8 Oktober 2008, pertama kalinya aku menginjakkan kaki di kota ini, di bandara Sultan Syarif Qasim (SSQ) II. Pada saat itu aku datang dengan mengendong bayi laki-laki usia 2 bulan dan tangan kananku menggandeng balita perempuan usia 2 tahun (karena suamiku bawa barang-barang he...). Jikalau bukan karena suamiku tugas di kota ini, mungkin gak akan kuinjakkan kakiku di kota ini.
Kesan pertama ketika menyusuri jalanan di Pekanbaru (naik taksi) adalah MEWAH. Sebenarnya kemewahan itu terlihat hanya dari satu alasan "lampu jalan yang berwarna-warni". Ya, layaknya pas jelang 17 Agustus di Jakarta, sepanjang Jl Sudirman (jalan utama) nampak lampu berkelap-kelip dengan aksen kupu-kupu, pohon ataupun hanya sekedar bentuk bulat atau panjang. Ternyata setelah kutanyakan ke suami, sepanjang malam dan sepanjang tahun di Pekanbaru ini lampu-lampu berhias selalu ada di sepanjang Jl Sudirman. Cantik dan mewah...
Memasuki pusat kota semakin nampak kemewahan itu, ada kolam air mancur di dekat kantor Walikota dan setelahnya akan nampak kantor Gubernur yang nampak cantik di malam hari. Aturan lalu lintas dengan adanya putaran di depan kantor Gubernur seakan membuat lokasi itu sebagai magnet kota Pekanbaru.
Itu sedikit cerita awal Pekanbaru di 2008, sekarang ......(bersambung)