Kamis, 20 Juni 2019

Dari Perempuan Penulis Untuk Anak Indonesia


Fitrah seorang perempuan adalah menjadi seorang ibu. Tak hanya ibu biologis namun juga ibu secara sosial, dan seorang ibu adalah madrasah pertama bagi anak.
Segala hal yang anak ketahui berawal dari seorang ibu. Pondasi anak di kehidupan berikutnya berawal dari ibu. Kebiasaaan baik dan buruk anak pun dimulai dari kebiasaan ibu.
Seorang ibu dan perempuan penulis, pastilah kesehariannya tidak jauh dari dunia literasi. Menulis berawal dari membaca, tak ada membaca tanpa adanya sebuah buku, sehingga keluarga penulis perempuan tak akan jauh dari dunia buku, menjadikan buku sebagai harta yang tak ternilai dan menganggap literasi sebuah kebutuhan.
Perempuan sebagai ibu dan penulis menularkan kebiasaan positif di dunia literasi kepada anak. Di era digital seperti sekarang ini, memutus anak dari gawai bukanlah hal yang mudah, karena memang anak tersebut terlahir di dunia yang berbeda dengan masa lalu orangtuanya.
Namun menjadikan literasi sebagai sebuah alternatif bagi anak selain canggihnya teknologi gawai dan sejenisnya masih bisa dijumpai di beberapa keluarga.
Perempuan penulis akan menghadirkan bacaan yang bermutu, bermanfaat, dan tentu saja diminati oleh anak. Menjadikan buku menjadi harta dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan, itulah titik tolak seorang anak melampaui batas cita untuk menjemput mimpinya.
Menjadikan anak cinta buku menjadi hal yang sangat susah di masa sekarang. Pesona buku (termasuk buku cerita bergambar) sudah tergantikan dengan mainan daring berbasis teknologi yang lebih instan dalam menikmatinya.
Dengan duduk santai, mata anak akan dimanjakan dengan tontonan yang terus bergerak tanpa harus bersusah payah mengeja huruf demi huruf. Bandingkan dengan buku sebagai hiburan, masih membutuhkan ketekunan dari setiap anak agar dapat mencerna isi dan kandungannya.
Namun jelas keduanya akan jauh berbeda secara hasil. Tontonan instan hanya akan menimbulkan efek hiburan secara sekejap, memori hanya menangkap sebatas pandangan mata.
Membaca buku akan meningkatkan kemampuan otak anak untuk kritis dan berpikir sekaligus meningkatkan imajinasi anak tentang isi buku tersebut. Otak yang selalu mendapatkan stimulasi akan semakin berkembang menjadi lebih optimal.
Anak-anak sekarang akan menjadi pemuda Indonesia di era 10-20 tahun mendatang. Generasi yang serba instan, mendapatkan hal yang diingankan dengan mudah tanpa perjuangan.
Generasi inilah yang akan membawa negeri ini mengalami kemajuan ataupun kemunduran. Jikalau sejak masa kanak-kanak tidak dibekali ilmu dari sebuah kecintaaan pada dunia literasi, maka 30 tahun mendatang negeri ini akan kehilangan jatidirinya.
Menggerakkan budaya literasi untuk anak berarti mempersiapkan masa depan Indonesia. Membentuk generasi muda yang siap dengan tantangan dan kompetisi baik pada dirinya sendiri maupun dari luar.
Generasi literasi adalah generasi yang memiliki modal utama untuk maju dan berkembang, generasi yang tidak mudah tergoyahkan karena adanya hoaks dari luar. Generasi yang semakin lama akan semakin kokoh dengan pondasi kuat dan semakin menjulang meraih mimpi dan cita.
Perempuan penulis... meski karya belum bisa membahana namun yakinilah kontribusi kita terbesar pada negeri ini sedang dirajut. Mungkin bukan berasal dari tulisan dan karya kita, namun tanpa kita sadari, ada tangan-tangan mungil yang selalu mendampingi kehidupan kita, mengikuti proses literasi yang kita lakukan dan akhirnya mereka telah bertekad bahwa “aku baca, aku tulis dan aku paham”.
Bukan sekadar hasil akhir yang kita tuju namun proses yang panjang inilah yang harus selalu kita nikmati dan syukuri.
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/06/20/dari-perempuan-penulis-untuk-anak-indonesia

Jumat, 14 Juni 2019

Perempuan Penulis Cegah Hoaks: Berkarya Dengan Data




Hoaks di era sekarang bisa disamakan jenisnya dengan kabar burung di masa lalu. Hanya saja kecepatan penyebaran hoaks dan kabar burung jelas sangat berbeda.
Kabar burung biasanya muncul di lingkungan interaksi sosial bisa rumah tinggal, kantor, sekolah dan sebagainya. Berkembang dari satu mulut ke mulut lainnya dengan tambahan maupun pengurangan isi cerita. Terbatas sampai di situ.
Namun di era online seperti sekarang ini, kabar burung yang disebut hoaks itu tidak hanya berkembang lewat mulut (percakapan). Namun dengan kecepatan sangat tinggi mampu menembus ruang dan waktu dalam hitungan detik.
Ya, dengan sebuah tulisan yang tidak jelas kebenarannya, cenderung berisi kebohongan disebarkan melalui media sosial dari satu grup ke grup yang lain. Tidak hanya satu kota, satu negara bahkan satu dunia bisa terimbas adanya tulisan hoaks tersebut.
Cara penulis memutus rantai hoaks adalah berkarya dengan data. Mungkin banyak orang yang menganggap data hanya bisa dibahasakan secara ilmiah, dalam sebuah karya tulisan bentuk skripsi, tesis, jurnal dan karya ilmiah lainnya.
Data adalah sebuah pondasi, bagaimana mengungkapkan sebuah kejujuran dari realita yang telah ada. Namun sebenarnya data bukanlah sekedar deretan angka yang harus kaku untuk membahasakannya.
Para penulis perempuanlah yang bisa merangkai kata dengan indah menjadi sebuah bacaan yang enak untuk dinikmati oleh siapa saja.
Data memberikan pedoman awal bagi para penulis untuk mengembangkan kisah dan ceritanya yang akan membuka banyak wawasan. Dari sebuah data dan segudang cerita, penulis bisa membuka cakrawala para pembaca, mengungkapkan kebenaran, tanpa ada yang tertutupi, memberikan harapan positif atau mungkin berupa saran preventif.
Berbagai macam data bisa digunakan sebagai dasar pembuatan tulisan. Salah satunya dengan membuka situsweb pemerintah yang berbasis data di www.bps.go.id.
Data dinamis maupun statis dapat ditampilkan tanpa berbayar. Bidang sosial, kependudukan, ekonomi, perdagangan, pertanian, pertambangan, bahkan indikator strategis negeri ini dapat terbaca dengan jelas.
Data yang ditampilkan pun selalu diperbaharui secara berkala baik bulanan, triwulanan maupun tahunan.
Jikalau saja sebagai penulis bisa seksama memperhatikan data tersebut, banyak permasalahan di negeri ini dapat terurai karena kejelasan membaca situasi.
Kebijakan pemerintah bertolak dari data kemiskinan, pengangguran, dan harapan pertumbuhan ekonomi. Pengusaha mengembangkan usahanya berbasis banyaknya kebutuhan produk yang diminati pasar. Bahkan seorang ibu rumah tangga dapat bijak mengelola keuangan keluarga dengan memperhatikan tren berkala di sebuah data inflasi.
Hal yang disayangkan, sering kali masyarakat bertindak hanya berdasarkan berita yang banyak beredar, tanpa dicek terlebih dahulu kebenaran sumbernya.
Justru hoaks yang seperti ini yang sangat meresahkan, datang tiba-tiba dan membuat masyarakat harus berkeputusan cepat (terburu-buru) dengan hasil yang akhirnya mengecewakan.
Berkarya dengan data bagi para penulis, khususnya perempuan, akan mampu membahasakan kondisi riil negeri ini dengan gaya kepenulisan yang lebih menggugah simpati dan empati. Memberikan semangat dan harapan tinggi bahwa negeri ini terus berusaha menjadi lebih baik.
Bukalah mata dengan membaca, bukalah cakrawala dengan data, karena Indonesia terlalu luas dan beraneka warna dibandingkan hoaks yang hanya timbul tenggelam di setiap lini dunia maya.
Mari berpikir positif dan jernih, mewujudkan Indonesia tanpa hoaks dengan karya para penulis perempuan yang selalu berawal dari data.
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2019/06/14/perempuan-penulis-cegah-hoaks-berkarya-dengan-data

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?