Minggu, 11 Agustus 2019

HAJI...tahanlah, bersabarlah


Keputusan diri untuk mendaftarkan porsi haji reguler membutuhkan kesabaran tinggi, tidak hanya saat di tanah air (antrian yang panjang), masa-masa keberangkatan maupun hari2 utama puncak haji.

Termasuk juga memilih menjadi jamaah haji KBIH maupun non KBIH ternyata ada banyak pemahaman dan alasan yang berbeda. Mana yang lebih baik? Wallahu'alam, yang terbaik adalah beribadah haji sebagai rukun Islam ke 5 dengan uang halal.

Mungkin banyak yang tidak sepemahaman dengan beberapa hal yang saya tuliskan. Monggo...ini hanya berbagi terutama yang masih menunggu waktu berangkat ke tanah suci.

Kami ikut ke KBIH Muslimat NU. Kenapa?
Karena sudah didaftarkan oleh bapak ibu saat kami masih di tanah rantau. Di hati kecil kami sebenarnya ingin bergabung ke KBIH lain yang kami rasa lebih cocok, namun dengan niatan birrul walidain diikhlaskan saja. Toh membuat orangtua bahagia akan menambah keberkahan.

Ternyata di KBIH didominasi oleh para petani dan pekerja sektor informal, secara fisik sudah terbiasa bekerja keras di rumah masing-masing. Tak seperti kami yang berangkat pagi pulang petang, duduk di depan komputer. Tanpa ada aktivitas fisik berarti sebagai latihan untuk pelaksanaan haji. Namun secara usia banyak teman-teman KBIH yang sudah sepuh (tua) sehingga untuk urusan tertentu banyak membutuhkan bantuan yang lebih muda. Kami sebagai jamaah termuda di KBIH sudah dipasrahi untuk membantu para sepuh sejak keberangkatan dari Masjid Agung Wates sampai kembali lagi ke Masjid Agung 40 hari kemudian. Mungkin inilah salah satu keberkahan yang didapat, tak semata ibadah haji namun ibadah muamalah-nya dapat. 

Hari-hari haji telah datang, sebagian penghuni hotel melakukan ibadah Tarwiyah di Mina. Secara aturan pemerintah Indonesia, tidak diperbolehkan mengikuti sunnah Tarwiyah. Lebih ke arah keamanan dan kesehatan para jamaah menghadapi puncak ibadah haji. Jadi selama tarwiyah di Mina, jamaah tidak ditanggung pemerintah termasuk fasilitas makan dan lain-lain. Semua menjadi tanggung jawab KBIH masing-masing. 

Sedangkan KBIH kami sejak awal memutuskan untuk mentaati Ulil Amri di wilayah setempat, artinya apa yang diperbolehkan kita lakukan dan apa yang menjadi larangan kita tidak melakukan. Kenapa? Semata-mata sebagai rasa hormat dan tunduk kami pada pembuat aturan. Tentunya beliau-beliau memutuskan sesuatu setelah melalui kajian fiqh maupun faktor keselamatan jamaah haji yang dominan di tanah suci, namun dengan fisik yang kalah dibandingkan jamaah luar negeri lainnya. KBIH kami akhirnya langsung menuju Arafah bersama rombongan lain yang tidak ikut tarwiyah.

Ternyata benar ... saat haji kita dilarang untuk berbantah-bantahan. Hanya sekedar saling mengingatkan. Banyak sekali hal-hal yang tidak cocok dengan keyakinan kita masing-masing. Ingin sekali berkomentar dan beradu argumen mana yang lebih baik, tapi harus menahan diri untuk bersabar. Termasuk saat wukuf di dalam atau di luar tenda, mabit di Muzdalifah : menunggu sampai jelang fajar atau mengikuti jadwal yang ditentukan, lontar jumrah : menunggu waktu afdhol atau mentaati jadwal pemerintah (dan maktab masing-masing), tawaf ifadhoh : langsung setelah lempar jumroh hari pertama atau mengakhirkan setelah pulng dari Mina. Dan masih banyak perbedaan lainnya. 
Mana yang lebih baik? Yang mentaati Ulil Amri di tanah suci atau "nekad" menabrak aturan yang ada untuk mendapat afdholnya ibadah. Wallahu 'alam...

Buat yang berangkat haji tahun-tahun depan...yakinlah pilihan mana yang diutamakan. Ada resiko di setiap pilihan. Semoga haji kita semua diterima Allah, dengan menahan diri untuk bersabar tanpa berbantahan dengan pilihan masing-masing jamaah. Aamiin


Sebuah cita selalu sama : untuk bisa kembali ke tanah suci


Kamis, 04 Juli 2019

Jamaah RESTI



Mungkin saya pernah menulis ini...maafkan jika ada yang membaca hingga berulang-ulang. Karena yang menulis dan bercerita pun tak akan pernah bosan untuk mengungkap kebesaran Allah dalam perjalanan kami.

Ini adalah buku kesehatan haji saya beberapa tahun lalu. Kok identitasnya gak ditulis? Memang tidak saya tampilkan, sebenarnya ada di halaman samping berupa tempelan stiker dengan barcode. Jadi memudahkan pengecekan langsung via komputer.

Yang ingin saya ceritakan kembali adalah judul paling atas dari foto ini...ya RESTI, artinya Resiko Tinggi.
Qodarullah saat pemeriksaan awal di puskesmas saya didiagnosa Anemia (Hb 8). Ya saya sendiri tidak kaget, karena beberapa kali memang ketemu penyakit ini saat ke dokter. Paling parah ketika mau melahirkan anak ke 4, tanpa disadari Hb saya cuma 5 dan langsung dikasih surat rujukan ke RS untuk transfusi darah hingga 5 kantong selama seminggu.

Alhamdulillah masa itu telah terlewati, yang membuat sedih ternyata Anemia salah satu penyakit yang bisa "menunda" atau "membatalkan" keberangkatan haji. Entah analisisnya bagaimana tapi yang saya tahu seperti itu waktu dapat info awal pemeriksaan kesehatan haji.

Dag Dig dug lah selama masa pemeriksaan hingga menunggu hari-H keberangkatan tiba.
Saran dari dokter : makan telur minimal 1 butir sehari. Dan mengingat resiko yang bisa saja terjadi, saya turuti saran dokter.
Periksa pertama Hb 8
Periksa kedua Hb 9
Saat hari keberangkatan hampir tiba, saya inisiatif ke laboratorium dekat rumah untuk memastikan lagi apakah saya layak berangkat atau tidak. Alhamdulillah, 3 hari sebelum masuk embarkasi Hb saya sudah 11 mendekati angka normal.
Akhirnya saat pemeriksaan terakhir di embarkasi tiba, dan ternyata lebih ketat daripada di puskesmas. Bahkan bagi wanita usia subur, meski posisi saat itu sedang haid tetap saja dilakukan tes raba untuk memastikan tidak ada kehamilan.
Dan saya sebagai jamaah kategori RESTI semakin ketat lagi dalam pemeriksaan. Termasuk tentang tes Hb yang dilakukan. Namun karena 3 hari sebelumnya saya sudah tes di luar, petugas kesehatan embarkasi tidak mewajibkan saya tes darah di lokasi tersebut. Dan saya dinyatakan Layak Berangkat. Alhamdulillah....saya betul2 bersyukur, terima kasih buat dokter puskesmas yang tak bosan2nya ingatkan saya "Bu, jangan lupa telur minimal 1 butir per hari".

Dan pesan itu saya ikuti terus selama di Madinah dan Makkah, saya rutin beli telur mentah dan direbus di alat pemasak air atau penanak nasi.
Harga telur di sana lumayan murah, tapi saya lupa harga pastinya.

Dan kuasa Allah kembali datang saat menjelang Armina, tetiba suami sakit (asam lambung) karena faktor kecapekan dan lain-lain. Hingga saat berangkat ke Arafah pun kondisinya masih belum sadar penuh, hanya tidur dan saya bangunkan saat sholat saja. Tanpa ada asupan makanan yang masuk. Tapi memang seperti itulah kebiasaan nya, akan sembuh sendiri jika waktu istirahat nya sudah cukup.
Namun karena besok paginya kita harus wukuf, dan itulah puncak haji mau tak mau suami pun diberikan obat dosis tinggi oleh dokter kloter di malam harinya. Alhamdulillah, saat pagi hari wukuf sudah bisa duduk tegak dan mengikuti rangkaian wukuf hari itu.

Masya Allah...Ternyata saat berangkat ke tanah suci saya yang bergelang merah dengan status RESTI dan suami sebagai pendamping, menjadi keadaan yang terbalik 180 derajat di tanah suci. Suamilah yang akhirnya menjadi pasien dan saya yang berstatus sebagai pendampingnya.

Bukan saya hebat, semua itu sudah ditentukanNya...untuk menunjukkan bahwa Allah mudah sekali membolak-balikkan semuanya termasuk urusan sakit saat ibadah haji.
Wallahu'alam...

Semoga Allah mudahkan, sehatkan, lancarkan ibadahnya dan kembali ke tanah air menjadi haji mabrur. Aamiin

Kamis, 20 Juni 2019

Dari Perempuan Penulis Untuk Anak Indonesia


Fitrah seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu. Tak hanya ibu biologis namun juga ibu secara sosial, dan seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak.
Segala hal yang anak ketahui berawal dari seorang ibu. Pondasi anak di kehidupan berikutnya berawal dari ibu. Kebiasaaan baik dan buruk anak pun dimulai dari kebiasaan ibu.
Seorang ibu dan perempuan penulis, pastilah kesehariannya tidak jauh dari dunia literasi. Menulis berawal dari membaca, tak ada membaca tanpa adanya sebuah buku, sehingga keluarga penulis perempuan tak akan jauh dari dunia buku, menjadikan buku sebagai harta yang tak ternilai dan menganggap literasi sebuah kebutuhan.
Perempuan sebagai ibu dan penulis menularkan kebiasaan positif di dunia literasi kepada anak. Di era digital seperti sekarang ini, memutus anak dari gawai bukanlah hal yang mudah, karena memang anak tersebut terlahir di dunia yang berbeda dengan masa lalu orangtuanya.
Namun menjadikan literasi sebagai sebuah alternatif bagi anak selain canggihnya teknologi gawai dan sejenisnya masih bisa dijumpai di beberapa keluarga.
Perempuan penulis akan menghadirkan bacaan yang bermutu, bermanfaat, dan tentu saja diminati oleh anak. Menjadikan buku menjadi harta dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan, itulah titik tolak seorang anak melampaui batas cita untuk menjemput mimpinya.
Menjadikan anak cinta buku menjadi hal yang sangat susah di masa sekarang. Pesona buku (termasuk buku cerita bergambar) sudah tergantikan dengan mainan daring berbasis teknologi yang lebih instan dalam menikmatinya.
Dengan duduk santai, mata anak akan dimanjakan dengan tontonan yang terus bergerak tanpa harus bersusah payah mengeja huruf demi huruf. Bandingkan dengan buku sebagai hiburan, masih membutuhkan ketekunan dari setiap anak agar dapat mencerna isi dan kandungannya.
Namun jelas keduanya akan jauh berbeda secara hasil. Tontonan instan hanya akan menimbulkan efek hiburan secara sekejap, memori hanya menangkap sebatas pandangan mata.
Membaca buku akan meningkatkan kemampuan otak anak untuk kritis dan berpikir sekaligus meningkatkan imajinasi anak tentang isi buku tersebut. Otak yang selalu mendapatkan stimulasi akan semakin berkembang menjadi lebih optimal.
Anak-anak sekarang akan menjadi pemuda Indonesia di era 10-20 tahun mendatang. Generasi yang serba instan, mendapatkan hal yang diingankan dengan mudah tanpa perjuangan.
Generasi inilah yang akan membawa negeri ini mengalami kemajuan ataupun kemunduran. Jikalau sejak masa kanak-kanak tidak dibekali ilmu dari sebuah kecintaaan pada dunia literasi, maka 30 tahun mendatang negeri ini akan kehilangan jatidirinya.
Menggerakkan budaya literasi untuk anak berarti mempersiapkan masa depan Indonesia. Membentuk generasi muda yang siap dengan tantangan dan kompetisi baik pada dirinya sendiri maupun dari luar.
Generasi literasi adalah generasi yang memiliki modal utama untuk maju dan berkembang, generasi yang tidak mudah tergoyahkan karena adanya hoaks dari luar. Generasi yang semakin lama akan semakin kokoh dengan pondasi kuat dan semakin menjulang meraih mimpi dan cita.
Perempuan penulis... meski karya belum bisa membahana namun yakinilah kontribusi kita terbesar pada negeri ini sedang dirajut. Mungkin bukan berasal dari tulisan dan karya kita, namun tanpa kita sadari, ada tangan-tangan mungil yang selalu mendampingi kehidupan kita, mengikuti proses literasi yang kita lakukan dan akhirnya mereka telah bertekad bahwa “aku baca, aku tulis dan aku paham”.
Bukan sekadar hasil akhir yang kita tuju namun proses yang panjang inilah yang harus selalu kita nikmati dan syukuri.
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/06/20/dari-perempuan-penulis-untuk-anak-indonesia

Jumat, 14 Juni 2019

Perempuan Penulis Cegah Hoaks: Berkarya Dengan Data




Hoaks di era sekarang bisa disamakan jenisnya dengan kabar burung di masa lalu. Hanya saja kecepatan penyebaran hoaks dan kabar burung jelas sangat berbeda.
Kabar burung biasanya muncul di lingkungan interaksi sosial bisa rumah tinggal, kantor, sekolah dan sebagainya. Berkembang dari satu mulut ke mulut lainnya dengan tambahan maupun pengurangan isi cerita. Terbatas sampai di situ.
Namun di era online seperti sekarang ini, kabar burung yang disebut hoaks itu tidak hanya berkembang lewat mulut (percakapan). Namun dengan kecepatan sangat tinggi mampu menembus ruang dan waktu dalam hitungan detik.
Ya, dengan sebuah tulisan yang tidak jelas kebenarannya, cenderung berisi kebohongan disebarkan melalui media sosial dari satu grup ke grup yang lain. Tidak hanya satu kota, satu negara bahkan satu dunia bisa terimbas adanya tulisan hoaks tersebut.
Cara penulis memutus rantai hoaks adalah berkarya dengan data. Mungkin banyak orang yang menganggap data hanya bisa dibahasakan secara ilmiah, dalam sebuah karya tulisan bentuk skripsi, tesis, jurnal dan karya ilmiah lainnya.
Data adalah sebuah pondasi, bagaimana mengungkapkan sebuah kejujuran dari realita yang telah ada. Namun sebenarnya data bukanlah sekedar deretan angka yang harus kaku untuk membahasakannya.
Para penulis perempuanlah yang bisa merangkai kata dengan indah menjadi sebuah bacaan yang enak untuk dinikmati oleh siapa saja.
Data memberikan pedoman awal bagi para penulis untuk mengembangkan kisah dan ceritanya yang akan membuka banyak wawasan. Dari sebuah data dan segudang cerita, penulis bisa membuka cakrawala para pembaca, mengungkapkan kebenaran, tanpa ada yang tertutupi, memberikan harapan positif atau mungkin berupa saran preventif.
Berbagai macam data bisa digunakan sebagai dasar pembuatan tulisan. Salah satunya dengan membuka situsweb pemerintah yang berbasis data di www.bps.go.id.
Data dinamis maupun statis dapat ditampilkan tanpa berbayar. Bidang sosial, kependudukan, ekonomi, perdagangan, pertanian, pertambangan, bahkan indikator strategis negeri ini dapat terbaca dengan jelas.
Data yang ditampilkan pun selalu diperbaharui secara berkala baik bulanan, triwulanan maupun tahunan.
Jikalau saja sebagai penulis bisa seksama memperhatikan data tersebut, banyak permasalahan di negeri ini dapat terurai karena kejelasan membaca situasi.
Kebijakan pemerintah bertolak dari data kemiskinan, pengangguran, dan harapan pertumbuhan ekonomi. Pengusaha mengembangkan usahanya berbasis banyaknya kebutuhan produk yang diminati pasar. Bahkan seorang ibu rumah tangga dapat bijak mengelola keuangan keluarga dengan memperhatikan tren berkala di sebuah data inflasi.
Hal yang disayangkan, sering kali masyarakat bertindak hanya berdasarkan berita yang banyak beredar, tanpa dicek terlebih dahulu kebenaran sumbernya.
Justru hoaks yang seperti ini yang sangat meresahkan, datang tiba-tiba dan membuat masyarakat harus berkeputusan cepat (terburu-buru) dengan hasil yang akhirnya mengecewakan.
Berkarya dengan data bagi para penulis, khususnya perempuan, akan mampu membahasakan kondisi riil negeri ini dengan gaya kepenulisan yang lebih menggugah simpati dan empati. Memberikan semangat dan harapan tinggi bahwa negeri ini terus berusaha menjadi lebih baik.
Bukalah mata dengan membaca, bukalah cakrawala dengan data, karena Indonesia terlalu luas dan beraneka warna dibandingkan hoaks yang hanya timbul tenggelam di setiap lini dunia maya.
Mari berpikir positif dan jernih, mewujudkan Indonesia tanpa hoaks dengan karya para penulis perempuan yang selalu berawal dari data.
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/06/14/perempuan-penulis-cegah-hoaks-berkarya-dengan-data

Jumat, 31 Mei 2019

Hatiku Bersamamu (Komunitas Perempuan BPS Menulis)

2010
Bandung, kota segudang cerita. Seribu kisah hadir memberi warna meski raga hanya sejenak berhenti di sana. Catatan perjuangan seorang ibu sekaligus sebagai mahasiswa dengan balutan air mata kesyukuran, kesabaran dan kebahagiaan mengisi setiap memori kehidupan.
Meski hanya 1,5 tahun menjadi bagian dari kota ini, namun jejaknya akan selalu ada.
2012
Di Bandung ini pulalah, lahir sebuah komunitas yang pada nantinya akan mengantarkan saya ke sebuah pintu gerbang kebahagiaan dan kemanfaatan. Dari seorang istri dan ibu dari 3 orang balita, kebersamaan dengan komunitas ini telah membuat saya melompat jauh dibandingkan diri saya yang dulu.
Otak yang hanya berkutat di antara kehidupan rumah, kantor dan lingkungan sekitar tiba-tiba saja terbuka wawasan untuk mengenal lebih banyak ilmu dan perempuan hebat yang menyemangati untuk terus berjuang.
Di sini pulalah saya sangat terinspirasi oleh Teh Lygia Pecandu Hujan, seorang ibu tunggal dengan 3 orang anak yang tetap bisa memberikan prioritas di dunia kepenulisan meski kesehariannya masih banyak hambatan untuk maju dan berkembang.
Tekad, kekuatan, dan dukungan lingkungan sekitar ternyata membuat seorang perempuan terus mantap menatap masa depan. Lingkungan itulah yang saya dapatkan di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN).
Tak layak rasanya bagi saya untuk berkeluh kesah melihat tak hanya satu dua orang di komunitas ini, yang jauh dari kehidupan nyaman namun tetap memberikan sumbangan karya di setiap waktunya. Saya harus bisa mengikuti jejak mereka meski terlambat memulai namun tetap mempunyai cita-cita sama.
Diprakarsai oleh teh Indari Mastuti pada Mei 2010. Namun saya baru mulai aktif bergabung setelah meninggalkan kota Bandung di 2012.
Sayang memang, tidak bisa bertatap muka langsung dengan para perempuan hebat di IIDN, namun bergabung dengan IIDN itu semacam jodoh, hanya akan datang di saat yang tepat.
Lewat IIDN ini pulalah saya berani menulis (lagi) dengan sebuah harapan baru, masuk menjadi sebuah bagian dari buku antologi. IIDN membuat mimpi mempunyai sebuah buku menjadi nyata.
Buku Antologi “Nikmatnya Syukur”, sebagai salah satu seri di Storycake For Your Life-nya Penerbit Gramedia, berhasil menorehkan nama saya sebagai salah satu penulisnya. Alhamdulillah ya Allah...di mana sebuah kebaikan diniatkan maka akan banyak jalan dan orang yang memudahkan untuk terwujud.
Di antologi inilah pertama kali saya belajar bagaimana sebuah karya tulisan mengalami proses yang sangat panjang menjadi sebuah buku.
Sayembara kepenulisan antologi ini saya ikuti sekitar akhir tahun 2012, dengan berbagai pertimbangan dari juri (dikomandani oleh Ummu Ayesha) akhirnya tulisan saya termasuk sebagai salah satu kontributornya.
Namun hari demi hari, bulan demi bulan proses buku ini tidak ada kabarnya. Bahkan saya sudah hampir melupakan bahwa pernah mempunyai harapan tinggi menjadi bagian antologi.
Akhirnya di akhir 2013 mulai ada sebuah pencerahan, tentang isi buku termasuk kavernya. MasyaAllah bahagia rasanya... dan di April 2014 resmilah buku antologi Nikmatnya Syukur menjadi isi rak toko buku Gramedia, dan nama saya pun terukir disana. Terimakasih IIDN, mimpi dan cita buku antologi menjadi nyata.
2018
Tahun demi tahun berganti, rutinitas kantor dan rumah yang tiada habis membuat hidup terasa hambar. Tak ada lagi letupan kebahagiaan yang tercipta. Hingga dipertemukan dengan para pencinta karya... Perempuan BPS Menulis (PBM).
Jika menulis adalah sebuah hobi dan kebahagiaan, dan pekerjaan kantor adalah kebersamaan selama 14 tahun, kenapa keduanya tidak dapat dipadukan?
Begitu banyak karya tulis yang menggunakan hasil akhir dari sebuah proses pekerjaan di Badan Pusat Statistik, namun pemilik datanya sendiri tidak bisa menghasilkan sebuah karya.
Sungguh memprihatinkan, termasuk diri saya sendiri. Dengan segudang alasan: bakat menulis hanya di fiksi, puisi, cerita ringan, tidak bisa menulis serius, ilmiah dan lain sebagainya.
Nyatanya itu hanyalah sebuah topeng agar diri ini tidak ditertawakan oleh orang-orang di luar BPS.
Namun Januari 2018 seorang sahabat Nurin Ainistikmalia, yang berada di kabupaten Tana Tidung jauh dari ibu kota, menginspirasi dan menggandeng tangan para perempuan BPS untuk menimba ilmu dan mengukir karya bersama.
Berbagai kegiatan online telah dilaksanakan dengan para narasumber yang semakin membuka cakrawala bahwa menulis di BPS adalah salah satu tombak untuk sebuah kemajuan.
Satu demi satu karya dalam bentuk tulisan opini di koran lokal, nasional, media online bahkan di seminar nasional dan internasional telah dihasilkan anggota komunitas ini.
Jelas hal itu memupuk harapan saya untuk bisa mengikuti jejak-jejak mereka. Kalau mereka bisa kenapa saya tidak?
Sebuah karya, awalnya mungkin karena terpaksa. Itulah kata yang tepat untuk saya, dan akhirnya November 2018 hasil keterpaksaan itu bisa muncul di kolom opini koran Kedaulatan Rakyat Yogyakarta dengan judul Era Baru Ketahanan Pangan DIY.
Ini adalah pembuktian bagi diri saya sendiri, saya bisa melampaui keterbatasan dengan segala dukungan dari sebuah komunitas Perempuan BPS Menulis. Terima kasih PBM, awal keterpaksaan semoga berakhir menjadi kecintaan.
Untuk IIDN dan PBM: Saat hati ini sudah menyatu, akan selalu bersamamu (komunitas menulis), InsyaAllah
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/31/hatiku-bersamamu

Kamis, 23 Mei 2019

Saatnya Merindu?



Perkenalanku dengannya tidak jelas, tanpa sengaja, hanya bermula pandangan mata. Mungkin itu saja. Namun jelas sekali kesan pertama tak akan terlupa, selalu menjadi kenangan sepanjang masa. Tak hanya diriku, namun sampai ke anak cucu. Bukanlah rupa yang menjadi pesona, namun cocoknya jiwa ini yang telah menggerakkan raga.

Anak muda berseragam putih abu-abu, rasanya itu menjadi masa yang paling membahagiakan. Tak terkecuali diriku. Rutinitas sekolah berangkat pagi pulang sore, dengan segala tugas dan pekerjaan rumah memaksaku untuk terus menerus berada di dalam rumah. Fokus pada sebuah cita. Namun suatu saat, diri ini menemukan sebuah celah untuk keluar dari batas. Dan akhirnya aku menemukan semangat baru dalam hidup.
Majalah Kuntum, kudapatkan dengan cara meminjam dari seorang sahabat. Satu persatu kubuka halamannya, sampailah di sebuah rubrik “Pendapat”. Sebuah nama terpampang disana, salah seorang kakak kelas yang sering kujumpai di bis kota. Aku bergumam betapa bangganya dia saat tahu namanya terpampang di salah satu halaman majalah itu. Aku pun ingin juga merasakan kebanggaan itu.

Kuajak sahabatku menulis bersama, kita harus wujudkan sebuah cita : tertulis nama di majalah Kuntum. Akhirnya berdua kita mencoba menulis satu demi satu susunan kata, merangkai cerita tentang sebuah tema : Jilbab. Saat itu tulisan kukirimkan setelah melewati proses dengan sebuah mesin ketik. Ya, sejak Sekolah Dasar aku terbiasa dengan alat ini. Saat melihat kakakku menggunakannya untuk menulis tugas akhir perkuliahan. Secara otodidak pula aku bisa mengunakannya dan terbitlah sebuah karya dari mesin ketik tua.

Namun sayang, sahabatku tidak berhasil menyelesaikan tugas menulis bersama. Akhirnya hanya tulisanku yang kukirimkan ke penerbit. Dalam hitungan minggu aku selalu menunggu kabar, baik bahagia maupun kecewa. Dan sebuah surat pun kuterima di sekolah, sebuah kupon berisi nominal rupiah yang dapat kutukarkan di kantor redaksi. Artinya tulisanku dimuat di majalah Kuntum. Alhamdulillah, bahagia sekali rasanya saat itu. Ternyata aku bisa! Honor tulisan pertama sudah diterima dengan nominal Rp 7.500,- di tahun 1998 dimana pada masa itu uang bekalku setiap hari hanya Rp 1.000,-. Bisa untuk 1 minggu uang jajan batinku yang masih berseragam abu-abu.

Cinta pertama ku telah tiba, meninggalkan jejak cerita.

Dan akhirnya tulisan selanjutnya pun hadir, meski lebih banyak disimpan untuk sendiri, dipasang di majalah dinding kampus atau menjadi salah satu bagian buletin Jum’at. Alhamdulillah saat tulisan menemukan jodohnya, namaku pun bisa terpasang di  majalah nasional, buku antologi Gramedia, koran lokal dan media online era sekarang.

Bahagia itulah yang dirasa, setiap huruf dan kata bisa dinikmati dan dirasakan pembaca. Berbagi inspirasi untuk semua. Inilah rindu yang terus tumbuh di dada. Tak kan hilang termakan usia. Meski kadang rasa lelah dan bosan datang mendera, namun yakinlah saat merindu itu tiba...aku akan bersegera.   

#9TahunIIDN
#NulisBarengIIDNxGNFI


https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/05/23/saatnya-merindu

Rabu, 17 April 2019

Opini#4 : Saatnya Pilih Caleg Melek Data




Gaung kampanye caleg tidak seramai capres. Padahal dari 5 surat suara yang akan dicoblos nanti, ada 3 surat suara yang menjadi cara memilih caleg yaitu untuk tingkat DPRD kab/kota, DPRD propinsi dan DPRD pusat. Masing-masing caleg tiap partai telah diusung dengan formasi berbeda dari masing-masing daerah pemilihan. Namun ternyata pemilu serentak capres dan caleg ini memberikan efek "tenggelam" para caleg di masa kampanye, tertutupi gaung kampanye capres. Tak sedikit warga masyarakat yang merasa tidak mengenal caleg yang akan dipilih, bahkan hanya terbatas foto yang terpampang di setiap sudut jalan. 


Keberadaan para caleg di kursi dewan memberikan peranan penting pada pemerintah, khususnya terkait pemangku kebijakan dan aturan hukum baik di tingkat pusat ataupun daerah. Caleg dipilih bukan semata yang mau turun kerja bakti di lingkungan masyarakat atau yang banyak membantu teman dan tetangga. Namun caleg dituntut untuk cerdas baik akal maupun hati. Kedudukan caleg di kursi legislatif harus bisa menjaring aspirasi rakyat dan menyuarakannya di parlemen. 


Caleg juga harus tanggap dengan situasi global terutama kondisi masyarakat yang menjadi daerah pemilihannya. Dan data adalah modal awal bagi para caleg untuk bisa menyuarakan aspirasi rakyat.

Data adalah sesuatu yang mahal harganya, karena proses untuk mendapatkan mengolah dan menyusunnya dari angka demi angka membutuhkan waktu, tenaga, otak, dan biaya yang tidak sedikit. Namun secara umum pemerintah telah menyediakan berbagai data strategis yang murah dan terpercaya melalui Badan Pusat Statistik (BPS). Data BPS yang independen bisa dimanfaatkan oleh para caleg dari partai mana pun dalam memahami kondisi global dan memberikan gambaran bagaimana visi dan misi saat menjadi anggota legislatif.


Inflasi


Inflasi dapat diartikan sebagai penurunan nilai mata uang terhadap nilai barang dan jasa secara umum. Penghitungan inflasi dilakukan di kota-kota besar dan kota penunjang lainnya di seluruh Indonesia. Mencakup 225-462 jenis komoditas yang diamati pergerakan harganya setiap minggu, 2 minggu sekali dan bulanan, tergantung seberapa banyak komoditas tersebut dikonsumsi masyarakat. Angka inflasi ini akan selalu dirilis oleh BPS di setiap awal bulan berikutnya. Jadi inflasi bulan April 2019 akan dapat kita lihat angkanya di 1 Mei 2019. 


Tidak sedikit para caleg yang datang ke pasar untuk memantau harga, tanya jawab dengan para pedagang dan konsumen. Namun hasil yang diperoleh tidak akan selengkap angka dari inflasi, karena sudah mencakup berbagai komoditas, berbagai pedagang dan di beberapa pasar yang berbeda baik tradisional maupun modern.


Ketajaman para caleg membaca data inflasi ini banyak memberikan masukan program kerakyatan. Bagaimana menyejahterakan rakyat di daerah pemilihannya baik sebagai produsen, konsumen maupun pedagang di pasar.


Pertumbuhan Ekonomi


Pertumbuhan ekonomi menunjukkan pertumbuhan barang dan jasa di suatu wilayah perekonomian pada kurun waktu tertentu. Indikator ini bermanfaat sebagai dasar pembuatan proyeksi atau perkiraan penerimaan negara untuk perencanaan pembangunan nasional atau sektoral atau regional.


Angka pertumbuhan ekonomi ini dapat dimanfaatkan oleh caleg baik pusat , propinsi maupun level kabupaten/kota. Angka yang dihitung telah lengkap mencakup data triwulanan dan tahunan di 17 sektor lapangan usaha. Data ini dirilis setiap triwulan, dengan jeda waktu 1 bulan. Pertumbuhan ekonomi triwulan 1 2019 (Januari-Maret) akan dirilis pada bulan Mei 2019.


Sebagai seorang caleg, pemahaman global tentang pertumbuhan ekonomi ini mutlak diperlukan untuk melihat potensi daerah. Prioritas pembangunan di sektor lapangan usaha potensi akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah, serta berdampak positif pada kegiatan ekonomi lainnya.

Kemiskinan


Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi dalam memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan dinilai dari sisi pengeluaran. Angka kemiskinan merupakan angka yang sensitif, di satu sisi menjadi tolak ukur keberhasilan pembangunan. Di sisi lain diperebutkan demi mendapatkan bantuan dana dari pemerintah pusat. Angka kemiskinan dirilis BPS satu tahun sekali berdasarkan hasil pendataan di bulan Maret.


Hal yang disayangkan adalah ketidakpahaman para pengambil kebijakan tentang konsep dan definisi sebuah pengukuran kemiskinan. Hal ini seringkali membuat setiap angka kemiskinan yang dirilis oleh BPS dianggap mendukung pihak-pihak tertentu.


Tentu saja bagi para caleg pemahaman utuh mengenai kemiskinan dan hal-hal yang tercakup di dalamnya mutlak dimiliki. Jangan sampai seorang caleg tidak bisa memperjuangkan nasib rakyatnya hanya karena kegagalan memahami konsep kemiskinan.

Selain 3 hal tersebut masih banyak data-data yang wajib dipahami seorang caleg sebelum menduduki kursi parlemen: Nilai Tukar Petani (NTP), Angka Pengangguran, Ratio Gini, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), indikator pendidikan, indikator Kesehatan, dan lainnya.

Tidak akan maksimal seorang caleg yang duduk di kursi dewan, namun buta akan data. Setiap keputusan yang dia ambil akan menyangkut ribuan rakyat yang telah mengikhlaskan diri mencoblos namanya di pemilu. Jikalau saat ini banyak pendukung baik keluarga, kerabat maupun teman, namun tanpa ada bekal membaca data maka caleg itu tidak akan amanah mengayomi rakyat dengan memperjuangkan aspirasinya.

Belum ada terlambat untuk berpikir ulang, mari pilih caleg yang amanah dan melek data. Negeri ini terlalu luas untuk dilakukan"blusukan" di berbagai tempat. Namun ketika para caleg sudah bisa memahami angka di setiap data strategis yang ada, maka potensi negeri ini telah terbaca, masalah negeri ini telah terlihat dan saatnya memperjuangkan kesejahteraan rakyat di meja parlemen.

#Opini ini dimuat di Portal Berita DETIK, 16 April 2019
https://news.detik.com/kolom/d-4512235/saatnya-pilih-caleg-melek-data



Rabu, 06 Maret 2019

Haji, Seribu Cerita Sejuta Makna


Tak akan habis lisan berkata ketika kembali dari tanah suci
Segala tantangan hadir tatkala niat suci datang
Namun semuanya lebur menjadi keharuan dan kesukacitaan 

Labbaik Allahumma Labbaik
Kami datang memenuhi panggilan MU ya Allah

Semoga kami bisa lagi menapakkan kaki ke tanah suci MU lagi
Mendekatkan kembali dengan junjungan terkasih kami Muhammad SAW. 
Rindu kami ya Rasulullah....

Aamiin

Kamis, 28 Februari 2019

Menuju Kelas Inspirasi Trenggalek 5 (SDN Dompyong 4)




Hari itu menjadi hari pertama bagi saya mengajar anak-anak SD di sekolah. Sebelumnya saya sudah beberapa kali menghadapi anak-anak usia SD namun di lembaga non sekolah, seperti di acara masjid atau Taman Pendidikan Al Quran (TPA). Namun ternyata sebuah hal yang berbeda ketika harus menghadapi anak usia tersebut di bangku formal dengan berseragam merah putih. Seperti dilemparkan ke masa lalu....
Terlebih saya melihat seorang gadis kecil yang berambut panjang dikepang 2 yang selalu tersenyum manis, seolah-olah mengingatkan pada memori masa kecil berseragam yang sama. 
Dan inilah saya, yang harus mengajar tentang profesi saya di Hari Inspirasi 4 Februari 2019 bersama Kelas Inspirasi Trenggalek 5 .... 

Oktober 2018

Saya mengikuti sebuah seminar nasional di Universitas Yogyakarta (UNY) dengan salah satu pembicara finalis Puteri Indonesia 2016, Disma Ajeng Rastiti. Saat itu mbak Disma bercerita tentang salah satu  pengalamannya mengikuti sebuah kelas inspirasi di Yogyakarta. Bagaimana seorang anak yang tinggal di lingkungan pariwisata (Candi Prambanan) yang terlihat maju dan modern, mempunyai cita-cita sederhana seperti yang dia lihat sehari-hari, ya cita-cita sebagai penjaga parkir, jualan asongan maupun penjaga toilet. Meski tujuannya memberikan inspirasi ke murid SD yang didatangi, namun mbak Disma mengatakan, banyak inspirasi yang beliau dapatkan dari anak-anak sederhana itu. Dan saya pun mulai tergelitik, seperti apa sebenarnya kelas inspirasi itu?

Tak lama berselang, kantor suami mengadakan acara yang hampir sama, dengan judul Kemenkeu Mengajar. Suami pun ikut bergabung menjadi salah satu pengajar di sebuah SD daerah Sleman. Satu hari sebelum hari H, semua pengajar berkumpul di sekolah yang akan didatangi dan merencakan apa dan bagaimana yang akan dikerjakan esok hari. Suami pun mengajak saya dan anak-anak sekalian jalan-jalan di hari Minggu. Singkat kata, program Kemenkeu Mengajar di Yogyakarta pun selesai, dan suami mulai berbisik...kita ikut kelas mengajar yang lain yuk! ^_^

Wah gayung bersambut ini....namun seperti biasa, suami adalah pembuat rencana dan saya lah yang melaksanakan aksi mulai dari A-Z. Yang penting beliau ridho he...

November 2018 

Mulailah penelusuran wilayah di www.kelasinspirasi.com, seperti apakah kegiatannya? Jujur awal melihat web ini dengan penampilan foto bersama anak-anak SD baik di kelas maupun saat bersama para relawan, membuat hati ini bergetar he....

Setelah sedikit banyak ada bayangan tentang sebuah kelas inspirasi, mulailah masuk lebih dalam ke web itu dan mencari jadwal yang cocok untuk cuti dari kantor + wilayah yang terjangkau dari Yogyakarta. Dapatlah di tanggal Senin, 4 Februari 2019 (biasa disebut hari kejepit nasional) waktu yang tepat untuk keluar kota. Dan lokasi Hari Inspirasi itu di Trenggalek, sebuah kabupaten di wilayah Jawa Timur (akhir tahun lalu kami sudah melakukan roadshow ke beberapa kabupaten di Jawa Timur, namun belum mencapai Trenggalek). 

Setelah diskusi dengan suami mengenai jadwal dan lokasi acara, beliau setuju dengan rencana perjalanan darat menggunakan mobil membawa serta 3F. Ok, misi dilanjutkan mencari info... langsung hubungi kontak person yang tercantum di situ. Jawabannya singkat, silahkan kakak ikuti update terbaru via Instagram.

Mau tidak mau demi sebuah misi, mulailah instal aplikasi Instagram di gawai. Sebenarnya sudah pernah ada akun instagram yang dibuat, namun karena kemanfaatannya kurang bagi saya (maafkan...saya masih setia di Facebook he...) maka aplikasi itu saya hilangkan di gawai.

Ok...misi dilanjutkan.

Desember 2018  


9 Desember 2018...telah dibuka pendaftaran Relawan Pengajar dan Dokumentator !!!

Karena sudah diniatkan jauh-jauh hari, maka saya pun segera mendaftar dengan link yang sudah diberikan. Sambil dag dig dug...bener tidak ya isiannya???
Dan lagi-lagi saya adalah penanggungjawab suami, beliau juga saya daftarkan termasuk tentang opini (sekilas tentang dunia kerja) saya juga yang isikan (eh tapi ini murni opini suami lho...hanya saya saja yang isikan via form). 
Semua beres...kita tunggu pengumumannya tanggal 18 Januari 2019 (pas Momen Spesial saya itu ehm...ehm...)
Sebenarnya syarat menjadi relawan itu apa sih? Ini dia...

Gampang kan? 

Intinya sebelum daftar, lihat dulu jadwal Hari Inspirasi yang akan dilakukan, memungkinkan tidak kita untuk cuti kerja di hari itu. Kalo lokasi dekat cuti 2 hari kerja cukup, bisa datang di saat Briefing dan pas Hari Inspirasinya. Kalo tempatnya jauh, perhitungkan juga perjalanan berangkat dan baliknya...jangan sampai pas selesai Hari Inspirasi kita jadi nambah ijin gegara masih di perjalanan pas hari kerja berikutnya.

OK??? Lanjuuut...


Januari 2019
Hari yang ditunggu pun tiba...tanggal 18. "Hari istimewa saya" 

Eh pengumuman tentang Relawan Pengajar hadir juga, dag dig dug der...serasa ikut ujian dan harap-harap cemas lolos atau tidak. Dan Alhamdulillah, Allah beri kami (berdua) kesempatan untuk silaturahmi ke Trenggalek. 

Ok anak-anak...siapkan bekal, kita mau berpetualang lagi! 




Di Kelas Inspirasi Trenggalek 5 ini, berdasarkan pengumuman ada 76 Relawan Pengajar dan 44 Relawan Dokumentator, yang akan di alokasikan di 11 sekolah (rombongan belajar = rombel). Jadi nanti Relawan Pelajar ini lah yang akan mengajar di kelas, sedangkan Relawan Dokumentator bertugas mendokumentasikan kegiatan rombel baik berupa foto maupun video. 

Ba'da pengumuman di website, tak berapa lama kami dihubungi via whatapps (WA) oleh Panitia Lokal KIGA#5. Ditanyakan kesediaan dan kmitmetnya lagi untuk bisa datang di Hari Inspirasi. Masya Allah...kami jadi deg-deg an, semoga urusan semuanya lancar termasuk cuti. Karena ini adalah sebuah janji!

Mulailah babak baru sebagai (calon) relawan, kami dimasukkan ke WA Grup sesuai rombongan belajar masing-masing. Awalnya kami berdua tidak ada di rombel yang sama, suami di SDN Srabah dan saya di Dompyong 4. Namun mengingat kami berdua akan membawa serta 3F (kelas 5 SD, 4 SD dan TK A), rasanya akan sangat repot jika kami tidak berada di lokasi yang sama.
 




Akhirnya kami ajukan ke panitia lokal, minta disatukan di satu rombel terserah dimana saja. Jadilah takdir kami sebagai Relawan Pengajar SD Dompyong 4....bersama...
PANITIA LOKAL
1. Ghaliyah
2. Anwar 
3. Yeni
Relawan Pengajar 
1. Bias
2. Fibri
3. Putri
4. Wito
5. Harti ( ^_^)
6. Amin (ehm...ehm...)
Relawan Dokumentator
1. Teguh 
2. Andi Darma
3. Ninda
4. Kak Bare (ini awalnya tidak masuk ke grup...tapi pas hari H malah beliau super sibuk, ternyata partner Ninda pas buat video)

Oya, bahasa yang formal digunakan di Kelas Isnpirasi ini adalah panggilan "KAK" jadi kita harus membiasakan diri memanggil teman yang lebih tua atau muda dengan sebutan KAK. 

Hai KAK Harti...begitu contohnya!  




Bersambung...

Kamis, 21 Februari 2019

Surat Untuk Bapak





Assalamu’alaikum.wr.wb
Bapakku tercinta, bagaimana kabar Bapak disana? Semoga Allah memberi kebaikan yang lebih pada dirimu saat ini.
Pak, banyak hal yang ingin kuceritakan kepadamu saat ini. Aku berharap sedikit tulisanku ini mampu mengurangi kegundahanku sebagai seorang pegawai yang harus amanah sekaligus jadi istri untuk suamiku, ibu untuk anak-anakku dan peran-peran lainnya.
Masih teringat wisudaku 6 bulan yang lalu saat Bapak dan Ibu tak bisa hadir. Sedih rasanya tapi aku tetap persembahkan kelulusan itu untuk Bapak dan Ibu tercinta. Tanpa ada ridho kalian mustahil kelulusan itu bisa kuraih. Dan setelah kelulusan itu, aku pun harus kembali ke kantor lama.
Banyak cerita sebagai “pegawai baru” di kantor ini. Kantor Badan Pusat Statistik  yang megah…..itulah hal pertama dan kesan awal masuk lagi ke kantor ini,jauh penampakannya ketika kutinggalkan 2 tahun yang lalu. Istilahnya sekarang  jadi semakin pede ketika ada orang bertanya “Kerja dimana bu? Oh, yang kantornya baru dan megah itu ya di Pattimura.”.
Hal kedua, jam  masuknya yang (mulai) ketat. Semua pegawai masuk jam 7.30, toleransi sampai jam 8. Jika terlambat harus mengganti jam pada saat pulang kantor. Rasanya kaget dengan aturan baru ini….di saat bapaknya anak-anak punya jadwal kantor yang ketat, aku pun juga berlaku yang sama. Padahal anak-anak masih kecil dan asisten rumah tangga pun belum kami dapat. Seandainya Bapak dan juga ibu disini, tentulah kami tak perlu berpusing ria, bisa kami tinggal dirumah. Amanlah cucu-cucu sama Kakek Neneknya he….
Baru beberapa hari di kantor, ada perintah dari atasan “ Ayo kita vicon di ruang rapat!”. Dalam hati bertanya apa itu vicon, rapat sejenis apa ya? Ternyata setelah masuk ruangan, oh…seperti inilah vicon. Rapat bersama tetapi di 34 wilayah yang berbeda. Kita bisa langsung berinteraksi dengan seluruh pegawai BPS baik di Pusat maupun 33 provinsi lainnya. Hebat ya…(menurut ukuranku) gak perlu lagi SPPD lebih untuk mempertemukan pegawai di Jakarta. Mantap lah.
Pak, semakin banyak kurasakan perbedaan  kantor BPS ini sejak kutinggalkan. Pekerjaan yang semakin banyak dan terus menumpuk, membutuhkan kecepatan dan ketepatan menyelesaikan semuanya, akhirnya laporan tagihan dokumen dan entry-an data selalu muncul di layar e-mail maupun HP. Sistem keuangan yang semakin ketat, dengan tidak ada lagi uang yang bisa di putar balikkan untuk menutupi kegiatan non DIPA, semuanya harus sesuai aturan pengeluaran yang telah dianggarkan Negara. Administrasi pegawai yang lebih tersusun rapi, terencana dan sistematis.
Oya pak, satu  lagi yang  nampak mencolok di kantor ini adalah meja receptionist yang clean dan di sebelahnya adalah ruangan perpustakaan yang sangat mendukung masyarakat untuk mencari data. Jadi ingat masa-masa nulis untuk tugas akhir kuliah, mencari data adalah hal yang sangat susah…mudah-mudahan dengan pelayanan statistik terpadu ini semua menjadi mudah. Seandainya Bapak bisa datang kesini tentunya Bapak bangga dengan keberadaan anaknya sebagai pegawai di kantor BPS ini.
Pak…masih setia kan baca tulisanku yang panjang?
Ternyata semua itu adalah buah dari Reformasi Birokrasi BPS, Pak! Pasti Bapak bertanya apa itu Reformasi Birokrasi? Intinya adalah BPS dan seluruh pegawainya harus berubah menjadi insan statistik yang Profesional, Integritas dan Amanah.  Memang Pak, tidak semua pegawai siap dengan perubahan itu. Ada yang mendukung dan semangat, ada yang ikut-ikut saja  perubahan yang terjadi, ada yang masih malas-malasan untuk bergerak, bahkan ada juga yang melihat perubahan ini dari sisi buruk-buruknya saja. Aku ada di posisi mana? Pegawai yang profesional belum, punya integritas tinggi tidak juga, dan pegawai yang amanah…masih banyak  yang asal-asalan ataupun terlambat menyelesaikannya. Tetapi siap ataupun tidak siap, aku harus bisa berubah. Mendukung Reformasi Birokrasi ini dengan segala konsekuensinya. Tanpa pula aku melupakan amanahku di rumah dan peran-peran lainnya.
Pak, aku mohon  ridhomu agar aku bisa menjalani semuanya, semampuku dan sekuat tenagaku. BPS adalah amanahku dan ladang amalku, semoga segala yang kulakukan disini memberi kebaikanku di dunia dan akhirat. Aamiin. Karena aku yakin Pak, perubahan yang terjadi di BPS ini akan bisa berhasil manakala setiap insan statistik pegawai BPS (setidaknya diriku sendiri) menyadari tugas dan posisi masing-masing, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran (yang sudah semakin luntur), dan selalu bersemangat untuk maju. Bukan hal yang mudah Pak, meski dengan tawaran tunjangan Remunerasi yang dijanjikan. Tapi kami yakin kami bisa berubah menjadi pegawai BPS yang Profesional, Integritas dan Amanah.
Terima kasih Pak, sudah lega rasanya hati ini. Bisa berbagi cerita dengan Bapak. Semoga Allah menuntun langkah-langkah kita semua. Aamiin.   

Wassalamu’alaikum. Wr.wb  

Salam Sayang,


Anakmu Tercinta

 
 # Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Menulis Hari Statistik Nasional 2012 di Badan Pusat Statistik Provinsi Riau, Alhamdulillah dapat Juara 1  ^_^ 

#Al Fatihah untuk (alm) Bapak
 

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?