yang terakhir :-) ) 


=========================

Menulis membuat saya lebih menghargai diri saya sendiri, jika tidak kita sendiri siapa lagi. 
Jadi saya akan terus menulis dan menulis meski karya yang hadir cukuplah mengisi catatan di sebuah buku diary ataupun kenangan yang akan dibaca anak-anak kelak.

Lunas sudah....15 hari bercerita! Alhamdulillah…

#PerempuanBPSMenulis
#MenulisAsyikDanBahagia
#15HariBercerita
#HariKe15

 


Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?