#Part1
(Publish di Facebook 28 Mei 2018)
Lebaran dan mudik itu seperti sebuah
kesatuan bagi muslim Indonesia (eh kecuali warga Madura ding...). Bagi
perantau masih dominan yang berprinsip : kerja setahun buat mudik
lebaran, meski habis2an dan balik ke tanah rantau mulai lagi dari NOL
kantong dan dompetnya he...
H-1
Rencana kami mau start
dari Pekanbaru hari Jumat ba'da Ashar. Semua hal telah disiapkan.
Perbekalan selama perjalanan, setting mobil biar nyaman buat tidur di
perjalanan untuk 4 krucil, dan lain sebagainya.
Oya...kami mudik
menggunakan mobil Kijang 1994 (yang di foto ini saya ambil dari Mbah
Google ya contoh mobilnya), dengan membawa 3 krucil usia SD dan satu
bayi usia 1 tahun pas. Mobil ini belum pernah dicoba perjalanan jauh,
paling jauh hanya rute Pekanbaru-Dumai. Namun pemilik lamanya meyakinkan
bahwa mobil ini biasa buat pulang kampung ke Sumbar. Jadi kami
berkesimpulan, meski tampilannya tidak meyakinkan he...tapi Insya Allah
kuat sampai tanah Jawa. Tahu sendiri kan jalan Pekanbaru-Sumbar itu
muter gunung nya berapa kali, jalan kelok naik turun luar biasa.
Sedangkan rute ke Jawa itu lebih landai tanpa banyak naik turun. Ok
lah...tinggal hubungi bengkel untuk cek dan ricek insya Allah
kuat...kuat...kuat ...aamiin.
Qodarullah...ada rencana lain yang
Allah siapkan. Pas pulang kantor sampai rumah saya dapati suami saya
dalam keadaan bingung. Ternyata sore itu juga suami ditelpon teman2 ya
bahwa namanya tercantum dalam daftar SK pindah ke Jawa.
Alhamdulillah...lama kami menunggu kabar ini. Tapi disisi lain, SK yang
mendadak di waktu kami mau mudik ini membuat suasana jadi ruwet. Kami
sudah menata perbekalan untuk selama di Jawa, dengan turunnya SK pindah
otomatis Abi n anak2 tidak balik lagi ke Pekanbaru setelah libur Lebaran
usai. Antara senang dan bingung memutuskan untuk mudik hari itu atau
gak, di sisi lain kami sudah janjian dengan beberapa teman yg sama2
melakukan mudik darat. Konvoi lah ceritanya... Bagaimanapun perjalanan
panjang 3 hari ke depan harus disiapkan dengan niat dan mental yang
kuat. Kalo setengah2 akan berakibat gagalnya perjalanan.
Akhirnya
setelah berdiskusi dan telpon sana sini, suami tetap memutuskan untuk
mudik juga hanya waktunya saja yang dipindahkan ke besok dini hari.
Maghrib di hari itu kami berbuka puasa di mushalla depan rumah,
dilanjutkan ke kantor suami untuk memastikan tentang kabar via telpon
dari teman2 dan mengecek pekerjaan kantor selesai ketika ditinggal mudik
(pindah he...). Karena gak bakalan balik lagi kesitu kecuali pas acara
perpisahan hiks...termasuk koordinasi dengan atasan, tentang apa dan
bagaimana halaaahhh
Alhamdulillah bos di kantor sangat fleksibel
dan memastikan tak ada masalah jika ditinggal mudik esok hari. Matur
nuwun pak bos...
Malam itu terasa panjang dan melelahkan bagi
kami berdua, senang sedih bingung menjadi satu. 4 anak bagaimana? Meski
mereka belum terlalu paham, tapi kami ajak bicara bahwa kita pulang
naik mobil dan tidak kembali ke Pekanbaru. Baju seragam dan alat2
sekolah yg awalnya ditinggal, dimasukkan dan disusun lagi menjadi
tambahan muatan di mobil. Anak yang paling besar (kelas 3 SD)
protes...karena ba'da lebaran dia sudah janjian sama teman2 ya untuk
hal2 yang menyenangkan. Tapi bagaimana lagi...Allah sudah mengatur
semuanya, kita hanya berusaha ikhlas dan lapang dada untuk semua
skenario Nya.
----
#Part2
(Publish di Facebook 9 Juni 2018)
Hari-H
Dengan berbagai
pertimbangan akhirnya mudik dijadwalkan ulang. Kami berangkat dini hari
di hari Sabtu. Dengan target subuh sudah sampai di Pangkalan Kerinci.
Saat orang-orang bersiap sahur, kami sudah bersiap untuk berangkat.
Sahur dengan makanan berat sudah, dilanjut nanti mengakhirkan dengan
camilan dan minuman. 3 anak yang besar juga sudah makan, jadi berangkat
dari rumah kondisi kenyang. Hanya saja si adek bayi masih tertidur
pulas, langsung saja pindahkan tempat tidurnya dari kasur ke jok tengah
mobil.
Bbbrrrrrmmmm.... bismillahirrahmanirrahim mobil berangkat....
Jalanan Pekanbaru masih lengang, namun jangan heran jika warung nasi
ramai di beberapa tempat. Ketika sampai di wilayah pasar
Cikpuan...perjalanan tersendat karena pedagang masih menggelar
sayur-sayuran di bahu jalan. Biasanya sayuran ini baru datang dari
Sumbar untuk dijual di Pekanbaru, maklum kota ini tidak ada menghasilkan
sayuran dan bahan pangan lainnya. Jadi disuplai utama dari propinsi
sebelah.
Beberapa km dari rumah, kami saling mengecek
barang-barang yang dibawa. Qodarullah...ada satu barang penting yang
tertinggal, karena kami tidak merasa memasukkan barang tersebut ke dalam
tas. Akhirnya setelah yakin tidak terbawa, mobil kami arahkan lagi
menuju rumah. Meski kami merugi beberapa km namun tertinggalnya barang
tersebut akan merepotkan di perjalanan 3 hari ke depan. Masya
Allah...baru juga start dari rumah sudah ada kejadian seru.
Ikhlas...ikhlas....semua akan kita dapat hikmahnya. Aamiin
Jelang
subuh kami sampai kembali di rumah, mengambil barang yang tertinggal
dan sekalian menunggu waktu subuh. Karena musholla pas di depan rumah
sudah mulai ramai. Tidak pantas rasanya disaat musholla ramai, kami
penghuni di depannya malah meninggalkan rumah tidak ikut berjamaah
disitu.
-------
Ba'da subuh di musholla, kami berangkat.
Matahari sudah muncul di ufuk timur, sebentar lagi cahaya pagi akan
menghangatkan perjalanan kami. Bismillah....semoga tidak ada halangan
lagi di jalan.
Perjalanan berlanjut dengan untaian dzikir dan
doa, karena kami sadar mudik kali ini persiapannya tidak maksimal. Suami
yang semalaman bergadang karena hal-hal yang berkaitan dengan SK
pindah, bawaan yang tiba-tiba bertambah karena rencana tidak balik lagi
ke Pekanbaru dan adanya adek bayi usia 1 tahun yang belum pernah
perjalanan darat jauh selama ini.
Ujian kedua hadir di jalanan
antara Pangkalan Kerinci dan Pematang Reba, jalan lintas timur sumatera
yang biasanya lengang dengan mobil yang bisa melaju dengan kecepatan
tinggi tiba-tiba dihadapan sudah ada antrian mobil yang panjang. Ya, ada
kemacetan di sini. Deretan mobil, bis dan truk sudah mengular di
jalanan...sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk melewatinya.
Berkendara di mobil dengan AC yang pas-pasan membuat cuaca terasa makin
panas saat mobil terjebak kemacetan seperti ini. Dan menambah kehebohan
karena adek bayi gelisah, kepanasan di dalam mobil. Kipas...kipas...dan
upaya menenangkan lainnya coba dilakukan. Sambil di dalam hati penumpang
lainnya tetap dibisikkan....ikhlas, sabar, dzikir dan doa.
Setelah hampir satu jam juga, kami bisa keluar dari kemacetan itu.
Ternyata sumber kemacetan adalah kecelakaan mobil di jalur itu. Kembali
kami diingatkan bahwa Allahlah yang menggerakkan kendaraan kami. semoga
perjalanan ini diridhoiNya. Aamiiin
Baru berjalan beberapa km
dari lokasi tadi, ujian perjalanan hadir lagi dengan muntahnya adek bayi
di mobil. Kami kurang tahu apa penyebabnya, mungkin kecapekan,
kepanasan, masuk angin atau karena ASIP yang sudah tidak layak minum
setelah beberapa jam kepanasan di mobil. Baju dan jilbab yang saya
kenakan penuh kena muntahan adek bayi, belum juga jok mobil. Meski
demikian yang kami khawatirkan kondisi adek bayi. Usia 1 tahun belum
memungkinkan dia untuk menyampaikan keluhannya, jadi naluri ibu lah
yang berperan, bagaimana kondisi dia sebenarnya. Perjalanan baru
berjalan beberapa jam namun kesehatan nya sudah menurun. Kembali lagi
niat dan tekad kami diuji, perjalanan ke Jawa tetapkah dilanjutkan?
Masih 2,5 hari lagi....
----
PART yang hilang :-)
Mudik yg luar biasa antara bahagia dan galau, alhasil...jam mudik mundur dari ba'da maghrib ke ba'da shubuh,
kondisi pak sopir gak fit semalaman bergadang, as usuall co-driver
mabuk darat di 100 km pertama n si bungsu bolak balik muntah di 200 km
pertama.
Rasanya pengen menyerah...balik lagi ke kota asal, terlebih belum juga sampai kota Jambi drivernya sudah lambaikan bendera.
Alhamdulillah hari pertama terlewati setelah mampir ke hotel syariah
dan rute ratusan km selanjutnya lebih mudah dari Pekanbaru-Jambi.
Dan 3 hari kemudian sampailah di Jogja tercinta....dgn kondisi gerobak kelelaha