Rabu, 14 November 2018

PEREMPUAN MANDIRI

 " Nok, jadi perempuan itu meski sudah ada suami yang mencukupi namun engkau harus bekerja dan berpenghasilan. Tidak selamanya perempuan itu tergantung pada laki-laki, ada saatnya laki-laki itu berada di posisi bawah yang tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Karena itu mandirilah sebagai perempuan yang bersuami..."
----
Mungkin inilah salah satu nasehat yang disampaikan dari perempuan pertama dalam hidupku, Ibu.
Kebutuhan hidup yang semakin banyak, dengan 5 orang anaknya saat itu ( 4 diantaranya perempuan), menjadikan prinsip itu sebagai salah satu hal yang perlu Ibu nasehatkan kepada kami. Dan kami sebagai perempuan-perempuan penerus di keluarga ini menggenggam erat nasehat itu.

Awal sebelum menikah, prinsip itu sedemikian mudahnya dijalani. Bekerja, berpenghasilan, bisa belanja kebutuhan sendiri dan lainnya. Namun seiring waktu dengan adanya pernikahan kami satu per satu dan kelahiran anak-anak, prinsip itu mulai goyah. Sempat beberapa kali terpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaan karena benturan kewajiban antara di rumah dan kantor. Tidak sekali...namun berulang-ulang kali genggaman pada prinsip itu kian rapuh.

Ibu menginginkan anak perempuannya mandiri, tanpa mengunakan uang suami dia bisa menyelipkan selembar demi lembar kepada sanak kerabat yang butuh tambahan biaya. Di saat ekonomi keluarga goyah, sebagai istri dia bisa menguatkan suaminya. Menegakkan rumah tangganya kembali....karena tidak sedikit pernikahan gagal karena urusan ekonomi.

Ah Ibu...terima kasih atas wejangannya, terima kasih atas didikan kuat kemandiriannya, dan terutama terima kasih atas keteladanan darimu sebagai seorang ibu dan istri yang kuat dan mandiri. Semoga Allah limpahkan kesehatan, kebarokahan dan keselamatan kehidupan dunia walaupun akhirat...aamiin

Ibu... 2 dari 4 anak perempuan mu kini telah menyelesaikan Pasca Sarjana, dan 1 anak lagi sedang berproses menuju kesana. Semua itu karena teladan dan doa darimu. Semoga ilmu ini membuat kami semakin dekat denganNya. Aamiin
Love you...Ibu

#PerempuanBPSMenulis
#Ibu

Facebook Published : 9 Juni 2018

MUDIK DARAT 2015

#Part1

(Publish di Facebook 28 Mei 2018)

Lebaran dan mudik itu seperti sebuah kesatuan bagi muslim Indonesia (eh kecuali warga Madura ding...). Bagi perantau masih dominan yang berprinsip : kerja setahun buat mudik lebaran, meski habis2an dan balik ke tanah rantau mulai lagi dari NOL kantong dan dompetnya he...

H-1

Rencana kami mau start dari Pekanbaru hari Jumat ba'da Ashar. Semua hal telah disiapkan. Perbekalan selama perjalanan, setting mobil biar nyaman buat tidur di perjalanan untuk 4 krucil, dan lain sebagainya.
Oya...kami mudik menggunakan mobil Kijang 1994 (yang di foto ini saya ambil dari Mbah Google ya contoh mobilnya), dengan membawa 3 krucil usia SD dan satu bayi usia 1 tahun pas. Mobil ini belum pernah dicoba perjalanan jauh, paling jauh hanya rute Pekanbaru-Dumai. Namun pemilik lamanya meyakinkan bahwa mobil ini biasa buat pulang kampung ke Sumbar. Jadi kami berkesimpulan, meski tampilannya tidak meyakinkan he...tapi Insya Allah kuat sampai tanah Jawa. Tahu sendiri kan jalan Pekanbaru-Sumbar itu muter gunung nya berapa kali, jalan kelok naik turun luar biasa. Sedangkan rute ke Jawa itu lebih landai tanpa banyak naik turun. Ok lah...tinggal hubungi bengkel untuk cek dan ricek insya Allah kuat...kuat...kuat ...aamiin.

Qodarullah...ada rencana lain yang Allah siapkan. Pas pulang kantor sampai rumah saya dapati suami saya dalam keadaan bingung. Ternyata sore itu juga suami ditelpon teman2 ya bahwa namanya tercantum dalam daftar SK pindah ke Jawa. Alhamdulillah...lama kami menunggu kabar ini. Tapi disisi lain, SK yang mendadak di waktu kami mau mudik ini membuat suasana jadi ruwet. Kami sudah menata perbekalan untuk selama di Jawa, dengan turunnya SK pindah otomatis Abi n anak2 tidak balik lagi ke Pekanbaru setelah libur Lebaran usai. Antara senang dan bingung memutuskan untuk mudik hari itu atau gak, di sisi lain kami sudah janjian dengan beberapa teman yg sama2 melakukan mudik darat. Konvoi lah ceritanya... Bagaimanapun perjalanan panjang 3 hari ke depan harus disiapkan dengan niat dan mental yang kuat. Kalo setengah2 akan berakibat gagalnya perjalanan.

Akhirnya setelah berdiskusi dan telpon sana sini, suami tetap memutuskan untuk mudik juga hanya waktunya saja yang dipindahkan ke besok dini hari. Maghrib di hari itu kami berbuka puasa di mushalla depan rumah, dilanjutkan ke kantor suami untuk memastikan tentang kabar via telpon dari teman2 dan mengecek pekerjaan kantor selesai ketika ditinggal mudik (pindah he...). Karena gak bakalan balik lagi kesitu kecuali pas acara perpisahan hiks...termasuk koordinasi dengan atasan, tentang apa dan bagaimana halaaahhh

Alhamdulillah bos di kantor sangat fleksibel dan memastikan tak ada masalah jika ditinggal mudik esok hari. Matur nuwun pak bos...
Malam itu terasa panjang dan melelahkan bagi kami berdua, senang sedih bingung menjadi satu. 4 anak bagaimana? Meski mereka belum terlalu paham, tapi kami ajak bicara bahwa kita pulang naik mobil dan tidak kembali ke Pekanbaru. Baju seragam dan alat2 sekolah yg awalnya ditinggal, dimasukkan dan disusun lagi menjadi tambahan muatan di mobil. Anak yang paling besar (kelas 3 SD) protes...karena ba'da lebaran dia sudah janjian sama teman2 ya untuk hal2 yang menyenangkan. Tapi bagaimana lagi...Allah sudah mengatur semuanya, kita hanya berusaha ikhlas dan lapang dada untuk semua skenario Nya.
----
#Part2
(Publish di Facebook 9 Juni 2018)
  Hari-H

Dengan berbagai pertimbangan akhirnya mudik dijadwalkan ulang. Kami berangkat dini hari di hari Sabtu. Dengan target subuh sudah sampai di Pangkalan Kerinci.

Saat orang-orang bersiap sahur, kami sudah bersiap untuk berangkat. Sahur dengan makanan berat sudah, dilanjut nanti mengakhirkan dengan camilan dan minuman. 3 anak yang besar juga sudah makan, jadi berangkat dari rumah kondisi kenyang. Hanya saja si adek bayi masih tertidur pulas, langsung saja pindahkan tempat tidurnya dari kasur ke jok tengah mobil.

Bbbrrrrrmmmm.... bismillahirrahmanirrahim mobil berangkat....

Jalanan Pekanbaru masih lengang, namun jangan heran jika warung nasi ramai di beberapa tempat. Ketika sampai di wilayah pasar Cikpuan...perjalanan tersendat karena pedagang masih menggelar sayur-sayuran di bahu jalan. Biasanya sayuran ini baru datang dari Sumbar untuk dijual di Pekanbaru, maklum kota ini tidak ada menghasilkan sayuran dan bahan pangan lainnya. Jadi disuplai utama dari propinsi sebelah.

Beberapa km dari rumah, kami saling mengecek barang-barang yang dibawa. Qodarullah...ada satu barang penting yang tertinggal, karena kami tidak merasa memasukkan barang tersebut ke dalam tas. Akhirnya setelah yakin tidak terbawa, mobil kami arahkan lagi menuju rumah. Meski kami merugi beberapa km namun tertinggalnya barang tersebut akan merepotkan di perjalanan 3 hari ke depan. Masya Allah...baru juga start dari rumah sudah ada kejadian seru. Ikhlas...ikhlas....semua akan kita dapat hikmahnya. Aamiin

Jelang subuh kami sampai kembali di rumah, mengambil barang yang tertinggal dan sekalian menunggu waktu subuh. Karena musholla pas di depan rumah sudah mulai ramai. Tidak pantas rasanya disaat musholla ramai, kami penghuni di depannya malah meninggalkan rumah tidak ikut berjamaah disitu.
-------
Ba'da subuh di musholla, kami berangkat. Matahari sudah muncul di ufuk timur, sebentar lagi cahaya pagi akan menghangatkan perjalanan kami. Bismillah....semoga tidak ada halangan lagi di jalan.

Perjalanan berlanjut dengan untaian dzikir dan doa, karena kami sadar mudik kali ini persiapannya tidak maksimal. Suami yang semalaman bergadang karena hal-hal yang berkaitan dengan SK pindah, bawaan yang tiba-tiba bertambah karena rencana tidak balik lagi ke Pekanbaru dan adanya adek bayi usia 1 tahun yang belum pernah perjalanan darat jauh selama ini.

Ujian kedua hadir di jalanan antara Pangkalan Kerinci dan Pematang Reba, jalan lintas timur sumatera yang biasanya lengang dengan mobil yang bisa melaju dengan kecepatan tinggi tiba-tiba dihadapan sudah ada antrian mobil yang panjang. Ya, ada kemacetan di sini. Deretan mobil, bis dan truk sudah mengular di jalanan...sepertinya akan membutuhkan waktu lama untuk melewatinya. Berkendara di mobil dengan AC yang pas-pasan membuat cuaca terasa makin panas saat mobil terjebak kemacetan seperti ini. Dan menambah kehebohan karena adek bayi gelisah, kepanasan di dalam mobil. Kipas...kipas...dan upaya menenangkan lainnya coba dilakukan. Sambil di dalam hati penumpang lainnya tetap dibisikkan....ikhlas, sabar, dzikir dan doa.
Setelah hampir satu jam juga, kami bisa keluar dari kemacetan itu. Ternyata sumber kemacetan adalah kecelakaan mobil di jalur itu. Kembali kami diingatkan bahwa Allahlah yang menggerakkan kendaraan kami. semoga perjalanan ini diridhoiNya. Aamiiin

Baru berjalan beberapa km dari lokasi tadi, ujian perjalanan hadir lagi dengan muntahnya adek bayi di mobil. Kami kurang tahu apa penyebabnya, mungkin kecapekan, kepanasan, masuk angin atau karena ASIP yang sudah tidak layak minum setelah beberapa jam kepanasan di mobil. Baju dan jilbab yang saya kenakan penuh kena muntahan adek bayi, belum juga jok mobil. Meski demikian yang kami khawatirkan kondisi adek bayi. Usia 1 tahun belum memungkinkan dia untuk menyampaikan keluhannya, jadi naluri ibu lah yang berperan, bagaimana kondisi dia sebenarnya. Perjalanan baru berjalan beberapa jam namun kesehatan nya sudah menurun. Kembali lagi niat dan tekad kami diuji, perjalanan ke Jawa tetapkah dilanjutkan? Masih 2,5 hari lagi....
----
PART yang hilang :-)
Mudik yg luar biasa antara bahagia dan galau, alhasil...jam mudik mundur dari ba'da maghrib ke ba'da shubuh, kondisi pak sopir gak fit semalaman bergadang, as usuall co-driver mabuk darat di 100 km pertama n si bungsu bolak balik muntah di 200 km pertama.
Rasanya pengen menyerah...balik lagi ke kota asal, terlebih belum juga sampai kota Jambi drivernya sudah lambaikan bendera.
Alhamdulillah hari pertama terlewati setelah mampir ke hotel syariah dan rute ratusan km selanjutnya lebih mudah dari Pekanbaru-Jambi.
Dan 3 hari kemudian sampailah di Jogja tercinta....dgn kondisi gerobak kelelaha

Umroh Keluarga Tanpa Fasilitas Makan?